
Liburan musim panas ini adalah salah satu yang paling menghabiskan banyak energi bagiku.
Cuacanya lebih tinggi dari biasanya, dan membuat seluruh isi rumahku terasa panas.
*Ngiinggg
Aku yang sedang duduk didepan kipas angin karena panasnya cuaca, membuatku tidak bisa fokus untuk bermain.
"Huh... seharusnya aku membeli pendingin ruangan saat gaji bulan lalu."
*Niiitttt niiittt
Dering teleponku berbunyi, dan terlihat nama adikku yang sedang meneleponku.
"Ada apa?."
"Apa kakak ada waktu luang?."
"Aku sedang sibuk.... sibuk menyejukkan diri."
"Nanti sore temani Mai ke pusat perbelanjaan ya?."
"Um... baiklah, liat nanti saja."
"Yeay, terima kasih kakak!."
Dia langsung menutup teleponnya.
"..."
"Ke minimarket saja deh..."
Aku pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu yang dingin dingin... biasanya jika es krim, aku membeli rasa mint... tapi ditempat tempat yang aku kunjungi, jarang ada yang menjualnya.
Tetapi jika belum dilihat, siapa yang tahu jika es krim itu ada.
.
.
.
Sesampainya disana, ternyata memang benar stok es krim rasa mint sudah habis terjual.
"Ah..."
Aku meratapi nasibku yang melihat gambar es krim itu dan berharap bisa muncul didalamnya.
"Ao?."
Dari belakang seseorang memanggilku.
"Sakura..."
"Sedang apa kamu disini?."
"Aku hanya ingin membeli es krim... tapi tidak jadi."
Dia melirik tempat es krim itu, dan dia langsung paham.
"Kamu kehabisan rasa mint?."
"..."
"Tunggu sebentar."
"Ada apa?."
"Aku ingin memanggil Yuuki."
"Oh... dia juga ada disini."
"Um.."
Lalu Sakura pergi untuk memanggilnya.
.
.
.
Tak lama kemudian dia datang dengan Yuuki.
"Aoyama? kenapa kamu ada disini?."
"Dia ingin membeli es krim dengan rasa mint, tapi stoknya sudah habis."
"Benarkah?."
"Kenyataannya seperti itu."
"kalau begitu..."
Dia membuka tas belanjaannya.
"Nih."
"Aku tidak bisa menerimanya, itu punyamu."
"Sebenarnya aku membeli tiga, jadi aku bisa memberikan padamu."
"Kalau begitu aku akan membayarnya."
"Tidak usah, aku memberikannya kepadamu."
"Tapi tetap saja."
"Aku tidak menerima bayaran, aku akan memberikanmu ini." Dia memaksaku untuk menerimanya.
"Terima saja, lagipula Yuuki masih mempunyai dua, aku juga sudah punya dengan rasa lain." Sakura juga.
"Baiklah kalau begitu... terima kasih." Aku pun menerimanya.
"Sama sama." Dia memberikannya dengan senang.
Lalu kita bertiga duduk di depan minimarket itu, disana menang sudah disediakan tempat untuk pengunjung makan atau minum ditempat.
Dan aku menikmati es krim itu dengan perlahan agar aku bisa terus merasakan sensasi dinginnya.
"Benar juga... Aoyama, apa kamu sudah diberitahu?." Ucap Yuuki.
"Tentang apa?."
"Tentang kita be- mmm!." Saat dia ingin melanjutkan kalimatnya, tiba tiba Sakura menutup mulutnya.
"M-Maksud Yuuki tentang tugas liburan, apa kamu sudah mengerjakannya?."
"Mmm...?."
Sakura memberikan kode kode pada Yuuki, dan dia pun paham... lalu Sakura melepaskan tangannya.
"I-Iya... maksudku itu... haha." Dia segera ikut menutupinya.
"Oh... ya... sudah dari kemarin." Heran dengan tingkah mereka berdua.
"Ha? bohong! sebanyak itu tapi sudah selesai??." Responnya ini bukan akting, tapi dia benar benar terkejut karena dia belum mengerjakan satu pun.
