
"Bagaimana dengan gadis kecil itu?."
"Semuanya berjalan sangat lancar... kita hanya akan menunggu saja bukan?."
"Ya... ini adalah sebuah hukuman untuknya... dan sebentar lagi... Yuuki ataupun gadis kecil itu.... aku bisa memilikinya."
"Percaya saja dengan kami... tidak ada yang bisa melawan kelompok kami... dan kau tidak akan menyesal sudah menyewa kami semua."
"Bagus! aku akan kesana beberapa jam lagi..."
"Baik!!."
Pemimpin kelompok itu pun dengan senang karena mendapatkan sebuah tugas besar dengan imbalan yang juga sangat besar..
"Lepaskan aku! siapa kalian!!." Dengan posisi tangannya terikat di sebuah kursi... dia tidak bisa bergerak dari sana.
"Nona... masih untung kita tidak menyiksamu... jika bukan karena klien kami..."
"Bagaimana jika kita menikmatinya sedikit?."
"Dasar bodoh! jangan coba coba kalian semua menyentuh gadis itu... jika terjadi sedikit saja kesalahan... klien kita akan marah besar." Pemimpin itu tidak ingin mengambil kesalahannya sedikit pun, dan mereka sudah profesional dengan tugas semacam ini...
"( Kakak...)."
......................
"Sakura... bagaimana? apa ada petunjuk disana?."
Kuchima yang sudah berusaha mencari hingga tidak bisa fokus kedalam acara itu... dan hanya peduli dengan keselamatan adiknya.
"Lebih baik Ketua tenangkan dirimu terlebih dahulu... semuanya akan baik baik saja.."
"Apa maksudnya?? dan juga dimana Aoyama sekarang?."
"Maka dari itu... Aoyama sudah mendapatkan petunjuknya... tetapi dia tidak ingin kita ikut campur."
"H-Ha? tunggu dulu... kenapa dia tidak ingin memberitahukan kita terlebih dahulu?!.."
"Aku juga tidak tahu... dia sekarang sudah pergi untuk mencari Nami... dia memintaku untuk memberitahukan hal ini kepadamu.."
"Aoyama... Sakura, apa itu benar? Aoyama pergi sendiri untuk mencari Nami..?." Yuuki yang sudah selesai melakukan pertunjukkan dramanya, tidak sengaja mendengar penjelasan dari Sakura.
"Yuuki... itu benar."
"T-Tunggu dulu! jangan bercanda!."
"Memangnya ada apa??." Kuchima mulai penasaran dengan masalah yang menimpa adiknya.
"Nami diculik oleh sekelompok penjahat yang dibayar oleh Azumi... jika Aoyama pergi kesana sendirian... mereka adalah kelompok penjahat profesional..."
"A-Azumi?! jadi, ini semua karena dia?!."
"Adikku telah diculik?! kenapa dia senekat itu! kita harus memanggil polisi untuk meminta bantuan!." Dengan panik yang tak tertolong, Kuchima mengkhawatirkan kedua orang itu... dia membuka ponselnya untuk menghubungi pihak polisi.
"Jangan! kumohon jangan lakukan itu..." Tetapi Yuuki menghentikan perbuatan Kuchima.
"Kenapa?! Aoyama akan berbahaya jika dibiarkan seperti ini bukan??."
"Itu...benar... tetapi, apa kamu ingin jika adikmu yang akan dalam bahaya...?."
"..." Gerakannya terhenti saat tidak bisa memilih mana yang benar.
"Bagaimana kamu tahu tentang ini?.." Tanya Sakura kepada Yuuki.
"Baru saja... Azumi menghubungiku... dia ingin aku pergi untuk menemuinya tanpa ada seorang pun yang ikut denganku... jika aku tidak menuruti permintaannya... Nami akan dalam bahaya.."
"Lalu... apa yang harus kita lakukan?."
"..."
"Aku akan kesana sendirian... aku tidak akan membiarkan Azumi melukai Nami... maupun Aoyama."
"Aku akan ikut denganmu.." Sakura yakin jika dia bisa membantu mereka disana.
"Sakura... tidak, kamu tetap disini..."
"Tapi!."
"Bagaimana dengan Touya? apa kamu ingin meninggalkannya sendirian diatas sana? Aoyama memberitahu kepadaku... perjuangan orang lain yang sudah membuat kita berhasil sejauh ini... apa kamu ingin menghancurkan harapannya?."
