My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 72



Kadang dunia ini tidaklah ada manusia yang menyadari kebebasan palsu mereka...


Tertawa dan menangis, bahagia maupun bersedih... emosi yang menyentuh hati... seringkali dirasakan oleh remaja remaja sekarang...


Karena perasaan tidak bisa disatukan dengan sebuah logika, karena mereka seperti air dengan minyak.


*Csshhh!


Seperti saat pagi hari disambut dengan ucapan selamat pagi dari mereka yang peduli denganmu, dan dilupakan hingga mengingat saat bertemu oleh orang yang tidak peduli denganmu...


*Slurp..


Atau hanya mendengar suaranya sedikit saja sudah menjadi penyemangat hidup...


Itu yang biasa aku sebut "Penyakit Remaja"...


Kadang emosi mereka berganti begitu cepat semudah membalikkan telapak tangan..


Tetapi itu hanyalah sebuah kenangan masa lalu yang sudah terlupakan...


Tidak ada rasa, tidak ada memori...


*Click!


"Ada apa?."


"Apa kakak sibuk?."


"Entahlah... aku sedang berusaha tenang dengan secangkir kopi di pagi hari."


"Kalau begitu apa kakak mau menemaniku berbelanja?."


"Jarang sekali kau mengajakku kedalam hobimu."


"Tidak hanya untukku saja, tapi untukmu juga."


"Apa itu?."


"Apa saja, yang kakak perlukan untuk kehidupan kakak."


"Apa kau tidak sedang hanyut dalam iklan di internet?."


"..."


"..."


"Pokoknya aku hanya ingin memenuhi kebutuhan pokok saja! kalau kakak tidak ingin menemaniku, aku akan-."


"Baiklah baiklah, tanpa kau mengancamku, aku juga akan menemanimu."


"Benarkah? yes!! baiklah! nanti Mai akan memberitahukan tempat dan waktunya!."


"Merepotkan sekali..."


......................


"Maaf menunggu lama."


"Seharusnya kau yang mengajak harus datang lebih dulu."


"Mai butuh banyak waktu untuk bersiap-siap! sudah, ayo kita jalan."


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?."


"Bisa dibilang, ini adalah belanja bersama diakhir liburan?."


"Tidak liburan pun juga bisa melakukan seperti ini."


"Aku ingin membeli pakaian dan beberapa alat make up, karena semuanya sudah hampir habis sebelum berakhirnya liburan, jadi bisa gawat kalau sampai itu terjadi."


"Merepotkan sekali ya, menjadi seorang gadis."


"Tapi aku juga ingin membelikan kakak pakaian yang lebih modis."


"Semua pakaian sama saja... asal itu menutupi tubuh."


"Pakaian sama seperti suasana hati, selalu berganti disaat yang tepat... seperti kakak yang tidak pernah merubah suasana hati."


"Aku tidak pernah mendengar logika seperti itu..."


"Pokoknya ikut saja!."


Karena paksaan dari Mai, aku terpaksa menemaninya berbelanja karena 4 hari lagi kita semua sudah memulai kegiatan sekolah kami kembali... begitupun juga dengan Mai yang sudah akan bersekolah di sekolahku, mungkin saja memang dia menginginkan berganti suasananya disekolah yang baru...


"Bagaimana dengan topi? kakak terlihat cocok."


"Aku tidak ingin mengubah rambutku... dan juga aku jarang memakai topi."


"Kalau begitu coba saja terlebih dahulu."


Aku menuruti permintaannya untuk mencobanya sekali.


"..."


"Bagaimana?."


"Kakak benar... lebih baik tidak perlu menggunakan topi."


"Aku merasa seperti sedang dihina."


"Habisnya... wajah kakak yang suram, dengan menggunakan topi justru seperti orang yang mencurigakan...'


"Baiklah, lupakan saja."


"Kalau begitu kakak harus menggunakan baju dengan warna cerah!."


"..."


"Dan juga celana panjang jeans berwarna biru tua!."


"..."


"Sepatunya... merah atau hitam? merah terlihat lebih dewasa... tidak, hitam terlihat lebih keren... warna hijau sepertinya juga bagus, terlihat lembut! tapi lebih cocok yang merah..."


"..."


"Kaos biru langit lebih cocok jika luarannya berwarna gelap... hitam ini bagus sekali!."


"..."


"S-Semuanya?."


"Iya! cepat pakai, aku sudah tidak sabat."


"Huhh..."


Aku masuk kedalam ruang ganti dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang ia pilih.


*Srett


Tirai pun dibuka.


"Waahhh! seperti bukan kakakku... sangat keren! tidak terlihat suram!."


