
*Ceklek
Aku membuka tutup kaleng kopi yang Kuchima berikan kepadaku...
"Huhh... bagaimana bisa aku tidur jika seperti ini.."
Sambil menyeruput kopi, aku yang sedang bersantai dilantai kedua gedung sekolah sambil melihat luar...
Aku adalah orang yang tidak bisa tidur nyenyak jika berada ditempat yang nyaman, minimal jika tidak akan ada yang bisa menggangguku saat tidur.
"..."
"Lebih baik main game saja... ponselku kalau tidak salah dipinjam Mai tadi." Aku berbalik sambil melempar kaleng kedalam tempat sampah dan berjalan kearah tangga.
Saat aku berada ditengah tangga yang ingin mengarah kebawah, dari bawah Nami atau adiknya Kuchima melihatku.
"Kalau tidak salah... Aoyama?." Dia mencoba mengenaliku.
"Kau mencari kakakmu?."
"Ya... apa kamu tahu?."
"Dia ada di ruangan ketiga sebelah kanan.."
"Terima kasih... kamu ingin kemana?."
"Perpustakaan."
"Baiklah, tapi beberapa sudah tidur... jangan melakukan yang tidak tidak." Dia melewatiku sambil memutar mutarkan jari telunjuknya di hadapanku.
"Aku tidak seburuk itu.."
Lalu dia langsung pergi keatas untuk menemui kakaknya...
.
.
.
*Tok tok tok
Aku mengetuk pintu perpustakaannya, meskipun tidak dikunci, karena didalam hanya ada murid perempuan saja, agar tidak terjadi hal yang tidak bisa dipikirkan jadi aku mencari aman.
Lalu pintu itu terbuka dan seorang gadis yang sepertinya adalah anggota OSIS keluar dari dalam.
"Apa ada yang diperlukan?."
"Aku hanya ingin mencari Adikku Mai dan mengambil ponselku."
"Ah tunggu sebentar.."
Lalu dia kembali kedalam sambil memanggil Mai.
"Kakak, maaf aku terlalu lama meminjamnya.."
"Tidak apa apa... bagaimana denganmu?."
"Tidak ada masalah.."
Melihat wajahnya yang terus tersenyum membuatku menjadi lega...
"Jangan tidur terlalu malam... kau mengerti?."
"Aku bukan anak kecil! jadi lebih baik urus dirimu saja sendiri."
"Ya, baiklah..."
Lalu dia kembali masuk kedalam dan aku pun juga pergi untuk mencari tempat yang nyaman untuk bermain..
Jam sudah menunjukkan pukul 23.50, dan hampir tengah malam disini...
Tapi aku pikir tidak buruk berada disini, karena mungkin aku merasa lebih leluasa dan bebas ditempat yang luas ini...
......................
*Victory!!
Kemenangan ke-20 kalinya aku bermain hingga tidak melihat waktu...
"Hoooaaammm... gawat, sudah jam dua pagi... sepertinya aku terlalu lama bermain..." Sambil menutup mataku dengan jari.
Saat aku melihat keadaan sekitarku, memang benar semuanya sudah sepenuhnya gelap...hanya ada lampu tempel yang berada di ujung tempat...
Lalu aku turun ke lantai satu untuk melihat yang lainnya, tetapi semuanya sudah tertidur begitupun Touya dan juga Kuchima...
Melihat Touya dengan posisi tidurnya yang sangat mengganggu orang lain khususnya Kuchima yang tertindih oleh kakinya.
"Bahkan saat tidur pun masih tetap mengganggu orang lain...huh." Aku membiarkannya tetap seperti itu karena tidak ingin ikut campur dengan posisi tidurnya itu.
Sebenarnya aku ingin tidur sekarang, tetapi rasanya enggan sekali untuk memejamkan mataku...
Tetapi aku paksakan untuk tidur dan menutup mataku dengan penutup mata, dan jangan lupa untuk menjaga jarak dari pemberontak tempat tidur itu ( Yang dia maksud adalah Touya.)..
Saat baru saja aku ingin melemaskan badanku dan tidur, tetapi bunyi notif ponselku berbunyi.
*Niitt
Aku pun membuka ponselku dan mengeceknya.
"Aoyama, apa kamu belum tidur?..."
Pesan dari Yuuki yang kulihat dari layar notifikasiku agar tidak terlihat olehnya jika aku membacanya.
Sejenak aku berpikir sambil melihat layar ponselku... membiarkannya atau Membalasnya.
"Belum, ada apa?." Akhirnya aku memilih untuk membalasnya.
"Aku tidak mengganggumu?." Mungkin saja dia tidak enak jika menghubungiku saat aku ingin tidur, tetapi itu kenyataannya.
