
"Kenapa aku harus melakukan pekerjaan ini..."
Sebuah penyesalan yang aku rasakan begitu aku menerima permintaan beliau kemarin.
.
.
"Sepertinya besok aku akan menghabiskan waktu liburku untuk belajar."
"Membosankan sekali, kita juga harus mengistirahatkan otak kita saat dua hari sebelum ujian."
"Aku hanya ingin mendapatkan nilai maksimal, rasanya ada yang kurang jika aku belum mempelajari materi sepenuhnya."
"Huh... kau memang terlalu ketat soal pelajaran."
*Brumm!!
*Tin! Tin!
Sebuah mobil mini klasik yang sedang dikendarainya, dan membuat seluruh murid yang baru saja pulang menjadi pusat perhatian, termasuk kita berdua karena orang itu datang langsung menghampiri kita berdua.
"Nak Aoyama! dan juga Nak Touya! ternyata kalian terlihat sehat seperti biasanya."
"Paman Baki?."
"Guru, kenapa anda ada disini?."
"Seperti biasa... pekerjaan."
Sambil mengibaskan tangannya seperti orang yang begitu sibuk akan kehidupannya.
"Anda masih bekerja serabutan? sepertinya masih banyak orang yang butuh anda."
"Tentu saja, karena aku orang yang sangat bisa diandalkan."
"Kalau begitu, sedang apa paman disini?." Tanya Touya.
"Aku hanya melihat kalian, dan banyak waktu... Jadi hanya ingin mampir."
"Bukannya ini namanya dicegat ditengah jalan?."
"Lupakan saja, omong-omong, Senin depan kalian akan ujian bukan?."
"Bagaimana Paman tahu?."
"Keponakanku juga seumuran dengan kalian, mungkin lebih muda setahun, dan dia juga sekolah disini."
"Aku baru tahu akan hal itu."
"Yah, namanya juga kebetulan.... oh iya, kalian ingin naik? biar aku antar sekalian."
"Bukannya anda sedang sibuk?."
"Sekarang tidak, naiklah."
Aku sempat melirik Touya, dan dia pun merasa tidak ingin menolaknya.
Jadi aku pun juga menerima ajakan beliau lalu menaiki mobil mini klasik yang tampilannya terlihat sangat mahal.
Setelah itu kami sembari mengobrol dan diantar beliau pulang, hingga tidak terasa kita sudah sampai didepan rumah Touya.
"Terima kasih Paman!."
"Ya! kapan kapan datang ke Dojo dan latihan lagi!."
"B-Baik!." seketika pundaknya bergidik karena mengingat betapa kerasnya latihan bersama beliau.
"Baiklah."
"Aoyama, sampai jumpa ujian senin nanti!." Seperti memberikan semangat untukku dan juga dirinya, dia mengepalkan tangannya.
"Ya."
*Brum!
.
.
Perjalanan pun berlanjut mengarah ke rumahku, dan karena itu, aku menghabiskan waktuku didalam mobil hanya membaca buku pelajaran sedikit demi sedikit, hingga sampai didepan rumahku.
"Terima kasih sudah ingin mengantarkan kita."
"Santai saja, rumahku juga mengarah kesini, jadi sekalian saja."
"Benar."
"Oh iya, aku juga sudah lama tidak bertemu Sakura, biasanya kamu bersamanya?."
"..."
Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada beliau... namun kenyataannya memang seperti itu.
"Guru... Ada yang ingin saya sampaikan kepada anda, mengenai Sakura."
"Memangnya ada apa?."
"Saat ini... atau aku pun tidak tahu, Sakura sedang berjuang menghadapi penyakitnya yang cukup parah... entah dimana dia berada."
"Tunggu! apa kamu yakin berkata seperti itu??."
"Aku sudah tidak bisa mengetahui keadaannya lagi, setelah dia pergi beberapa hari yang lalu."
"..."
"Maka dari itu, saya harap anda mengerti."
"Aku bisa mengerti keadaannya sekarang... tetapi apa kamu bisa mengatasinya?."
"..."
"..."
Disaat itu, dia keluar dari mobilnya lalu menepuk pundakku dan memberikan semangat.
"..."
"Benar begitu?."
"Tapi, percuma saja... semuanya sudah terlambat... lagipula, aku sudah berusaha untuk menerimanya."
"Tetapi dengan pikiranmu yang terganggu seperti itu, sulit untuk menghadapi ujian nanti."
"..."
"Besok pagi, datanglah ke Dojo... aku akan memberikan sedikit latihan untukmu."
