My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 27



Sudah beberapa bulan setelah kejadian itu, aku menjadi keluarga Kizuku dan diurus oleh nenek Mai...


Ayah dan ibunya berpisah karena ibunya memiliki orang yang dia sukai dan dia sembunyikan, lalu setelah itu ibu Mai tidak pernah kembali kepadanya lagi, ayahnya yang hanya datang setiap satu tahun sekali hanya untuk memberikan hadiah saat ulang tahunnya hanya berupa sejumlah uang...


Mai adalah anak satu satunya dari keluarga mereka dan karena mereka mengadopsiku, aku menjadi kakaknya karena aku satu tahun lebih tua darinya...


meskipun begitu, aku tidak pernah ingat jika aku mempunyai seorang adik atau kakak, dan aku tidak terlalu mengerti tentang itu.


Saat aku masuk kesekolah anak, aku hanya hidup dalam sendiri, tidak pernah berteman dengan siapapun... mereka semua menyebutku menyeramkan, tidak pernah tersenyum maupun menangis, bahkan saat mereka mencoba menjahiliku, tidak ada yang ingin mendekatiku...


Tetapi berbeda dengan Mai...


Dia sangat disenangi oleh banyak orang, tetapi dia tidak menyukai orang orang, tidak pernah ingin bermain dengan anak lain, dan selalu berada di pojok ruangan sambil memegang boneka kelincinya.


Saat dirumah, dia hanya mengurung dirinya dikamar, dan sulit untukku mendekatinya...


Ada pada saatnya..


Dia dijahili oleh beberapa anak laki-laki dalam beberapa hari...


Alat tulisnya diambil, bukunya diberikan coretan, karya nya dirusak, dan hal lainnya...


Mungkin bagi mereka itu adalah hal yang menyenangkan karena mereka masih belum memahami apa itu perasaan manusia...


Setiap pulang dia selalu langsung masuk kedalam kamarnya, dan menangis diatas kasurnya...


Nenek selalu menyemangatinya setiap hari, tetapi tetap saja setiap pulang dia melakukan hal yang sama...


Aku berpikir...


Kenapa dia begitu lemah, selalu menerima orang lain untuk menjahilinya, tidak pernah sedikitpun ingin melawan, dan tidak melaporkannya kepada guru maupun nenek...


Aku melihatnya.


Aku bisa melihatnya begitu lama dan tidak bisa mendekatinya...


Semakin lama aku melihat hal itu, rasanya aku merasa bahwa dia ingin meminta pertolongan tanpa memberikan sebuah kata kata...


Diam hanya duduk dipojok ruangan, dengan matanya yang berkaca kaca menahan semua ini...


Dilempari beberapa bola mainan milik mereka, tanpa melindungi dirinya sendiri...


Saat boneka kelincinya diambil oleh seorang anak, dia seperti sudah tidak ingin merasakannya lagi, dan air matanya jatuh tanda bahwa itu sudah batasnya...


"Lihat dia menangis, hanya karena boneka ini dia menangis..." Mereka menertawakan dia disana dan ingin melempar boneka itu kepadanya...


Saat dia melempar boneka itu, aku menangkapnya sebelum boneka itu terlempar keluar jendela...


Dia melihatku dengan wajah yang sangat menyedihkan, dan anak anak lain hanya kesal melihatku membantunya...


"Siapa kamu? kenapa kamu mengambil bonekanya?."


"Menjauhlah..."


Saat mereka mendengar itu, salah satu dari mereka melempar robot mainannya kearahku, dan itu membuat wajahku sedikit terluka...


Aku hanya bisa diam sambil berdiri didepan dia, dan tidak berkata-kata...


Lalu aku menginjak robot mainan itu hingga rusak, membuat anak itu menangis dan marah karena mainannya rusak...


Dia yang sedang memegang pensil, marah sambil mencoba memukulku sambil menangis...


Dia tidak sadar jika dia sedang memegang pensil ditangannya hingga terkena telapak tanganku hingga berdarah...


Melihat darah yang dia perbuat, dia langsung menangis hingga para guru datang dari luar untuk mengecek keadaan kami...


"Tangan..mu..." Dia melihat darah yang menetes di tanganku, dan tanganku yang bergetar akibat rasa sakit itu.


Saat aku mencoba berpikir apa yang dia pikirkan, dia tidak melawan orang yang menjahilinya, bahkan dia tidak melaporkannya kepada orang dewasa, dia hanya rela menerima itu semua...


Dan aku berpikir bahwa dia tidak pernah tahu jika dia bisa melakukan itu...


Dia hanya tahu jika dia memang harus menerima itu semua, tanpa adanya pembalasan maupun perlindungan...


Saat aku merasakan rasa sakit itu ditanganku, seperti ada suara seseorang yang masuk kedalam kepalaku... seperti suara lembut yang sangat menenangkan..


"Aoyama, jika kamu sudah besar... teruslah menyayangi adikmu seperti kamu menyayangi kami... karena kasih sayang keluarga adalah hal yang paling berharga dalam hidupmu..."


"Aku... aku akan melindungimu... jangan takut... karena ada aku sebagai kakakmu...yang akan melindungimu disini.." Sambil tersenyum kepadanya, aku secara spontan mengatakan hal itu...


