
*Dumm!!!
Saat saat terakhir orang itu ingin mengakhiri hidupku, tiba tiba sebuah tembok hancur hingga merusak bagian depan gudang tua itu...
Ada seseorang dengan badan yang tidak kalah besar dari pemimpin kelompok itu langsung mendorong orang itu hingga terlempar jauh...
Kepalaku sangat pusing... seluruh tubuhku seperti mati rasa dan tidak bisa bergerak dari sana...
"Aoyama!!."
Suara yang samar samar itu seperti memanggilku berkali kali... aku pun tidak bisa melihatnya dengan jelas...
"( Aku sudah tidak kuat...)" Perlahan kesadaranku mulai hilang...
Aku masih bisa mendengar seseorang memanggilku beberapa kali...
Tetapi seutuhnya aku kehilangan kesadaran dan pingsan ditempat..
................
"Ugh..."
Aku terbangun diatas tempat tidur dan ruangan yang sangat terang...
Aku mencoba membuka mataku tetapi aku tidak bisa melihat dengan jelas karena silau dari cahaya lampu diatas..
Aku menggerakkan tanganku perlahan-lahan... tetapi tiba tiba tanganku terhenti saat aku merasa sedang memegang sesuatu...
Penglihatanku yang sudah mulai membaik mencoba melihat apa yang sedang kusentuh...
"Yuuki.."
Seorang gadis yang sedang tertidur diatas kasurku... dia duduk disebelah kasurku dengan membaringkan kepalanya di tangannya yang berada diatas kasur.
"..."
Aku memperhatikan wajahnya yang sedang tertidur terlihat keresahan yang masih melekat pada dirinya.
Seakan aku dihipnotis oleh sesuatu... tanganku bergerak sendiri untuk mengelus rambut hitam panjangnya itu...
Tetapi tidak beberapa lama dia terbangun dan aku langsung menarik tanganku segera.
"Ehmm.."
"Maaf... apa aku mengganggu mimpi indahmu?."
"A-Aoyama?! kamu tidak apa apa? apa ada yang masih terasa sakit?!." Setelah bangun dari tidurnya dia langsung mengkhawatirkan keadaanku.
"Seperti yang kau lihat... aku baik baik saja... maaf jika aku membuatmu khawatir... aku merasa harus melakukan apa yang sudah aku perbuat... ini adalah kesalahanku, jadi-."
*Hiks
Belum selesai aku berbicara, dia menangis tersedu-sedu dan itu membuatku panik.
"K-Kau tidak apa apa? apa aku salah bicara?."
Dia menggelengkan kepalanya sambil berusaha menghapus air matanya yang masih keluar tidak berhenti..
"H-Hei... berhentilah seperti itu... aku merasa bersa-."
Dia memelukku dan mengubur wajahnya diatas tubuhku hingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
"..."
"Aoyama bodoh! sangat bodoh! keras kepala! aku sangat marah padamu!."
Aku yang hanya diam mendengar seluruh perkataannya itu..
"Maaf... itu terjadi begitu saja... aku tidak bisa diam saat tahu jika mereka berada disana.."
"Kamu terluka parah disana! saat melihatmu terkapar pingsan, bagaimana aku tidak khawatir!."
"Ternyata kau bisa mengkhawatirkanku... aku tidak bisa mendugan- aw sakit! sakit!."
Dia mencubit tanganku dengan cukup keras...
"Jangan bercanda.." Matanya yang masih basah menatapku sambil menggembungkan pipinya terlihat imut tetapi mematikan.
"Baiklah baiklah, aku tidak lagi bercanda..."
"Apa kamu masih merasa pusing?."
"Ah... sedikit.."
"Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi... kamu bisa kembali beristirahat.." Dia menjauh dariku dan berencana untuk pergi keluar.
"Tunggu..." Aku menahan tangannya yang ingin pergi.
"A-Ada apa?."
"Tetap disini... aku masih ingin berbicara denganmu."
"Tapu kamu masih belum sehat... aku akan meminta dokter untuk mengobatimu.."
"Tidak perlu... aku hanya ingin berbicara denganmu.."
