
"Hah? kau ingin aku mengajarinya belajar memasak? kenapa harus aku yang melakukannya?."
"Yah, karena kamu satu satunya orang yang aku tahu pandai memasak... aku ada tugas dadakan yang tidak bisa ditunda lagi, padahal aku sudah berjanji untuk menemaninya..."
"Tidak, aku tidak mau... lagipula aku tidak ahli dalam mengajarkan sesuatu."
"Kumohon, hanya kali ini saja.."
"Kau memintaku dengan begitu memaksa, memangnya ada urusan apa sampai aku harus mengajarinya memasak?."
"Malam ini ada acara dengan semua saudara jauhnya... dan mereka ingin Yuuki sebagai tuan rumahnya untuk menyajikan, dan memang sudah seharusnya sebagai putri keluarga besar untuk melakukannya."
"Merepotkan sekali menjadi anak dari keluarga besar... kenapa harus aku, bukannya kau bisa menyewa koki atau orang yang lebih handal daripada aku."
"Karena aku sudah berjanji, tetapi aku benar-benar tidak bisa datang... jika aku menyewa orang lain, dia pasti kecewa denganku.."
"..."
"Ao, hanya kali ini saja, ya?."
Dia memintaku dengan wajahnya yang memelas memintaku untuk menerima bantuannya, semakin lama kulihat wajahnya, aku semakin tidak bisa untuk menolaknya.
"Huh... baiklah, aku akan membantunya."
Dia langsung begitu senang saat mendengarnya....
"Terima kasih! jika perlu, kamu bisa memintaku apa saja nanti malam." Dia mengeluarkan senjata pamungkasnya yang tidak pernah orang lain lihat.
"Jangan membuat orang yang mendengar itu menjadi curiga... aku akan membantunya, jadi tidak perlu balasan semacam itu."
"kalau begitu baiklah... jangan lupa ya."
Dia pun langsung pergi untuk mengerjakan tugas yang dadakan itu, meskipun sekarang masih berada pada jam istirahat, tetapi Sakura sudah membuat surat izin ke sekolah untuk pulang lebih awal.
Ditengah perjalanan menuju kelas, aku bertemu dengan Yuuki yang sedang seperti mencari cari seseorang.
"Apa yang kau lakukan?."
"Oh, Aoyama... apa kamu melihat Sakura? saat bel istirahat tadi, dia langsung pergi entah kemana."
Ternyata dia tidak tahu dengan hal itu.
"Aku barusan melihatnya."
"Benarkah?? ada dimana?."
"Tidak tahu, mungkin dia sudah pulang... dia hanya berpesan padaku untuk meminta maaf padamu karena dia ada tugas dadakan."
"Begitu ya... sudah aku duga seperti itu..." Wajahnya tiba tiba begitu lemas.
"Kau tidak marah?."
"Marah pun tidak ada gunanya... tadi pagi ayahku bilang jika saudaraku datang dan kita kekurangan orang untuk menyiapkan acaranya... jadi mungkin Sakura pergi untuk tugas itu.."
"..."
"Tapi tidak apa-apa... aku bisa membuatnya meskipun sendiri." Dia menyemangati dirinya sendiri.
"Membuat apa?."
"Kue acara perkumpulan saudara jauhku... mereka semua percaya kepadaku untuk membuatnya tahun ini... karena kita semua hanya bertemu satu kali dalam setahun..." Saat mengatakan itu, wajahnya terlihat tidak sabar dengan acaranya, meskipun masih ada rasa sulit untuk membuat kuenya.
"Apapun itu, aku hanya bisa bilang semangat saja."
"Um, terima kasih... sebaiknya kita cepat masuk kedalam kelas, bel masuk sudah berbunyi."
"Ya."
......................
Beberapa jam kemudian bel pulang pun berbunyi.
"Sakura bilang semua bahan sudah disiapkan... tapi aku masih ingin membeli krim coklat dan vanilla agar lebih enak."
Karena terlalu semangat, dia langsung pergi ke toko untuk membeli bahan yang ia inginkan.
"Kenapa Yuuki seperti begitu semangat? bahkan dia tidak mendengarku memanggilnya."
"Jangan tanyakan padaku..."
"Oh ya Aoyama! apa kau ingin ikut denganku bermain basket? kebetulan kita kekurangan pemain."
"Aku ada urusan, jadi tidak bisa."
"Jarang sekali kau punya urusan... apa tentang Mai? aku melihatnya tadi."
"Aku belum melihatnya dari tadi pagi... tapi tidak perlu dipikirkan."
"Kau benar juga... kalau begitu ikut saja bermain basket denganku!."
"Sudah kubilang aku ada urusan, aku pergi."
"Ah..."
.
.
.
"Mmm.... bingung sekali.... ini selai coklat, dan ini saus coklat... mana yang lebih baik untuk membuat kue?."
Ditengah-tengah rak bahan makanan, Yuuki yang sedang kebingungan untuk membeli bahan masakan untuk kuenya, kesulitan untuk memilih dari kedua bahan tersebut.
"Apa aku beli dua duanya saja? atau aku tanya Sakura sa- tidak! aku tidak boleh mengganggunya... lalu bagaimana dengan inii."
"Selai terlalu lengket dan saus terlalu cair... yang seperti itu saja kau tidak tahu..."
Saat dia sedang sibuk berpikir, tiba tiba aku muncul dibelakangnya.
"Huwa! Aoyama?! k-kenapa kamu ada disini??."
"Jika ingin mencari coklat untuk kue, bukan disini tempatnya..."
"L-Lalu?."
"Ikut denganku."
