My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 192



"Apa kita sebaiknya duduk dan minum teh terlebih dahulu?"


Dia menyambut diriku dengan membawa sebuah teko dan meletakkannya diatas meja kecil yang mempunyai dua tempat duduk.


Lalu dia mempersilakan diriku untuk duduk dengan gaya sopan seperti melayani tamu penting.


Aku pun dengan diam mengikuti kemauannya dengan duduk di hadapannya, hingga dia menuangkan teh itu kedalam cangkir gelas yang berada di depanku.


Dia menyuruhku untuk minum, namun aku tetap diam karena andai saja dia memasukkan sesuatu kedalam tehnya, maka rencana ini akan berantakan ataupun gagal.


Tahu dengan kecurigaan diriku dengan tehnya, dia pun juga menuangkan teh yang sama di dalam gelasnya lalu dia meminumnya dengan nikmat.


Setelah itu dia mempersilahkan kembali dengan mengangkat sedikit cangkirnya.


Aku pun mencoba teh yang ia suguhkan, dan rasanya tidak bisa dibohongi, karena benar benar enak...


Melihat ekspresi yang aku berikan setelah meminum itu membuatnya sedikit percaya diri.


"Itu adalah sari daun teh langka, kau cukup beruntung bisa merasakannya."


"..."


Aku masih diam tak ingin membuka mulutku untuk berbicara, sampai dia tetap berusaha mencari bahan obrolan agar bisa membuat suasana terkendali atas kehendaknya.


"Seperti yang aku tahu, kau berasal dari keluarga Kizuku, benar begitu?"


"..."


"Rasanya memang sangat sulit dipercayai, karena aku penasaran dan mengira-ngira... apa yang ingin seorang anggota keluarga Kizuku inginkan untuk mengganggu sebuah jalinan bisnis yang saat ini sedang aku jalankan?"


"..."


"Tapi aku tahu, kemana arah yang sedang kau tuju saat ini, namun jangan lupa kalau kita sama sama sedang berada di ujung tali."


"Dimana dia...?"


"Jangan terburu-buru seperti itu, bagaimana kalau kita nikmati dulu tehnya dan melihat acar pernikahan yang sebentar lagi akan mulai."


"Jangan bercanda... aku tidak ingin membuang-buang waktu la-"


Dia menghentikan omonganku dengan memberikan tanda jari telunjuk dan digoyangkan ke kanan dan kiri.


"Aku lupa memberitahukan satu hal padamu."


"..."


"Yang saat ini berada diujung tali, hanyalah dirimu."


"!!"


Tiba tiba sebuah televisi besar dibelakangnya menyala, dan disana sudah menampilkan sebuah ruangan berisi banyak orang yang sedang dikepung oleh puluhan penjaga.


Orang itu adalah Touya, Kuchima, dan beberapa saudara jauh dari Yuuki.


Aku langsung berdiri karena terkejut, dan pada akhirnya dia sudah mengetahui segala rencananya.


.


.


"Kita sudah ketahuan??"


"Sepertinya."


"Mungkin mereka sudah mengetahui semua yang kalian rencanakan, jika seperti ini, kita tidak bisa keluar kan?" Dengan tenang Tsukasa mengamati sekitar dan hanya ada puluhan penjaga yang saat ini ingin menangkap mereka semua.


"Tidak ada cara lain selain menerobos keluar." usul Touya.


"Kita memiliki dua perempuan disini, maka akan sulit untuk lolos dengan membantu seseorang dari kerumunan pria besar."


"Sebenarnya kita bisa saja, namun itu adalah pilihan kalian."


"Aku masih belum mendapatkan pesan dari Aoyama, atau jangan jangan dia juga sudah..."


"Sial! apa rencananya akan gagal?"


"..."


.


.


.


"Aku sudah bilang untuk datang kesini sendirian bukan?"


"..."


"Jika kau ingin bermain-main dengan orang dewasa, sebaiknya kau harus belajar terlebih dahulu, setidaknya lulus dari sekolahmu itu... karena dunia orang dewasa penuh dengan kegelapan yang menyeramkan."


"..."


Aku melihat layar yang disana mereka sudah hampir ingin dikepung dan ditangkap, sedangkan aku belum menjalankan tugasku seperti yang dikatakan Erlic.


"Lepaskan mereka dan juga orang yang kau tawan, maka aku tidak akan melaporkan surat perjanjian itu."


"Benarkah? sungguh sebuah tawaran yang menggiurkan, tapi aku tidak akan menuruti perkataan anak kecil sepertimu."


"Duduk!"


"..."


