My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 77



"..."


"( Apa... yang sedang aku lakukan...)"


Sebelum hal ini terjadi, Yuuki masih sanggup untuk mengikuti apa yang ingin Azumi lakukan.


"Yuuki... bagaimana jika kamu duduk disini sambil menunggu pelayanmu kembali?."


"Aku tidak menginginkannya."


"Kamu terus saja berdiri mencarinya... lupakan saja dia! dia hanya seorang pelayan... nanti juga dia akan kemba-."


"Berhenti memanggilnya pelayan.."


"Ha?."


"Dia... adalah sahabatku!."


"..."


"Ck!."


Beberapa menit kemudian, Sakura dan pengawal Azumi kembali.


"Yu- maksud saya Nona Yuuki... maafkan saya karena membuat sulit anda.."


"Tidak apa apa...."


"Dasar pelayan! apa kau tidak bisa menjalankan tugas dengan benar?!."


"Maafkan saya."


"Azumi! sudah kubilang... jangan mengatakan hal seperti itu kembali!."


"Tch! kalian sama saja!."


"Sakura... memangnya kamu darimana?."


"Aku..."


"Dia bertemu dengan seorang lelaki... ciri cirinya adalah rambut hitam berantakan, dan matanya yang begitu suram... pembawaannya begitu lemas... dan juga dia mungkin salah satu dari temannya nona Yuuki dan pelayannya." Pengawalnya yang bernama Erlic Lawliet langsung mengumbarnya kepada tuannya.


"Mata yang suram? jangan bilang dia ada disini!!."


"Sakura... apa itu benar? dia... Aoyama ada disini?."


"..." Dia tidak bisa menjawab kebenarannya itu.


"Sudah kuduga!! dia begitu banyak sekali muncul seperti sampah! aku sangat tidak tahan!."


"..."


"Erlic! cepat singkirkan dia dari tempat ini! jangan biarkan dia menggangguku."


"Baik."


"Azumi! dia tidak ada hubungannya sama sekali! bahkan aku pun tidak mengetahuinya!."


"Diamlah! aku tahu alasan kau tidak ingin menikmati festival kita! pasti karena adanya orang itu!."


"Itu tidak benar!."


"Hanya aku yang bisa memastikan itu benar atau tidak... jika sialan itu masih berada disini... berarti aku harus membuangnya."


Lalu dia langsung pergi untuk melakukan sesuatu.


"Sakura! dimana Aoyama sekarang?."


"Aku... tidak tahu... tapi, Yuuki... kamu tidak boleh mencarinya!."


"Kenapa? dia akan bertemu dengan Azumi! hanya karena aku berada disini..."


"Jika begitu, Aoyama pasti bisa mengatasinya."


"Bukan itu! jika Azumi membuat masalah... Aoyama... dan yang lain...."


"..."


Yuuki berpikir jika akan mengganggu festival mereka hanya karena keberadaannya ditempat ini...


"Kamu tunggu disini... aku akan membelikan minum untukmu biar tenang."


Sakura pergi membeli minuman untuk menenangkan Yuuki.


Tetapi, saat ia kembali.


"Maaf menunggu terlalu lama... ini minuma- Yuuki?."


Dia pun menghilang dari tempat itu.


"Hei, apa kamu sedang mencari seorang gadis yang duduk disana?."


Seorang penjual yang menjual makanan didekat tempat itu memanggilnya.


"B-Benar, apa anda melihatnya??."


"Ya... bahkan dia menitipkan ini padaku... katanya jika ada yang mencarinya, berikan kertas itu."


"Apa.. ini?."


Sakura membuka sepucuk kertas itu dan membaca kalimat yang berada didalamnya.


"Aku akan pergi... katakan kepadanya... jika aku pergi kedalam hutan untuk menghindari Azumi sementara... aku ingin dia datang padaku."


"Yuuki..."


.


.


.


Dan begitulah alasan dia berada didalam hutan yang sudah gelap... cahaya lampu festival itu bahkan sudah tertutup.


Saat dia berhenti berjalan... dan begitu dia melihat sekitarnya... semuanya hanya pepohonan yang membuat sekelilingnya menjadi gelap.