"Duh jangan keras kepala... bagaimana jika kamu sakit lagi?."
"Aku akan menyalahkanmu... karena kau tidak ingin tetap disini." Aku masih tidak melepas genggamanku.
"B-Baiklah! aku tetap disini... tapi kamu harus istirahat!."
"Bagus.." Aku melepas genggamannya.
"Hmph!."
Sekarang ini aku hanya bisa memintanya untuk memberitahukan saat kejadian itu...
"Bagaimana aku bisa selamat? dia ingin menyerangku dan..." Aku mencoba untuk mengingatnya.
"Semua ini karena, kamu tahu? dia badannya berotot dan besar... dia juga mengenalmu... dia menyebutmu Ao...?."
"Guru Baki? kenapa beliau tahu tentang ini?."
"Sebelumnya Nami yang keluar dari gudang itu melihatku dan menceritakannya semua kepadaku... dan orang itu langsung menawarkan bantuannya... sepertinya ia tidak sengaja mendengar percakapan kita."
"Ternyata bekerja tidak beraturan ada untungnya juga..."
"Bagaimana bisa kamu mengenal orang seperti itu?."
"Dia adalah guru bela diriku... biasanya memang dia selalu mencari pekerjaan acak yang ada disekitarnya.."
"Jadi seperti itu..."
"Lalu bagaimana dengan Azumi?."
"..."
"Kami tidak mempunyai bukti jika dia yang melakukannya... kelompok orang orang itu juga tidak ingin membuka mulutnya..."
"Jadi dia lolos... ?."
"..." Dia mengangguk perlahan.
"Jika tidak ada yang bisa dilakukan... mau bagaimana lagi.."
Masalah yang Azumi buat sudah hampir ingin membunuhku... tetapi saat ini dia bisa lolos dari masalahnya...
"Maka dari itu... aku ingin kita tidak berdekatan lagi setelah ini... aku tidak ingin ada yang akan menjadi korban karena keberadaanku.." Raut wajahnya berbanding terbalik dengan perkataannya...
"..."
Kenyataannya memang Yuuki selalu mendapatkan tekanan dari keluarga Azumi... meskipun ia sudah keluar dari sangkarnya... kakinya masih terikat dan tidak bisa bebas melakukan apa saja...
Aku tahu jika ini adalah hal yang nyatanya benar... aku harus menjauhinya agar kedua belah pihak dari kami tidak akan ada yang mendapatkan masalah...
Aku tidak mengerti sedikitpun tentang saling memahami sesama keluarga...
Bahkan dari sekian banyaknya keluarga yang pernah kulihat... mungkin pertama kalinya aku melihatnya.
Mereka yang ingin kebebasan seperti diriku... nyatanya aku terkurung oleh kebebasan itu sendiri.
Pandangan setiap manusia berbeda-beda, dan juga berbagai ragam bentuk pandangannya.
"Yuuki..."
Aku bukanlah siapa siapa...
"Aku ingin meminta satu permintaan untukmu..."
Bahkan aku tidak bisa memaksakan diriku untuk masuk...
"Jika memang aku bukanlah siapa siapa untuk bisa bebas melakukan apa saja tentangmu."
Tetapi...
"Kalau begitu..."
Sesuatu yang bisa aku perjuangkan... hanya untuk sebuah perasaan seorang gadis.
"Izinkan aku."
Aku memang tidak bisa ikut campur dengan hidupnya saat ini.
"Izinkan aku untuk menjadi pengawalmu sekali lagi."
Tetapi aku bisa masuk kesana melewati banyak jalan akses...
Untuk menjadi orang yang bisa melindunginya... yaitu pengawalnya.
"..."
"Eh? a-apa maksudmu."
"Jika aku tidak bisa berbuat apapun karena aku bukan siapapun untukmu... kalau begitu aku akan sekali lagi untuk melakukan pekerjaan ini."
"Apa kamu yakin dengan... ucapanmu barusan?."
"Aku sudah terlanjur mengatakannya.."