"Memuji atau meledek mana yang benar..."


"Tapi benar benar cocok sekali... tidak terlalu ramai dan sederhana."


"Hm... kau benar... mudah dan tidak ribet."


"Baiklah, aku akan membelinya."


"Kau yakin?."


"Sangat yakin, ayo cepat kita ke kasir untuk membayarnya."


"Uh.."


Setelah kita sudah membayar baju yang sudah dibeli, kita langsung pergi kearah toko alat make up, dan aku tidak yakin ingin pergi masuk kedalam sana..


Sampai aku melihat sekitar, tepat di seberang toko itu terdapat toko buku dan aku berencana untuk membeli beberapa novel juga...


"Mai, tunggu sebentar."


"Hm?."


"Sepertinya aku tidak bisa masuk menemanimu, karena ada buku yang ingin aku beli disebelah sana." Sambil menunjuk toko buku itu.


"Kalau begitu baiklah, lagipula baru saja aku ingin bertanya pada kakak ingin masuk atau menunggu didepan saja."


"Baiklah, jika ada apa apa hubungi saja, aku akan menunggu didalam."


"Um."


Lalu kami berdua berpisah untuk mendapatkan keperluan masing-masing.


Aku pun masuk kedalam toko buku tersebut, tokonya lumayan sangat besar jika dikatakan berada didalam pusat perbelanjaan... dan juga sepertinya toko buku ini sudah terkenal dimana-mana, sehingga terlihat seperti toko yang bagus.


Aku pun berkeliling mencari buku yang aku cari, dan untungnya mereka menyediakan buku itu, terlebih lagi semua volumenya lengkap dari awal hingga yang terbaru, seperti yang diharapkan...


Aku mengambil beberapa yang ingin dibeli, dan sambil menunggu Mai, aku membaca beberapa novel lain untuk mengisi waktu...


Saat aku ingin menaruh buku yang sudah aku baca ketempat semula, tiba tiba seorang gadis menabrakku sehingga buku yang ia bawa sangat banyak itu berjatuhan.


"Ah! maaf! aku tidak sengaja!."


"Tidak apa apa..."


Dia memungut kembali buku buku itu, tetapi karena saking banyaknya buku yang ia bawa, tangannya kesulitan untuk mengambil sisanya yang masih tergelatak dibawah.


"Perlu bantuan?."


"Eh? benarkah? maksudku, tidak apa apa?."


"Santai saja."


Aku membantunya mengambil sisa buku yang tidak bisa ia bawa.


Dan aku melihat satu buku yang sama dengan buku yang ingin aku beli.


"Kau juga membaca series novel ini?."


"Itu? um! aku sangat menyukainya."


"Kupikir tidak ada gadis yang menyukai novel dengan cerita berat..."


"Dari dulu aku sudah menyukai novel... jadi apapun yang aku baca sangat bagus."


"Begitu... buku buku ini ingin dibawa kemana?."


"Aku ingin membeli semuanya... apa aku boleh meminta tolong padamu? sepertinya aku tidak bisa sendiri..."


"Tidak masalah... aku pun juga ingin membayar buku juga."


"Oh begitu... baiklah, terima kasih banyak."


.


.


.


Beberapa jam kemudian, Mai sudah membeli semua yang ia butuhkan...


"Sip! aku sudah selesai... tinggal mencari kakak saja." Dia meneleponku tetapi berapa kali dipanggil, aku tidak menjawabnya.


"Hm?? aneh sekali... apa kakak tidak memegang ponselnya?."


Dia melihat sekitar dan matanya terpusat pada toko buku yang sebelumnya aku katakan ingin menunggunya disana.


"Huft... kalau sedang membaca, kakak suka tidak peduli dengan sekitar..." Dia pun masuk kedalam toko buku tersebut untuk mencari kakaknya...


Sesampainya disana, dia berkeliling tempat yang cukup besar itu dan cukup sulit untuk menemukannya.


Beberapa menit kemudian akhirnya dia menemukanku yang sedang duduk ditempat umum.


"Kakak! kenapa kamu tidak menja-." Saat Mai ingin mendekatiku, Mai melihat seorang perempuan yang duduk disebelahku.


Dia melihat Kakaknya yang sedang mengobrol dengan santainya bersama gadis itu...


Ini adalah sebuah kejadian tidak terduga baginya, kakaknya yang tidak pernah akrab begitu mudah dengan orang asing, tiba tiba dia mendapatkan teman mengontrolnya dengan sangat mudah.


Mai pun penasaran dengan wajah gadis itu, dia memerhatikan wajahnya sehingga dia menyadari sesuatu.


"D-Dia... bukannya...?!"