Dia berjalan sambil melamun memikirkannya... dan dia tidak sadar jika dia sudah masuk kedalam hutan.


"T-Tunggu... tadi... aku berjalan lewat mana?."


Keresahannya berubah seketika menjadi ketakutan...


"Apa aku lewat sini? atau sini?."


Ingatannya tiba tiba menghilang karena panik... itu adalah hal biasa yang dirasakan oleh manusia jika sedang berada diujung kepanikan.


"Oh ya! ponsel... seharusnya aku membawanya." Dia meraba raba kantungnya... tetapi dia tidak menemukannya.


"Aku, meninggalkannya... bagaimana ini... disini sangat gelap."


Dia terus mengelilingi sekitarnya, tetapi belum menemukan setitik cahaya sama sekali.


"Sakura! kamu dimana!!."


Yuuki mulai berada diambang ketakutannya... dan terus berteriak memanggil Sakura.


"Sakuraa!! tolong jawab!! aku disini!!."


Berapa kali pun dia berteriak... tidak ada suara yang membalasnya.


"Tidak... jangan tinggalkan aku..."


Tubuhnya jatuh dan bersandar dibelakang pohon yang satu satunya ada disekelilingnya.


Dia mengubur wajahnya didalam lipatan tangannya yang bersinggah diatas dengkulnya.


"Aku ingin keluar... Sakuraa!."


Dan dia tidak bisa menahan air matanya yang menetes keatas lengannya.


"Jangan tinggalkan aku sendiri... aku sangat takut..."


Situasi ini hanya membuat keheningan didalam kepalanya.


"Sakuraaaa."


Dia berpikir, akan berada disini tanpa ada yang bisa menemukannya...


"..."


"( Apa aku... akan terus berada ditempat ini... apa tidak ada seseorang yang akan menemukanku...)"


Hingga pada saat itu... ia mengingat seseorang...


"Tolong aku..."


"..."


"Aoyamaa!."


Setelah itu, semuanya sama saja... tidak ada yang datang menolongnya... hingga ia sadar... bahwa dia hanya sendirian ditempat ini...


Dia menangis tersedu-sedu ditengah sunyi nya malam...


Seperti sebuah cerita lama... seorang putri yang tersesat didalam hutan liar nan gelap... tanpa ada balasan kata... balasan rasa... balasan perasaan...


Tuan putri yang tersungkur dibawah pohon tua...


Dia menangis...


Hingga pada akhirnya...


Keajaiban datang padanya...


"Yuukiii!."


Dari jauh, dia merasa mendengar seseorang memanggilnya... dan suara itu terdengar seperti suara orang itu.


"Barusan... aku... mendengarnya... Aoyamaa!! apakah itu kamu??!!."


Dia berdiri berharap apa yang ia dengar benar benar ada.


"Aoyamaa!! jawablah!."


Setelah itu... dia tidak mendengar suara lagi...


Dia merasa itu hanyalah imajinasinya saja...


"Apa aku... berimajinasi... apakah aku akan sendirian disini..."


"..."


"Aku... tidak mau.."


Dia kembali terduduk dan menangis...


Membayangkan apa yang akan ia lakukan jika takdir itu berubah dari awal...


"Jika saja aku bisa kembali... aku ingin bertemu dengannya... dan aku ingin... meminta maaf... Aoyama."


"Kuharap itu benar benar terjadi..." Suara yang muncul dari balik pohon...


"Eh?."


Dia muncul dihadapannya.. dengan tampang yang kelelahan... nafasnya tidak teratur... bajunya begitu berantakan penuh dengan lumpur...


"Kau benar benar membuatku kerepotan... Yuuki."


"Ao...yama... apa... kamu benar benar... Aoyama?."


"Apa yang kau katakan? apa kau terlalu banyak menghirup udara hutan?."


Tangannya mulai meraihku, dan mencoba untuk menyentuhku.


"Serius... apa yang sedang kau laku-."


Begitu dia sudah memastikannya... dia langsung memelukku dengan erat penuh dengan ketakutan.