"Hanya segitu... tidak masalah untukku."
"S-Sakura, kamu belum mengerjakannya kan?."
"Aku... tinggal setengah lagi." Dia seperti tidak enak mengatakannya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan padaku! kan kita bisa mengerjakannya sama samaaa!."
"Habisnya... setiap malam kamu selalu ketiduran, jadi aku tidak enak membangunkanmu."
"Justru aku lebih baik dipaksa bangun untuk mengerjakan tugasnya daripada seperti ini..."
"Kalau begitu nanti malam aku akan membantumu mengerjakannya."
"Tapi... bagaimana dengan besok?." Dia berbisik pada Sakura.
"Kalau begitu kerjakan sedikit saja, tidak perlu terburu buru."
"Baiklah! terima kasih Sakura! kamu memang yang terbaik!." Sambil memeluknya dengan bahagia.
Aku yang memalingkan wajahku dari mereka agar aku tidak terlihat seperti ingin mendengar percakapan mereka.
Aku tidak pernah bergaul dengan orang lain ataupun wanita wanita sebelumnya... jadi aku tidak bisa ikut masuk dengan obrolan mereka.
"Gawat, sudah jam segini.." Aku melihat jam di tanganku, dan sudah menunjukkan pukul 02.45.
"Ada apa?."
"Aku ada janji dengan Mai, aku pulang duluan."
"U-Um... baiklah, sampai jumpa lagi."
Aku mengangguk dan langsung bergegas pulang.
"Sebenarnya... aku yang salah menganggapnya kakak yang terlalu sayang dengan adiknya, apa memang sudah biasa dalam hubungan kakak adik." Yuuki yang melihat begitu antusiasnya Aoyama jika berhubungan dengan adiknya.
"Aku paham... aku juga pernah berpikir seperti itu."
......................
Di depan pusat perbelanjaan.
Aku menunggu dia ditempat yang sudah dijanjikan untuk berkumpul, tetapi aku sudah berdiri selama 10 menit, dia belum kunjung datang.
"..."
Dan tak lama kemudian dia datang dengan seseorang.
"Maaf menunggu lama, tadi Mai ada urusan sebentar."
"Begitu... lalu kamu juga mengajak Rina?."
"Iya."
"Baiklah... Rina, apa kakakmu juga datang?."
"Kakak sedang menyusul kesini, tadi kakak sedang mandi jadi aku tinggal saja." Dengan polosnya dia mengatakan itu.
"( Sebenarnya aku sedikit prihatin dengannya saat melihat adiknya... tapi entah kenapa aku lebih setuju dengan apa yang adiknya lakukan.) Baiklah, apa kita menunggunya dulu atau langsung saja?."
"Kita masuk saja... jika disini terus, cuacanya sekarang sedikit panas." Ucap Mai sambil melihat keatas.
"Bagaimana dengan Rina?."
"Memangnya apa yang ingin kalian beli?."
"Hem hem... rahasia!." Mai tidak bisa memberitahukan padaku.
"Kalau begitu kalian jalan duluan, aku mengikuti kalian dibelakang... karena aku tidak tahu ingin kemana."
"Yaudah... ayo Rina."
"Um!."
Kami mulai berkeliling didalam pusat perbelanjaan itu, aku mengikuti mereka berdua dari belakang dengan jarak yang dekat.
Tetapi herannya, setiap dia datang toko toko yang ia masuki, mereka berdua selalu membeli barang-barang yang berhubungan dengan air atau semacamnya... aku berpikir jika mereka ingin pergi ke taman air? atau lainnya?.
Dan datanglah saat saat mereka ingin masuk kedalam toko pakaian dalam.
"Kalian saja yang masuk, aku akan menunggu dibawah."
"Kenapa kakak tidak ikut masuk saja?."
"Kau harusnya paham, aku disini adalah seorang lelaki."
"Tapi kan kakak adalah saudaraku?."