"..."
"Tolong... biarkan kali ini aku yang akan membantunya... ini semua adalah salahku... aku harus bertanggung jawab dengan cara ini.."
"Aku... tidak bisa meninggalkanmu..." Sakura sebagai pelayan keluarga Yuuki, wajib untuk melindunginya apapun yang terjadi...
Tetapi Yuuki hanya membalasnya dengan senyuman kepada Sakura.
"Aku yakin... tidak akan ada yang terjadi... jadi, kamu harus menyelesaikan apa yang telah kamu perjuangkan disini.."
"..." Sakura hanya bisa menatap bahwa percaya akan perkataan Yuuki.
"Aku pergi dulu..."
"Tolong jangan berbuat sesuatu yang bisa membuatmu terluka... aku akan meminta bantuan yang lain jika situasi disana sudah aman." Ucap Kuchima untuk memberikan Yuuki sebuah kepastian.
"Um..."
Tanpa tambahan kata kata lagi... Yuuki langsung pergi dari sana untuk menyusul Aoyama dan menyelamatkan Nami dari Azumi.
"..." Sakura merasa bahwa dia tidak bisa melindungi orang yang seharusnya bisa dia lindungi... tetapi dia kembali teryakini jika Aoyama berada disana... ia hanya bisa berharap tidak akan ada yang terjadi... dan menyelesaikan urusannya disini.
"Pentas apa yang kalian lakukan? aku akan menggantikan Aoyama untuk membantunya.." Kuchima membuka almamater OSIS nya dan membantu kelas N untuk tampil diatas panggung.
"..." Sakura melihatnya dengan rasa senang dan yakin... jika semua ini akan berjalan dengan lancar.
......................
Pada waktu yang sama... saat aku sudah berada dibelakang gudang pabrik terbengkalai itu... tempat yang cukup besar dan tidak ada celah untuk bisa masuk kedalam sana..
Aku mengintip dari sebuah lubang yang berada di dinding bangunan itu..
"Satu... dua... tiga... empat... lima.... hanya ada lima orang... apa itu sudah semuanya?." Tanpa membuat suara aku mencoba untuk mengamati situasi yang ada didalam.
Saat aku mengamatinya... aku melihat Nami yang sedang duduk terikat di sebuah kursi... dan ada tiga orang yang menjaganya... dua orang lagi sepertinya sedang berkeliling menjaga tempat ini.
"Jadi... bagaimana aku bisa masuk kedalam sana?."
Aku melihat lihat apa yang ada disekitarku... dan perhatianku teralihkan saat melihat sebuah barang barang bekas seperti tong besar, balok kayu dan juga sebuah tali tambang...
.
.
.
"Tidak terasa kita sudah berada di acara terakhir dan kelas terakhir!!! siapkan semangat kalian untuk melihat sebuah pertunjukan musik penutup acara pentas seni di hari terakhir festival budaya sekolah Asterisk!!!.."
"Uwaahh ramai sekali... aku jadi sedikit gugup!." Touya melihat dari balik panggung dengan sebuah hal yang sudah ia tunggu..
"Touya..." Sakura dan Kuchima datang di saat saat terakhir... tetapi Wajah Touya memucat saat dia tidak melihat keberadaan Aoyama.
"Sakura... Kuchima... dimana Aoyama?."
"Aoyama... tidak bisa ikut tampil bersama kita.." Terpaksa jika Sakura memberitahukan yang sebenarnya.
Dan Kuchima mengambil sebuah Gitar yang sudah disiapkan awalnya untuk Aoyama.
"A-Apa maksudnya?." Touya masih menganggap ini semua adalah lelucon.
"Kita harus segera tampil... Ketua OSIS menggantikan Aoyama disini."
Ia tidak bisa menyangka kenyataan yang tidak terduga...
"Sudah saatnya..." Kuchima memberikan tandanya.
"D-Dimana dia?."
"Setelah ini semua selesai... kamu bisa bertanya dengannya langsung."
"Touya... aku tahu situasi yang sedang terjadi... tetapi... kita harus menyelesaikan ini semua terlebih dahulu..." Kuchima ikut menyakinkannya.
"..."
"..."
Mereka berdua hanya bisa menunggu jawaban yang akan diberikan Touya... karena semua ini tergantung pada setiap orang... untuk sebuah pentas yang meriah.
