My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 88



Aku sedang berjalan ditengah kota sambil membawa beberapa kantung untuk bahan makanan dan makanan ringan serta minuman soda untuk menemani snack snack yang sudah kubeli di minimarket dekat sekolah... karena rumahku didalam laci dapur hanya berisikan makanan instan dan juga beberapa dus kopi dan teh, karena aku tidak terlalu sering memasak maka hanya kulkas ku yang berisi bahan makanan segar untuk sarapan pagi.


"Lagi lagi aku yang membeli makanannya... rasanya aku pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya..."


Aku sekarang ingin pulang dan berjalan mengarah stasiun kereta, tetapi pandanganku teralihkan dengan keluarnya volume terbaru novel favoritku yang dipajang tepat di kaca depan toko itu.


"Eh? volume terbarunya sudah keluar? perasaan aku ingat masih beberapa hari lagi... atau aku lupa?."


Tanpa berpikir panjang aku pun masuk kedalam dan bergegas membeli buku itu lalu segera keluar.


Tetapi begitu aku berada tepat disebelah sebuah gang kecil disela sela gedung, aku mendengar suara yang begitu keras dari arah sana.


"..."


.


.


.


"Uhuk! ughuk!."


Seseorang yang terjatuh diantara barang barang bekas buangan, dengan wajahnya yang terlihat babak belur.


Aku sedikit terkejut... karena dia adalah orang yang cukup aku kenal meskipun baru bertemu satu atau dua kali.


Dengan datar aku memberikan bantuan padanya, meskipun aku tidak tahu alasannya babak belur seperti itu.


"Apa kau perlu bantuan?."


Saat dia mendongak keatas dan melihatku, matanya sedikit terbelalak tetapi sambil menahan sakitnya dia menolaknya.


"Tidak..."


"Oh."


Karena dia yang tidak ingin menerima bantuanku, aku pun pergi keluar gang tersebut tanpa membantunya... tetapi saat aku berjalan beberapa langkah, tembok yang menutupi gang kecil itu langsung hancur karena batu bata yang sudah tua dan dengan sedikit kekuatan bisa dihancurkan dengan mudah.


"Ketemu! dia ada disini!."


"Tch!."


Lalu aku melihat ada sekitar delapan irang dengan tubuh berototnya datang dan terlihat marah begitu melihat orang itu.


"Kau tidak bisa lari lagi! sekarang kembalikan saham bos kami yang sudah direnggut oleh tuanmu!."


"Maaf... tetapi saya tidak akan sedikitpun mengotori nama tuan saya dari kalian."


Dia berdiri sempoyongan dan tetap menjaga kesadarannya, meskipun sudah babal belur seperti itu, dia tetap berdiri dan melawan mereka...


"Kalau begitu, kami akan mengambil nyawamu!! Lawliet Erlic!!."


Ya, dia adalah asisten Azumi yang sedang berada dalam situasi buruk... tetapi seperti sebutannya..


Dia bergerak sesuai perintah tuannya, dia seperti sebuah robot.


Melawan delapan orang sekaligus tentunya tidak mungkin bisa dia lakukan dengan luka yang sudah berada diwajahnya...


Saat mereka mulai pertengkarannya, aku pun tetap berjalan keluar dan meninggalkannya disana.


*Buk!!


Pukulan itu tepat mengenai wajahnya hingga ada darah yang keluar dari hidungnya.


Tetapi dia masih berdiri dari sana dan tetap bertahan mengepalkan tinjunya.


"Hem!! dasar asisten bodoh! kau rela mati untuk tuanmu... bahkan tuanmu tidak pernah peduli denganmu."


"Itu...lah seorang asisten... aku tidak keberatan jika itu adalah tugask- ughuk!!."


"Banyak sekali bicaramu!! kami masih belum puas!."


*Buk!!


*Daakkk!!


*Bak!!


Kini wajahnya sudah dipenuhi lebam dan darah, tetapi bahkan dia sudah jatuh terpuruk, mereka masih belum selesai untuk memukulinya... mereka benar-benar ingin membuatnya mati.


"Berdirilah... acaranya belum selesai!."


"Uhuk!! uhuk!!."


Dia sudah terlihat pasrah dan tidak bisa melakukan apapun.


"Sekarang kita akan menendangnya bersama!!."


"Dalam hitungan tiga!! dua!! sa-."


"Apa kalian sedang mengadakan acara?."


