My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 156



Ditengah hamparan rumput yang begitu lebat... kita berbaring dibawah langit biru yang begitu sejuk, dengan sebuah pohon besar yang menutupi sinar matahari..


"Senki... aku sudah penasaran selama ini... apa kau menyukai Sakura?."


"Eh? bagaimana kau tahu?."


"Kau sangat buruk sekali menyembunyikan niatmu bodoh."


"Akkhh aku tidak ingin pergi sekolah lagi..."


"Aku tidak akan memberitahukan kepadanya... aku bukan orang yang mudah berbicara kau tahu?."


"Aku percaya padamu...hehe."


Kami berdua berbaring sambil menatap birunya langit dengan hiasan awan awan putih yang terlihat lembut.


"Kau tahu... sejak dulu aku dengannya selalu bersama... kami berdua seperti layaknya saudara adik kakak... dulu aku sangat senang mengenalnya... entah kenapa lama lama aku merasakan perasaan yang lain seiring waktu kita bersama... di satu sisi aku ingin memilikinya... tapi di satu sisi yang lain aku takut merusak hubungan kita... dan itulah mengapa aku masih tidak berani mengatakannya."


"..."


"Seandainya saja aku mempunyai keberanian... mungkin aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak terkira dari dulu... aku ini memang pengecut, dan seorang yang hanya bisa berharap tanpa melakukan."


"Kau sama sekali bukanlah seorang pengecut... kau menahan perasaanmu untuk menjaga hubungan baikmu dengannya... kau sudah melakukan hal yang baik... kau tidak ingin kehilangannya kan?."


"Jelas aku tidak ingin kehilangannya!."


"Kalau begitu, aku akan menunggumu dan mendukungmu hingga kau bisa menyatakan perasaan padanya."


"Aoyama... terima kasih... aku sangat beruntung mempunyai teman sepertimu..."


"Jangan berharap juga padaku... aku hanya mendukungmu saja."


"Iya iya! aku tahu!."


Semua ini jika diingat kembali... seperti sebuah mimpi yang tidak bisa menjadi nyata.


.


.


Saat itu, pertemuan yang sudah lama tidak aku inginkan... pada akhirnya terjadi dan dirinya berdiri didepanku dengan tampilan dirinya yang tidak ada perubahan seperti dulu.


"Sepertinya kau telah terlalu lama menyimpan rasa bersalah dirimu itu disini."


"Aku tidak pernah merasa seperti itu sampai saat ini."


"Dari awal kau memang tidak sadar... dimana Sakura."


"Apa yang sedang kau katakan?."


"Kau pasti tahu dimana dia sekarang... jangan berlagak bodoh."


"Sudah lama tidak bertemu, sepertinya gaya bicaramu semakin bagus saja."


"..."


"Jika tidak ada yang kau perlukan dariku, lebih baik segera pergi dari si-."


"Beberapa bulan yang lalu, aku pergi untuk menyusulnya."


"..."


"Ke tempat dia melanjutkan sekolahnya, namun dia sudah tidak bersekolah disana hingga aku tahu dia kembali kesini."


"Kau mencarinya..."


"Lebih baik aku memperjuangkan dirinya daripada kau sendiri melepaskannya begitu saja."


"Aku bukan orang yang sabar, jaga ucapan mulutmu."


"Apa? seorang pengecut sepertimu memangnya bisa apa? dari dulu kau tidak pernah bisa melakukannya..."


"..."


Kehadirannya disini membuatku kembali mengingat masa itu... masa yang tidak pernah ingin aku rasakan kembali...


Saat itu aku tidak pernah menyalahkan diriku atas hal ini, dan semua ini hanyalah sebuah kegagalan yang di sia-siakan...


Walau sesaat saja aku ingin berbicara dengannya, mungkin hanya menjadi sebuah pertengkaran yang mengungkit masa lalu, dan tidak akan pernah selesai hanya dengan berbicara satu sama lain.


Hingga pada saat itu, setelah beberapa hari saat aku bertemu kembali dengannya...


......................


Saat itu aku yang menerima permintaan Guru Baki dengan pekerjaannya untuk menangkap seorang pencuri, yang akan mencuri sebuah barang berharga dari rumah besar..


Kita memang bertemu dan aku sempat mengejar pencuri tersebut... semua itu terjadi dengan sangat dramatis hingga sampai didalam sebuah gudang kosong...


