My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 175



"Sekarang... kita mau kemana?."


"Aku akan menjelaskannya jika kita sudah sampai di tempatnya."


"..."


Saat ini, aku dan Celestia pergi menggunakan mobil taksi untuk pergi ke tempat yang dia ingin tunjukkan kepadaku.


Aku tidak tahu dimana itu tempatnya, karena sudah hampir setengah jam lebih kita berjalan dan bahkan sudah keluar dari kota, namun tak kunjung tiba.


Sesekali aku melirik kearahnya, namun wajahnya menunjukkan sebuah kesedihan dan ketakutan... tempat yang dipenuhi pendingin udara namun aku masih bisa melihat keringatnya beberapa kali jatuh ke atas pahanya.


Kedua tangannya menggenggam erat sambil gemetaran, aku ingin menenangkan dirinya namun aku pun tidak tahu tempat apa yang ingin kita tuju.


......................


"Permisi, kita sudah sampai..."


Supir yang mengantarkan kita memberhentikan mobilnya karena kita sudah sampai pada tujuan.


"Celles, ayo kita turun."


Begitu aku melihatnya, tubuhnya kini semakin bergetar karena ketakutan, bahkan dia tidak mendengarkan perkataanku.


"Celles."


"..."


"Celles!."


Yang terakhir aku sedikit menggoyangkan bahunya hingga dia langsung terkejut dan nafasnya menjadi begitu berat.


"A-Ada apa?!."


"Kita sudah sampai..."


"O-Oh... baiklah... baiklah."


"..."


Bicaranya yang begitu gelagapan dan terengah-engah, membuatku menyadari ada sesuatu yang buruk.


Saat kita sudah keluar dan membayar taksi, dirinya masih saja berdiri dan kakinya gemetaran... tangan satunya memegang erat tangannya yang satu lagi.


Aku melihat sekitar dan menemukan sebuah toko kecil, dan berencana untuk membelikan dirinya minuman untuk menenangkan diri.


"Kamu duduk disini terlebih dahulu, aku akan kembali."


"..."


Dia hanya mengangguk kecil sambil berjalan menuju tempat duduk.


.


.


"Minumlah, tenangkan dirimu terlebih dahulu."


Dia meraih botol air dan membukanya secara perlahan...


"Minum secara perlahan-lahan."


"..."


"..."


"Maaf... aku sudah berusaha untuk kuat... tapi tidak bisa."


"..."


"Aku pikir, semua kesibukan ini menjadikan diriku lebih kuat, dan melupakan kejadian itu... tapi, begitu membayangkan masa masa itu, tubuhku tidak bisa berhenti gemetar dan pikiranku menjadi berantakan..."


"..."


"Tempatnya... masih butuh perjalanan sedikit lagi, aku akan menunjukkannya padamu."


"Apa kamu akan baik-baik saja?."


"Ya... aku harus."


"Baiklah, tapi jangan memaksakan dirimu."


Dia mengangguk pelan dan bangkit dari tempat duduknya, dan aku mengikutinya dirinya yang kini berjalan perlahan-lahan.


Sampai beberapa meter, dia berhenti karena kita sudah sampai di tempatnya, namun masih ada sebuah dinding yang menghalangi pandanganku, karena kita harus berjalan beberapa langkah untuk masuk kedalamnya.


Namun dia seperti sulit untuk melangkahkan kakinya kembali...


"Maaf... kamu bisa melihatnya duluan."


"..."


Setelah mendengar izin darinya, aku pun berjalan mendahului dirinya untuk melihat apa yang terjadi sampai membuatnya begitu ketakutan.


Saat aku sudah berada diujung dinding itu, aku menoleh ke tempat itu dan langsung terdiam tanpa mengedipkan mataku sama sekali.


Sebuah tempat yang sudah hancur dan dipenuhi oleh abu hitam... semuanya terbakar habis sampai tak tersisa satu pun tempat yang berdiri kokoh... hanya benda benda hitam yang sudah hangus terbakar.


Aku mendekat perlahan, sampai aku menginjak beberapa puing puing yang begitu diinjak, mereka hancur menjadi butiran debu hitam...


"..."


*Klek!


Tiba tiba aku tidak sengaja menginjak sebuah play besi berukuran kecil, dan aku memungutnya.


Sebuah plat besi yang memiliki sebuah tulisan di luarnya.


"N'or Celles..."


Nama yang tidak asing... namun cukup berbeda di awalnya...


"Tidak..."


Di belakang, dia yang juga melihat tempat ini langsung terjatuh bertekuk lutut sambil menutup mulutnya...


Aku langsung mendatangi dirinya yang kini sedang tidak begitu stabil dengan pikirannya.


Dia menangis begitu saja sesaat melihat tempat yang sudah hangus terbakar tersebut.


"..."


"Dulu... tempat ini adalah tempat dimana aku... bersama dengan ayahku... kami sekeluarga... membangun sebuah toko untuk meneruskan bisnis ayahku, dan memperkerjakan semuanya bersama-sama."


"..."


"Semuanya penuh dengan kenangan manis... dan kami bertiga menjalankan toko tersebut setiap hari nya... berjalan dengan sangat baik, sampai tiba sebuah tawaran manis..."


