
"Huh... membosankan sekali..."
Aku bersandar diluar jendela rumahku, menikmati hembusan angin yang berhembus dari luar, dan mendengarkan suara indah dari kicauan burung dan tarian ranting pohon yang tergerak oleh angin.
*Tok!
"Aduh!."
Sebuah kerikil kecil datang mengenai kepalaku, hingga aku berdiri dan hampir terjatuh keluar.
"Oi Aoyama!."
"Senki... apa kau bisa memanggilku tanpa melemparkan kerikil padaku??."
"Aku sudah memanggilmu! tapi kau melamun seperti orang aneh disana."
"Aku tidak menyadarinya.."
"Ayo pergi, Sakura sudah menunggu di taman depan."
"Benarkah? kalau begitu aku izin dengan nenekku terlebih dahulu."
"Baiklah, aku tunggu didepan pintu."
"Oke!."
Aku pun bergegas masuk kedalam kamarku dan berjalan ke dapur untuk menemui nenek yang kini sedang sibuk memasak kue yang biasa beliau buat untuk dijual di beberapa toko.
"Nek, aku ingin bermain diluar dengan Senki dan Sakura."
"Ohh, dimana mereka? suruh mereka masuk dulu, nenek akan memasak untuk makan siang kalian."
"Tidak bisa, Sakura sudah menunggu di taman, dan Senki ada didepan."
"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar."
Beliau berdiri dan mengambil sebuah kantung dan diisikan beberapa kue kedalamnya.
"Bawa ini, dan makan bersama mereka."
"Baik."
"Ingat, setelah bermain pulang kerumah... ajak mereka kalau mereka mau, makan siang disini saja."
"Aku akan mengajak mereka nanti."
"Kakak mau kemana?."
"Aku ingin bermain diluar."
"A-Aku juga mau main!."
"Duh, maaf... tapi tidak bisa."
"Kenapa? Mai juga ingin bermain bersama kakak!."
"Uh... baiklah tunggu sebentar."
Aku pergi kedepan untuk bertemu dengan Senki yang sudah menungguku.
"Kau sudah meminta izin?."
"Sudah, tapi... apa Mai boleh ikut bermain?."
"Adikmu? tidak apa-apa kok, ajak saja."
"Benarkah?."
"Um."
"Baiklah, aku akan mengajaknya sebentar dulu."
Aku kembali masuk kedalam rumah untuk menemui Mai yang saat itu ingin ikut bermain dengan kita.
"Mai, ayo."
Wajahnya langsung begitu cerah tersenyum dengan gembira dan langsung menggandeng tanganku untuk ikut bermain..
"Nek, kita main dulu."
"Baiklah, hati-hati ya, jaga adikmu."
"Baik."
................
"Sakura!."
"Aoyama, Senki... dan..."
"Dia adiknya Aoyama, dia juga ingin bermain."
"..."
"Manisnya..."
"..."
Saat Sakura ingin mendekatinya, dia langsung mundur dan bersembunyi dibelakang badanku.
"Maaf, dia agak takut dengan orang asing... jadi cukup pemalu."
"Begitu ya."
"Sama seperti kakaknya?."
"Aku tidak seperti itu."
"Tapi terlihat mirip meskipun berbeda sedikit."
"..."
"Aku hanya bercanda."
"Mai, apa kamu mau bermain dengan kakak?."
Sakura memanggilnya dengan lembut sambil menjulurkan tangannya.
Mai melihatiku dan sedikit ketakutan, tetapi aku hanya tersenyum kepadanya.
"Pergilah, Sakura bukan orang yang jahat."
"..."
Perlahan dia mengangkat tangannya dan menegang tangan mereka Sakura dengan lembut.
"Ayo, sama kakak."
Mai melepaskan salah satu tangannya yang sedari dari sedang menggenggam bajuku, lalu berjalan mendekati Sakura.
"Aoyama, apa aku boleh mengajaknya bermain?."
"Ya, tidak apa-apa."
"K-Kakak..."
Sekilas Mai nampak ketakutan saat aku meninggalkannya, namun aku tetap membuatnya bersama Sakura agar dia bisa mendapatkan banyak teman dan bersenang-senang.
"Aku ada disini, jadi bermainlah."
Dengan wajahnya yang polos, dia ikut dengan Sakura bermain dibawah pohon yang rindang.
"Adikmu cepat sekali akrab dengan Sakura... padahal sepanjang perjalanan kesini aku tidak bisa mendekatinya."
"Dia takut denganmu."
"Memangnya apa yang ditakutkan dariku?."
"Aku mengatakan kepadanya sebelum itu, harus berhati-hati denganmu."
"Aku hanya bercanda, mungkin kau sendiri yang tidak dekat dengannya."
