My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 165



"Mn-hng!! menyenangkan sekali... meskipun agak menyeramkan saat mulai cepat."


"Benar... aku rasa itu yang paling menegangkan daripada yang lainnya." Nyatanya aku benar-benar tidak merasakan sensasi yang sebenarnya dari wahana tersebut... karena selama disana aku hanya fokus kepada dirinya.


"Jadi? siapa yang menang?."


"Sepertinya tidak ada... kita sama sama bisa bertahan."


"Iya juga sih..."


Sambil berjalan, kita berdua sudah membeli minuman manis saat selesai menaiki wahana itu.


"Ao, apa rasa minuman punyamu?."


"Hm? soda permen karet?."


"Rasa apa itu? aneh sekali." Mendengar namanya saja langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Memang aneh, tapi rasanya cukup enak."


"Benarkah? kalau begitu aku ingin mencobanya."


"Kau sudah mempunyai satu milikmu."


"Tapi rasanya kan berbeda... aku ingin mencoba punyamu, nanti aku akan mengizinkan kamu untuk mencoba minuman milikku juga."


"Huh... baiklah."


Aku pun memberikan minuman milikku kepadanya, dan dia memberikan minumannya kepadaku.


"..."


Entah apa hanya aku atau dia juga merasa jika melakukan hal seperti ini hampir bisa dikatakan sebagian orang adalah sebuah ciuman tidak langsung...


Tetapi dia dengan santainya meminum minuman milikku tanpa memikirkan hal seperti itu.


"Kamu benar! rasa dan namanya sangat berbeda, ini enak!."


"Sudah aku katakan."


"Kamu sudah mencoba punyaku?."


"Eh, belum..."


"Kalau begitu kita bertukar minuman saja."


"Ha? kenapa tiba-tiba seperti itu?."


"Agar tidak bosan saat meminumnya, tidak apa apa, itu hanya rasa susu stroberi."


"Disini pun kau meminum minuman yang hampir ada di setiap tempat, di sekolah pun ada."


"Mau bagaimana lagi.."


"Berarti... sekarang ini milikku?."


"Um."


"Baiklah... tidak ada lagi yang bisa aku tolak."


Pasrah dengan permintaannya, aku pun meminum minuman yang tadinya milik dirinya, dan ternyata rasa ini tidak terlalu buruk.


"Rasanya sedikit berbeda... manisnya tidak berlebihan."


"Sudah aku duga kamu akan menyukainya."


"Kau pun sempat meremehkan rasa soda permen karet."


"Hehe, aku tidak pernah mencoba banyak hal seperti dengan rasa minuman."


"Sebaiknya kau harus mencoba banyak hal... atau kau tidak akan tahu bagaimana rasanya."


"Kamu sedang membicarakan soal rasa minuman?."


"Tidak juga."


"Kalau begitu aku akan mencoba hal lain, dengan dirimu..."


"Rasa minuman?."


"Tidak juga." Dia membalas perkataan dari diriku sebelumnya.


"..."


Setelah berhasil mendapatkan ekspresi dariku, dia tertawa kecil dan begitu senang saat bisa mengembalikan sebuah kata kata dari diriku.


"Hei, Ao... bagaimana kalau kita menaiki itu."


Dia menunjuk sebuah wahana bianglala yang cukup besar...


"Kau yakin? empat jam lagi tempat ini ingin ditutup."


"Masih ada waktu banyak! ayo."


"Baiklah."


Aku seperti seorang pengurusnya, kemanapun dia pergi aku hanya bisa mengikutinya dan apa yang dia minta aku pasti akan menurutinya...


Tetapi dengan itu aku juga tidak masalah... justru aku merasa senang jika dia membutuhkan diriku... ini seperti sebuah Keuntungan kedua pihak.


Kita berdua pun masuk ke satu tempat dan bianglala tersebut langsung mulai berputar.


Begitu kita sudah hampir berada di tempat paling atas, dia berdecak kagum saat melihat dari jendela luar.


"Hebat sekali, aku bisa melihat seluruh tempat dari sini."


"..."


"Terima kasih..."


"Untuk apa?."


"Karena kamu sudah mau menemaniku kesini... jujur aku sangat senang, sampai aku sendiri bingung... bagaimana aku bisa memberikan sebuah kalimat untuk memberitahukan isi hatiku saat ini... semuanya terasa begitu nyata, sampai mimpi pun sulit untuk dirasakan."


"..."


"Sungguh... aku sangat bahagia sekarang."


"..."


Aku terdiam melihat senyumannya yang disinari oleh cahaya jingga pada sore hari... pancaran dari kecantikannya begitu membuatku membeku sampai tidak bisa menutup mulutku.


Dan aku berpikir untuk mengatakan ungkapan perasaan diriku sekarang... disini dan saat ini kepadanya.


Tempat yang cocok dan waktunya juga sudah pasti sangat cocok... hanya tinggal diriku untuk mengungkapkan perasaanku padanya.


Meski ada beberapa hal yang aku pikirkan saat melihatnya masih menikmati pemandangan dari atas sini, dan aku bisa merusak suasana hatinya.


Namun justru saat saat seperti inilah aku bisa mengungkapkan isi hatiku disaat dirinya sedang dalam suasana hati yang sangat bagus.


"Sakura..."


Aku hanya harus mengatakannya... tidak apa apa, aku pasti bisa mengatasinya...


Jika dia menolak ungkapan perasaan cintaku, mungkin ada satu atau dua akhir yang buruk dan aku tidak bisa bertemu dengannya kembali... itu adalah hal yang membuatku sangat takut sekarang.


