My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 182



Setelah semua yang sudah kita waspadai, akhirnya kita memutuskan untuk datang bertiga ke tempat busana miliknya pagi hari ini...


Perjalanan yang cukup panjang untuk bisa memikirkan hal yang bisa saja terjadi, namun kita berharap besar untuk keselamatannya.


Karena kita menggunakan mobil yang dikendarai oleh Erlic, maka waktu yang dihabiskan tidak terlalu banyak dari menggunakan kereta untuk pergi kesana.


.


.


"Kita sudah sampai."


"Aku akan menunggu disini, kalian berdua yang mengeceknya." Ucap Erlic yang masih duduk di kursinya.


Aku pun mengangguk setuju dan pergi bersama Kuchima untuk mendatanginya.


Tidak ada sesuatu yang aneh jika dilihat dari depan, dan karena itu aku memencet tombol bel tokonya.


"..."


Sudah beberapa kali aku memencet bel tokonya, namun tidak ada jawaban atau respon sama sekali dari dalam.


Bahkan aku bisa mendengar keheningan dari dalam, sama sekali seperti tidak ada orang.


*Klek!


*Clingcling!


kita berdua langsung terdiam sesaat ketika Kuchima berhasil membuka pintunya tanpa kunci apapun... pintunya sama sekali tidak dikunci.


"Aoyama..." Kuchima yang sudah merasa panik dan berkeringat, hanya bisa melihatku dengan tatapan tidak percaya akan hal ini.


Aku mencoba menenangkan dirinya dengan beberapa alasan yang mungkin saja masih ada kesempatan untuk berpikir positif, "Sebaiknya kita cek langsung kedalam."


Lalu kita berdua langsung masuk bergegas untuk mengecek satu persatu ruangan yang ada didalam tokonya..


Namun tidak ada tanda-tanda dari keberadaan Celestia sama sekali, hingga kita berdua keluar dengan perasaan gundah hingga resah.


Dan saat aku melangkah diluar, aku menginjak sesuatu seperti sebuah sapu tangan bercorak.


Aku memungutnya dan mengamati sapu tangan itu... hingga aku mencoba mencium aromanya, dan seketika kepalaku pusing hingga aku kehilangan keseimbangan.


Kuchima yang melihatku ingin jatuh langsung menangkap tubuhku dan menahannya, "Aoyama ada apa?!."


"Benar... kita sudah terlambat."


"Apa... maksudmu?."


"Sapu tangan ini.. diberikan obat tidur, itulah mengapa aku merasa pusing ketika menciumnya."


"Tidak mungkin."


"Sebaiknya kita memberitahukan hal ini pada Erlic terlebih dahulu... aku yang sudah bisa menyeimbangkan jalanku langsung berjalan kembali ke mobil, namun begitu aku melihat kebelakang...


"Kuchima..."


Aku melihat dirinya yang berdiri membeku tak percaya atas kenyataan ini, karena bagaimanapun juga... dia sudah memastikan kalau Celestia baik baik saja, namun begitu sekarang kita mendatangi tokonya... dirinya sudah menghilang.


"..."


"Kuchima."


Begitu aku memanggilnya kesekian kalinya, dia langsung tersadar dari lamunannya dengan nafas berat dan berkeringat... matanya yang berputar tidak bisa memfokuskan pikirannya.


Aku dengan perlahan memberitahukannya untuk kembali ke mobil terlebih dahulu, "Kita kembali dulu, dan membicarakan ini perlahan oke?."


Dia mengangguk kecil sambil berjalan begitu lambat karena dirinya sudah tidak bisa bersikap seperti biasa lagi setelah kejadian ini terjadi.


.


.


.


"Dari aromanya... kejadian itu berlangsung sudah lama... mungkin tadi malam." Ucap Erlic yang mencoba menganalisis sapu tangan tersebut.


"Maaf... aku benar-benar minta maaf... aku tidak tahu jika dia mempunyai masalah hubungan dengan Perusahaan Adam." Suaranya yang terengah-engah mencoba berbicara yang sebenarnya kepada kami.


"Tenanglah, ini bukan kesalahan darimu, karena kamu tidak tahu apa apa tentang hubungan masalah terdahulu dari keluarganya... jadi ini bukan salahmu."


"Aku keliru, aku tidak menyangka bahwa hal ini bisa terjadi... aku juga minta maaf." Erlic pun ikut merasa bersalah atas kejadian ini.


