
Setelah kejadian beberapa hari lalu saat kita bersama-sama pergi berlibur di daerah pantai...
"Ehh?? kakak ingin pergi kerumah kak Yuuki?."
"Um, jadi aku minta tolong padamu untuk jaga rumah."
"Aku tidak boleh ikut?."
"Jangan bercanda... aku pergi untuk pekerjaanku, bukan untuk bermain-main."
"Tch, tidak asik."
"Jangan lupa untuk mengangkat baju yang sudah kering."
"Ya, aku tahu."
Dari yang kulihat dia hanya merajuk sambil duduk diatas sofa.
"Ada yang ingin kau mau? pulang nanti mungkin aku bisa membelikannya."
"Kalau begitu stroberi!! stroberi di daerah sana terkenal dengan rasanya!."
"Minta sih minta... tapi berpikir terlebih dulu sebelum memintanya."
"Kakak bilang ingin membelikan yang aku mau, jadi aku ingin itu."
"Huh... baiklah baiklah."
"Yeay! aku tunggu!."
"Ya, aku pergi dulu."
"Semoga lancar disana!."
Hari ini adalah dimana hariku pergi kerumahnya untuk suatu hal yang sudah dibicarakan oleh orang itu di telepon.
"Dimana orang itu... lama sekali."
"Aoyama! maaf... kamu menunggu lama?."
"Bisakah kau menghargai sedikit orang yang menunggumu... setengah jam aku disini."
"A-Aku juga punya masalah sendiri! jadi aku tidak bisa yakin dengan waktunya."
"Kalau begitu cepatlah... tidak ada waktu untuk berbicara terlalu lama."
"Aku tahu!."
Lalu aku dan Yuuki yang pergi kerumahnya yang sesuai dengan perintah dari ayahnya untuk menemuiku tentang pekerjaanku dan juga...
Karena ini adalah hari libur, memakai transportasi menggunakan kereta untuk berpergian adalah rencana yang buruk...
"Kenapa kita tidak menggunakan supir keluargamu atau apapun itu agar lebih memudahkan perjalanan?."
"Kalau begitu, untuk apa ayahku ingin mempekerjakanmu lagi?."
"Apa kau tahu? ini sangat penuh dengan banyak orang.." Sambil melirik sedikit sekitarku yang sudah berdempetan dengan banyak orang.
"Kamu tidak nyaman? Sakura pernah memberitahukan kepadaku jika kamu tidak nyaman dengan keramaian."
"Sebanyak apa dia memberitahukan tentangku padamu?."
"Haha, mungkin agak banyak.."
"Dari dulu aku memang tidak bisa berada ditengah keramaian seperti ini... jika aku masih seperti aku yang dulu, mungkin saja aku sudah jatuh pingsan."
"S-Seburuk itu?."
"Aku pun juga heran... tetapi biasanya putri dari keluarga kaya sepertimu tidak menyukai yang seperti ini juga?."
"Aku sudah terbiasa... jadi jangan samakan aku denganmu."
"Memangnya seberapa terbiasanya kau dengan situasi seperti ini?."
"Bagaimana aku membuktikannya padamu? sekarang aku juga sudah berdiri ditengah keramaian."
"Ada benarnya juga..."
Saat kita berdua yang sedang berdiri bersebelahan didalam kereta yang melaju cepat... kini muncul beberapa masalah ditengah keramaian didalam kereta.
"Ha-!." Sebelum dia ingin berteriak, dia segera menutup mulutnya.
"Ada apa?." Bisikku tanpa melihat kearahnya.
"Ada yang... memegang rok belakangku."
"Apa benar?."
"S-Sekarang saja sudah kelihatan!." Dia berbisik kepadaku dengan wajahnya yang panik.
"Masih ada saja yang melecehkan perempuan ditengah keramaian... sangat memalukan." Gumamku dengan suara kecil.
"A-Aoyama..." Dia menahan dirinya saat ada yang memegang roknya kembali.
*Tep.
Aku langsung memegang lengan orang yang mencoba melecehkannya...
Dengan sedikit mengeluarkan tenaga, aku mencoba memperkuat peganganku.
Hingga tangannya terlihat memberontak ingin dilepaskan... tetapi aku bukan orang yang sebaik itu untuk memaafkan orang yang berbuat tidak baik...
Aku semakin memperkuat genggamanku.
"Tsk!!."
Terdengar suaranya yang sedang menahan rasa sakit dari genggamanku.
Tetapi tidak seperti yang kubayangkan, orang ini cukup pintar untuk tidak menyerang tanganku dengan tangannya yang satunya...
Karena jika dia mencoba menyerang balik, tentu saja akan membuat keributan hingga aku bisa membuat rencana dadakan, yaitu langsung menariknya hingga mendekati Yuuki secara langsung... jika saat itu sudah berhasil menarik perhatian banyak orang dan secara logika Yuuki langsung berteriak, setelah itu aku bisa mengatakannya secara langsung jika dia ingin melecehkan seorang gadis.