"Tidak." Balasku.
"*Apa kamu ingin menemaniku sebentar?."
"Untuk apa?."
"Hanya sebentar saja ke toko*..."
Saat aku membacanya, aku berpikir mungkin ada yang ingin dia butuhkan karena ingin pergi ke supermarket pagi pagi buta seperti ini.
"Baiklah, aku tunggu di depan gerbang sekolah." Aku pun membantunya untuk menemaninya kesana.
Disaat saat seperti ini mungkin memang itu yang harus kulakukan, karena saat situasi seperti ini hanya bisa aku, Kuchima dan Touya saja orang yang bisa menjaga mereka, dan mungkin sedikit dipercayai walau aku tidak yakin bisa dipercayakan orang lain...
......................
Aku sudah berada diluar gerbang sekolah menunggunya untuk datang kesini, saat aku baru saja berdiri beberapa detik disana, dia sudah datang dengan cepat.
"Maaf... apa aku mengganggumu?." Dengan wajah khawatir dia berbicara kepadaku.
"Tidak, kebetulan saja aku belum tidur."
"Terima kasih ingin menemaniku.."
"Memangnya apa yang ingin kau beli?."
"H-Hanya beberapa barang saja..." Dia seperti tidak ingin aku mengetahuinya dengan tidak berani menatapku.
"..."
"Baiklah, aku tidak akan menanyakannya.."
"Um.." Dia mengangguk saat matanya hanya bisa melihat kebawah.
"..."
Melihat dia yang hanya berdiri didepanku tanpa melakukan apa apa membuatku sekali lagi mencoba menanyakannya.
"Ada apa? bukannya kau bilang ingin pergi ke minimarket?."
"Um.." Dia menggenggam kedua tangannya dibawah sambil tetap menatap kearah yang lain.
Aku masih tidak mengerti apa yang ingin dia lakukan, tetapi entah kenapa aku menjadi berpikir tentang sesuatu saat melihat kakinya yang selalu bergerak menghimpit.
"Apa kau... sedang... haid?."
"..." Tiba tiba ekspresinya semakin jelas dan tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah itu.
"( Aku bodoh sekali....)" Padahal aku mempunyai seorang adik perempuan, tetapi aku tidak menyadarinya."
"Kau tunggu saja disini, aku saja ya-."
"T-Tidak... jangan..." Dia yang ingin menghentikanku, tetapi dia sendiri tidak bisa menghentikannya.
"Jangan memaksakan dirimu, tunggu saja disini... kau hanya perlu memberitahukanku apa yang ingin kau perlukan."
"..."
Lalu dia memberitahukan apa yang dia perlukan dan aku pergi ke minimarket untuk membelikannya..
.
.
.
Beberapa saat kemudian aku yang sudah kembali dari minimarket setelah membelikannya barang yang ia perlukan.
Aku memberikan kepadanya yang sedang berada didalam toilet..
Tetapi dia tidak menunjukkan diri seutuhnya, hanya tangan dan seperempat badannya yang terlihat untuk mengambil kantung yang aku bawa...
Saat dia sudah mengambilnya, matanya menatapku dengan wajah malu malunya karena aku masih berdiri didepan pintu.
"Oh maaf, aku tidak akan melakukan apapun.." Sadar dengan yang ingin dia lakukan, aku pergi dari sana.
......................
Saat beberapa menit kemudian, dia menghampiriku yang sedang berdiri di taman depan sekolah...
"Aoyama...t-terima kasih... maaf sudah membuatmu repot.." Matanya yang tidak berani melihatku sambil memainkan rambut hitamnya...
"Jangan dipikirkan... aku tidak mempermasalahkannya.."
"..."
"Apa kau tidak nyaman saat meminta hal itu padaku? padahal aku bisa mengatakannya terlebih dahulu kepada yang lain...atau Sakura dan Mai mungkin bisa membantu."
Saat mendengar itu, dia menggelengkan kepalanya.
"I-Itu tidak benar... justru aku memintamu karena hanya kamu yang sepertinya aman.."
"Aku ragu dengan itu.."
"Tapi, aku sangat berterimakasih... kamu selalu membantuku saat aku sedang kesulitan... aku tidak sempat untuk membalas semua yang kamu lakukan.."
"Sudah kukatakan berkali kali jika tidak perlu kau pikirkan.."
"Maka dari itu... aku ingin memberikan rasa terima kasihku... untukmu.." Tanpa mendengarkan perkataanku...
Suara anginnya membuat kata terakhirnya hilang dari pendengaranku... tetapi saat itu juga tiba tiba ia langsung mendekatiku dengan cepat ditempat yang sedikit gelap dengan lampu remang remang...