"K-Kenapa kamu ingin berbuat seperti ini untukku.." Dia seperti merasa senang dan tersipu..
"Yah... sebenarnya aku juga sedang butuh uang... jadi jika ada yang bisa dimanfaatkan kenapa tidak?." Sengaja membuatnya tidak berharap yang lain..
"A-Apa yang kamu katakan! kembalikan rasa senang ku!." Dia memukuliku dengan bantal.
"Tapi kita bisa sama sama untung, aku bisa membantumu dan sebaliknya."
"B-Benarkah?."
"Tapi gajinya dua kali lipat." Senyum mengejek.
"Sia sia aku sudah berharap lebih... masa bodoh dengan bayaran mu hmph!."
"Jadi bagaimana? aku tidak ingin ada syarat lebih.."
"K-Kalau itu yang kamu mau... aku akan beritahu papa... tapi aku juga punya satu hal yang ingin kulakukan..."
"Benar juga... katakan saja, asal itu tidaklah merepotkanku maupun waktuk-."
*Cup
Tiba tiba dia mencium pipiku saat aku sedang lengah..
"..." Aku terdiam sesaat.
"J-Jadi kita sudah impas... a-aku ingin memberitahukan yang lain.." Dia pergi keluar dengan cepat.
"Itu seperti bukan permintaan..."
Setelah dia keluar dan menutup pintunya, dia langsung tersenyum bahagia, rasa yang tidak bisa ia tunjukkan didalam.
"Ehem."
......................
Malam sudah tiba dan aku sudah dibolehkan untuk keluar dari rumah sakit... saat aku ingin mencari taksi atau berjalan sendiri hingga kerumah, tiba tiba sebuah mobil berhenti didepanku.
"Bagaimana rasanya babak belur?." Dari jendela mobil itu, Guru Baki memberi salam yang tidak mengenakan.
"Guru... kenapa kau ada disini?."
"Aku kebetulan punya pekerjaan kecil lagi.."
"Lagi lagi pekerjaanmu itu selalu didekatku."
"Naiklah."
"Kau bilang sedang ada pekerjaan?."
"Pekerjaanku untuk mengantarmu ke suatu tempat... jadi cepatlah naik.."
"Kenapa tidak kau katakan dari awal.."
*Burmmm
Sepanjang perjalanan aku hanya melihat keluar jendela mobilnya sambil mendengar guru itu bersiul...
"Guru... terima kasih karena sudah menyelamatkanku.."
"Hm? aku hanya kebetulan melihatnya... jika bukan karena pacarmu aku tidak akan membantumu."
"Ha? pacar?."
"Ya, yang rambutnya hitam panjang dan ada penjepit rambut kucing di rambutnya." Yang dia maksud adalah Yuuki.
"Sejak kapan aku punya hubungan seperti itu?."
"Jadi dia bukan pacarmu?."
"Itu mustahil."
"Sayang sekali... padahal dia terlihat seperti itu... membawamu ke rumah sakit, mengobati lukamu, bahkan sampai menjagamu di sana."
"Dia memang seperti itu pada semua orang... aku bukan siapa siapanya."
"Kamu harus sedikit memahami perasaan orang lain... dulu ada berapa orang yang sudah kamu tolak secara tidak langsung seperti itu saat di pelatihan."
"Berisik, bagaimana denganmu?."
"Haha, aku tidak ingin menikah lagi... dan juga aku tidak ingin melakukannya lagi." Sudah lama istri guru Baki meninggal dan itu sudah menjadi sebuah kenangan untuknya dan tidak akan dilupakan.
"Kalau begitu aku baik hati ingin menemanimu latihan."
"Kamu bukan ingin menemanimu, tapi ingin minta diajari olehku, dasar murid tidak tahu diri... aku akan mengajarimu dengan berat agar kamu tidak akan babak belur seperti itu lagi." Dia menunjukkan semangatnya dengan ototnya.
"Kalau begitu mohon ajarannya." Hormatku.
"Kita sudah sampai."
lalu kita berdua turun dari mobilnya.
"Sekolah?."
"Benar."