"Aoyamaa!! aku takut! aku sangat takut!! aku sudah berteriak sepanjang waktu... tetapi tidak ada yang membalaass!!."


"..."


Aku berusaha untuk memeluknya perlahan untuk menenangkannya.


"Tenanglah... aku sudah ada disini..."


"Aku kira... aku tidak bisa bersamamu lagi... bersama dengan yang lainnya... karena aku membohongi kalian..."


Suaranya yang begitu terdengar jelas bersamaan dengan isak tangisnya... ditengah kesunyian hutan yang gelap...


"Mereka semua mengerti dengan situasi yang kau alami... begitupun dengan aku sendiri... jangan menyalahkan dirimu sendiri..."


"Apa kamu benar benar tidak marah?."


Wajahnya menatapku dengan air mata yang masih berada diatas pipinya...


"Bagaimana bisa aku marah... dengan nona putri yang tersesat sendirian..."


"J-Jangan meledekku!."


"Baiklah baiklah... sebaiknya kita cepat cepat kembali... Sakura sangat khawatir padamu..."


"Um."


Saat dia ingin berjalan... tiba tiba tubuhnya langsung terjatuh didepanku yang sempat menahannya.


"Kau tidak apa apa?."


"Kakiku... sulit untuk berjalan..."


"Huh... kau memang benar-benar putri yang merepotkan."


Aku pun merunduk didepannya... agar aku bisa menggendongnya.


"A-Aku masih bisa..."


"Sudahlah... jangan Berpura-pura kuat didepanku... kau sudah berjalan sejauh ini... hingga kakimu terluka... cepat naik."


"B-Baik..."


Dia pun terpaksa untuk naik diatas punggungku.


.


.


.


"Kau... kenapa kau melakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri seperti ini? berlari kedalam hutan saat malam hari... begitu banyak bahaya ditengah hutan.."


"Aku... merasa bersalah... karena aku tidak bisa berbuat apapun... dan aku mengecewakan kalian..."


"..."


"Aku berpikir... jika aku pergi... Azumi tidak akan membuat masalah padamu... aku juga tidak ingin mengganggu festival kalian... tetapi... aku disini merepotkanmu... maaf."


"Hentikan pembicaraan seperti itu..."


"Kenapa?."


"Hal itu seolah-olah... kau tidak bahagia sedikitpun... dan juga, apa kau ingat? aku adalah pengawalmu... aku sudah mulai bekerja kembali... jadi jika aku tidak seperti ini... aku hanya memakan gaji buta kan?."


"Berarti... kamu berusaha menolongku untuk uang?."


"Entahlah..."


"Jawabanmu begitu tidak menyakinkan!."


"Lagipula aku disini tetap saja karena mengikuti keegoisanmu... meskipun alasan yang tidak berhubungan... jadi sudah kubilang... ini adalah hubungan yang menguntungkan dua pihak.."


"Kenapa kamu menjelaskan kepadaku begitu detail? apa kamu tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya jadi kamu menutupinya dengan itu?."


"Aku tidak berkata seperti itu..."


"Bohong, kamu terlihat jelas wajahmu itu."


"Diamlah... jangan membuat banyak suara didalam hutan seperti ini... atau nantinya kau akan mendapatkan hal buruk yang datang..."


"J-Jangan menakutkanku!."


Tangannya yang memeluk pundak dan leherku langsung mengencang saat dia ketakutan.


"Baiklah baiklah, jangan mencekikku!."


"Hmph!."


"..."


"..."


"Hei... Aoyama."


"Ada apa? aku tidak ingin dicekik lagi."


"Bukan itu!... kamu tahu? jika besok kita akan mulai bersekolah kembali."


"Itu adalah mimpi buruk..."


"Sepertinya aku juga berpikir seperti itu..."


"..."


"Jika memang waktu terpaksa untuk terus berjalan... setiap harinya aku selalu merasa jika aku sebentar lagi akan berpisah dengan kalian... memikirkannya begitu sakit... aku ingin terus menghabiskan waktuku seperti hari hari sebelumnya... mungkin aku memang terlalu egois... karena aku baru pertama kali merasakan apa itu indahnya teman... dan perasaan yang tumbuh dalam diriku ini... dalam keadaan seperti ini, justru membuatku merasa perih..."


