My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 141



"Bagaimana? materi kemarin yang aku berikan? apa kurang jelas?."


"Ah, tidak kok... semuanya lengkap, terima kasih... selama kemarin aku tidak masuk, kamu mencatat semua materinya."


"Itu bukanlah hal yang sulit! dan juga memang aku ingin mencatatnya, karena aku ingin mempelajarinya lebih dalam.


"Karena setelah ini kita sudah menjadi anak kelas tiga... dan seterusnya akan menjadi lebih sibuk."


"Tetapi Kuchima enak sekali! dia bisa mendapatkan beasiswa langsung... aku ingin sepertinya nanti."


"Kalau seperti itu, kamu harus masuk kedalam anggota OSIS."


"Tidak tidak... aku sudah cukup untuk menjadi ketua kelas dua periode."


"Kalau begitu, berusahalah dengan nilai hanyalah satu-satunya jalan... tetapi bukannya kamu mempunyai banyak bakat?."


"Aku hanya mahir saja... tidak profesional sama sekali."


"Biasanya kamu lebih ingin memuji dirimu sendiri."


"Rasanya bosan... lagipula aku pun juga fokus untuk melanjutkan kuliah dan menjalankan bisnis ayahku."


"Jadi, kamu ingin melanjutkan bisnis orang tuamu?."


"Ya, seperti itulah... rasanya ingin bebas memilih tujuan, namun tidak ada yang terbuka selain itu... jadi aku hanya berharap agar Rina bisa memilih tujuannya dengan bebas."


"..."


Kita berdua mengobrol santai di atap sekolah, sambil beristirahat...


Rasanya begitu tenang dan damai...


Dan aku pun menikmati waktu yang seperti ini... setelah memikirkan banyak hal.


"Aoyama... aku ingin memastikan sesuatu padamu... sebelumnya maaf jika aku kembali memperbincangkan hal ini."


"..."


Wajahnya yang tampak serius namun terlihat sangat penasaran, dia langsung mempertanyakannya kepadaku.


"Kenapa kau lebih memilih Sakura, daripada Yuuki?."


"..."


Aku terkejut dalam diam, saat dia langsung bertanya kepadaku ke intinya.


"Seperti yang kamu pikirkan... mungkin karena aku lebih lama mengenal Sakura dari kecil.."


"Perasaan cinta tidak dilihat dari seberapa lama kau mengenalnya bukan?."


"Kamu benar-benar ingin mengorek informasi dariku dalam-dalam ya..."


"Hehe."


"Huh... sebenarnya aku memang memiliki perasaan pada Sakura... sejak dulu."


"..."


"Dan juga dulu pun aku pernah mengungkapkan perasaanku padanya, namun dia pergi menghilang entah kemana, lalu kembali ke sekolah ini sebagai asisten pribadi Yuuki."


"Terdengar tidak terduga..."


"Jujur saja... aku tidak bisa melupakannya disaat dia meninggalkanku, dan kehadirannya kembali... memang sungguh mengejutkanku."


"Padahal kalian tidak terlihat seperti orang yang sudah saling mengenal sejak kecil."


"Karena itu kami berdua yang menyembunyikannya... aku pun tidak berbeda menanggapi orang lain, semuanya sama."


"Begitu ya.."


"Maka dari itu... pada akhirnya mimpi yang ingin aku lupakan... ternyata tercapai juga, meskipun hanya sebentar, aku tetap akan terus mengingatnya."


"Tenang saja, aku sebagai sahabatmu, tidak akan meninggalkanmu!."


"Memangnya siapa yang menginginkannya?."


"E-Eh?."


"Aku bercanda."


"Jangan membuatku merasa seperti menghargai persahabatan kita sendirian saja!."


"Terserahmu saja.."


"..."


"Ternyata, orang sepertimu memiliki kisah cinta yang rumit ya."


"Aku pun tidak mengatur kisah cintaku sesulit itu, namun takdir bisa berubah kapan saja."


"Kau benar... dan juga mengobrol seperti ini, lama lama membuatku mengantuk." Ucapnya sambil merenggangkan badannya.


"Lalu... bagaimana urusanmu dengan Nami?."


"K-Kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu?."


Dia langsung bergidik dan terlihat sedikit panik.


"Kau menyukainya bukan?."


"S-Siapa juga yang menyukai gadis sepertinya?? a-aku tidak kok!."


Dari ekspresinya saja tidak bisa membohongi perkataannya sendiri.


"Baiklah... aku tidak memancing lagi."


Ditengah perbincangan kita, tiba-tiba Kuchima dan Nami datang dari pintu tangga, yang membuat Touya sedikit terkejut karena baru saja kita membicarakannya.


"Kebetulan sekali kalian ingin berkumpul disini? biasanya taman belakang sekolah." Ucap Kuchima yang datang dan langsung duduk.


Nami yang juga mendekatiku kamu sempat melihat wajah Touya yang sedikit memerah dan tidak ingin melihatnya.


"Hm? kenapa wajahmu memerah seperti itu? kamu sedang sakit?."


"S-Sakit? s-siapa juga yang sakit, aku tidak pernah sakit apapun karena aku adalah ora-."


Touya langsung terdiam setelah tangan Nami yang tiba-tiba menyentuh dahinya.


