My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 14



"Berlatih Bela diri?."


"Ya."


"Kenapa kau tiba tiba ingin mengajakku?."


"Kurasa siapa tahu kau butuh juga dengan yang seperti itu."


"Lalu...kenapa tiba tiba kau ingin berlatih?."


"Aku sudah lama mengenalnya, tetapi akhir-akhir ini aku sibuk dan tidak berlatih lagi.."


"Apa aku tidak apa apa?."


"Mungkin saja tidak masalah."


"Jika begitu...aku ikut."


"Kalau begitu langsung saja."


"Eh, tidak siap siap dulu?."


"Untuk apa?."


"Tidak, maksudku ada yang perlu disiapkan."


"Tidak ada persiapan, bawa saja tekadmu untuk berlatih disana."


"Kalau begitu situasinya, apa aku boleh ikut denganmu?."


"Soal itu langsung tanyakan saja dengannya, aku juga tidak tahu."


"Untuk apa kau mengajakku jika belum tentu diterima....."


"Lebih baik ikut saja dulu, aku akan membantumu."


"Baiklah..."


Setelah Touya yakin untuk ikut denganku ke tempat beliau, kami pun berjalan ke arah dalam daerah, cukup jauh dari pemukiman kota dan berada diluar persis pedalaman hutan.


Walaupun begitu, jaraknya tidak begitu jauh, karena pedalaman hutan tersebut berada didalam daerah, jadi tinggal berjalan sebaliknya ke arah stasiun kota.


"Kenapa kau ingin berlatih?."


"Anggap saja olahraga... aku tidak ingin tubuhku kaku seketika."


"Heeh...apa karena kejadian kemarin?."


"Jika dikatakan seperti itu... ada benarnya juga, orang berotot seperti itu terlalu kuat."


"Benar sekali, bahkan kemarin aku menendang punggungnya...kakiku sudah hampir saja terkilir saking kerasnya."


"Semoga saja aku tidak berhadapan dengan orang seperti mereka lagi."


"Benar...tapi bisa jadi kau bertemu dengannya lagi."


"Kupikir begitu."


Setelah jaraknya semakin dekat, suasana disekitar daerah ini juga menjadi sejuk dan nyaman, karena pohon dan tumbuhan masih lebat disini.


Lalu kami pun sampai didepan rumahnya.


"Apa kau yakin dia tidak mengajar pelatihan atau semacamnya?."


"Ya, dia hanya orang yang mencari pekerjaan bayaran langsung disekitar sini."


"Tapi rumahnya sudah seperti sebuah Dojo."


"Pertama kali aku melihatnya juga begitu."


Lalu aku pun membunyikan bel yang ada didepan pintunya.


"Ya...tunggu sebentar!."


Suara yang keluar dari dalam itu tidak salah lagi adalah guru Baki, dan beberapa saat kemudian dia keluar.


"Aku masih membersihkan guci nya, jadi beberapa jam lagi sele-...."


"Sepertinya anda masih bekerja banyak hal."


"...Oyama!!."


"Oyama??!." Touya yang terkejut dengan mendengarkannya.


"Biarkan saja, dia memang suka menggangu nama orang lain."


Mendengar hal itu Touya seperti langsung mengerti setelah melihatnya.


"Kau kemana saja! kau bilang hanya sibuk untuk ujian kelulusan...tapi malah hilang."


"Aku juga banyak hal yang aku lakukan, selain itu perkenalkan dia... siapa?."


"Malah bingung?!."


"M-Maaf, saya teman sekolahnya Aoyama."


"Wah, kau mempunyai teman...apa kau sudah sadar?."


"Apa maksudmu sadar?."


"Tidak...lupakan saja, aku Kibari Kinoya, panggil saja....Baki."


"Ha...."


"O-owh...saya Kitahara Touya, anda bisa memanggil saya To-."


"Ou..."


"...."


"...."


"Kenapa anda memanggilnya Ou?."


"Karena dia Touya, lebih keren jika diberi nama Ou, atau Raja...hhe."


"Huhh sulit dibetulkan."


"B-Baiklah kalau begitu juga tidak apa apa.."


"Bagus...kalau begitu kalian berdua masuk saja, aku masih ingin membersihkan guci pesanan orang, jika tidak selesai secepatnya mungkin uang bayarannya akan dikurangi."


"Apa perlu kami membantunya?."