Lalu aku membantunya untuk membeli bahan-bahan yang ia butuhkan.
"Apa saja yang kau butuhkan?."
"Ah! tunggu sebentar... Sakura memberikan catatan padaku." Dia mengambil secarik kertas dari tasnya dan memberikan kepadaku.
"Sepertinya semua yang dibutuhkan tersedia disini..."
Lalu kami berdua berkeliling sekitar tempat bahan masakan yang dibutuhkan.
"K-Kenapa kamu ingin membantuku?."
"Sakura yang memintaku... aku tidak enak menolaknya."
"Sakura?."
"Apa kau pernah membuat kue?."
"tapi kau tahu caranya kan?."
"Tenang saja! asalkan aku melihat resep masakannya didalam internet."
"Huh... itu namanya kau tidak bisa."
"M-Mau bagaimana lagi! aku tidak pernah tahu cara membuat kue, karena Sakura yang selalu membuatnya..."
"Kalau memang seperti itu apa boleh buat..."
Setelah semua bahan sudah dibeli, kami berdua pun beranjak untuk pulang...
Saat sesampainya dirumah...
"Terima kasih banyak sudah membantuku... kalau masih sempat, nanti aku berikan untuk bagianmu..."
"Apa yang kau bicarakan?."
"Kamu tidak mau?."
"Huhh... bukan seperti itu... aku akan membantumu untuk membuat kue itu."
"Eh? k-kamu ingin membantuku membuat kue?."
"Acaranya malam ini bukan? masih ada beberapa jam sampai acara itu tiba... jika kau mengandalkan internet untuk membuat kue, itu tidak akan berhasil dalam satu kali kesempatan."
"Itu benar tapi..."
"Jangan menunda-nunda pekerjaan... ini juga termasuk pekerjaanku... sepertinya."
"B-Baik!."
Karena Sakura yang meminta bantuan kepadaku, aku terpaksa untuk membantunya membuat kue tersebut... sejak kecil nenek selalu membuat kue untuk aku dan Mai, jadi saat nenek sedang membuatnya aku pun selalu melihat dan membantunya...
"Baiklah... bahan dan alat sudah siap... dengar ini, kue itu harus dibuat dengan hati hati dan lembut... maka tekstur dan rasanya akan membuat hasil yang sama dengan prosesnya."
"Um um!.'
"Pertama campur semua bahan bahan seperti telur, tepung, gula, dan bahan lainnya..."
Aku memberikannya sedikit pelajaran agar dia bisa mengetahui caranya membuat kue...
"Sekarang aduk dengan perlahan-lahan."
"S-Seperti ini?."
Dia menggerakkan tangannya begitu lambat...
"Jika kau menggerakkannya seperti itu, sampai one piece selesai pun tidak akan jadi..."
"Seperti ini?."
Sekarang dia memutar pengaduknya begitu cepat.
"Terlalu cepat! yang ada semua adonannya akan habis terbuang..."
Aku memegang tangannya untuk membantunya mengaduk adonan kue tersebut.
"A-Apa yang kamu lakukan?!."
"Lakukan seperti ini... jangan terlalu lama ataupun cepat..."
Perlahan-lahan aku mengajarinya untuk mengaduk adonan dengan benar.
"A-Apa sudah benar?."
"Benar, pertahankan seperti itu..."
Sambil menunggunya mengadukan adonan kue itu, aku membuat bagian yang lain yaitu krim untuk dilapisi disekelilingnya.
"Aoyama, apa ini sudah tercampur rata?."
"Ya... masukkan ketempat cetakannya secara perlahan agar tidak tumpah."
"U-Um..."
Kami berdua melakukannya dengan sangat baik, saling membantu dan bekerja sama...
*Ting!
Saat kue itu sudah matang, aromanya yang begitu wangi memenuhi seisi ruangan.
"Wahh! aromanya manis sekali!."
"Yuuki, ambilkan krim yang sudah didinginkan tadi."
"Baik!."
Aku melapisi kue tersebut dengan krim coklat dan vanilla dengan bergantian dan memberikan jarak agar rasanya tidak mudah tercampur.
Langkah terakhir yaitu menghiasinya dengan batang coklat, buah stroberi dan pernak-pernik permen yang terlihat berkilauan...
Dan akhirnya kue itu pun selesai dibuat saat memakan waktu sekitar satu setengah jam.
"Akhirnya selesai..."
"Terlihat enak! aku jadi ingin memakannya sekarang..."
"Untung saja kita selesai sebelum waktu acaranya mulai..."
"Aoyama, wajahmu ada sedikit bekas adonan."
"Benarkah?."
"Tunggu sebentar, jangan bergerak..."
Dia membantu membersihkan wajahku yang terkena sisa adonan kue tersebut.
Tetapi saat mata kita saling bertemu, dia langsung melepaskan tangannya dan berbalik dari arahku.
"Anu... aku ingin mengucapkan terima kasih... kamu sudah membantuku..."
"Tidak usah dipikirkan... yang terpenting kau harus membawa kue ini ketempat kediaman keluarga besarmu... bagaimana caranya?."
"Kalau itu tenang saja... aku sudah meminta orang untuk membawanya setelah ini."
"Seperti yang diharapkan oleh putri keluarga besar... kalau begitu aku sudah selesai membantumu, aku pulang dulu."
"Tunggu dulu!."
Dia menghentikanku saat aku ingin pulang kerumah.
"Apa ada yang kurang?."
"Tidak... tapi aku hanya ingin membalas kebaikanmu.."
"Lagi lagi kau berbicara seperti itu..."
"Tidak! maksudku... aku ingin mengajakmu... ke acaranya juga..."
"Eh?."