"Baiklah... tidak ada waktu lagi..." Pasrah dengan keadaan yang pahit... Touya terpaksa untuk melakukannya.
Sakura tersenyum lega saat mendengar jawaban Touya, dan mereka berjalan keluar dari belakang panggung dan bersiap memberikan yang terbaik untuk penutup acara ini...
"Acara pentas seni kelas X-N!!! 'Meski Laguku Ini Tak Berwujud'."
Mereka mulai memainkan musiknya... petikan gitar Kuchima mengiringi dengan baik... begitu pun juga dengan Touya...
Pada Waktu yang sama... di tempat yang berbeda... aku yang sedang memegang sebuah balik kayu... bersiap untuk memukul sebuah tong besar di pintu belakang gudang itu.
"Baiklah... Aoyama... lakukan ini atau tidak sama sekali.." Aku menarik nafasku dan menggenggam erat kayu itu...
Aku mengayunkan kayu itu kearah tong besar hingga mengeluarkan suara yang sangat besar.
*GUMMMMM!!!!
Suara yang sangat besar hingga mereka semua yang berada di dalam terpancing oleh suara itu..
Dan juga bersamaan dengan suara Sakura yang mulai bernyanyi untuk kelasnya..
♪Warna-warni bunga berguguran~ hiasi langit jingga~
"Apa kau mendengar suara itu?."
"Suara itu berasal dari belakang bos.."
"Apa itu polisi?."
"Kau... cepat cek ke belakang... jangan sampai rencana kita gagal!."
"Baik bos!."
♪Diterangi cahaya yang tengah berkelip~
Nyanyiannya yang sangat merdu itu... menarik banyak penonton dari luar gedung dan melihat seorang gadis SMA yang sedang tampil diatas sebuah panggung dengan kharismanya.
♪Harusnya diriku ini bisa tertawa~
Sebuah ketegangan yang tercipta dari sebuah dentuman keras pukulan kayu...
Aku bersiap siap dibelakang pintu itu dengan memegang tali yang sudah diikatkan dengan sebuah batu besar..
Dan pintu itu pun terbuka... seseorang keluar dari sana dengan membawa sebilah pisau... dia melangkah dengan pelan pelan dan melihat situasi disana..
Aku bersiap dengan tali ini... saat dia akan maju beberapa langkah lagi...
♪Kastil pasir putih~ Yang kita tinggalkan dulu~
Beberapa langkah lagi...
Genggamanku semakin erat... dan jantungku terasa seperti berdegup kencang hingga terdengar keras ditelingaku..
Sedikit lagi...
Sedikit lagi orang itu bisa melihat kehadiranku disini...
Saat dia menggeser pandangannya tepat kearah tempat dimana aku berdiri...
*Srett!!
Aku tidak melemparkan batu itu kearahnya... melainkan melemparkan batu itu dengan sekuat tenaga keatas langit..
"Siapa kau!!."
*Bukk!!
Saat dia baru saja ingin mengangkat pisau itu... batu yang lebih besar dari sebelumnya jatuh menghantam kepalanya dan membuat ia terjatuh pingsan..
Meskipun aku hanya menumbangkan satu dari kelima orang itu... aku sedikit merasa lega dan tanpa beristirahat sejenak... aku langsung membuka jaket miliknya dan memakai jaket itu, lalu menutup wajahku dengan sebuah masker sepertinya dan agar terlihat seperti orang itu...
♪Yang kini telah luruh tersapu ombak~
"Suaranya sangat cantik sekali! apa kelas N mempunyai cewek secantik dia??.."
"Apa itu ketua OSIS?? dia yang bermain gitar!!!.."
Semua orang yang melihat pertunjukkan itu... dengan berbagai suara mereka keluarkan... hingga didalam gedung itu menjadi sangat meriah..
♪Juga penanda usainya mimpi ini~
"Hei! bos bertanya bagaimana situasinya! apa baik baik saja?." Seseorang dari dalam berteriak kesini saat aku baru saja menutup wajahku dengan kain..
Dia berjalan menghampiriku yang dia pikir itu adalah temannya.
"Apa kau tuli? aku bilang bagaimana keadaannya.." Saat dia sudah tepat berada dibelakangku... aku berbalik dengan perlahan dan tangan kananku memegang balok kayu dibalik jaket hitam yang kupakai.
