My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 120



"Berbelanja?."


Lalu dia menatapku sedikit lama lalu langsung membuang muka didepanku.


"..."


"Memangnya aku sedang apa."


"Sepertinya lumayan banyak... apa kau tidak sedang bersama Yuuki?."


"Beberapa hari ini dia sedang ada acara keluarga, jadi dia harus menginap disana."


Dengan nada jutek tetapi dia masih berusaha untuk berbicara kepadaku.


Isi dalam keranjangnya yang cukup banyak, membuatku berinisiatif untuk membantu mengangkatnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?."


"Mengangkat keranjang belanja?."


"Tapi itu punyaku."


"Aku hanya ingin membantu seorang gadis yang sedang kesulitan."


"Aku tidak membutuhkannya."


"Memangnya kau bisa mengangkat ini sendirian?."


"Bisa... sepertinya."


Begitu dia melihat isi keranjang yang penuh, dia hanya memalingkan matanya dan melipat tangannya.


"Benarkah?."


"Terserah kamu ingin berbuat apa."


"Baiklah."


Aku mengikutinya sambil membawa keranjang tersebut, sembari dia berkeliling untuk membeli yang lainnya.


"Malam malam seperti ini... berbelanja banyak itu tidak baik."


"Bermain dirumah gadis sampai malam menurutku juga tidak baik."


"Kau tahu itu?."


"Siapa yang tidak tahu, masuk kedalam mobil berduaan dengan gadis yang sangat cantik, ternyata kamu sudah berubah, jadi lebih menyebalkan."


"Tapi itu semua hanya sekedar menjalankan tugas untuk mengecek busana, karena dia memiliki sebuah toko busana."


"Oh begitu..."


"Apa kau marah karena itu?."


"S-Siapa yang marah hanya karena itu, lagipula aku tidak begitu peduli kok."


Lalu dia langsung berjalan cepat menuju kasir dan meninggalkanku.


.


.


.


"Agak berat juga... kau terlalu memaksakan dirimu jika kau sendirian... ( Padahal dia tidak boleh beraktivitas berlebihan... dia selalu memaksakan dirinya...)"


"Jika sendiri pun aku bisa meminta orang lain untuk membawanya."


"Itu lebih berbahaya."


"Kenapa? semua orang juga boleh membantu bukan?."


"Orang lain pun tidak akan sanggup berdekatan denganmu terlalu lama."


"Apa maksudm-."


"Karena kau terlalu cantik, hingga itu jadi berbahaya."


Wajahnya memerah dan langsung berusaha untuk tetap bersikap biasa-biasa saja meskipun sebenarnya tidak seperti itu.


"J-Jangan menggodaku, bodoh."


"Tapi, cuaca malam ini cukup dingin... satu jaket pun tidak terasa..."


Jalan besar yang memiliki beberapa tiang lampu untuk menerangi sekitar jalan, kita berdua yang berjalan perlahan...


"Ah..."


"Ada apa?."


"Kepalaku... Rasanya sedikit agak pusing. "


Sakura menghentikan langkahnya saat dia memegang kepalanya yang pusing..


"tunggu! Kau baik baik saja bukan??!."


"Aku... Sudah..."


Dia terjatuh tepat dalam dekapanku yang sudah berada didekatnya... Dia terjatuh pingsan hingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan malam hari seperti ini.


Saat aku memegangnya, tubuhnya begitu dingin hingga aku terkejut saat pertama merasakannya..


"Gawat, kau kedinginan.!!."


Aku menengok kanan kiri untuk melihat sekitar dan membuka jaketku untuk menyelimutinya sementara...


Tubuhnya gemetaran dan dia begitu kedinginan, aku langsung menggendongnya dengan cepat dan berusaha untuk berjalan pulang dengan mempertahankannya seperti ini...


Aku tidak terpikirkan apapun kembali, didalam kepalaku hanya ada sebuah pertanyaan bagaimana caranya agar aku bisa secepatnya membawa Sakura untuk menghangatkannya...


......................


"Mmh... dimana aku?."


"Sakura?! syukurlah! kau baik baik saja bukan??."


Dia melihat wajahku yang sangat khawatir akan keadaannya.


"Ao... ada apa denganku..."


"Kau jatuh pingsan saat ditengah jalan... jika kau sedang merasa kedinginan, seharusnya kau mengatakannya kepadaku!."


Aku menegurnya karena ini sangat berbahaya untuknya...