Dari ujung gang itu terlihat sosok laki-laki yang sedang berjalan pelan menuju kearah mereka.


"Siapa dia?!."


"Bisa gawat kalau kita ketahuan!! cepat kejar orang i-."


"Tidak perlu repot-repot menangkapku... karena kalian yang sudah tertangkap."


*Ninuninuninu


Diluar gang terdengar suara sirene polisi, dan membuat mereka panik.


"B-Bagaimama bos?! ada polisi!!!."


"Sial!! kita kabur lewat jalan satunya, cepa-."


*Ninuninuninu


Dam malangnya gang kecil itu sudah terkepung penuh dengan mobil polisi diluar.


"Kita terobos!! lindungi aku!!."


Mereka berlari menuju kearahku, tetapi polisi dibelakang sudah mulai berjalan.


"Berhenti!!."


*Dor!!


Polisi yang sudah memberikan peringatan dan menembak keatas langit, tetapi mereka tetap berlari hingga mendekatiku.


"Bos! orang itu!."


"Minggir!! aku akan menghabisinya dengan satu pukulan!!."


Dia berlari dan siap memukulku dengan kepalan tangannya yang begitu besar.


"Minggir sialan!!."


Saat orang itu mendorong lengannya dengan kuat, tetapi yang ia dapatkan hanyalah angin.


Aku berhasil menghindarinya dan membalas dengan meninju wajahnya hingga menghantam dinding.


*Dum!


Dia langsung pingsan tidak sadarkan diri, dan anak buahnya ketakutan hingga menyerah.


.


.


.


"Terimakasih sudah memanggil kami... apa anda ada sebuah bukti yang lebih jelas? kami akan menyelidiki kasus ini."


"Aku hanya tidak sengaja melihatnya yang sedang dianiaya oleh mereka, jadi saya tidak tahu alasan pastinya."


"Oh begitu... baiklah, sekali lagi terima kasih."


Lalu para polisi pergi membawa delapan orang itu untuk diperiksa lebih lanjut... dan aku mengecek keadaannya yang sedang diobati hingga wajahnya penuh dengan plester dan perban.


Dia yang sedang duduk dibelakang ambulans hanya diam melihatiku sambil diobati oleh dokter.


"Maaf, apakah anda keluarganya? kami perlu keluarganya untuk menandatangani formulir ini."


"Aku tidak mengenalinya..."


"Baiklah, maaf saya permisi."


Setelah itu dia dibaringkan dan belakang ambulan itu ditutup, lalu mereka pergi untuk merawatnya lebih baik lagi disana.


"Huh... repot sekali."


Lalu aku pergi untuk mengambil barang belanjaanku dan bergegas pulang karena mungkin mereka sudah menungguku daritadi... tetapi.


"Tunggu!."


Aku menoleh kebelakang dan terkejut... dia berdiri dibelakangku seketika, dan membuatku tidak bisa berpikir untuk sesaat.


"Bagaimana kau bisa keluar dari ambulan itu..."


"Itu... bukan hal yang penting... aku ingin berterimakasih padamu."


"..."


"..."


"Hanya itu?."


"..."


"Sebaiknya kau pergi kerumah sakit dan obati lukamu, aku tidak ingin dianggap penjahat karena dekat dengan orang yang terlu-."


*Bruk!


Saat aku berbalik, tiba tiba tubuhnya terjatuh dan membuat perhatianku kembali diarahkan.


Aku mendekatinya dan melihat dia yang masih sadar, tetapi mungkin dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan?."


"..."


Dia hanya diam dan tidak bisa berkata-kata sambil menatap langit biru diatas.


"..."


*Drrrr!


Bunyi yang begitu nyaring berasal dari perutnya yang kelaparan.


"Kau lapar?."


"B-Bukan apa apa."


"Kenapa kau sangat keras kepala? biarkan saja mereka membawamu untuk diobati."


"Tidak bisa... jika tuan tahu aku berada dirumah sakit... aku bisa menambahkan masalah untuknya."


"Lalu... kau ingin berbaring disini hingga malam?."


"..."


Wajahnya yang datar dan banyak luka lebam, apalagi umurnya yang terlihat masih muda membuatku menjadi seperti orang yang kejam jika membiarkan disini, atau mungkin saja dia akan mati disini.


"Huh... merepotkan sekali."


Aku berjongkok dan memberikannya sekali lagi bantuan.


"Apa kau ingin beristirahat dirumahku?."