"Itu adalah pandangan darimu, bagaimana jika pandangan orang lain?. ( Aku tidak mau ditatap mencurigakan oleh orang orang didalam, buruknya mungkin aku akan dibawa oleh pihak keamanan mereka...)."
"Tapi tetap saja aku butuh kakak untuk memberikan pendapat."
"( Pendapat? apa maksudnya pendapat??.)"
"Kalau begitu aku bisa menggandengmu agar kakak terlihat tidak mencurigakan." Dia menarik tanganku dan memaksaku untuk masuk.
"T-Tunggu..." Aku terpaksa untuk mengikutinya.
dengan perasaan yang canggung dan tetap fokus menjaga mataku agar tidak melirik kemana mana, aku terus berdiri ditempat dekat dengan mereka yang sedang memilih milih.
"Kakak, bagaimana menurutmu?." Dia mengangkat satu set pakaian renang dengan menyesuaikannya didepan badannya.
"Kau ingin membeli pakaian renang?."
"Iya."
"Pantas saja kau memaksaku masuk, biasanya kau membeli pakaian dalam sendiri tanpa aku temani."
"Makanya itu aku membiarkannya!."
"Menurutku cocok, tapi warnanya tidak serasi denganmu." Aku menilai baju renang nya yang berwarna hijau dan itu tidak sesuai dengan seleranya.
"Aku juga berpikir seperti itu sih... bagaimana dengan ini?."
Dia memperlihatkan baju renang berumbai berwarna pink muda.
"Terlihat cocok untukmu... jika berusia dua belas tahun..."
"B-Berisik! aku tahu!."
Lalu dia langsung menyimpan kembali set baju itu.
Saat dia sedang sibuk memilih baju, begitu juga dengan Rina yang sedang bingung dengan dua set baju di kedua tangannya.
"Kau kesulitan memilih?."
"Eh! iyaa... aku bingung memilih warna apa yang cocok untukku..."
"( Aku tidak tahu warna apa yang dia suka, tetapi Touya justru belum ada kabar ada dimana...) Bagaimana dengan ini? warnanya tidak terlalu gelap." Aku menunjuk baju yang ada di tangan kanannya, baju renang berumbai berwarna kuning tua.
"Apakah benar?."
"Iya, menurutku itu cocok denganmu.. ( Aku terlihat seperti orang aneh...)."
"Kalau begitu aku pilih ini aja... terima kasih kakak Aoyama!." Dia tersenyum puas dengan pilihanku.
"Baiklah... ( Semoga saja aku tidak mengecewakannya...)."
Lalu mereka berdua mencoba pakaian renang nya didalam tempat ganti..
"Jreng jreng! bagaimana? apa cocok?." Mereka berdua memperlihatkan baju renang yang mereka pakai padaku.
"Y-Ya... sangat cocok..." Aku berusaha memberikan ekspresi yang tidak berlebihan pada mereka.
"Kalau begitu kita ambil ini saja..."
"T-Tunggu Sakura! jangan dorong dorong!." Suara dari sebelah ruang ganti membuatku merasa ada yang tidak beres.
"( Sakura? jangan jangan...)."
Dua gadis keluar dari bilik ruangan ganti itu dengan memakai sebuah bikini yang sangat...
"..."
"Wow.." Mai dan Rina yang hanya bisa melihat kagum.
Mereka berdua langsung terdiam saat melihatku dengan Mai dan juga Rina.
"A-A-Aoyama?! tidak! sedang apa kamu disini!." Dia menutup dirinya sendiri, begitu juga dengan Sakura.
"Tunggu! ini bukan seperti yang kalian pikirkan!."
"Apa kamu sengaja kesini?!." Suaranya itu menarik perhatian orang lain.
"Sshhh! bukan itu!."
"Tapi ka- mmm mm!." Sakura menutup mulut Yuuki dan membawanya masuk kedalam bilik ganti.
"K-Kalau begitu aku dan Yuuki ingin ganti baju kembali..." Sakura yang menahan malunya terpaksa masuk kembali kedalam ruang ganti.
"Huh... harusnya aku tidak ikut masuk kesini..."