"Aku ingin kau duduk... jika kau tidak ingin menuruti omonganku, maka aku tidak akan segan segan untuk melakukan sesuatu yang berbahaya kepada mereka semua."


"..."


Dengan terpaksa aku pun menuruti omongannya dan duduk kembali.


Melihat hal itu dia tersenyum seakan semuanya telah dikendalikan oleh dirinya.


"Apa kau tahu? jika kau adalah anak dari keluarga Kizuku, seharusnya kau tahu... bagaimana kisah masa lalu seorang pengusaha terkenal dari keluarga... Nijiro."


"!!"


"Kenapa kau memasang wajah seperti ada dendam terdalam dan tersembunyi kepadaku? apa kau mempunyai sebuah hubungan dengan keluarga itu? apa yang membuatmu marah?"


"..."


Aku terus bertahan agar tidak terpancing emosi olehnya, namun dia terus menerus berbicaralah dengan santai sambil berjalan jalan di dalam ruangan ini.


"Namun meskipun aku sudah menghancurkan semua yang bisa mengancam bahaya untuk diriku, sampai mati pun dia masih bisa mempermainkan diriku! dia sudah lebih dulu memberikan hartanya kepada mereka! dan semua usahaku berlaku sia sia!"


"..."


"Semua itu... menjadi sebuah kerugian bagi diriku semala beberapa tahun, dan hingga akhirnya... ada suatu cara untukku bisa menyerang salah satu dari pemegang warisan tersebut, dengan cara memanfaatkan alatku dan menyatukannya dengan mereka... seperti menikahkan putra dan putri mereka!"


"..."


"Sakamura yang bodoh itu terus bergerak untuk diriku, dan pada akhirnya aku bisa mendapatkan dua keuntungan dalam satu arahan kepada orang bodoh!."


"Sudah kuduga, kau juga akan menghancurkan keluarga Sakamura."


"Memangnya kenapa? orang bodoh akan selalu jatuh, sampai dia tidak bisa melakukan apa apa, dan mati seperti anjing kelaparan!"


"..."


"Namun saat ini masih ada saja orang yang mengusikku, bahkan seseorang yang sudah pernah aku hancurkan! dia kembali dan mencoba untuk membalaskan dendam ayahnya... sungguh menyedihkan."


"Khk!"


"Tidak aku sangka... dengan sendirinya salah satu harta keluarganya, datang sendiri ke depanku saat ini, dan dengan bodohnya membuat dirinya menjadi umpan, agar aku bisa mendapatkan keduanya."


"..."


"Kizuku Aoyama... dirimu saat ini telah menjadi sebuah kesalahan dan kehancuran untuk keluargamu, apa ini yang kau inginkan?"


"Jangan bercanda."


"Hahaha! aku tahu! aku tahu! karena ini bukanlah suatu hal yang bisa dijadikan candaan, melainkan hanya sebuah kebodohan yang pantas ditertawakan!"


Dia terus menertawakan diriku penuh dengan kepuasan.


"Ayahmu... mungkin saja saat ini dia sedang bersantai sambil menjaga harta itu baik baik, sedangkan dia tidak tahu kalau anaknya berada disini, aku sangat ingin tahu, bagaimana reaksi yang kau berikan... jika hidupmu bernasib sama seperti gadis yang sedang aku kurung."


"Bagaimana kau bisa melakukan hal itu?"


"..."


"Kau hanya sedang ketakutan dan tidak ingin semua yang kau miliki hilang begitu saja bukan?"


"..."


"Jika kau melakukan sesuatu kepada kita, maka kau tetap akan hancur... apapun pilihanmu."


"..."


"Karena semua surat surat perjanjian itu sudah aku amankan dan hanya tinggal melapo-"


Tiba tiba dia berjalan dengan cepat kearahku dan meninju wajahku dengan keras.


*Buk!!


"Ingat tentang omongan yang sudah kau keluarkan! aku tidak akan segan membunuh semua orang yang kau kenal semua disini."


"..."


"Karena mau bagaimanapun juga, kau tidak akan berani melakukan hal seperti itu, sama denganku."


"Aku tidak pernah perduli dengan itu."


"Benarkah? aku merasa tersanjung."


*Ding!! Ding!! Ding!!


Tiba tiba terdengar suara bel yang berbunyi hingga mengisi ke seluruh penjuru ruangan.


"Sepertinya mereka yang disana juga akan segera dimulai, sudah saatnya untuk membuatmu melihat apa yang telah kau rencanakan hancur begitu saja."


Dia menyalakan satu lagi layar yang menunjukkan tempat aula dimana pernikahan tersebut dilakukan, tepatnya berada di tengah aula kapal.


"Mari kita lihat ini bersama-sama."