My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 128



"Bagaimana bisa kau bisa telat disaat-saat seperti ini!!..."


"Aku pun tidak sadar jika sudah kesiangan, aku akan ketempat berkumpul lima menit lagi."


"Lima menit?? bis berangkat setengah jam lagi tahu!.."


"Masih setengah jam, lagipula sedikit lagi aku sampai."


"Sakura juga bersamamu kan? jangan sampai dia juga telat..."


"Tenang saja, dia disini.."


"Kalau begitu cepat kesini..."


Touya yang begitu marah padaku karena diriku yang kesiangan saat dimana kita semua akan berangkat pergi wisata sekolah.


Aku dan Sakura yang sudah turun dari stasiun kereta kini hanya tinggal berjalan menuju ke sekolah.


"Kita jadi telat seperti ini..." Ucap Sakura sambil tertawa kecil.


"Siapa suruh kamu tidak membangunkanku..."


"Aku terbawa suasana hingga menatap wajahmu saat tidur terlalu lama."


"A-Alasan itu tidak masuk akal."


"Hha."


Hingga pagi itu, meskipun ada sedikit kendala, akhirnya kita semua berhasil berangkat tanpa satupun yang tertinggal.


Dari semua murid yang ikut, karena terlalu banyak, hingga memakai 8 bis pariwisata yang sudah dipesan oleh para pengurus dari jauh-jauh hari.


"( Uhh... aku lupa membawa earphone karena terburu-buru... parah sekali... aku tidak bisa istirahat dengan tenang jika berisik seperti ini..)"


Didalam bis yang aku tumpangi, dipenuhi oleh teman-teman sekelas yang begitu ramai dengan banyak hal yang mereka lakukan, seperti menyanyi, bercanda, hingga saling mengobrol...


Aku merasa begitu tidak nyaman akan keramaian seperti ini, rasanya aku ingin menutup telingaku agar tidak ada suara kegaduhan.


"..."


Disaat aku yang sedang bertahan dalam situasi ini, tiba tiba kedua telingaku ditutupi oleh sesuatu yang mengeluarkan sebuah lagu... lagu yang sudah begitu lama aku menyukainya.


Aku membuka mataku dan melihat seseorang disebelah tempat dudukku yang memakaikan earphone tersebut kepadaku.


"Sakura..."


"Lain kali jangan sampai lupa." Sambil tersenyum manis dia mengingatkan diriku dengan lembut.


Aku hanya mengangguk dan merasa begitu lega saat akhirnya aku tidak lagi mendengar suara-suara yang sangat menggangguku.


Disaat aku yang sedang memejamkan mataku dan ingin tidur, Sakura menggenggam tanganku dan kepalanya bersandar disampingku.


"Apa kamu tidak takut ketahuan?."


"Tidak ada yang tahu kok, lagipula aku sedikit kelelahan maka dari itu aku meminjam bahu milikmu untukku.."


"Baiklah.."


Aku pun kembali memasang salah satu earphone yang aku lepas saat berbicara padanya.


Perjalanan yang memakan waktu beberapa jam ini akhirnya berakhir dan seluruh murid langsung disuguhkan dengan pemandangan sebuah pantai yang begitu indah...


"Woaaahhh!! pantai!!."


Touya yang begitu bersemangat akhirnya melepaskan seluruh tenaganya untuk bersenang-senang... tetapi sebelum itu, ketua OSIS yang memimpin semua kelompok kelas memberikan sedikit pidato dan informasi tentang apa yang akan kita lakukan disini..


Dan kami pun diberikan sebuah tempat penginapan untuk kita bermalam hingga dua sampai tiga hari disini...


Penginapan yang sangat besar berada dipinggiran pantai membuat kita semua semakin bersemangat...


Lalu kami yang laki-laki berpisah dengan para perempuan karena keduanya terbagi dengan dua penginapan besar, jadi tidak ada yang bisa masuk kedalam salah satu dari penginapan mereka sembarangan.