Aku berhasil memojokkan pencuri itu, dan aku melihat sebagian wajahnya.. yang tidak pernah bisa aku lupakan.


"Ao-!." Saat terkejut dia spontan memanggil namaku dan langsung menutup mulutnya karena tidak sengaja memanggil namaku saat melihat wajahku.


"Kau... jangan jangan."


Dia terlihat diam membeku saat aku mencurigainya.


"Tch!."


"Kenapa kau melakukan ini?." Aku memberikan pertanyaan dengan datar agar tidak membuatnya terancam.


"Kau tidak perlu tahu! jangan ikut campur! pergi dari sini!."


"Kau mencuri sesuatu... bagaimana bisa aku membiarkannya."


Aku hanya bisa berbicara dengan tenang, karena sedikit rasa kecewa terhadap dirinya yang kini sudah begitu berubah.


"Sudah kukatakan jangan ikut campur! cepat pergi dari sini!."


"Senki... jangan melakukan hal yang membuatnya kecewa... dia tidak akan menerimanya."


"Sampai berapa kali kukatakan!." Dia langsung mendekatiku dan menarik kerah bajuku.


"Kembalikan barang yang kau ambil."


"Kau tidak mengerti apapun... jangan sok ikut campur!."


Matanya memiliki tatapan yang berbeda, seperti saat dia tidak bisa menyembunyikan kebohongannya...


"Aku hanya ingin menyelesaikan ini... kau pencuri yang sudah mencuri barang itu... dan aku harus mengambilnya."


"Kau tidak mengerti! sudah kubilang per-."


Tiba tiba terdengar suara pintu besi karatan dari bengkel tua itu terbuka.


"Sial!."


Dia terlihat panik dan melihat sekitar tempat ini.


"Jangan bersuara! dan jangan pernah keluar!." Dia mendorongku ke tumpukan tong minyak kosong yang membuatku tertutupi.


"Tunggu! kenapa!."


"Diamlah!."


Dan tidak lama kemudian beberapa orang datang dan menghampiri Senki.


Aku bisa melihat mereka dari balik tong tong ini... sekitar enam orang yang datang kesini dan mendekatinya.


"Bocah... dimana barangnya."


"Aku sudah mendapatkannya... tapi kalian harus menepati janji kalian dulu."


"Tenang saja... kami akan menepatinya... sekarang dimana barangnya?."


"..."


"Jangan bercanda! kesepakatannya kalian harus menepati janji kalian terlebih dahulu! baru aku akan memberikan ini."


"Banyak omong! kalian semua, buat dia menyesal!."


Lalu orang orang yang ada dibelakangnya itu mendekati Senki.


"M-Mau apa kalian! perjanjiannya bukan seperti ini!."


"Kau ingin perjanjian? ini dia!!."


*Buk!


Dia memukul perut Senki hingga ia terjatuh.


"Uhuk! sialan!." Senki langsung bangun dan melompat kearah salah satu orang itu dan memukulnya tepat di kepalanya.


"Ugh! dasar bocah kurang ajar!."


Aku melihatnya yang cukup mahir bela diri dan bisa bertahan melawan kelima orang itu.


Tetapi jumlah adalah yang menentukan siapa yang menang... Senki sudah beberapa kali terkena pukulannya.


Hingga dia mundur dan mengatur nafasnya kembali... wajahnya yang sudah babak belur itu masih ingin bertahan.


"Serahkan barang itu, dan kau kubiarkan selamat disini."


"T-Tidak akan! aku tidak akan memberikan benda ini pada kalian... sampai... sampai aku bisa... mendapatkan formulir beasiswa itu untuk Sakura!!."


"( Ha? formulir beasiswa? apa maksudnya... kenapa harus Sakura? untuk apa? dan kenapa dia rela melakukan itu?.) Banyak pertanyaan yang tercipta didalam kepalaku... aku masih melihatnya yang sedang berdiri bertahan dari semua orang itu...


Kakiku terasa bergetar, tetapi aku tidak bisa bergerak...


"Uhuk!." Mulutnya mengeluarkan darah setelah terkena banyak pukulan.


"Sepertinya kau akan berakhir disini... terimalah kesialan yang sudah kau alami!."


"Sampai mati pun aku tidak akan berhenti, sampai aku bisa menemani hidupnya, dan bersama-sama kembali!."


"Bocah yang malang!!."


*Duarr!!