"Aku... ada yang ingin aku katakan padamu."


Sejauh ini tidak ada masalah... apa aku bisa mengatakan hal itu sekarang?...


"Apa itu?."


Tatapannya yang begitu polos menunggu perkataanku selanjutnya... namun aku benar-benar merasa begitu takut..


Jika semua ini adalah kegagalan... maka aku akan menganggap diriku benar-benar gagal...


Namun jika aku tidak mengatakannya... aku membuang kesempatan yang begitu baik disini .. saat-saat seperti ini...


Jadi hanya ada satu hal yang harus aku lakukan sekarang... atau tidak sama sekali.


"Aku... aku menyu-."


*Ngiiitt!


Tiba tiba wahana bianglala ini berhenti mendadak dan membuatnya begitu terkejut.


"Apa yang terjadi?!."


Saat ini kita berada ditempat paling teratas, dan bianglala ini berhenti ditengah jalan... sungguh sebuah hal yang kebetulan terjadi.


"Tenang saja, sepertinya hanya. adalah teknis biasa."


"Tapi kita saat ini, posisi juta sangat tinggi..."


"Kita hanya perlu menunggunya saja, beberapa menit lagi mungkin akan mulai bergerak lagi."


"A-Aku takut..."


Terlihat tangannya gemetaran dan begitu ketakutan... kejadian yang terjadi tiba-tiba seperti ini... juga hampir membuat jantungku hampir saja berhenti.


Karena baru saja aku ingin mengatakan ungkapan perasaanku...


"..."


Aku menggenggam tangannya yang gemetaran dan menenangkannya agar dia tetap tenang menunggu wahana ini untuk bergerak kembali.


"Tenang saja, aku ada disini... kau tidak perlu takut."


"..."


"Sekarang kau hanya perlu tenang... mengerti?."


Dia mengangguk pelan begitu aku berhasil menenangkan dirinya dan membuatnya berhenti gemetaran.


Memang wahana ini berhenti bergerak cukup lama, namun syukurnya, saat beberapa menit menunggu, akhirnya wahananya kembali berjalan lagi.


"Bianglala nya... berjalan kembali."


"Lihat, sekarang sudah bergerak lagi kan?."


"Um..."


Dan sekarang dia sudah tenang, dan menghela nafasnya secara langsung...


"..."


Tetapi tiba tiba dia melihatku dengan wajahnya yang memerah, dan matanya yang memiliki pancaran dari matahari senja membuatku tidak bisa berpaling dari wajahnya.


"T-Terima kasih... karena sudah menenangkan diriku."


"T-Tidak masalah."


"...."


"..."


Kami berdua saling terdiam sesaat sampai aku sadar jika aku masih menggenggam kedua tangannya sedari tadi.


"M-Maaf! aku lupa melepaskan tanganku..."


"Tidak apa-apa... aku juga tidak ingin melepaskannya..." Sambil memalingkan wajahnya kearah lain, benar benar membuatku menjadi salah tingkah begitu melihatnya.


Setelah itu, akhirnya kita berdua turun dari wahan tersebut, meskipun ada sedikit kendala yang membuat wahana itu terhenti... namun setidaknya aku sudah berusaha untuk mengungkapkan perasaanku.. meskipun belum tersampaikan kepada dirinya.


"Kau sudah tidak apa apa?."


"Um... meskipun sedikit takut akibat kejadian tadi, tapi aku cukup merasa senang."


"Syukurlah kalau begitu."


"Maaf ya... karena hal tadi aku jadi mengacaukan semuanya... aku sedikit terkejut dan takut.." Dia merasa bersalah karena kejadian tadi.


"Jangan menyalahkan dirimu, semua itu wajar, karena kecelakaan bisa saja terjadi... kau pasti sangat khawatir... namun kita bisa selamat dan berhasil turun... kita harus bersyukur dan tetaplah bersenang-senang, karena sekarang aku hanya ingin melihatmu tersenyum."


"..."


Dia melihatku dengan tatapan yang membuatku salah tingkah, karena matanya yang masih berkaca-kaca dan berkilau, membuat dirinya semakin cantik.


"K-Kalau begitu, bagaimana kalau kita... pulang?."


"Um... sebentar lagi tempatnya juga akan tutup."


"Kau benar."


Kita pun akhirnya selesai untuk bersenang-senang di tempat ini, dan berencana ingin pulang.


Namun mataku tidak sengaja melihat sebuah toko yang menjual banyak sekali hiasan bunga bunga yang sangat indah, dan aku berniat untuk membeli salah satu bunga tersebut untuknya.


"Sakura, apa kau bisa menunggu sebentar disini?."


"Kenapa?."


"Aku ingin pergi ke kamar kecil sebentar."


"Oh baiklah, aku akan menunggu di bangku sana."


"Ya.."


Saat dia pergi ke bangku umum disana untuk menungguku, aku pun mengambil kesempatan untuk membeli bunga tersebut.


.


.


Aku bisa melihat banyak sekali jenis bunga hiasan yang sangat indah... namun yang paling menarik perhatianku adalah sebuah hiasan bunga mawar merah muda yang sangat indah... dan aku berencana untuk membelinya.


Saat aku ingin mengambil bunga tersebut... aku tidak sengaja melihat seseorang yang aku kenal... sangat aku kenal.


Dan dia sedang mengangkut sebuah barang ke belakangan salah satu toko yang ada disini.


"..."