
"..."
Dia melihat makanan itu tanpa menyentuhnya...
"Makanlah, makanan itu tidak beracun." Ucap Touya yang sudah memakannya duluan.
Dia pun perlahan mengambil sendok dan garpunya, sepertinya dia sudah tidak bisa menahannya lagi karena mencium aroma makanan yang lezat dibuat oleh Sakura.
Lalu dia menyendok makanan itu, dan memasukkan kedalam mulutnya.
"..."
Beberapa detik kemudian dia langsung memakan makanan itu dengan cepat saking laparnya.
"Pelan pelan, nanti yang ada kamu justru tersedak." Ucap Yuuki khawatir.
Kami semua menikmati makanannya dan memakan bersama sama, meskipun begitu, Sakura masih merasa waspada dengan orang yang menjadi seorang asisten dari Azumi.
......................
"Terima kasih banyak, sebagai gantinya... saya tidak akan mengungkit hal ini kepada siapapun, anggap saja hal ini tidak pernah terjadi..."
"Lawliet Erlic, apakah perkataan anda benar-benar bisa dipercaya?." Sakura yang membalasnya untuk memastikan.
"Saya bukan manusia yang tidak tahu diri, jika anda tidak mempercayainya, anda bisa melihat besok atau besoknya lagi jika adanya masalah atau tidak."
"Baiklah, saya akan memegang omongan anda baik-baik "
"Kizuku Aoyama... saat ini saya masih mempunyai hutang budi dengan anda."
"Sejujurnya aku tidak peduli kau ingin berutang budi kepadaku atau tidak, asal kau benar-benar tidak berbuat masalah denganku maupun Yuuki, karena kami berdua adalah pengawalnya."
"Begitu ya... baiklah, saya permisi."
Dia pergi setelah lukanya sudah agak membaik, meskipun aku tidak tahu dia ingin kerumah sakit atau tidak.
"Sepertinya dia masih belum tahu rumahmu dan Yuuki."
"Sepertinya..."
"..."
Aku melihatnya melamun didepan pintu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa kau masih marah?."
"Tidak... aku hanya sedang bingung ingin membeli apa ya..."
"O-Oh..."
"Yah... besok aku bisa melihat lihat dulu, ayo kita kembali."
"..."
.
.
.
"Eehhh?!! dia itu asistennya Azumi??."
Touya begitu terkejut saat mengetahui jika orang yang sebelumnya makan bersamanya adalah asisten ank keluarga besar Sakamura.
"Kukira kau sudah tahu."
"Aku saja baru bertemu dengannya sekarang! ahh! kalau tau begitu aku tidak perlu menolongnya."
"Touya, dia hanya seorang asisten... jadi dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Azumi."
"Tetapi Yuuki, keamananmu sekarang jadi terancam."
"Masalah itu tidak perlu dipikirkan dulu, bukannya dia sendiri bilang tidak akan menyebarkan nya?."
"Lalu, bagaimana kalau dia benar-benar menyebarkannya?."
"Kenapa denganmu? dia masih berumur lima belas tahun."
"Tetapi dia sudah dijuluki profesional oleh banyak orang."
"Berarti, apa kamu tidak profesional?."
"Jadi, Yuuki menganggapku tidaklah profesional?."
"Aku tidak menganggapmu seperti itu, tapi kamu terlalu takut dengannya."
"K-Kalian berdua, hentikan saj-."
"Sudahlah, memang sepertinya aku salah... aku permisi."
Sakura pergi setelah bertengkar dengan Yuuki, dan kali ini hubungan mereka menjadi renggang.
"Yuuki, kau tidak menyusulnya?."
"Tidak, memangnya aku salah jika ingin membantu orang yang sudah terluka seperti itu?."
"Ya... tidak."
"Jadi, kenapa dia harus berbicara seperti itu kepadaku."
Saat ini Yuuki yang sedang merajuk membuat aku dan juga Touya merasa ini sudah tidak baik... saat ini Mai pun sedang tenang belajar didalam kamarnya, untung saja dia tidak mendengar itu.
"A-Aoyama, kalau begitu aku lebih baik pulang saja." Touya yang ketakutan terhadapnya langsung meminta untuk pulang.
"Kalau begitu aku antar hingga depan pintu."
"Oke."
.
.
.
"Memangnya aku terlihat tidak juga seperti itu."
"Pokoknya aku percayakan kepadamu."
"Kenapa jadi aku?."
"Tidak apa apa, kalau ada masalah telepon saja diriku, dah aku pergi dulu."