"Huh, kau ini."
"Omong-omong, untuk seterusnya... kau akan bersekolah dimana?."
"Di SMP?."
"Um."
"Itu masih dua tahun lagi, kenapa kau memikirkannya begitu cepat."
"Hanya penasaran saja."
"Mungkin... aku ingin bersekolah ditempat yang sama dengan Sakura."
"..."
"Bagaimanapun aku hanya bisa bersamanya, tentu saja kau juga harus ikut bersama kami."
"Ha?."
"Kau tidak mau?."
"Bukan seperti itu, aku hanya memikirkan untuk bersekolah ditempat yang baik dan bagus, untuk beasiswanya juga."
"Kau terlalu memikirkan hal seperti itu, sekarang kau bersama kita, dan kita harus bersama-sama..."
"Sampai kapan?."
"Entahlah, mungkin sampai kita SMA, berkuliah, lalu bekerja... hingga sudah mempunyai keluarga?."
"Lama sekali..."
"Memang seharusnya seperti itu... sampai kapanpun itu... kita tetap bersama-sama."
"..."
"Maka dari itu Aoyama... apa kau ingin terus bersama kami? sampai kapanpun itu."
"..."
"Aku tahu kau tidak bisa berhubungan baik dengan kami begitu cepat, namun aku hanya tidak ingin pertemanan kita terputus dengan cepat."
"..."
"Aku yakin, Sakura pasti juga akan setuju dengan hal itu."
"Aku akan memikirkannya.."
"Benarkah?."
"Sakura pintar, dan mungkin dia bisa mendapatkan sekolah yang bagus, tetapi kalau kau."
"K-Kau tidak percaya dengan kemampuanku??."
"Hanya sedikit memikirkannya."
"Ayolah, aku pasti bisa mengatasinya!." Dia merangkul pundakku sambil membawaku ketempat mereka berdua.
"Ini sakit, jangan menarik badanku."
"Kalau begitu cepatlah."
Sebuah pertemanan di masa kecil... begitu indah... dan menyimpan banyak sekali kenangan...
Sebuah perjanjian yang telah diucapkan oleh mereka... jika mereka harus tetap bersama, sampai waktu sulit untuk berjalan kembali.
Namun janji hanyalah sebuah kata-kata manis...
.
.
"Kenapa!! kenapa kau membiarkannya pergi!." Sambil memegang kerah bajuku, dan amarah yang meluap-luap.
"Memangnya aku siapa? aku tidak bisa memaksanya."
"Kau siapa? kau bilang kau ini siapa? setelah semua ini kau menganggap dirimu itu bukan siapa siapa?."
"Aku memang bukan siapa siapanya... semenjak saat itu aku bukanlah siapa siapa."
"Kau!!." Tangan satunya yang ingin memukulku, tetapi dia masih menahannya.
Aku yang menatapnya dengan mata kosong dan sudah tidak ingin mengharapkan apapun yang ada di dunia ini...
Dia pun melepaskan genggamannya dengan mendorongku ke dinding.
"Aku salah menilai dirimu selama ini... aku kira kau bisa membuktikan langsung sesuatu yang telah menghancurkan hidupku... justru kau juga menghancurkan hidupnya."
"..."
"Aku pikir kau hanyalah seorang pendiam yang pengecut."
*Brak!!
"..."
Didalam ruangan yang gelap, aku melamunkan diriku sendiri, dan sesuatu yang telah menjatuhkan diriku sendiri.
Sampai perpisahan yang menantikan jalan kita... selama beberapa tahun... akhirnya kita dipertemukan kembali... saat saat itu.
.
.
.
"Karena itu, saya akan memberikan Yuuki seorang asisten untuk menjagamu."
"..."
"Sakura!."
"( Dia... kenapa dia ada disini?!! )."
"Perkenalkan, nama saya Nanami Sakura... saya adalah seorang asisten dari nona Yuuki."
"Bagaimana? apa kamu menginginkan seorang asisten?."
"Ayah... bagaimana ayah bisa melakukannya?."
"Semua bisa saya lakukan untuk putri saya.."
"..."
"Dan juga kebetulan saya dengar-dengar... Sakura mengenal Aoyama?."
"..."
"( Gawat...)"
"Mengenal?."
"Saya bersekolah ditempat yang sama dari kecil bersama Aoyama... jadi saya sudah mengenalnya lama."
"Eh?."
"..."
"( Dia itu...!.)"
"Aku tidak pernah mendengarnya."
Semua yang telah aku persiapkan untuk merubah diriku, ternyata hancur begitu mudah hanya karena sebuah kedatangan seseorang yang telah merubah hidupku dulu.
Bahkan aku tidak bisa menyangka... jika kita akan bertemu kembali...