Hasilnya dia hanya menahan rasa sakitnya dan berusaha melepaskan genggamanku hanya dengan satu tangan saja.
"Bagaimana?."
"Apa kau bisa bergerak sedikit lebih maju?."
"Memangnya kenapa?."
"Sudahlah, maju saja."
"U-Um."
Lalu dia berjalan sedikit lebih maju kedepan hingga aku bisa berdiri dibelakangnya.
"T-Tunggu! tempatnya sempit! apa yang kamu lakukan??." Dia berbisik kepadaku yang berada dibelakangnya.
"Aku masih bisa berbuat baik untukmu... jadi jangan menyia-nyiakan perbuatan orang lain."
"T-Tapi!."
"Bertahanlah sampai stasiun terdekat."
"..." Dia tidak menentangku lagi.
Hingga beberapa menit kemudian, kita tiba di stasiun tujuan kita tanpa adanya gangguan seperti itu kembali.
"Kau tidak apa apa? wajahmu terlihat pucat daritadi."
"M-Maaf... hanya sedikit shock."
"Huh... kau sendiri yang mengatakan sudah terbiasa..."
"I-Itukan berbeda lagi!."
"Istirahat sebentar disana, aku akan mengambilkan minuman untukmu." Sambil menunjuk sebuah bangku umum.
"Tapi, bagaimana kalau-."
"Tidak akan... maka dari itu istirahat saja."
"Um."
Setelah aku melihatnya hingga dia duduk disana, aku langsung pergi ke belakang tepat toko kecil yang menjual beberapa minuman.
Setelah aku membeli minuman, aku tidak akan menemuinya terlebih dahulu, karena ada yang harus dilakukan olehku.
"Bagaimana keadaanmu...?." Aku menghampiri seseorang yang sama dengan orang yang sedang mencoba melecehkan Yuuki, tetapi dengan mengenakan baju yang berbeda... saat ini dia sedang memakai baju petugas kebersihan dengan Berpura-pura sedang membersihkan meja.
"Bagaimana kau tahu?."
"Lenganmu... bukannya terasa sakit?." Aku sudah melihatnya secara tidak sengaja saat sedang membeli minuman... lengannya yang terlihat berwarna biru... mungkin aku menggenggamnya terlalu keras.
"..."
"Kau ingin dilaporkan? atau ingin berjalan sendiri?."
"Hem hem... seharusnya kau lebih mementingkan gadis itu..."
"Yuuki?."
Saat dia mengatakannya, aku langsung bergegas menyusulnya yang berada ditempat istirahat umum.
"Yuuki!?."
Apa yang dikatakan orang itu adalah kenyataan...aku tidak bisa melihatnya dimanapun...
"Sial!." Aku langsung kembali ketempat orang itu berada.
"..."
"Tidak... ada."
Kehadirannya seperti debu yang tertiup oleh angin... menghilang begitu saja.
"Gawat... aku kehilangan dia... bagaimana bisa aku pergi kerumahnya tanpa membawa yang punya tempat tinggal."
Aku mencoba berpikir kritis untuk masalah ini... mencoba untuk tidak terburu-buru dan merasa panik.
Aku bertanya kepada orang orang yang ada disekitar daerah Yuuki beristirahat... tetapi satupun dari mereka tidak ada yang melihatnya sama sekali.
Saat aku pergi ke ruangan keamanan untuk melihat rekaman cctv, ternyata tempat itu tertutup dan tidak ada satu orang pun yang sedang bertugas didalam.
"Uhh... hampir satu setengah jam aku mencarinya... bahkan teleponku pun tidak bisa menghubunginya."
Ini seperti sebuah hukuman sebelum aku memulai...
Baru saja aku kembali bekerja sebagai penjaganya, tetapi datangnya masalah ini seperti sebuah pertanda jika aku tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi... kenapa semuanya datang secara tiba tiba seperti ini... sialan."
*Niittt Nittt
Saat aku ingin lanjut mencarinya, dering teleponku berbunyi hingga membuatku berhenti.
"Selamat pagi... Kizuku Aoyama."
"Kau... dimana dia."
"Dia? maksudmu putri dari keluarga Shiraishi?."
"Apa yang ingin kau lakukan!."
"Ups, tenang tenang... kami hanya ingin meminta uang tebusan saja kok... dia akan aman dengan kami."
"Jangan bercanda... dimana kau berada?." Aku berusaha untuk menurunkan emosiku.
"Jika kau keluar dari stasiun itu... kau akan melihat sebuah bangunan besar dengan jam yang terpajang ukuran besar itu... cari saja aku!."
Dia langsung menutup teleponnya.
"Tch! belum jadi pun sudah seperti ini... sialan!."
Berjalan menuju penyelamatan Yuuki... agar penerimaan pekerjaannya berjalan dengan lancar...