
"Hei, kamu... Aoyama Kizuku kan?"
"..."
"Kizuku? ahh, ternyata dia sedang memakai earphone."
"Kenapa kau disini?"
"Kamu dengar juga ternyata!"
"Tidak sepantasnya seorang putri berada ditempat sepi dan sunyi seperti ini..."
"Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, lagipula aku memang sedang mencari tempat yang sepi dan nyaman saja."
"Itu tidak seperti dirimu beberapa waktu yang lalu."
"Justru ini adalah diriku yang sebenarnya."
"Oh begitu."
"Rasanya kamu memberikan kesan yang biasa saja ya."
"Karena memang biasa saja."
"Sudahlah, baru sebentar aku berbicara denganmu, rasanya kepalaku sudah sangat pusing."
"Lagipula siapa yang duluan mengajakku bicara?"
"Aku... sih."
"..."
"Tetapi setidaknya jangan memberikan respon seperti tidak berniat untuk berbicara denganku."
"Dari awal niatku disini untuk belajar."
"Entah kenapa aku rasa kamu orang yang menyebalkan."
"Terima kasih pujiannya."
.
.
"Haha! tidak aku sangka kita bisa melakukan hal seperti ini kepada adiknya."
"T-Tolong! siapa saja! tolong!"
"Cobalah berteriak sekencang mungkin, tidak akan ada yang mendengar suaramu disini."
"Aku kira kenapa tuan putri ingin jalan bersama manusia rendahan, ternyata aku melihat sesuatu yang terjadi."
"S-Siapa dia?!"
"Temannya? tch! menyebalkan sekali!"
"Aoyama..."
"Sebaiknya kalian lepaskan dia, atau video ini akan terkirim ke salah satu guru."
"Sial!"
"Aoyama... tolong aku."
"Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini dan pulang."
"Bagaimana denganmu...?"
"Bukan saat yang tepat untuk mengkhawatirkan orang lain... tutupi bajumu dengan jaket ini, jangan pergi kemana-mana selain rumahmu."
"..."
.
.
"Yuuki, ayo kita pergi dari sini... mereka sudah menunggumu."
"Aoyama, maaf... aku tidak bisa ikut denganmu."
"Apa yang kau katakan? tidak ada waktu untuk bercanda, aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi untuk mengejarmu."
"Karena itu... lebih baik kamu berhenti menjadi asisten pengawal ku."
"Ha...?"
"Jangan mengejarku lagi, kamu sudah bukan siapa siapa dari diriku lagi."
"Apa kau yakin dengan ucapan itu?"
"..."
"..."
.
.
"Aoyama bodoh! kamu membuatku sangat khawatir saat kamu terkapar disana!"
"Ternyata kau bisa mengkhawatirkan diriku ju- AW! sakit sakit! aku hanya bercanda jangan mencubit pipiku!"
"Aku sedang tidak bercanda!"
"Baiklah... maaf."
"Apa kamu masih merasa pusing?"
"Sedikit."
"Kalau begitu aku akan pergi, kamu harus istirahat-"
"Jangan pergi... aku ingin kau disini dulu."
"T-Tapi kamu harus istirahat, aku akan memanggil dokter agar kamu diperiksa terlebih dahulu."
"Tidak... aku ingin kau disini."
"Tapi kalau ada yang terluka padamu, bagaimana?"
"Aku akan menyalahkan dirimu karena tidak ingin berada disini."
"Huh, baiklah aku disini."
"Ya.."
.
.
"Aku ada satu permintaan kepadamu."
"..."
"Izinkan diriku untuk membantu dirimu, dan menjadi pengawal mu kembali... biarkan aku masuk kedalam masalahmu untuk membawamu keluar dari semua masalah ini, meskipun aku tidak terlalu berguna, namun setidaknya kau bisa mengeluarkan semua perasaanmu padaku..."
"A-Apa kamu serius berbicara seperti itu??"
"Aku sudah berusaha semampuku untuk mengatakan hal ini... Entah kenapa aku merasa bahwa ini adalah hal yang terbaik, demi diriku juga demi dirimu... anggap saja ini adalah sebuah pertukaran keuntungan yang adil."
"Um! aku mau... aku mau..!"
"E-Eh? kenapa kau menangis??"
"Aku hanya merasa sangat senang... ada seseorang yang berbicara seperti itu padaku."
"Y-Yah... aku hanya ingin membantumu."
"Terima kasih... Aoyama."
Dua tahun telah berlalu, kami saling menjalani kehidupan dengan memegang sebuah perasaan seseorang didalam hati kita masing masing...
Takdir yang tidak bisa ia hindari membuatnya tersadar, untuk menghabiskan waktunya untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku... menyukaimu... Aoyama."
"..."
"M-Maaf aku harus bergegas pulang, sampai jumpa."
Kecupan yang ia berikan di bibirku, membuatku hanya bisa berdiri dengan merasakan hangatnya bibirku ditengah cuaca dingin seperti ini.
Dirinya telah memberikan isi hatinya yang sebenarnya, sebelum dirinya benar benar sudah pergi dan tidak bisa bertemu denganku kembali.
Sampai saat itu aku tidak bisa memberikannya sebuah jawaban... hingga kita kembali bertemu...
"Maaf... aku tidak bisa membalas perasaanmu."
"Begitu ya... aku mengerti."
Meskipun dia berusaha untuk tersenyum, namun air matanya tidak bisa berbohong ketika mengalir di pipinya yang sudah basah.
Pertama kalinya aku menolak sebuah perasaan yang tulus mencintaiku... rasanya benar benar sulit untuk dibayangkan, bagaimana sakitnya hatinya, atau betapa perih perasaannya yang terbalas tidak...
Satu hal yang aku rasakan saat itu... hanyalah saat saat dimana aku mengingat momen diriku dengan Sakura...
Hidupku yang tidak ada artinya ini... dipedulikan oleh orang lain dan dihargai... seperti sebuah hal yang sangat membahagiakan, meskipun ini adalah kali pertama diriku merasakannya... aku telah berpikir bahwa apa yang aku pilih menjadi satu satunya pilihan yang benar.
Selama diriku masih mencintai dirinya, sampai kapanpun... aku tidak bisa membuang dan melupakan perasaan yang telah aku pendam selama bertahun-tahun.