Dan setelah masalah itu selesai, aku dibawa ke ruang kesehatan untuk diobati, dan tidak lama setelah itu nenek datang menjemput kami...


"Aoyama, apa kamu tidak apa apa? kenapa kamu bisa terluka seperti ini?." Dengan panik nenekku melihat tanganku yang diperban...


Jika aku mengatakan karena untuk menolong Mai, nenek pasti akan memarahi Mai seperti kedua orang tuanya yang selalu menyalahkannya dulu...


"Maaf... aku-."


"Maafkan aku..." Sambil menggenggam tangannya, dengan berani dia mengatakan didepan kita berdua...


"Karena aku... k-kakak menjadi terluka seperti ini.."


"Tidak... ini salahku karena tidak berhati hati..."


"Jika kakak tidak menolongku... kakak tidak akan diserang oleh mereka.."


Melihat kami yang saling berbicara, membuat nenek sangat senang dan merasa lega melihatnya..


"Syukurlah...asal kalian tidak apa apa, nenek tidak akan marah... justru nenek sangat senang... Mai bisa berani berbicara untuk kakaknya, dan Aoyama berani berbuat demi adiknya... nenek sangat senang.." Sambil tersenyum kepada kita berdua...


Lalu hati demi hari, kami selalu bersama, bermain bersama, belajar bersama hingga seterusnya..


Aku merasakan perasaan sebagai seorang kakak yang melindungi adiknya...


Dan menjadi seorang kakak yang membimbing adiknya...


.


.


.


Beberapa tahun kemudian...


"Kakak! dimana kue punyaku!."


"Ha? aku tidak memakannya."


"Tapi kenapa disini tidak ada?."


"A-Aku tidak tahu."


"..."


"..."


"..."


"Ya... rasa stroberi.."


"..."


"T-Tunggu! aku tidak tahu jika itu milikmu!."


"Padahal aku sudah meminta nenek membuatnya... tapi kakak memakannya begitu saja..."


"K-Kalau begitu aku minta maaf.."


"Tidak ada maaf bagimu..."


"G-Gawat..."


Saat dia ingin menyerangku, tiba tiba nenek datang membawa kue yang baru beliau masak..


"Ada apa? kenapa kalian bertengkar?."


"Dia memakan kue stroberi ku!."


"Aku tidak tahu jika itu punya dia, jadi tidak sengaja..."


"Sudah sudah, nenek akan membuatnya lagi, ini kue untukmu.." Sambil memberikan kue kecil berwarna biru yang sudah pasti adalah rasa blue mint kesukaanku..


"Woah, baunya sangat harum.." Dengan semangat aku ingin mengambilnya..


Tetapi sayangnya kue itu sudah diambil duluan olehnya...


"M-Mai... itu... kueku..."


"Omong omong, aku penasaran bagaimana rasa blue mint.."


"M-Mai.."


Lalu dia dengan lahap memakan kue buatan nenek untukku..


"Kue... blue mint ku..."


Dengan putus asa aku mengharapkan kue itu..


"Sekarang kita impas kan?."


"Tapi.."


"Salah kakak sendiri memakan kue milikku duluan.."


"Sudah sudah, nenek akan membuat kue lagi untuk kalian berdua, tunggu sebentar ya.." Lalu beliau pergi ke dapur untuk membuat kue lagi untuk kita.


"Ini salahmu karena memakan kue milikku.."


"Ha? aku juga tidak mengetahuinya, kenapa aku harus bersalah?."


"Kalau kakak tidak tahu, bukannya kakak bisa memberitahuku terlebih dahulu?."


"..."


"Baiklah baiklah, aku minta maaf.." Sambil menggunakan wajah yang tidak berniat.


"Hem hem, itu baru benar." Dengan bangga dia mengatakannya..


"Tch.."


"Jadi... bagaimana denganmu?."


"Apa maksudmu?."


"Tentang kak Sakura.."


"K-Kenapa kau membicarakannya?."


"Hm? kupikir kakak menyukainya.."


"J-Jangan mengatakan hal yang konyol.."


"Eh~ apa kamu tidak menyukainya?."


"Mana mungkin seperti itu.."


"Sayang sekali... mungkin aku akan mengatakan kepada kak Sakura.."


"T-Tunggu! ya ya, aku sedikit menyukainya.." Sambil berdiri dari bangku.


"Hanya sedikit? kasihan sekali kak Sakura."


"Ah ya aku sangat menyukainya, apa kau puas?."


"Hehe, sangat puas.."


"Tch.."


"Tapi, kenapa kamu menyukainya?."


"Ingin tahu saja.."


"Dasar pelit.."


"Lagipula kenapa kau ingin sekali tahu tentang dia?."


"Aku hanya penasaran, seperti apa perempuan yang berhasil menarik hati seorang penyendiri sepertimu."


"Apa kau mengejekku?."


"Kenyataannya memang seperti itu.."


"Huh... kau akan tahu jika melihatnya sendiri..."


Setiap harinya seperti sebuah jam pasir...


Saat habis, akan muncul hari hari yang normal kembali...


Sampai pada harinya...


Pada harinya tiba untuk apa yang mengubah diriku..