
"Janganlah meraja melaju tuk menyelam, teruslah bekerja agar hidupmu tak suram.... siapa yang mencantumkan kata kata seperti ini?.. "
"Aoyama.. " Touya menghampiriku yang sedang memilah jenis brosur yang akan dibagikan.
"bagaimana menurutmu dengan isi dari lembaran ini?. " Aku menyerahkan brosur dengan kata kata itu kepadanya.
Lalu dia mengambil lembaran itu dan membacanya.
"Janganlah meraja melaju tuk menyelam? teruslah bekerja agar hidupmu tak suram... siapa yang menulis ini?. "
"Itu yang ingin ku tanyakan. "
"Orang ini mungkin mempunyai dendam dengan pekerjaan.. " Dia mengembalikan lagi kepadaku.
"Tetapi jika diucapkan... terdengar bagus.. " Sambil mengulang kalimat itu..
"Kau menyukai kata kata itu??. "
"Aku tidak menganggapnya buruk.. "
"Itu terdengar tidak menyakinkan.. "
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? kelas kita masih perlu beberapa hal untuk diurus. "
"Masih kulakukan... entah mengapa yang lain terlihat kelelahan dan semangat mereka tercampur hingga aku tidak tahu apa yang mereka lakukan.. "
"Maksudnya?. "
"Apa kau tahu, ada beberapa kejadian yang bisa dibilang kecelakaan, bisa juga di bilang kelebihan... hantu hantu nya itu menjadi sangat aneh... yang harusnya berlari mengejar pengunjung, hantunya justru berguling-guling dibawah untuk mengejar mereka... orang yang berada dibawah jembatan kecil, bukannya memegang kaki pengunjung, mereka justru sesekali terinjak oleh kaki orang yang masuk karena salah sasaran.. "
"Itu terdengar seperti hantu yang mengganti idealisme mereka sendiri.. "
"Makanya justru para pengunjung memiliki hal yang menarik dan ingin kembali masuk untuk merasakannya atau melihatnya lagi... begitupun dengan yang lainnya... mereka jadi penasaran saat mendengar orang lain yang membicarakan hantunya.. "
"Yang terpenting tidak ada hal yang kacau ataupun berantakan... mungkin itu membuat mereka lebih nyaman. "
"Ya... nanti malam usaha tiga hari mereka akan terbayarkan oleh kupon makan gratis sepuasnya yang harganya tiga bulan gaji kerja sampingan ku.. "
"Itu yang membuat mereka melakukannya... " Dia menganggukkan kepalanya seakan dia juga ikut terlibat.
"Lebih baik kau juga ikut bekerja keras seperti mereka... apa aku berikan kuponku ke orang lain saja.. "
"Yaya! aku akan bergerak sekarang!!. " Seketika dia menjadi sangat cepat bergerak.
Tetapi dia kembali lagi kesini dengan berlari sambil membawa barang yang tadi ia bawa.
"Apa lagi?. "
"Kau tidak lupa dengan sore nanti bukan?. "
"Ya, aku tidak lupa."
"Jangan melewatkan kesempatan kita bertiga tampil diatas sana, aku akan menunggunya... " Lalu dia berlari lagi pergi dengan keinginan didalam kepalanya.
"Merepotkan sekali... "
Aku pun juga melanjutkan pekerjaanku mengangkut barang barang yang sudah dipakai ke tempat yang sudah disediakan... beberapa kali aku sudah mengangkat itu dari lantai dua gedung sekolah sampai luar sekolah tepatnya disamping gedung sekolah yang sudah disediakan sebuah tenda untuk menampung barang barang itu.
"Semuanya sudah selesai... rasanya nafasku akan hilang sebentar lagi... bolak balik dari sana kesini cukup melelahkan... jika tidak seramai ini aku tidak akan berusaha keras untuk ini.. " keluh ku sambil mengambil nafasku yang terengah-engah.
Saat aku membuka botol minuman, dan ingin meminumnya, aku seperti mendengar seseorang yang sedang berbicara dibalik dinding belakang sekolah.
"??."
.
.
.
"Apa maksudnya ini... Azumi. "
"Maksud semua ini? setelah janji yang sudah kuberikan... agar kamu tidak berhubungan lagi dengan orang rendahan itu!. "
"Mohon hentikan... dia hanya sebatas orang yang bekerja sama disekolah ini... "
"Hah! aku tidak peduli dengan itu... karena hal yang melanggar harus mendapatkan sanksinya... jika kamu tidak ingin hal yang tidak tidak terjadi di sekitarmu... turuti perkataanku. "
*Tiittt tiitttt
Dia langsung mematikan teleponnya tanpa memberikannya penjelasan..
