My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 58



"Maksudku, aku hanya tidak menduganya... itu bisa terjadi."


"Sejak saat itu aku tidak melihatnya lagi... jadi saat kau pergi, dia pun juga pergi."


"Senki..."


"Tetapi ini juga salahku... jika dulu aku tidak sebodoh itu, semuanya tidak akan terjadi."


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri... soal itu aku juga bersalah karena tidak memberitahukan padanya..."


"..."


"Lalu bagaimana kemarin? bukannya dia datang kerumahmu?."


"Oh...ya... hanya berkunjung sebentar... tidak ada hal yang buruk."


"Syukurlah... tapi aku tidak ingin semua ini terus berlanjut..."


"kau bisa mengatakan kepadanya... tetapi aku tidak perlu... begini saja juga lebih baik."


"Tidak ada baiknya! dari dulu kita bertiga selalu bersama... jadi semua ini harus diselesaikan bersama."


"meskipun begitu... pandangannya terhadapku tidak pernah berubah... aku hanyalah orang yang datang datang langsung merebut apa yang ingin dia miliki... bahkan jika aku mengatakannya... aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri."


"Ao..."


"Sampai saat ini aku masih ada perasaan padamu... itu bukanlah sebuah omongan palsu... tapi aku merasa bahwa aku tidak bisa melanjutkan perasaan ini kembali..."


"...."


"Setelah aku mengetahui perasaannya... dia lebih baik dariku... dan dia lebih sanggup berusaha dan bertahan dariku... dan hal itu semakin membuatku tidak ingin mengalaminya kembali."


Pertemanan, persahabatan, pasangan cinta maupun seseorang yang disayangi...


Aku sudah tidak akan mengganggu pikiranku sendiri dengan semua hal itu...


Aku seperti sebuah parasit yang tidak tahu diri dan dimana aku berada hanya akan membuat sekitarnya merasakan sebuah keburukan.


"Tapi Ao-."


"Aku masih ada urusan... maaf, aku tidak bisa..." Aku meninggalkannya disana.


"..."


Setelah aku menceritakan semua kejadian saat dia dipindahkan ke sekolah khusus, aku merasa lega bisa mengatakannya... karena semua bebanku kini hilang seketika.


Aku sudah tidak ingin mengulanginya kembali... tidak masalah jika aku disebut seorang pengecut, penakut, dan lainnya.


Dari awal aku tidak pernah ingin menjalin ikatan pada orang lain...


*Bruk!


"M-Maaf, aku tidak senga-." Aku yang sedang melamun sambil berjalan, tidak sengaja aku menabrak seseorang... tetapi seseorang yang kutabrak adalah guru Baki dengan baju panjang, kacamata hitam, dan topinya yang seperti orang aneh.


"Guru Baki? kenapa kau berpakaian seperti itu?."


"Dik Oyama? ssttt aku sedang menjalankan pekerjaan yang cukup penting."


"Ah maaf... kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi." Aku pun pergi melewatinya, tetapi tiba tiba kerah bajuku ditarik olehnya.


"Tunggu! ada apa?!."


"Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu.."


"Bantuan?."


"Ya... ini tentang pekerjaanku sekarang."


"Ha? tidak mau! aku tidak ingin membantu pekerjaan asal asalan mu itu yang tidak jelas.."


"Tapi ini sangat penting."


"Lalu apa? apa yang penting?."


"Aku ditugaskan untuk menangkap pencuri barang berharga."


"Pencuri? dimana?."


"Sini... kamu lihat rumah besar disana itu? itu adalah tempat yang akan dimasuki oleh pencuri itu." Dia menunjukkan rumahnya.


"Besar sekali... bagaimana kau bisa menangkap pencuri itu sendirian?."


"Justru itu... aku disini dari tadi pagi dan selalu mengawasinya, tetapi tidak ada yang terjadi."


"Jadi... guru meminta bantuanku untuk menangkap pencuri itu?."


"Benar... lagipula bela dirimu itu sudah lumayan bagus."


"Bagaimana jika dia membawa senjata api?."


"..."


"..."


"Pokoknya asal bantu saja deh... nanti empat puluh persen uangnya akan kuberikan padamu... bagaimana?."


"Tapi ini bisa merenggut nyawaku sekejap... memangnya berapa uang seluruh nya yang akan diberikan jika berhasil?."


"Dua puluh juta."


"Kapan aku mulai bekerja?." Tanpa berusaha menolak lagi.


Guru Baki langsung memasang wajah suramnya.


"Giliran uang saja cepat... nanti akan kuberitahu tugasmu."


"Aku harus memanfaatkan keadaan... jadi sayang jika kutolak... baiklah, aku akan mengikutimu."


......................


Malam hari kemudian...


"Guru, sampai kapan kita menunggu?." Aku sudah berada ditempat yang disuruhnya.


"Sebentar lagi, jangan membuat suara yang berisik."


"Aku tahu... tapi, apa guru tahu jumlah pencuri itu?."


"Ia hanya sendiri... itu yang terekam di cctv."


"Sendiri? anda tidak bercanda kan?."


"Sudahlah, lebih cepat kita bisa menyelesaikannya."


"Tapi dia hanya seorang, mana mungkin dia bisa ma-."


Saat aku masih berbisik-bisik di telepon dengan guru, tiba tiba seseorang dengan jubah hitam menyelinap masuk kedalam rumah... aku yang melihatnya dari kejauhan langsung menyusul orang itu.


"Guru, dia ada disini... aku akan mengejarnya."


Aku menutup teleponnya dan menutup kepalaku dengan penutup kepala jaket hitamku.