♪Didunia serba putih ini aku membuka mata~
"Disini aman... tidak ada apa apa." Aku mencoba untuk berbicara agar tidak dicurigai olehnya.
"Bilang daritadi kek! cepat lapor pada bos.." Syukurlah dia tidak mencurigaiku... lalu dia berbalik untuk kembali masuk kedalam..
"Haaahhh ini membosankan... aku heran, kenapa kita tidak bisa menikmati gadis secantik itu... jika aku adalah bosnya, dari awal aku sudah menikmati tu-."
Aku memukul leher belakangnya dengan balok kayu itu, dan membuatnya pingsan seketika..
dan aku langsung mengecek apa yang ada didalam bajunya...
Sangat beruntungnya aku menemukan dua buah bom asap yang sama seperti bom asap disekolah saat kejadian lalu.
♪Alih alih meraih sesuatu~ tetapi tak meraih apapun~
"Lama sekali mereka berdua... apa yang sedang mereka lakukan.."
"Bagaimana jika benar benar ada penyusup yang datang?."
"Tidak mungkin... bagaimana mereka bisa mengetahui tempat i-."
Sebuah bom asap bergelinding diantara ketiga orang itu...
*Sheesssshhhhhhh
♪Seraya kulihat langit ini begitu dekat~
Asap yang keluar dari bola itu menutupi penglihatan semua orang yang ada didalam..
"Uhuk uhuk! siapa yang meledakkannya!!."
Masih dengan penglihatan mereka yang tertutup oleh asap yang tebal.. aku melumpuhkan kedua orang yang berada disana hanya dengan sebuah tongkat besi yang kutemukan sebelum kesini.
*Bukk!!
"Argghhh!!."
"Apa yang terjadi?!!."
*Dukk!!
"Uggrhhh!!."
"Siapa disana!.." Pemimpin itu bersiaga dengan mencoba membuka matanya dan melihat sekitarnya.
"Uhuk uhuk.."
"Nami... tunggu sebentar, aku akan melepaskanmu.." Aku langsung mencabut pisau dari dalam kantung jaket orang yang aku lumpuhkan diluar dan memotong ikatannya.
"Aoyama?! kenapa kamu ada disini?!."
"Ssttt! pelan pelan! dengarkan aku... aku ingin kau segera pergi dari sini... dengan melewati pintu belakang disana.." Aku menunjuk arah pintu keluar dibelakang gedung.
"Bagaimana denganmu?."
"Tidak ada waktu, asapnya akan menghilang! cepatlah!."
"Dimana kau sialan!!." Mendengar teriakan orang itu, membuat Nami tidak bisa melakukan cara lain selain lari.
"Ada sepedaku di depan dan cepat pergi cari bantuan..."
"Tolong jangan memaksakan dirimu.."
"Kumohon cepatlah! aku akan baik baik sa-."
Saat dia ingin melihatku, tetapi sebuah pukulan yang melemparku sangat jauh dari sana..
"Ughh!!!.."
"Aoyama!."
"C-Cepat pergi!." Aku sengaja berteriak untuk memancing orang itu agar tidak mengejar Nami..
Terpaksa Nami langsung segera berlari keluar untuk pergi dari sana...
Aku mencoba berdiri dari sana sambil menahan rasa sakit di sebelah kanan pinggang ku karena pukulan orang itu yang sangat kuat...
♪Apa yang telah kuhilangkan?~
Asap nya kini mulai menghilang... kami saling melihat satu sama lain dari sebuah kesunyian ini...
"Kau... bocah itu! beraninya kau mencoba datang kesini.."
"Ha? apa kau takut dengan kehadiranku?." Aku masih bisa tersenyum merendahkannya.
"Hahahahaha!!! lucu sekali! menarik! sebelum aku mengejar gadis itu... aku akan memberikan pelajaran kepadamu.."
Sekarang adalah situasi yang tidak bisa kubayangkan... jelas aku tidak bisa melawan orang sebesar itu dengan mudah...
Tetapi... hanya untuk memberikan waktu untuk Nami menjauh dari tempat ini...
aku akan bertahan dari halangan ini..
♪Ombak nan jernih ini~
Reff yang sudah mulai dinyanyikan Sakura... semua nya menjadi tambah meriah dan tidak kalah dengan semangat yang lainnya..
