My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 127



"( Kepalaku sangat pusing...)"


Aku membuka mataku perlahan, dan disana aku sudah terbaring diatas tempat tidurku...


Tanganku terasa begitu hangat, karena seseorang yang menggenggamnya dengan penuh kehangatan.


"Ao?! kamu sudah bangun?."


"Sakura..."


Sedari tadi dia menatapku khawatir, dan langsung memelukku begitu aku sadar.


"Apa yang terjadi denganmu?!."


"Aku... hanya sedikit terbentur dan pingsan."


"Bukan hanya namanya jika sudah pingsan!! kamu membuatku khawatir saat melihatmu terkapar dibawah tahu!."


"Maaf..."


"Lalu... dimana Akasa?."


"Akasa? apa yang sedang kamu katakan?."


"Aku katakan? tentu saja Akasa, adik...ku..."


Aku langsung terdiam karena semua yang muncul didalam kepalaku tiba tiba.


Dan tanpa aku sadari, air mataku mengalir keluar tanpa alasan, dan hatiku terasa begitu sesak..


"A-Ao?! ada apa??."


Suaranya yang lembut memperhatikanku, tetapi seluruh telingaku hening dan aku menemukan sebuah hal yang telah lama hilang..


"Sakura..."


"Ada apa? katakan saja..."


"Aku..."


"..."


"Aku mengingatnya..."


"Apa maksudmu??."


"Tidak... aku... mengingatnya..."


"Mengingat... apa yang kamu ingat??."


"A-Adikku... adikku! adikku dan kedua orang tuaku!!."


"Tenanglah! jangan terlalu banyak memikirkan hal yang berlebihan!."


"Tidak! aku, aku harus mencarinya! mencari adikku!! dia... dia... masih hi-."


Dia memeluk diriku dan menenangkan diriku yang kini sudah begitu hilang kendali.


"Tenanglah... kumohon... tenang."


"..."


Tangannya yang lembut mengelus-elus rambutku, dan wajahku tenggelam didepan tubuhnya dan aku bisa merasakan kehangatannya.


Lalu dia menghapus air mataku hingga menyentuh wajahku dengan tangannya yang lembut..


"Pikirkan dengan perlahan-lahan... tidak ada yang akan pergi... jadi, kita lakukan ini secara perlahan, mengerti?."


"Ya... terima kasih."


"Kalau begitu, kamu harus makan terlebih dahulu... kamu belum makan sama sekali bukan?."


"..."


Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya...


"Aku akan membawakannya kesini, jadi jangan melakukan apapun ya."


Lalu dia bergegas mengambilkan makanan untukku yang sekarang ini masih terduduk melamun dengan tatapan kosong.


.


.


.


"Nih, kamu harus makan.."


"Aku, bisa sendiri.."


"Maaf... kalau begitu, aku tinggal kebelaka-."


Aku memegang lengannya saat dia ingin pergi dari kamarku.


"Jangan pergi..."


"..."


Tanpa berkata-kata lagi, dia langsung kembali duduk dan memegang tanganku dengan lembut.


"Aku tidak akan kemana-mana..."


Mungkin sekarang ini aku begitu merasa kesepian... setelah mengingat kejadian yang menimpaku beberapa tahun yang lalu, dan seakan-akan kejadian itu baru saja terjadi kemarin...


Nijiro Akasa... itulah nama adikku, dan namaku yang sebenarnya, Nijiro Aoyama...


Aku telah mengingat semuanya... orang tuaku dan juga adikku... begitu juga semua kenangan-kenangan manis yang seharusnya terus tersimpan didalam ingatanku...


Membayangkannya saja membuatku menjadi tidak tahu apa yang harus aku lakukan, menangis pun rasanya aku tidak bisa melakukannya...


Yang aku inginkan hanyalah seseorang yang bisa menemaniku disaat aku membutuhkan sebuah kehangatan.


Sakura terus berada disampingku, sampai kapanpun itu, dia terus memegang tanganku seakan tidak ingin membiarkan diriku ini sendirian.


......................


"Sakura... apa baik-baik saja jika kamu menemaniku disini?."


"Mungkin sampai besok pagi aku bisa menemanimu... Yuuki saat ini sedang menginap di rumah keluarganya sampai wisata sekolah besok."


"Tentu saja saat ini aku cukup khawatir, tetapi dia memberikanku pesan jika dia baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu."


Saat kita berdua sedang berada di ruang tengah, rasanya suasana hatiku perlahan-lahan kembali menjadi tenang... tetapi sesuatu hal berubah didalam diriku.


"..."


"Kenapa kamu melihatiku terus?."