"M-Maaf..."


Aku menghembuskan nafasku, dan mencoba untuk menenangkannya.


"Apa penghangat ruangannya sudah cukup?."


"Um."


"Aku sedang membuatku sup hangat untukmu, jika ada yang kau perlukan, katakan saja."


"..."


Dia yang tidak bisa berkata-kata saat dirinya sedang diurus olehku, rasanya seperti rasa malu dan rasa senang bercampur aduk baginya hingga dia hanya melipat selimut untuk menutup sebagian tubuhnya.


......................


"Kau bisa makan sendiri?."


"B-Bisa... aku bisa sendiri.."


Saat dia ingin mencoba memegang mangkuknya, tangannya sesekali bergetar dan tidak sanggup untuk mengangkatnya.


"Masih ingin makan sendiri?."


"..."


Wajahnya yang memerah dan sangat malu denganku hingga seperti anak kecil yang sedang dimanja.


"Buka mulutmu perlahan."


"T-Tapi."


"Sudahlah... jangan merasa sungkan padaku..."


"..."


Perlahan dia membuka mulutnya dan melahap sup hangat yang aku buat.


"Bagaimana?."


"E-Enak sekali..."


"Kalau begitu syukurlah..."


"A-Aku bisa memakannya sendiri sekarang."


"Baiklah... aku ingin pergi mandi dulu... taruh saja mangkuknya disini dan setelah itu istirahat."


"Hue?."


"Hue?."


Dia keceplosan saat berbicara seperti anak kecil dan langsung menutup mulutnya dan wajahnya semakin memerah karena saking malunya.


"Kalau begitu aku tinggal disini... ingat, jangan melakukan hal yang tidak-tidak."


Dia mengangguk kecil namun tidak berani untuk melihat mataku.


Karena dikira sudah selesai, aku pun pergi untuk mandi karena aku sama sekali belum mandi dari sore tadi.


......................


"( Bagaimana ini... aku jatuh pingsan dan tiba tiba Ao membawaku kerumahnya dan mengurusku.. B-Bukannya aku tidak mau sih... tapi tetap saja aku sangat malu.. duh!..)"


Kini dia sedang berada di ruang tamu rumahku sendirian karena aku sedang berada didalam kamar mandi...


"Ao... merawat aku seperti sedang merawat adiknya sendiri... apa karena dia sudah tidak bisa tinggal bersama Mai..."


Dia terus menerus berpikir dan tidak bisa menghilangkan perasaannya tadi...


"Tidak tidak! aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak... sekarang aku harus makan... karena sepertinya aku lupa untuk makan dari tadi siang.."


Dia melahap sup yang aku buat hingga habis tak tersisa, lalu dia menaruh mangkuknya dibelakang dapur agar tidak menyulitkan diriku lagi.


Saat dia ingin kembali ke ruang tengah, dia tidak sengaja melihat pintu kamarku yang terbuka, lalu karena penasaran dia pun membuka pintunya dan masuk kedalam kamarku.


"( Ini kamarnya... sepertinya sudah lama aku tidak masuk kedalam kamarnya... seperti biasa dia tidak memiliki selera yang bagus untuk berpikiran menghias kamarnya..)"


Senyuman kecil yang tercipta saat dia melihat isi kamarku... dia merasa sedikit mengenang masa lalu saat aku dan dia selalu bermain didalam kamarku dan biasanya Mai juga ikut untuk bermain..


Lalu dia duduk diatas tempat tidurku dengan perlahan-lahan dan mengelus setiap selimut dari tempat tidurku yang lembut...


"( Aromanya tidak pernah berubah... tunggu! apa yang sedang aku lakukan?! kalau seperti ini aku bisa dikatakan sebagai penguntit...)'


Tetapi perkataan dan pikirannya memiliki keinginan yang berbeda... omongannya yabg terus menolak apa yabg telah ia lakukan tetapi justru secara tidak sengaja dia menjatuhkan tubuhnya dan berbaring diatas tempat tidurku...


"( Aku sudah lama tidak merasakan yang seperti ini... duh! apa yang sedang aku lakukan sih! sebaiknya aku segera keluar mumpung dia masih belum selesai dari mandinya..)"


Saat dia bangkit dari tempat tidurnya dan ingin berdiri, sungguh waktu yang buruk karena dia sudah terlalu lama menikmati hal itu hingga aku sudah berada didalam.


"Apa yang sedang kau lakukan?."