"A-Apa yang kau lakukan?!."


"Diam dulu!."


"..."


"Kamu tidak panas... aneh sekali."


Melihat tingkah mereka, membuatku sedikit heran dan mempertanyakan keheranan ini kepada kakaknya dengan berbisik.


"Kuchima... bukannya adikmu itu orang yang sangat paham tentang hal seperti itu? kenapa dia tidak sadar dengan Touya?."


"Sebenarnya, meskipun dia bisa mengetahui masalah cinta orang lain... dia tidak bisa menyadari masalah cinta pada dirinya sendiri."


"Tidak peka terhadap diri sendiri?."


"Seperti itu."


"K-Kenapa kau ingin menyentuhku terus?!."


"Lagian tingkah kamu sangat aneh! mungkin saja kamu mengidap penyakit berbahaya!."


"Sudah aku katakan aku baik-baik saja! Aoyama tolong aku!."


"Aku tidak ingin ikut campur, maaf."


"T-Tidak mungkin..."


"Sudahlah! diam dan biarkan aku memeriksanya!."


"Tidak mau!!."


......................


"Aoyama, maaf... aku ada urusan dengan klub basket.."


"Ya, kalau begitu aku pulang duluan."


"Baiklah!."


Aku berjalan pulang dan melewati banyaknya murid sekolah yang berlarian dan berhamburan keluar dari gerbang sekolah...


Belajar, belajar, dan bermain...


Itu adalah kebiasaan dari diriku yang telah kembali...


"Kakak!."


Saat aku keluar dari gerbang sekolah, suaranya memanggilku dari belakang, dan aku pun berbalik kearahnya.


"Mai, kenapa wajahmu terlihat panik seperti itu?."


"Anu... begini... apa aku boleh, meminjam rumahnya?."


"Ha?."


.


.


.


"Jadi seperti itu... karena rumah nenek sudah bukan lagi rumahmu, dan rumah besar itu kamu takut untuk mengatakannya padanya... jadi kamu meminjam rumahku untuk belajar bersama teman-temanmu?."


"Um." Dia mengangguk-angguk dengan wajah yang berharap kepada kakaknya.


"Padahal setelah ini aku juga ingin belajar..."


"A-Aku mohon... hanya kali ini saja, ya? ya? ya?."


"..."


"Kumohon..."


Dia menatapku memelas dan membuatku merasa tidak tega untuk menolaknya.


"Berapa orang?."


"Hanya tiga orang saja."


"Apa ada laki-lakinya?."


"I-Itu... ada sih."


"Apa mereka memang temanmu?."


"Kalau mereka bukan temanku, mana mungkin aku ingin belajar bersama dengan mereka."


"Benar juga..."


"Mai, kamu sudah meminta izin?."


"Mai?."


"Arata?."


"Arata?."


"Bukan seperti itu kakak."


"Kakak?."


"Siapa kau?."


"Kau yang siapa?."


"Aku kakaknya..."


"K-Kakaknya??."


"Arata, bukannya sudah aku bilang tunggu dengan yang lainnya!."


"Tapi yang lainnya sudah keluar juga." Sambil menunjuk temannya yang lain.


"Mai, bagaimana?."


"Ah, um... sepertinya..."


Mai yang nampak kebingungan harus mengatakan apa kepada teman-temannya, namun bukan itu yang ingin aku berikan kepadanya.


"Kalian boleh belajar disana.."


"Kamu... kakaknya?." Ucap salah satu temannya.


Aku pun hanya mengangguk diam.


"..."


"Apa Kakak yakin?."


"Aku tidak bisa menolaknya..."


"Terima kasih!."


"Berarti, kita bisa belajar bersama kan?."


"Um!."


"Kalau begitu langsung saja.."


"Kalian duluan saja, aku ingin membeli makanan untuk kita nanti."


"Tidak berangkat bersama saja?."


"Kakakku tidak galak kok.."


"..."


"Baiklah."


"Kalau begitu kakak, bagaimana?."


"Bukannya mereka teman-temanmu?."


"Benar..."


Aku mengambil kunci rumahku yang berada di kantung celanaku dan memberikannya pada Mai.


"Kalau begitu kamu yang harusnya mengantar mereka, aku yang akan membeli makanan untuk kalian."


"Benarkah? tapi sendirian saja, aku merasa tidak enak."


"..."


Aku memikirkan cara dan terlintas sesuatu di pikiranku saat melihat anak laki-laki yang sebelumnya datang padanya.


"Kalau begitu, dia bisa menemaniku."


"Eh?."


"Ha? aku?."


"Um... siapa namamu tadi? Tarata?."


"Arata!."


"Ya, seperti itu."


"Arata, bagaimana?." Tanya Mai yang melihatnya.


Dia menatap wajah Mai sebentar, dan tidak tega untuk menolaknya, apalagi itu permintaan kakaknya.


"B-Baiklah, aku akan menemaninya."


"Terima kasih!."


"Y-Ya..."


"Kalau begitu kakak, kita duluan."


"Arata, sampai jumpa hehe." Ucap temannya yang lain.


Lalu mereka berdua pergi duluan ke rumahku, sedangkan aku dan laki laki ini pergi untuk membeli makanan.


"Bagaimana sekarang... Arita.."


"Arata!!."