Bagaimana aku bisa kembali kesekolah, dan saat ini harusnya semua murid sudah bubar...
"Ingin aku bantu?." Guru Baki melihatku yang masih sulit untuk berjalan.
"Aku masih sanggup berjalan... terima kasih."
Sekarang adalah jam 22.15 dan ini sangat gelap tidak ada lampu yang menyala di gedung sekolah itu.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan mengantarku kesini? disini sudah sangat gelap."
"Lihat saja." Guru Baki bersiul didalam sunyi, dan itu membuatku heran.
Tetapi tidak lama kemudian, sebuah cahaya muncul dari tumpukan kayu yang sudah disusun... cahaya itu berasal dari api yang dinyalakan diatas kayu.
"..."
"Aoyama!."
"Kakak!."
Suara mereka terdengar dibelakangku dan saat aku berbalik, semuanya masih berada disini.
"Sakura... Mai... kenapa kalian ada disini?."
"Apa kita tidak boleh disini?."
"Kita juga harus memberikanmu perayaan."
Touya dan Kuchima keluar dari balik api unggun besar itu... Nami, Rina dan juga Yuuki pun ada.
"Kalian... kenapa repot repot berbuat seperti ini?."
"Karena kamu tidak pernah merasakan berada di dekat api unggun yang besar... jadi kita akan membuatmu merasakannya..." Ucap Yuuki.
"..."
Aku tidak pernah dari dulu mengikuti hal yang seperti ini... aku selalu melihatnya dari layar ponsel maupun poster... ternyata berada didekatnya terasa hangat...
"Kakak! aku sangat khawatir saat mendengarmu berada dirumah sakit..." Mai memelukku dengan erat.
"Maaf sudah membuatmu khawatir." Aku mengelus rambutnya dan menenangkannya.
"Apa ada yang ingin kau ucapkan?. Begitupun juga dengan Touya yang sudah kutinggalkan dan aku mengingkari janjinya.
"Maaf, karena aku tidak tampil disana dengan kalian..."
"Baiklah, aku sudah tidak memikirkannya, tapi aku tetap marah denganmu karena tidak memberitahukanku dan pergi kesana sendirian... memangnya apa yang bisa kau lakukan disana sendirian? babak belur?."Dia mengatakannya seperti orang tua.
"Kata katamu sedikit memberikan tekanan... tapi ini memang salahku."
"Yang penting kamu tidak terjadi apa apa... kita sudah sangat senang."
"Sakura... terima kasih."
"Kalau begitu kami juga mengucapkan terima kasih padamu... kamu sudah menyelamatkan adikku dari sana... mulai sekarang jika ada hal yang ingin kamu lakukan, apa saja akan aku bantu."
"Terima kasih sudah menolongku... maaf saat itu aku meninggalkanmu."
"Tidak tidak... kalian tidak perlu seperti itu..."
Aku merasakan kehangatan yang lebih hangat dari api unggun itu...
Apa yang sudah aku lakukan ini tidaklah seberapa untuk menjadi seseorang yang baik.
Tetapi saat ini saja aku bisa mengucapkan jika ini tidaklah buruk seperti yang aku kira...
Lalu kami bersenang-senang di dekat api unggun itu dengan berbagai hal yang kami lakukan.
"Enaknya masa muda... aku jadi teringat masa mudaku." Dari belakang guru Baki melihat para anak anak seperti dia beberapa tahun lalu.
"Maaf paman... kita hanya punya bir kalengan." Yuuki memberikan sebuah minuman padanya.
"Ah jangan dipikirkan, aku tidak memilih milih bir." Dia menerima Bir yang Yuuki berikan.
"Dan juga terima kasih sudah membantu kami... meskipun ini tidak seberapa." Yuuki juga memberikan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang.
"Aku tidak bisa menerimanya... karena begitu juga aku merasa jika muridku terluka karena aku tidak berusaha keras untuk mengajarinya... jadi kamu simpan saja uangnya untukmu."
"Kalau begitu terima kasih banyak... paman begitu baik dengan Aoyama..."
"Aku sudah mengenalnya sejak beberapa tahun... dan aku sudah mengenalnya seperti apa."