Lalu Touya bergegas pulang agar tidak terjadi masalah lagi.
"Dasar..."
Saat aku kembali, aku melihatnya yang masih merajuk tetapi sambil memakan cemilan yang ada diatas meja, jadi aku sambilan merapihkan meja makan tadi.
"Kau tidak ingin pulang."
"..."
Dia tidak bicara dan masih menggerakkan mulutnya hanya untuk makan cemilan.
"Baiklah, terserah kau ingin berapa lama... tapi maaf, aku ingin belajar setelah ini."
"..."
"..."
"Aoyama... apa menurutmu aku salah?."
"Mungkin menurutku kau benar... tapi kau juga ada salahnya."
"Apa... itu?."
"Kau tidak memikirkan perasaan Sakura, dia seperti itu karena jelas jelas dia mengkhawatirkanmu... makanya dia takut ada sesuatu yang terjadi kepadamu, tapi karena kamu mengatakan seperti itu, hal itu membuatnya sedikit sakit hati."
"..."
"Pergilah dan berbicaralah padanya secara baik-baik..."
Dia memikirkan ucapanku selama beberapa detik, dan akhirnya dia menurutinya.
"Baiklah, aku akan berbicara padanya... t-terima kasih."
"Ya."
Lalu dia pergi untuk berbicara sekali lagi dengan Sakura.
"Huh... perempuan memang sangat sulit sekali dimengerti..."
Begitulah kejadian malam ini terjadi, dan semenjak aku memikirkan beberapa hal saat aku ingin tidur setelah belajar, aku berpikir bahwa Lawliet Erlic bukanlah orang asing, mungkin hanya namanya... tetapi entah bagaimana, aku merasa ada yang berbeda dari dirinya.
......................
"Kakak! kakak!."
Aku terbangun saat mendengar suara Mai yang sedang membangunkanku, begitu aku membuka mataku, dia sudah berada disamping tempat tidurku sambil memasang wajah marah.
"Kakak! sudah jam berapa sekarang? kenapa kakak justru tertidur!."
Mai yang sudah siap mengenakan seragamnya, sedangkan aku baru saja keluar dari mimpiku.
"Gawat! aku telat kesekolah!."
"Duh, aku sudah mencoba membangunkanmu dari tadi!."
"Maaf Mai, bisakah kamu mengambilkan bajuku didalam lemari, aku harus cepat."
"Huu, baiklah, cepat pergi mandi... dasar tukang tidur."
Karena aku yang begitu harus bergegas, aku terpaksa untuk meminta bantuan Mai untuk menyiapkan baju seragam dan yang lainnya.
"Dimana ikat pinggang kakak ya.."
Dia membuka laci yang berada didalam lemari kamarku, tetapi laci itu begitu sulit untuk dibuka.
"Mmh! eh? kenapa sulit sekali dibuka? mmh!."
Dia berusaha sekali lagi dan akhirnya laci itu terbuka, hingga ia terjatuh kebelakang saking kuatnya... tetapi disaat bersamaan, dia melihat ada sesuatu yang terjatuh dari sana saat dia membukanya.
"Hm? apa ini... sebuah liontin?."
Saat dia membuka isi liontin itu, didalamnya hanya terdapat sebuah foto yang sudah gelap karena terkena debu atau abu yang membuat isi foto tidak terlihat jelas.
"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas... tapi disini... ada gambar dua anak kecil yang terlihat... tetapi wajahnya tidak bisa dilihat.."
"Mai, apa kau sudah menyiapkannya?."
"A-Ah iya! sudah kok, hanya aku mencari ikat pinggang kakak saja... sulit sekali mencarinya."
Dia secara reflek menyembunyikan liontin itu didalam kantung rok pendeknya.
"Oh, kalau itu aku menemukan di dalam kamar mandi dan sedang tergantung dipaku, mungkin kemarin aku lupa menaruh ditempat yang tepat."
"Oh begitu ya... kalau begitu apa kakak mau sarapan terlebih dahulu?."
"Tidak perlu, bukannya Mai juga akan terlambat?."
"Benar sih, kalau begitu makanan diatas meja aku jadikan bekal saja ya?."
"Boleh."
"Baiklah! tunggu sebentar saja."
Sekarang Mai merasa bahwa dia telah mencuri barang milik kakaknya, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, sementara dia ingin melihat lebih lanjut terlebih dahulu, karena Mai pun merasa ada yang tidak beres dengan liontin ini...