My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 152



*Sluurrpp


"Ahh... meminum kopi panas di pagi yang dingin ini lumayan bagus..."


Waktu pagi hari setelah kemarin kita semua menghadiri acara perpisahan, dan sekarang aku mendapatkan waktu spesial selama dua sampai tiga Minggu karena libur sekolah.


Hari pertama saja aku hanya ingin menikmati hari ini... dengan segelas kopi panas dan sebuah game yang saat ini terdapat sebuah event yang sedang berjalan... aku hanya menatap layar ponselku sambil bermain.


Dengan alunan lagu kesukaanku yang aku putar melewati speaker kecil berbentuk bulat dengan warna biru macaron muda...


Seperti inilah yang aku inginkan dari dulu... menikmati waktu yang berjalan lambat, namun terasa begitu cepat hingga tidak bisa kusadari.


"Pagi..."


"Jarang sekali kamu bangun begitu siang."


"Aku lelah karena kemarin."


"Sudah kubilang... seharusnya kamu pulang ke rumahnya saja, tapi justru ikut dengan kereta tujuanku kemarin."


"Lagipula aku sudah memberitahu ayah, apa kakak masih ingin melanjutkan masalah kemarin lagi?."


"T-Tidak, baiklah... aku tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi.."


"Um, bagus!."


"( Kenapa dia menjadikan masalah kemarin sebagai senjatanya? kalau begitu aku tidak bisa menentangnya lagi... merepotkan sekali.)"


Saat perpisahan kemarin, tepatnya setelah kita makan bersama dengan yang lainnya, aku berencana untuk ikut dengan arah kereta ke rumahnya untuk menemaninya setidaknya sampai stasiun...


Tetapi saat ingin transit kereta, dia justru berjalan menuju kereta yang akan kearah stasiun yang bertujuan ke rumahku...


Entah ini disengaja atau bukan, karena dia masih marah denganku akibat masalah Minggu lalu, jadi aku tidak bisa menahannya begitu saja.


Aku pun lega karena dia sudah tidak memasang wajah kusut saat merajuk setiap bertemu denganku... hanya saja aku seperti seorang tawanan baginya disini... didalam rumahku sendiri.


"Kakak mau makan apa?."


"Kamu ingin masak?."


"Um."


"Hm... mungkin aku ingin daging ayam goreng dan sayur."


"Kalau begitu aku masak itu."


"Tapi, kamu ingin membeli bahan bahannya dulu kan?."


"Iya, isi dapur kakak sangat kosong hingga aku tidak tahan melihatnya."


"Kalau begitu aku akan menemanimu."


"Tidak usah, kakak bersantai saja disini sampai aku selesai masak."


"Apa kamu masih marah padaku? aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu."


"Aku tidak marah... hanya kesal saja."


"Itu sama saja..."


"Kalau begitu aku ingin pergi ke pasar."


"Tunggu, aku akan menemanimu kesana."


Aku pun menaruh cangkir kopi yang sudah habis dan menutup game didalam ponselku lalu memasukkan kedalam jantung celanaku dan ke kamar untuk mengambil jaket tebal.


"Sudah kubilang aku sendiri saja."


"Sudahlah, aku juga ingin pergi menghirup udara segar."


"Tidak seperti kamu yang biasanya..."


"Apa kamu tidak suka?."


"Hmph! bukan urusanku."


Aku pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakunya jika sedang marah kepadaku.


Dan kita berdua pun akhirnya keluar untuk membeli bahan masakan di pasar, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini... mungkin pasar yang kalian kira berbeda, karena disini pasarnya biasanya didalam toko yang bersih dan semuanya tersedia lengkap didalam sana.


"Apa... dia sehat sehat saja disana?."


"Ayah? um... dia masih bekerja dengan sibuk sibuknya seperti dulu... tetapi sesekali sempat mengobrol denganku saat jam makan atau tidak sengaja bertemu saat dia sedang beristirahat."


"Lebih baik seperti ini daripada dulu bukan?."


"Ya... mungkin seperti itu."


"Kamu harus membicarakan tentang masalahmu lebih banyak kepadanya... aku pikir dia bisa mengerti."


"Tidak ada yang harus aku katakan... lagipula dia tidak terlihat ingin mendengarkannya."


"Karena kamu tidak terlihat ingin mengatakannya."