"S-Sudah lama?."
"Tenang saja, aku tidak mengambilnya kok.."
"T-Tolong jangan bercanda, aku tidak bermaksud seperti itu!." Dia tersipu malu.
Saat mereka berdua sedang asik mengobrol di belakang, aku menghampiri mereka.
"Tidak kuduga guru suka dengan yang lebih muda."
"Kita hanya mengobrol sebentar! bukan yang aneh aneh!."
"Ups jantannya keluar, aku tidak melakukan apa apa... aku justru mendukung kalian, hehe."
"Mm!" Semakin lama Yuuki semakin masuk kedalam pikirannya.
"Jangan mengatakan sembarangan, aku kesini hanya ingin memanggilnya karena Sakura membutuhkannya."
"B-Baiklah, aku kesana..." Dia tidak ingin berada disini terlalu lama agar aman.
"Jadi... sebaiknya aku juga pergi sekarang."
"Kau tidak ingin ikut?."
"Aku masih ada pekerjaan... jadi kalian saja bersenang-senang."
"Baiklah... terima kasih banyak atas semuanya."
"Santai... jangan lupa untuk latihan lusa depan."
"Ya, aku tidak akan lupa."
"Bagus."
Guru Baki pun pergi karena dia masih ada urusan pekerjaan malam malam seperti ini.
"Paman Baki tidak ikut?." Sakura yang melihatnya pergi dan ikut ke depan gerbang
"Dia seperti biasa sibuk dengan pekerjaan asal asalannya."
"Begitu..."
"Ayo kembali ke yang lain, mereka nanti menunggu."
"Ao..." Dia menggenggam tanganku saat aku ingin kembali.
"Ada apa?."
"Kamu... tidak apa apa? saat aku tahu kamu terluka, aku sangat khawatir."
"Lihat saja, aku sudah sangat baik baik saja... kau tidak perlu khawatir lagi."
"Um.."
"Kakak!! Kak Sakura! darimana saja kalian, kita ingin pergi."
"Mai sudah memanggil, sebaiknya kita segera kembali."
"B-Benar..." Dia melepaskan genggamannya.
Lalu kami kembali ke yang lainnya saat mereka berencana ingin langsung memakai kupon makan gratisnya yang hadiah dari menangnya kelas N sebagai kelas teramai pengunjung.
"Bersulang!!!."
*Cling!
Mereka semua menikmati makanan yang terbilang cukup menguras isi dompet dan syukurnya ada kupon penolong yang membuatnya gratis...
Tetapi...
"..."
"..."
Diluar sana, aku dan Touya yang tidak mendapatkan kupon tersebut dikarenakan kupon Touya diberikan kepada Rina, dan kupon ku diberikan pada Yuuki... tidak adilnya Mai mendapatkan gratis kupon yang masih tersisa karena ikut membantu kelas kita...
"Sekarang apa..."
"Aku tidak tahu..."
"..."
"Kau ingin Ramen? aku tahu tempat yang enak."
"Benarkah? ayo kalau begitu."
"Baiklah, aku akan mentraktir mu sebagai permintaan maafku."
"Ini baru yang kutunggu... aku jadi bisa memaafkan kesalahanmu."
"Ya ya.."
Saat kami berdua ingin pergi, tiba tiba Kuchima datang.
"Bagaimana jika aku yang mentraktir kalian."
"Kuchima."
"Bukannya kau ikut didalam?."
"Mana mungkin, mereka semua perempuan dan aku lelaki sendiri disana dan tidak bersama kalian."
"Hahaha, baiklah kau boleh ikut... tapi beneran traktir kan?."
"Ya... kalian bisa sepuasnya.."
"Baiklah, ayo cepat!."
Dan kami bertiga pergi ke tempat restoran Ramen yang terdekat dan enak...
Masa SMA pertamaku berakhir dengan cukup rumit... tetapi pada akhirnya aku bisa merasakan manfaatnya...
Ini tidaklah buruk..
Dan kupikir jika hidupku akan lebih merepotkan selanjutnya...