Aku sengaja untuk menunggunya didepan, karena guru Baki sudah berada di pintu belakang rumah ini...


Saat aku bersiap untuk menangkapnya saat dia membuka pintunya... tapi tidak sesuai ekspektasiku.


Dia melompat dari jendela atas dengan mudahnya... aku pun terkejut dan langsung mengejarnya sambil menghubungi guru.


"Guru! dia lari lewat jendela atas! aku sedang mengejarnya."


"Aku akan menyusulm-."


"Guru? guru? kenapa tiba tiba terputus? tapi aku harus mengejar orang itu."


Suara guru dari telepon tiba tiba terputus dan aku berpikir jika ada orang lain yang menjaga pintu keluar, dan mungkin dia sedang berhadapan dengan guru... aku tahu seberapa hebat guru, jadi aku akan mengejar orang yang kabur melewati jendela atas tadi.


Aku berlari mengikutinya yang melewati beberapa gang gang kecil hingga memanjat tembok.


Untung saja aku masih bisa mengikutinya hingga dia berhenti didalam bengkel tua.


Aku langsung bersembunyi agar dia tidak tahu kehadiranku... tetapi sayangnya dia sudah mengetahui jika ada yang mengejarnya.


"Siapa disana? keluarlah! jangan coba coba untuk bersembunyi lagi."


'( Sudah ketahuan ya... tidak ada pilihan lain)."


Aku pun keluar dari tempat persembunyianku.


Saat dia melihat wajahku, matanya terlihat terkejut... karena dia memakai masker dan penutup kepala, jadi hanya matanya saja yang terlihat.


"Ao-!." Saat terkejut dia spontan memanggil namaku dan langsung menutup mulutnya karena tidak sengaja memanggil namaku saat melihat wajahku.


"Kau... jangan jangan."


Dia terlihat diam membeku saat aku mencurigainya.


"Senki... kau... senki bukan?."


"Tch!."


"Senki... kenapa kau melakukan ini?." Aku memberikan pertanyaan dengan datar agar tidak membuatnya terancam.


"Kau tidak perlu tahu! jangan ikut campur! pergi dari sini!."


"Kau mencuri sesuatu... bagaimana bisa aku membiarkannya."


"Sudah kukatakan jangan ikut campur! cepat pergi dari sini!."


"Senki... jangan melakukan hal yang membuatnya kecewa... dia tidak akan menerimanya."


"Sampai berapa kali kukatakan!." Dia langsung mendekatiku dan menarik kerah bajuku.


"Kembalikan barang yang kau ambil."


"Kau tidak mengerti apapun... jangan sok ikut campur!."


"Aku hanya ingin menyelesaikan ini... kau pencuri yang sudah mencuri barang itu."


"Kau tidak mengerti! sudah kubilang per-."


Tiba tiba terdengar suara pintu besi karatan dari bengkel tua itu terbuka.


"Sial!."


Dia terlihat panik dan melihat sekitar..


"Jangan bersuara! dan jangan pernah keluar!." Dia mendorongku ke tumpukan tong minyak kosong yang membuatku tertutupi.


"Tunggu! kenapa!."


"Diamlah!."


Dan tidak lama kemudian beberapa orang datang dan menghampiri Senki.


Aku bisa melihat mereka dari balik tong tong ini... sekitar enam orang yang datang kesini.


"Bocah... dimana barangnya."


"Aku sudah mendapatkannya... tapi kalian harus menepati janji kalian dulu."


"Tenang saja... kami akan menepatinya... sekarang dimana barangnya?."


"..."


"Jangan bercanda! kesepakatannya kalian harus menepati janji kalian terlebih dahulu! baru aku akan memberikan ini."


"Banyak omong! kalian semua, buat dia menyesal!."


Lalu orang orang yang ada dibelakangnya itu mendekati Senki.


"M-Mau apa kalian! perjanjiannya bukan seperti ini!."


"Kau ingin perjanjian? ini dia!!."


*Buk!


Dia memukul perut Senki hingga ia terjatuh.


"Uhuk! sialan!." Senki langsung bangun dan melompat kearah salah satu orang itu dan memukulnya tepat di kepalanya.


"Ugh! dasar bocah kurang ajar!."


Aku melihatnya yang cukup mahir bela diri dan bisa bertahan melawan kelima orang itu.


Tetapi jumlah adalah yang menentukan siapa yang menang... Senki sudah beberapa kali terkena pukulannya.


Hingga dia mundur dan mengatur nafasnya kembali... wajahnya yang sudah babak belur itu masih ingin bertahan.


"Serahkan barang itu, dan kau kubiarkan selamat disini."


"T-Tidak akan! aku tidak akan memberikan benda ini pada kalian... sampai... sampai aku bisa... mendapatkan formulir beasiswa itu untuk Sakura!!."


"( Ha? formulir beasiswa? apa maksudnya... kenapa harus Sakura? untuk apa? dan kenapa dia rela melakukan itu?.) Banyak pertanyaan yang tercipta didalam kepalaku... aku masih melihatnya yang sedang berdiri bertahan dari semua orang itu...


Kakiku terasa bergetar, tetapi aku tidak bisa bergerak...


"Uhuk!." Mulutnya mengeluarkan darah setelah terkena banyak pukulan.


"Sepertinya kau akan berakhir disini... terimalah kesialan yang sudah kau alami!."


"Sampai mati pun... aku tidak akan berhenti hingga aku bisa mendapatkan beasiswa untuknya!!."


"Bocah yang malang!!."


*Duarr!!!!