Banyak masalah yang akan ia hadapi nantinya, dan begitu dia memikirkannya, itu hanya akan seperti roda yang berputar kearah dalamnya jurang yang gelap.


"..."


"Aoyama... apa kamu bisa berjanji?.'


"Selama itu tidak menggangguku.."


"Mulai besok... hingga esok paginya... dan pagi esoknya lagi... seterusnya... apa kamu ingin berjanji... tidak meninggalkanku... saat kamu dengan yang lain...nya."


Dahinya yang menyentuh belakang rambutku... tangannya menggenggam bajuku, terasa begitu perasaan yang dalam dari dirinya...


Aku menghentikan langkahku... dalam sekejap, hanya mendengar suara nafasnya... dan angin malam yang menggoyangkan ranting pohon...


"Emh..."


Dia yang menunggu jawaban dariku... tangannya dingin dan gemetaran...


"Kau bisa turun sebentar?."


"Eh?."


"Sebentar saja..."


Dia pun menuruti permintaanku untuk turun dari punggungku.


Aku pun melepaskan jaketku dan memakaikan ke tubuhnya yang kedinginan... bahkan hembusan nafasnya terlihat mengeluarkan sedikit embun...


Dia begitu terdiam sambil terus menatapku...


Saat aku sudah selesai memakaikan jaket tersebut padanya... aku memberikan jawabanku sendiri untuknya.


"Sebelum itu... apa kau bisa berjanji padaku?."


"Berjanji... apa...?."


"Jika kau tidak akan pernah menyimpan rasa sakitmu sendirian... dan selalu memberikan perasaanmu yang sebenarnya kepada orang lain... jangan membuat hal yang menyakiti dirimu sendiri... kau sudah berjuang begitu keras... dan sudah saatnya untukmu mengeluarkan semuanya..."


Begitu aku mengatakan hal itu... air matanya menetes dan mengalir di pipinya...


"Sekarang kau mempunyai banyak sekali orang untuk membantumu... Sakura, Nami, Kuchima, Touya, Mai dan begitu pula... dengan aku sendiri."


Tangisnya semakin menjadi jadi... dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya...


"Sudahlah... hentikan semua ini... lepaskan semuanya... jangan memikirkan apa yang ada di masa depan... jalani hidupmu yang begitu indah... maka masa depan tidak akan menyakitimu... dan masa lalu akan mengobatimu dengan kenangan..."


Kalimat terakhirku begitu menyentuhnya... hingga dia merasa sangat emosional..


"Um! um! aku ingin! aku ingin terus bersama! aku ingin terus bahagia bersama kalian!."


Dia memelukku sambil mengeluarkan semua kesedihannya... aku tidak akan menghentikannya... aku membiarkannya untuk melepaskan semuanya... hingga dia bisa tenang...


......................


Beberapa menit kemudian... aku melanjutkan perjalananku lagi sambil menggendongnya... dia telah tenang saat mengeluarkan semua kesedihannya didalam dekapanku...


"Jadi... apa kamu ingin berjanji?."


"Tentang apa?."


"Jangan berpura-pura tidak ingat!."


"Aku sudah bilang... mereka ada bersamamu... kau tidak perlu memintaku untuk ber-."


"Aku tidak peduli... aku hanya ingin kamu berjanji padaku... jika kamu tidak akan meninggalkanku saat kamu bersama dengan yang lain..."


"I-Itu terlalu sulit untuk dilaku-."


"Apa... kamu... ingin...berjanji?."


"..."


"..."


"Huhh... baiklah, aku akan berjanji..."


"Mm! baguslah... terima kasih..."


"Tidak perlu berterimaka- Yuuki?."


Saat aku menyadarinya... dia sudah tertidur dibelakangku, kepalanya yang bersandar diatas pundakku dengan hembusan nafas yang sangat terdengar ditelingaku...


"Kau benar-benar... tuan putri yang merepotkan..."