"Aku pun juga salah karena tidak memastikan sebelumnya, karena aku yang mengetahui masalah keluarganya, namun tidak ada gunanya jika kita saling menyalahkan diri kita masing-masing... kita harus memikirkan masalah ini dengan baik-baik agar tidak ada kesalahan lagi yang terjadi, benar begitu?."


Ucapan yang aku lontarkan membuat mereka setuju karena hanya hal ini yang bisa kita lakukan.


"Dengan begitu, kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini dan melaporkan kejahatan mereka ke pihak berwajib begitu saja, karena mereka memiliki tawanan." Jelas Erlic memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya.


"Benar, kita tidak bisa melakukan apa apa... kecuali menghubungi langsung mereka."


"..."


"Namun, sepertinya kita harus memberitahukan hal ini pada ibunya, pemilik busana ini." Ucapku dengan penuh yakin jika hal ini akan menjadi jalan yang baik.


"Kenapa? jika kita memberitahukan kepadanya tentang ini, maka pastinya dia akan memberhentikan pekerjaan busana pernikahan milik kedua pengantin."


"Tidak, cepat atau lambat ibunya akan tahu akan hal ini, karena Celestia akan menjadi manfaat bagi mereka untuk menghancurkan lagi perusahaan busana miliknya."


"Dengan ancaman?."


"Ya... maka dari itu, ia pasti tidak akan berhenti jika putrinya menjadi ancaman."


"Kalau begitu aku yang akan pergi untuk memberitahukan hal ini kepadanya." Kuchima yang sudah kembali pulih langsung menyerah dirinya untuk melakukan hal ini.


"Aku tahu kamu merasa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi padanya, tapi kita harus bersama-sama kesana." Balas Erlic dengan rencananya kembali.


"Aku bertanggung jawab karena ini adalah kesalahan dariku, maka dari itu biar aku saja-."


"Kau ingin mengacaukan rencana ini?"


"Apa yang kau katakan?."


"Setelah hal ini selesai dengan kesalahan, apa kau ingin membuat kesalahan kembali?."


Tiba tiba Kuchima langsung mendorong Erlic hingga menghantam pintu mobil, dan dia menarik kerah kemejanya.


"Aku... dan dia sudah membawakan sesuatu yang bagus untukmu, dan itu balasan darimu atas apa yang telah kamu lakukan?."


"Kuchima tenanglah, Erlic... jangan memancingnya lagi."


"Aku tidak memancingnya, hanya saja... dirinya merasa sudah melakukan hal yang benar sejak tadi."


"Memangnya disini hanya dirimu yang paling benar?!."


Kuchima menarik tangannya yang sudah mengepal dan ingin memukul wajah Erlic.


Namun aku sempat berhasil menahan tangannya dari belakang.


"Sudah aku bilang tenang!."


Aku menarik tubuh Kuchima dari tangannya dan membuatnya mundur beberapa langkah menjauh dari Erlic, hingga aku berdiri diantara mereka.


"Kenapa kalian menjadi tidak bisa berpikir dengan tenang? semua ini adalah kesalahan kita, karena semuanya telah direncakan bersama-sama... dan tidak ada yang merasa bahwa dirinya merencanakan segala sesuatu lebih baik dari yang lainnya, benar begitu?." Aku mengatakan hal ini dengan tujuan ke Erlic, dan dia hanya bisa memalingkan wajahnya karena menyadari kesalahannya.


"Dan juga kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama... karena kita semua bertanggung jawab atas kejadian ini, kita harus berpikir dingin seperti biasa yang telah kita lakukan, Kuchima."


"..."


"Untuk saat ini kita kembali ke rumahku, dan memikirkan hal ini dengan baik-baik, tanpa ada kekerasan, maupun perpecahan."


"..."


Mereka berdua yang masih tidak ingin bicara, namun pada akhirnya mereka mendengarkan perkataanku dan kembali tenang.


Dan dengan begitu kita kembali ke rumahku untuk membicarakan masalah ini dengan benar, dan secara perlahan-lahan.


Aku bisa mengerti dengan perasaan Kuchima yang merasa bersalah atas apa yang tidak ia ketahui, namun dia salah karena ingin mempertanggung jawabkan hal ini sendirian... karena didalam pikirannya sudah penuh dengan keresahan.


Maka dari itu hal yang paling penting adalah menenangkan suasana ini agar bisa berpikir lebih baik lagi.