"Tidak aku duga, kita semua bisa satu kamar bersama.." Ucap Touya yang tidak menyangka akan kebetulan ini.


"Lebih nyaman memang jika bersama dengan seseorang yang dikenal..."


"..."


Kami bertiga, Touya, Kuchima, dan aku yang mendapatkan satu kamar bersama dengan sebuah kebetulan yang nyata... tetapi aku juga berpikir lebih baik seperti ini daripada mendapatkan teman sekamar yang sama sekali tidak aku kenal.


Kami oun membereskan barang-barang yang kami bawa agar lebih mudah jika sedang membutuhkan sesuatu dan hanya tinggal mengambilnya.


"Hari ini kita diberikan waktu bebas bukan?? bagaimana kalau kita bermain di pantai??."


"Pembukaannya langsung menuju kesana ya? aku tidak keberatan." Balas Kuchima.


"Aoyama, kau mau ikut?."


"Cuacanya cukup panas... aku nanti saja."


"Hei ayolah, kapan lagi kita bisa bermain sebebas ini, apalagi kau tahu? disana kita bisa melihat pemandangan yang lain selain luasnya laut?."


"Apa maksudmu?."


"Huh, kau ini... yang seperti itu saja tidak mengerti, inilah mengapa sesama laki-laki perjaka sulit untuk diajak berkompromi."


"Y-Ya... terserahmu saja."


"Kalau kau tidak ingin ikut, maka aku dan Kuchima saja yang pergi."


"Kamu benar-benar tidak ingin ikut?." Kuchima kembali memastikan diriku untuk ikut atau tidaknya.


"Aku akan menyusul nanti, tenang saja."


"Baiklah."


Lalu mereka berdua langsung keluar dan pergi bermain dipinggir pantai.


Aku yang sendirian disini pun berpikir untuk keluar dan sedikit berkeliling di daerah sekitar sini, sekalian untuk meringankan pikiranku yang akhir-akhir ini selalu kelelahan.


Begitu aku keluar dari penginapan, suasananya yang sangat ramai itu langsung membuatku begitu merinding hingga ingin kembali kedalam kamar, tetapi percuma saja kalau begitu, hingga akhirnya aku mencari-cari tempat yang sepi dan nyaman.


Aku berjalan cukup jauh menjauhi pantai dan penginapan, dan saat aku berjalan... aku melihat sebuah tangga yang terbuat dari batu dan menuju keatas seperti sebuah bukit..


Karena penasaran aku pun mencoba menaiki tangga tersebut satu demi satu, dan sedikit menguras tenaga juga...


Begitu aku sampai diatas bukit, mataku langsung dimanjakan oleh pemandangan pantai yang sangat indah dan cantik...


Aku menikmati tempat yang cukup sepi itu dengan hembusan angin dari laut membelai tubuhku dengan lembut.


"Tempat yang bagus... udara disini sangat sejuk hingga sepertinya aku tidak ingin berada disini terlalu cepat..."


"Kamu menemukan tempat yang tepat.."


Suara yang berada sedikit jauh disampingku, seorang remaja yang tidak aku kenal, bahkan sepertinya dia bukanlah seorang murid dari sekolah Asterisk.


"Maksudmu untuk menikmati pemandangannya?."


"Begitu..."


Dia berbicara begitu santai tanpa melihat wajahku... ekspresinya terlalu biasa hingga mungkin ada yang terjadi padanya.


"Sedang liburan?."


"Tepatnya wisata sekolah."


"Ahaha, kalian memang sangat pintar mencari tempat... dibawah sana selain pantai juga terdapat sebuah kuil kuno yang sangat terkenal di daerah ini."


"Terdengar menarik.."


"Yah... pada akhirnya sebuah tempat hanya untuk menuangkan perasaan kita... apapun rasanya, tempat itu akan menikmatinya sendiri."


"..."


Ucapannya yang begitu berbeda dalam mendeskripsikan sebuah tempat, mungkin orang lain akan menganggapnya seseorang yang aneh..