"Kamu sendiri... bukannya kamu juga ada yang ingin dikatakan pada ayah?."


"Aku tidak ingin mengganggunya, dan juga tidak baik untuk mengatakan masalah orang lain kepadanya."


"Bukan itu maksudku!."


"Lalu?."


"Tentang adik kandungmu... mungkin kamu harus membicarakannya pada ayah, siapa tahu dia mengetahui sesuatu."


"Huh... justru itu tidak bisa... aku bukanlah anaknya, dan aku sedang mencari adikku sendiri."


"Kamu tetaplah dianggap anaknya... sampai kapanpun itu."


"..."


"Aku mengerti, kamu membencinya karena diriku... namun semua itu hanyalah masa lalu, dan sudah seharusnya kamu berusaha untuk mengubah pandanganmu."


"Suatu saat... kapan?."


"Tunggu saja, kamu tidak perlu tahu."


"Hmph!."


................


"Aku tunggu disini saja."


"Tidak ingin ikut kedalam?."


Aku hanya menggelengkan kepalaku tanpa memberikan kata-kata.


"Baiklah kalau begitu..."


Dia pun masuk kedalam toko tanpa berkata apapun lagi...


Saat aku sedang bersantai berdiri didepan toko, tiba tiba ada seorang pria yang tidak sengaja menabrak tubuhku saat aku berbalik.


"Maaf."


"..."


Tanpa balasan dariku, dia hanya berjalan melewatiku dengan langkah kaki yang begitu lemas...


".!!.."


Aku tersadar sesuatu dan wajahnya terasa familiar... aku berbalik dan memanggil namanya untuk memastikan.


"Murasaki..."


"..."


Saat mendengar nama itu, dia langsung berhenti berjalan dan wajahnya melirik sedikit kearahku.


"Anda... Murasaki... Danki... bukan?."


"Bagaimana kamu bisa mengetahui namaku...?."


Suaranya begitu serak dan pelan... seperti seseorang yang tidak pernah makan atau minum selama seminggu.


Tubuhnya juga terlihat sangat kurus, dan juga aku bisa melihat tulang pipinya yang membekas di wajahnya.


"Saya... saya adalah temannya adik anda... Kizuku Aoyama."


"Kizuku... Aoyama? kamu!." Dirinya berbalik dan langsung mendekatiku sembari menatap wajahku dengan matanya yang sudah hampir abu abu.


"Ada apa dengan anda? anda terlihat... tidak baik-baik saja."


"Aku... tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku... tidak ada pilihan."


"..."


Kata katanya seperti seorang yang sudah tidak memiliki harapan, dan dari sorot matanya saja sudah terlihat berbeda.


Begitu datar... lemas... dan tidak berdaya.


Dulu dia adalah seorang murid yang terkenal akan bela dirinya, dan dia selalu menjadi penguasa dari para murid...


Melihatnya yang sekarang mungkin tidak akan ada yang percaya tentang cerita masa masanya dulu.


"Tunggu sebentar, saya akan membelikan minuman dan sedikit makanan untuk anda."


Aku pun masuk kedalam toko tersebut untuk membeli minuman dan beberapa roti daging untuknya.


.


.


"Gluk! gluk! gluk!."


*Sreett!


"Aum!!."


Dia memakan roti itu dengan sangat lahap... dia benar-benar belum makan selama beberapa hari ini...


Tangannya sampai bergetar setiap memakan satu suapan dari roti dan satu tegukan dari minumannya.


"Makan dengan perlahan.."


"..."


"..."


"Terima kasih... kamu sudah membantuku."


"Sudah seharusnya saya membantu anda... dulu saya juga pernah dibantu oleh anda."


"Dulu... saat itu, kamu dan Senki sedang dikepung oleh kakak kelas."


"Benar."


"..."


"Kak Danki... kalau saya boleh tahu, kenapa anda terlihat seperti ini? bagaimana keadaan... Senki..?."


"Senki... oh ya... dia..."


Tiba tiba air mata menetes keatas tangannya yang masih memegang sepotong roti daging.


"Kizuku... semua ini terjadi begitu saja... a...aku tidak tahu... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."


"Memangnya ada apa?? tenanglah... katakan saja dengan perlahan."


"Senki... kondisinya sudah... sekarat."