"Rasanya... gaya bicaramu berubah..."


"Benarkah? aku merasa seperti biasanya."


"Mungkin hal itu adalah kebiasaan saat ingatanmu yang dulu..."


"Mungkin memang seperti itu."


"Apapun itu, asalkan kamu masih mencintaiku, aku tidak keberatan sih.."


"Sampai kapanpun itu, aku tetap ingin bersamamu."


"K-Kamu menjadi semakin berani ya... tapi aku senang mendengarnya."


"Karena aku memang bersungguh-sungguh."


"Um, aku tahu... andai saja jika benar-benar berjalan seperti itu.."


Dalam kalimat terakhir dia mengucapkannya dengan begitu pelan hingga aku tidak mendengar dengan jelas.


"Apa yang tadi kamu katakan?."


"Tidak, bukan apa-apa... oh iya, kamu mau makan malam dengan apa?."


"Hmm... sebenarnya aku tidak ingin makan terlalu banyak... bagaimana jika sayuran dan sedikit daging?."


"Kamu harus banyak makan! tapi karena kamu yang memintanya, hanya untuk kali ini saja ya."


"Baiklah, ampuni aku..."


Dan dia pun pergi kebelakang dapur untuk memasak makan malam, karena tidak terasa waktu yang aku habiskan bersamanya seharian ini terasa hanya sebentar.


"Setelah mandi rasanya menyegarkan sekali!."


Ucap Sakura yang sedang meregangkan tubuhnya saat baru keluar dari dalam kamar mandi..


Tetapi saat ini tubuhnya hanya tertutupi oleh sebuah kain handuk berwarna putih, dan aku bisa melihat sebagian tubuhnya yang terlihat putih lembut dan halus.


"T-Tunggu Sakura... sebaiknya kamu memakai pakaianmu terlebih dahulu."


"Hm? memangnya kenapa?."


"K-Karena... itu... hanya saja."


Aku yang sedang duduk diatas sofa, langsung dipeluk olehnya dari belakang.


Aku bisa merasakan kulitnya yang dingin sehabis mandi, dan wangi sabun yang begitu harum.


"Aku seperti ini... hanya untuk dirimu saja... jadi, apa tidak boleh?."


"B-Bukannya tidak boleh... hanya saja."


"Hanya saja?."


"..."


"..."


"Eh??."


Aku menarik lengannya hingga dia terjatuh keatas sofa dan terbaring disana dengan aku yang berada diatas tubuhnya.


Wajahnya yang masih terlihat terkejut karena aku menariknya secara tiba-tiba.


Kain handuk yang menutupi tubuhnya kini sudah begitu longgar hingga aku bisa melihat sedikit miliknya.


"..."


"S-Sepertinya aku sedikit berlebihan menjahilim- mmh!."


Tanpa memberikannya bicara, aku langsung menutup mulutnya dan kedua tangannya spontan langsung memelukku.


"Pwah! haah.."


"Sakura..."


"..."


Wajahnya yang sedikit memerah dan nafasnya yang terasa begitu panas terus membuat diriku tidak bisa menahannya.


Aku menunggu jawaban darinya untuk bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya.


"S-Setidaknya... jangan melakukan... disini."


Setelah dia memberikan kode untuk melanjutkannya, aku pun menggendongnya langsung kedalam kamarku.


"T-Tunggu! aku bisa berjalan sendiri!."


"Aku sudah tidak bisa menunggunya."


"Duh..."


Ini adalah kedua kalinya aku bisa berbagi kehangatan bersamanya, rasanya yang tidak pernah berubah, dan kini kita melakukannya dengan cukup lancar untuk kedua kalinya...


Malam yang dingin dan hanya ada perasaanku dan perasaanya yang saling mengikat, dan sebuah kenyamanan yang kita ciptakan berdua pada malam itu... sungguh membuatku menjadi lebih tenang.


"..."


Setelah beberapa jam kita melakukannya, dia pun kelelahan hingga terlelap tidur...


"( Tidak aku sangka... kita melakukannya kembali... aku pun tidak percaya jika aku melakukan hal ini dengan seseorang yang dari dulu aku sukai... dipikir-pikir kembali... dunia ini tidak begitu buruk juga..)"


Aku memeluknya dengan lembut untuk membuatnya lebih hangat dan tidak lama kemudian aku pun tertidur.


Aku telah berpikir begitu panjang, tentang adanya adikku yang masih hidup... aku mempunyai firasat baik tentang hal itu, namun firasat bukanlah sebuah fakta...


Yang harus aku lakukan adalah mencari keberadaannya sendiri.