Dia sudah tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan perbuatan Azumi.
"... "
"Apa yang sedang kau lakukan disini?. "
Suara yang kudengar dari balik tembok itu adalah suara Yuuki.
"Aku habis membawa barang barang kesana... lalu aku tidak sengaja melihatmu. "
"Apa kamu tahu...?. "
"Tahu? apa?. " Aku tidak tahu dengan apa yang dia katakan.
"Tidak ada... maaf. "
"Sebaliknya... kenapa kau bermesraan disini? apa tidak ada tempat yang lain?. "
"S-Siapa yang sedang bermesraan!. "
"Lalu kenapa kau menelepon seseorang di tempat seperti ini?. "
"I-Itu... aku... aku hanya menelepon papaku, dan mencari tempat yang tenang saja.. "
"... "
"Begitu... jika dugaanku sepertinya kurang tepat. "
"Salah! dugaanmu salah! bukan kurang tepat!. "
"Aku hanya mengatakannya... "
"Kalau begitu jangan memojokkanku seperti ini. " Wajahnya merah saat meladeni perkataanku.
"Baiklah baiklah... aku tidak akan mengganggumu lagi. " Lalu aku berbalik dan ingin lekas pergi dari sini.
"Tunggu!. "
Dia menghentikan langkahku saat tangannya menarik lengan seragamku..
"A-Apa... kamu sudah... membukanya?. " Dia tidak berani menatap mataku karena tidak sanggup.
"Belum... kau sendiri yang mengatakan jangan dibuka sampai malam ini bukan?. "
"Begitu ya... baiklah... " Lalu dia melepaskan pegangannya.
"Apa ada yang sedang kau pikirkan?. " Tanyaku langsung saat wajahnya terlihat murung.
"Eh... tidak, tidak ada yang terjadi.. "
"Baiklah... terserah denganmu, aku tidak akan bertanya tentang itu lagi. " Lalu aku kembali berbalik kearahnya dan itu membuatnya sedikit terkejut dan mundur kebelakang karena sadar akan jarak kita yang terlalu dekat.
"A-Ada apa?."
"Aku hanya ingin bertanya denganmu. " Aku dengan datar menatapnya dan tidak tahu jika lawan tatapanku ini sangat gugup dengan situasi seperti ini.
"Bertanya... tentang apa?. "
Bukannya aku langsung mengatakannya, aku justru memberikan jeda waktu beberapa detik untuk bertanya kepadanya hingga dia menunggu dengan sangat canggung.
"... "
"Apa kau... melihat Sakura? aku tidak melihatnya dari tadi."
Pertanyaan yang aku lontarkan membuat harapannya menjadi hilang dan dia mencoba untuk menjawab dengan normal.
"Sepertinya tadi aku melihatnya sedang berada diruang ganti... mungkin saja dia sudah kembali ke kelasmu.. " Wajahnya menyembunyikan kesedihannya itu.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih... "
"Um, tidak masalah. " Senyuman yang palsu berada diwajahnya.
"... "
"Kau benar benar tidak ada masalah?. " Aku bertanya kepadanya sekali lagi untuk memastikan.
"Aku sudah bilang tidak ada ya tidak ada... kenapa kamu tetap bersikeras memaksaku untuk menjawab... lebih baik kamu pergi saja cepat cari Sakura... kamu bilang sedang mencarinya kan!. " Dia mendorong punggungku untuk berjalan pergi dari sini.
"Baiklah baiklah, santai sedikit.. "
Lalu dengan terpaksa aku pergi kembali ke kelasku untuk menemui Sakura karena ingin memberikan hal yang berhubungan dengan pentas seni kelas nanti sore.
"... "
"Aku bodoh sekali mengharapkannya... aku hanya bisa melukainya jika aku terus dekat dengannya.." Dengan ratapannya yang sedang memikirkan perkataan Azumi yang akan memberikan hukuman kepadanya karena melanggar janji yang dia buat...
Meskipun dia berharap untuk bisa lebih lama lagi bersama dengan Aoyama... bahkan merasa iri dengan sahabat masa kecilnya itu tidak pantas untuk nya...
Dia memilih untuk membungkus rasa sakitnya itu untuk dirinya sendiri... agar dia tidak berpikir untuk mencari siapa yang menjadi kesalahan semua ini...
Rasa keinginan yang sudah berevolusi menjadi sebuah rasa yang baru ini...
Tidak akan bisa bertahan lama...