"Ayahku mengira itu adalah sebuah jalan baru untuk kita... agar toko kita bisa semakin besar."


"Namun... mereka hanya menginginkan keuntungan yang besar, setelah ayahku setuju dengan tawaran tersebut... semuanya sudah terlambat."


"Ayahku terus mempertahankan tempat ini... karena tempat ini adalah rumah bagi kita, namun mereka tidak menerima hal tersebut... lalu."


Tangisannya kini semakin berat, dan dia sulit untuk melanjutkan perkataannya.


"..."


"Aoyama... merekalah yang membuat semuanya menjadi seperti ini! toko ini... beserta ayahku... semuanya... hangus terbakar! hangus terbakar oleh api disini! hanya untuk mempertahankan tempat ini, tempat kami!."


Dia memegang kedua lenganku dengan tangannya yang begitu gemetar, aku bahkan dibuat tak bisa berkata-kata saat melihatnya mengatakan itu semua di depanku.


Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan dirinya yang begitu terpukul akibat kejadian yang mengenaskan ini.


"Khk!!."


Didalam diriku begitu kesal, dan amarah yang tak karuan... melihat sifat manusia yang begitu buruknya...


Hanya untuk sebuah kekayaan dan kekuasaan...


Dan membuat orang orang seperti dirinya tersakiti dan menjadikannya sebuah trauma yang begitu berat.


"Aoyama... kamu harus melakukan sesuatu sebelum terlambat... keluarga Shiraishi pasti tidak akan bisa melakukan apapun saat ini... kamu harus melakukan sesuatu!."


"Aku tahu, tenangkan dirimu... aku pasti akan menyelamatkannya... dan aku pasti akan menyelesaikan masalah ini."


Setelah aku mengatakan hal tersebut, genggamannya terasa lebih lemah dan dia kembali terduduk lemas setelah menangis.


Aku membiarkannya disini lebih lama, agar dia bisa menenangkan dirinya kembali.


"Jika saja aku tahu akan perbuatannya yang sebenarnya... semua ini pasti tidak akan terjadi... andai saja aku bisa membuat ayah yakin akan diriku dan ibuku... mungkin ayah akan selamat dari kejadian tersebut... jika memang seperti itu adanya... coba saja aku juga berada disana menemani ayahku untuk terakhir kalinya... mungkin semua ini akan menjadi lebih ba-."


"Tidak ada yang baik jika kamu mengatakan hal seperti itu!."


Aku memegang kedua pundaknya sambil meyakinkan dirinya... karena sesaat aku melihat wajahnya dan mendengarkan perkataannya.


Aku merasa dirinya sama seperti diriku yang dulu... tidak bisa menerima sebuah takdir yang diberikan...


"..."


"Apa yang dilakukan ayahmu, semata-mata untuk melindungi dirimu dan ibumu... dan beliau ingin membuktikan dirinya kepadamu, bahwa beliau bisa diandalkan menjadi seorang ayah... jadi... apa yang kamu katakan tidaklah benar."


"..."


"Karena bukti dari perjuangan beliau... sudah terlihat jelas didepan mataku."


Aku memberikannya sebuah plat besi kecil yang aku temukan di puing puing yang hangus.


Dia menatap plat kecil bertuliskan "N'or Celles" yaitu nama toko yang dibangun oleh keluarganya... bersama sama.


Dia menggenggam plat tersebut dengan kedua tangannya dan mendekatkan ke dadanya...


"Terima kasih... aku merasa lebih baik, karena kamu."


"Aku hanya memberikan sedikit dorongan untukmu... beliaulah yang membuatmu menjadi lebih baik, aku yakin... beliau pasti bangga dengan dirimu saat ini."


"Um..."


"Baiklah kalau begitu, ayo kita pu-."


"Aoyama."


Saat kita berdua berdiri dan aku ingin berbalik... dia memanggil namaku dan membuatku berhenti.


"..."


"Sebenarnya, dari saat awal kita bertemu... aku menyukaimu."


"..."


"Kamu berbeda dengan orang orang yang selama ini pernah aku temui... dan aku pun merasakan sesuatu hal yang berbeda saat berbicara padamu, kupikir itu karena kita berdua cocok... tapi sayangnya, kamu sudah memiliki seseorang di hatimu."


"Maaf, sudah membuatmu menyimpan perasaan tersebut begitu lama."


Dia hanya menggelengkan kepalanya seakan tidak ingin menerima pernyataan tersebut.


"Aku cukup senang, bisa bertemu dengan dirimu... tapi jika berkenan, apa aku boleh menjadi teman dekatmu?."


"Teman dekat ya... sepertinya kalimat itu menyembunyikan arti kata yang sebenarnya."


"Aku sudah berusaha untuk menutupinya."


"Jelas aku bisa mengetahuinya... tapi... menjadi seorang teman dekat tidak buruk, karena selama aku mengenal orang orang... pertama kalinya aku mengenal seorang perempuan yang memiliki hobi yang sama denganku."


Dia tersenyum senang karena aku menerima permintaannya... dan langsung memelukku karena terbawa suasana.


"Aoyama!!."


"Tunggu, kamu memelukku terlalu erat!."


"Anggap saja ini sebagai tanda pertemanan kita."


"Sudah kuduga, kamu membuat alasan dibalik kalimat itu!."