......................
"Jadi... Aoyama sedang menemani Mai berbelanja toh..."
"Mm... m-maaf... kukira kamu sedang berbuat aneh."
"Mana ada laki laki yang masuk ke toko pakaian dalam sendirian tanpa perempuan..."
"Um.."
"Yang penting masalah sudah terselesaikan, kan?."
"Tapi aku penasaran... kenapa kalian bersamaan membeli baju re-."
"S-Sebenarnya minggu depan ada promosi tiket masuk hiburan, dan disana juga ada kolam renang, jadi kita ingin mempersiapkannya." Jelas Sakura.
"Oh..."
"Sudah jam segini, kalau begitu kita berdua duluan pulang." Sambil melihat jam tangannya, Sakura menggandeng tangan Yuuki dan ingin pergi.
"Bukannya aku memaksa atau mengajak kalian... tetapi rumah kita bersebelahan, kenapa kita tidak sama sama saja?."
"Se... sebenarnya-."
"Aku dan Sakura ingin berbelanja sedikit lagi, karena masih ada yang harus dibeli."
"Ya... seperti itu."
"Yaudah kalau begitu..."
"Dah, kita pergi dulu!."
Dan mereka berdua pergi kembali kedalam.
"Oiii!!! Aoyamaa!!." Seperti orang yang tidak merasa bersalah, dengan santainya dia datang hingga terlambat sampai akhir.
"Kenapa kau datang kesini?."
"Aku kan memang ingin kesini, menyusul kalian."
"Kita sudah selesai berbelanja, dan ingin pulang."
"Eh? cepat sekali?."
"Kau yang datang saat orang ingin pulang."
"Bagaimana lagi, aku tadi sedang sibuk mengurus sesuatu sebentar... tapi orangnya susah sekali dicari, untung saja aku bertemu dengannya."
"Tapi aku dan Mai sudah ingin pulang, bagaimana denganmu sekarang?."
"Hmm... aku mungkin akan sebentar saja ingin membeli sesuatu, jadi Rina bersamaku saja... kamu tidak lelah kan?." Dia bertanya kepada adiknya.
"Tidak kok!."
"Baiklah, kalian berdua bersenang senanglah." Aku pun pergi untuk pulang kerumah.
"Dadah Rina! besok kita ketemu lagi ya!." Sambil melambaikan tangannya.
"Um!."
Lalu kami berpisah dengannya yang masih ingin berada disana...
Aku yang sudah pulang kerumah setelah mengantar Mai kerumah nenekku, aku langsung pergi untuk mandi dan memasak makan malam untukku sendiri.
"Masak mi instan saja deh... aku sudah lelah untuk memasak yang merepotkan."
Lalu aku memasak mi instan untuk makan malamku...
Setelah aku selesai menyantap makananku aku berlanjut dengan pergi belajar hingga sekitar satu sampai dua jam-an...
"Hoooaaammm... aku masih belum mengisi absen didalam gameku... karena dari siang aku sibuk diluar... sudahlah, terlanjur mengantuk, mending tidur saja."
*Niiitt niiittt
Saat aku ingin segera menjatuhkan diriku keatas tempat tidur, tiba tiba dering teleponku berbunyi.
"Halo kakak?."
"Ada apa? kau menggangguku tidur."
"Apa barang barangku sudah kakak rapihkan?."
"Sudah... lagipula kenapa kau membawa barang barang itu?."
"Pokoknya simpan saja, besok aku ingin membawanya pagi pagi... jadi kakak jangan bangun kesiangan!." Dia langsung menutup teleponnya.
"Dia yang ingin pergi, kenapa aku yang harus bangun pagi... lagipula membawa semua barang itu untuk apa... pergi ke pantai? mending lanjut tidur saja."
Barang yang sebelumnya sudah dibeli oleh Mai beberapa berhubungan dengan piknik atau semacamnya, tetapi lebih seperti ingin bersenang-senang di pantai... meskipun begitu aku tidak peduli...
Memangnya benar dia ingin ke pantai??