"Tapi saat ini aku tidak berpikir untuk belajar bela diri."
"Bukan latihan yang itu, pokoknya datang saja besok pagi, mengerti?."
"..."
Karena aku tidak bisa menolak perkataannya karena dia adalah orang yang aku hormati... maka dari itu aku mendengarkannya.
"Baiklah.."
"Bagus, kalau begitu aku pamit."
"Ya."
Dan itulah kejadian sebelum penyesalanku ini terjadi...
"Silahkan coba! Mochi lembut manis dan enak!!."
Guru yang sedang menjualkan kue Mochi yang berada ditengah pusat kota, dan entah baik untukku atau tidak, namun banyak sekali orang yang mengantri untuk membeli Mochi tersebut.
"Silahkan di coba!! Nak Aoyama! apa kamu sudah membuat adonannya?."
"Segera selesai!."
Aku yang sedang membuat adonan Mochi tersebut dengan sekuat tenaga memukul-mukul adonan tersebut dengan palu panjang yang terbuat dari kayu, dan memukul adonan yang berada didalam wadah kayu...
Cara pembuatan Mochi tradisional memang seperti ini, adonannya dibuat seperti itu agat teksturnya menjadi lembut dan halus...
Aku tidak ada henti-hentinya menggerakkan lenganku hingga rasa pegal ini sudah tidak terlalu terasa.
"Nak Aoyama! apa sudah?."
"Sudah! aku akan segera membawakannya!."
"Baiklah, taruh saja diatas papan itu."
"Baik."
Seperti sudah sangat profesional, beliau melayani puluhan pembeli dengan sangat cepat sambil membuat bentuk Mochi tersebut dan membungkusnya.
Aku langsung kembali kebelakang untuk membuat adonan yang lainnya.
"Nak Aoyama, apa aku bisa meminta tolong kepadamu?."
"Apa?."
"Tolong belikan kantung, karena kantungnya sudah hampir habis... ini uangnya."
"Baiklah."
"Terima kasih."
Entah mengapa dari awal aku hanya ingin mengeluh kepadanya soal pekerjaan ini, karena aku tidak tahu kenapa dia mengajakku untuk bekerja disini... bukan berarti aku membantu beliau tanpa hati yang ikhlas, karena sudah terlanjur, maka aku jalani saja dengan sekuat tenaga.
Rasanya begitu lelah, namun dilihat oleh banyak orang cukup membuatku kesulitan untuk bekerja.
Berdiri disana saja sudah sangat sulit, apalagi menjadi pusat perhatian puluhan pembeli... sungguh seperti aku mengikuti sebuah ujian versi awal terlebih dulu.
"Oh! terlihat cukup baik!."
Seseorang yang sepertinya orang yang memiliki toko ini terlihat begitu senang karena melihat kinerja kita berdua yang cukup baik.
"Setelah ini, kita sudah selesai, dan saatnya menutup toko."
"Baiklah." Jawab Guru dengan semangat yang tidak habis-habisnya.
"..."
Dia pun juga melihatiku yang sudah berusaha keras untuk membantu, lalu dia tersenyum seperti bangga melihat anak muda sepertiku bekerja dengan baik.
......................
Beberapa jam kemudian, akhirnya antrian panjang pembeli habis juga, begitupun juga dengan Mochi tersebut...
"Terima kasih, kalian sudah bekerja keras! pekerjaan kalian benar-benar hebat, meskipun hanya dilakukan dua orang saja... kalian bisa menyaingi para pekerja milikku yang saat ini sedang mengambil cuti.
"Ahaha! ini bukanlah apa apa."
"Karena itu, aku akan memberikan bayarannya sesuai dengan yang aku katakan." Dia memberikan sejumlah uang dan memberikannya kepada guru.
"Terima kasih banyak!."
"Ya... oh iya, dan juga ini... untukmu."
Dia juga memberikanku sejumlah uang, yang cukup banyak... hingga aku sedikit terkejut dan kebingungan.
"Kenapa... saya juga diberikan uang... dan juga ini terlalu banyak."
"Kamu sudah bekerja dengan sangat baik, aku pun sangat senang melihatmu bekerja... jadi aku tidak ingin membiarkan kerja kerasmu tidak terbayarkan.."
"..."
Aku sempat melihat Guru, dan beliau hanya tersenyum senang sekaligus merasa bangga.
Dan aku pun menerimanya dengan senang hati..
"Terima kasih banyak..."
"Ya.."
Setelah itu, kebetulan waktu sudah menunjukkan pukul 4 Sore, aku dan guru kembali ke Dojo untuk beristirahat...