"( Aoyama... kumohon... kembalilah dengan selamat...)"
♪Pantulkan siluet kita yang biru ini dan amat jauh~
*Bukk!!
Bahkan aku sudah menahannya dengan kedua lenganku... tetap saja pukulannya masih terasa sakit..
"Ada apa! tunjukkan keberanianmu yang sebelumnya!!."
♪Hari itu, aku paham sesuatu di dunia ini~
Dia kembali menyerangku dengan sebuah pukulan cepat datang kearahku..
Aku masih bisa melihatnya dan berhasil menghindar dari pukulan itu..
♪Disanalah cahaya berkumpul~
Saat aku ingin membalas serangan kepadanya dan ingin memukul bagian titik lemahnya... bahkan itu tidak bisa disebut titik lemah... karena tubuhnya yang sangat besar dan terlihat kuat... bahkan pukulan ku seperti tidak ada rasa bagi dirinya.
"Hmph! hanya ini??.." Dia menggenggam tanganku yang tidak bisa melukainya sedikit pun... dan langsung melemparkan tubuhku hingga membentur dinding.
"Guhuk!!."
Benturan itu cukup melukaiku hingga aku tidak sanggup untuk bergerak..
Aku hanya bisa berdiri sambil memegang lukaku dan menahan rasa sakitnya.
"Coba kulihat... bagaimana kau bisa menahannya lagi... apa kau sudah ingin menyerah?."
"Menyerah? apa itu? aku tidak pernah tahu kata itu.."
Rasa sakit ini terasa seperti menyelimuti seluruh tubuhku...
♪Aku 'kan bernyanyi~
Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kulakukan...
Aku bisa saja berlari dari sini dan keluar dari tempat ini sebelum teman temannya kembali sadar..
♪Untukmu yang buatku tersenyum, untukmu yang bersedih~
Tetapi jauh didalam hatiku tidak berpikir untuk itu... sebisa mungkin... sebisa mungkin aku akan mengalahkannya..
"Sepertinya aku tidak bisa menahannya!!." Dia berlari kearahku dan mengayunkan sebuah pukulan..
Aku mencoba menahannya dengan kedua tanganku... tetapi tetap saja tubuhku terlempar dan kembali terbentur ke dinding dibelakangku.
♪Meski sedikit juga tak mengapa~
"Ughh!." Bercak darah yang keluar dari mulutku... aku merasa jika aku telah melakukan hal yang bodoh..
Dia kembali datang kepadaku, dan memukul ku berkali kali..
Aku tidak sanggup untuk mengangkat tanganku kembali... beberapa kali wajahku terkena pukulan itu?
Kenapa aku bisa berada disini? kenapa aku ingin melakukan hal seperti ini?
♪Aku ingin bisa mendukungmu~
Sakit sekali... seluruh tubuhku sangat sakit...
Mungkin bernyanyi diatas panggung lebih baik daripada babak belur seperti ini..
"Bhuukk!!."
Pukulannya yang tidak pandang bulu itu... bertubi tubi mendarat di seluruh tubuhku..
"Lihatlah dirimu... sangat mengesankan... aku harap kau bisa menyesal untuk hidup seperti ini.."
"Menyesal? haha... sudah lama aku tidak berpikir seperti itu... hidupku ini terlalu sibuk untuk memikirkan sebuah penyesalan.." Aku terhuyung huyung tidak bisa menyeimbangkan tubuhku..
♪Layaknya dirimu yang selalu begitu~
"Aku anggap itu adalah kata kata terakhirmu... bersiaplah... jaga jaga dengan kepalamu.." Dia bersiap ingin mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk memberikan pukulan terakhirnya kepadaku..
Apa aku akan berakhir konyol disini? aku pun tidak sempat untuk memikirkan ini semua
♪Saat diriku dilamun kesedihan~
Suara tarikan nafasnya sangat terdengar... aku tahu dia akan serius untuk membunuhku... tetapi tubuhku tidak ingin bergerak...
Bagaimana aku bisa menggerakkan kakiku beberapa sentimeter saja untuk menghindari pukulannya..
Sudah tidak ada harapan yang bisa kuharapkan disini...
Aku melakukan hal yang bodoh... untuk menebus semua kesalahanku..
♪Aku ingin.... Aku ingin kamu selalu berada disampingku... selamanya~
"Selamat tinggal bocah!!."
*Bummm!!!!!!