"Maaf saja jika aku mempertanyakan hal aneh, tetapi... apa kamu pernah tertolak oleh orang yang kamu utarakan perasaannya?."


Tanpa basa-basi dia langsung menanyakan sesuatu yang seharusnya orang orang tidak membicarakan hal itu diawal pertemuan.


"Aku... yah... sebagian orang pernah merasakannya, termasuk diriku."


"Benar juga..."


"Kenapa kamu mempertanyakan hal itu?."


"Aku hanya ingin tahu... bagaimana perasaan cinta yang sebenarnya.."


"Mungkin banyaknya pengalaman bisa membuatmu menemukan jawabannya."


"Huh... semua pengalaman yang aku alami hampir keseluruhannya hanya rasa pahit."


"Tidak ada yang seluruhnya manis didalam kehidupan."


"Apa kamu punya seorang pacar??."


"Baru akhir-akhir ini..."


"L-Lalu... bagaimana caranya kamu bisa mencintainya?."


"Kenapa kamu terus mempertanyakan soal diriku?."


"Aku sedang membutuhkan sebuah jawaban, maka dari itu aku menginginkan sebuah petunjuk terlebih dahulu.."


"Apa kisah cintamu serumit itu?."


"Itu benar! apa kamu bisa membayangkan, bagaimana rasanya memiliki empat gadis yang terus menerus membuatku ingin merasakan sejatinya jatuh cinta?."


"E-Empat??."


Dia mengangguk dengan begitu percaya diri.


"Sepertinya, masalahmu sangat berbeda dengan orang-orang normal."


"Tetapi ini seperti sebuah pilihan takdir yang harus aku jalani... rasanya begitu bimbang.."


"Asalkan kamu mengikuti hatimu... maka petunjuk akan memandu dirimu sendiri."


"..."


"Perasaan yang sejati hanyalah perasaan yang tidak bisa kamu rasakan dengan yang lainnya lagi... itulah satu-satunya perasaan sejati."


"W-Woaah... terima kasih! kamu sangat membantuku."


"Eh? padahal aku tidak membantumu apapun."


"Jangan omong kosong, kamu sudah memberikanku sebuah petunjuk kecil... maka dari itu aku berterimakasih."


"Yah... terserah padamu ingin menganggapnya apa."


"Asahi!!."


Seorang temannya datang memanggilnya dari kejauhan.


"Kalau begitu aku pergi, kamu orang yang cukup menarik... aku harap kita bisa bertemu kembali.."


"Siapa yang tahu."


"Oh benar juga! siapa namamu?."


"Aoyama... Kizuku Aoyama."


"Fumihito Asahi, itu namaku."


"Mungkin ini menjadi perkenalan yang singkat."


"Hhe, dah! terimakasih atas bantuannya!."


Dia berlari kearah temannya yang menunggunya disana.


Aku baru saja bertemu dengan seseorang yang begitu berbeda... rasanya dia memiliki sebuah cerita cinta miliknya sendiri..


"Aoyamaa!."


"Touya... apa yang sedang kamu lakukan disini?."


"Justru aku yang bertanya... tadi, kau sedang berbicara dengan siapa?."


"Entahlah... mungkin penduduk daerah ini."


"Oh... eh, bukan soal itu! ikutlah! kita semua sudah mencarimu sedari tadi!."


"Sudah aku bilang, aku tidak ingin ikut!."


"Sudahlah, jangan membuatku kerepotan lagi."


.


.


.


"Tadi.. siapa orang yang bersamamu tadi?."


"Entahlah... aku hanya bisa menyebutnya seseorang yang membantu hidupku."


"Apa itu? aneh sekali.."


"Lebih aneh itu kau! dasar otaku!."


"Sudah aku katakan jangan menghina seorang otaku!!."


Sebuah pertemuan yang menjadi sebuah ikatan yang tidak akan pernah muncul didepan layar...