"Tidak usah, kalian duduk saja didalam."


"Baiklah..."


Saat kami masuk kedalam rumahnya, di depannya terdapat taman yang luasnya cukup untuk memberi tempat 6 mobil biasa, dan rumahnya yang terlihat tradisional, tidak pernah berubah saat aku terkahir kesini.


Kami pun masuk kedalam rumahnya, dan melihat lihat sekeliling sebentar sementara beliau sedang bekerja di taman.


"Dia sendirian tinggal dirumah sebesar ini...gila sekali."


"Ini rumah warisan kakeknya, maka dari itu dia menjaganya, dan tidak mau menjualnya."


"Woahh patung singa ini!! besar sekali!!."


"Benar, dan juga semuanya sangat dirawat, hanya dia seorang disini dan bisa melakukan ini semua...benar benar hebat."


Setelah melihat lihat sekeliling, guru Baki pun juga sudah selesai membersihkan Guci besar itu, dan menyuruh kita untuk duduk.


................


"Titik lemah?."


"Akhir akhir ini aku menghadapi orang yang memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat."


"Untuk masalah yang kamu ceritakan, memang perbandingan antara kalian dengan orang yang kalian bicarakan sangat jauh, dan mungkin mereka juga sudah berlatih banyak ilmu bela diri, tetapi itu hanya pemikirannya..."


"Maksudnya?."


"Jika seorang pengawal atau penjaga, semua orang pasti akan mencarinya dengan melihat fisik orang itu...namun jika orang itu mempunyai fisik yang meyakinkan, belum tentu ilmu bela diri nya tinggi."


"Begitu...jika dipikir-pikir mungkin benar, karena memang mereka tidak bisa menghindar dari seranganku, tetapi mereka bisa menahannya."


"Mereka memang hanya sekumpulan otot saja."


"Jadi...bagaimana dengan yang aku katakan?."


"Kau ini benar benar...jika ingin mengincar perempuan yang kau sukai, harusnya kau pilih pilih terlebih dahulu."


"Apa anda tidak mendengarkan ceritaku? sudah kukatakan jika aku hanya mendapat ide untuk menutupi kelemahan ku, bukan untuk mengincar perempuan."


"Aku hanya bercanda, jika kamu memang ingin begitu, aku memang cukup menguasainya beberapa teknik nya sih."


"Kalau begitu langsung saja."


"Dasar anak tidak sabaran....untuk masalah yang kau katakan itu, mungkin aku bisa mengajarkan teknik Dim Mak."


"Dim Mak?."


"Itu adalah sebuah teknik dari ilmu bela diri China, dan itu sudah menjadi teknik turun temurun para ahli bela diri untuk melindungi dirinya dengan lawan yang kuat."


Setelah menjelaskan banyak hal tentang teknik tersebut, kita mengerti beberapa dasarnya, dan apa saja letak titik tersebut.


"Dan seperti itu...mungkin kau harus memahaminya."


"Terima kasih banyak atas apa yang anda ajarkan, saya mungkin sudah mengetahui dasarnya saja."


"Tetapi, jika sebuah teknik yang digunakan, jika salah mengenai titiknya tersebut...apa yang akan terjadi?." Tanya Touya yang juga mendengarkan.


"Hmmm sesuai daerah titik tersebut sih, yang paling parah bisa membuat nyawamu hilang begitu saja."


"B-Benarkah...."


"Tetapi maka dari itu jarang digunakan untuk membela diri, karena terlalu berbahaya, aku akan ajarkan beberapa untuk kalian, tetapi sebelum itu.." Beliau menatap Touya dengan seksama.


"K-Kenapa?.."


"Apa kau juga bisa bela diri?."


"Aku pernah mengikuti ayahku latihan bela diri selama 2 tahun waktu sekolah menengah pertama."


"Baiklah, itu sudah cukup untuk mempelajarinya, karena menguasai sebuah hal tidak hanya menguasai materinya, tetapi pikiran dan emosi didalam diri kita juga harus matang."


"B-Baiklah, aku akan menggunakannya sebaik mungkin."


"Yosh, setelah beberapa bulan tidak mengajarkan anak anak, saatnya aku menjadi guru lagi."


Semangatnya yang masih terlihat tidak ada yang berbeda dari beberapa tahun lalu, karena semua pekerja serabutan yang ia kerjakan, membuat tubuhnya begitu sehat.


"Mohon bantuannya."