
Nadia bersenandung riang beberapa kali mengulang kata yang sama milik teh melly 'KUBAHAGIA' sembari merapikan susunan pakaian yang ada dalam lemari kayu di kamar mereka. Sesekali ia akan mengendus pakaian Gibran lalu tertawa seperti orang yang kurang waras. Disela-sela itu ia akan terdiam meringis mengingat masalah baru yang ia buat lalu menggeleng pelan seolah meyakinkan dirinya tidak ada yang akan terjadi. Cinta sudah membuatnya kehilangan setengah akal sehatnya. Sekarang dalam hatinya hanya ada Gibran, tentang Gibran, dan mau Gibran. Level bucinnya sudah mendekati stadium empat, sebentar lagi overdosis.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam sayangkuuuu" Nadia bergegas menghampiri Gibran yang baru pulang dari kantor. "Adududuuuh kesayangan Nad keringetan. Sini sini sini Nad lapin keringatnya." Nadia berjinjit mengelap keringat di pelipis Gibran dengan ujung lengan bajunya. "Salim dulu." Setelah me-lap keringat Gibran, ia mengambil tangan lelaki itu dan mengecupnya khidmat.
Gibran yang sudah terbiasa dengan sikap Nadia yang terlalu 'sayang' padanya itu menerima semuanya dengan senyum tipis dan pemakluman yang tinggi. Nadia sedang cinta-cintanya dengan dirinya dan dia mensyukuri hal itu agar mendapatkan lebih lagi. Bersyukur maka Aku akan tambahkan. Nice words.
"Sudah makan?"
"Udah. Minum susu juga. Om udah makan?"
Gibran mengangguk. Meskipun pengakuan Guntur membuat selera makannya hilang tapi ada beberapa kudapan yang bisa masuk di perutnya. Memikirkan Guntur membuat ia prihatin dan juga tidak habis pikir. Bagaimana lelaki sebaik itu berubah menjadi orang jahat karena penghianatan seorang istri. Tapi seharusnya kemarahannya tidak di luapkan terhadap orang lain karena Guntur tahu bahwa sumbernya ada pada Istrinya. Yang seharusnya ia ingatkan adalah istrinya bukan malah mendiamkannya, memakluminya dan melampiaskannya pada orang lain. Katanya terlalu cinta tapi cinta tanpa pengajaran dan saling mengingatkan hanya akan menjadi sesat. Melihat Nadia yang sedang membuncah cintanya, Gibran berdoa agar Nadia tidak menjadi hilang akal karena kecintaannya pada dirinya. Yah terkecuali pemindahan Komandannya ke Tarakan, ia akan memaklumi itu sebagai ego seorang Gaudia.
"Om mau apa biar Nad ambilin?"
"Minum tapi nanti saya ambil sendiri."
"Jangan. Biar Nad aja. Om duduk manis aja."
Gibran melirik ke dapur mengikuti langkah gesit Nadia. Rajin sekali. Sangat mencurigakan.
"Ini, Om." Nadia kembali dengan segelas air putih di tangannya. Gibran masih terus tak melepas tatapanya dari Nadia, menelisik apa yang salah dari istrinya hari ini.
"Nad bikin salah apa hari ini?"
Bangkeee! Ketahuan dong. Nadia menggigit bibir panik. Ia menyengir lebar lalu buru-buru duduk disamping Gibran, menyandarkan kepala di lengan atas Omnya itu. "Emmmm g-gak ada." Ucapnya tergagap. Ini kalau ketahuan diapain yah? Haduuuh kan gak sengaja, gak kehitung salah kan ya? Tapi kan--
Gibran melepaskan tangannya dari belitan Nadia dan menatap gadis itu dengan kening bertaut, menunggu dengan sabar pengakuan dosa dari gadis kecil di depannya.
"I-itu, Om. Nad--" Nadia menggigit bibir gugup. Takut salah tapi tidak berani berbohong. Ah si*l. Kenapa ia rajin sekali masuk pas pelajaran agama jadinya kan dia tahu kalau bohong itu dosa. Salahkan pak gurunya yang seksi bangat dengan brewok-brewok mandjaa Zayn malik KW yang hawwwt itu.
"Nad--" Ulang Gibran masih dengan kesabaran penuh menunggu lidah Nadia terpeleset. Gadis berambut hitam panjang yang dibuat ikal-ikal cantik itu menghembuskan nafas pelan.
"Tadi Nad ketemu Om Robi-- ta-tapi gak sengaja kok Om. Kebetulan bangat Nad Wifian eh, ternyata Om Robi juga disana. Sumpah Om, Nad gak selingkuh. Nad cinta mati sama Om, Nad gak mungkin macem-macem. Om Robinya juga gak sendiri kok. Ada dua Om lagi yang baik bangat. Mereka cuma nyapa aja. Beneran Nad--"
"Udah?"
"Hah?" Nadia mengatupkan mulutnya lalu mengangguk ragu "U-udah."
Gibran mengusap rambut Nadia lembut "Om nekan Nad ya?"
"Nekan?" Nadia mendongak. Mencari makna lain dari kata itu di dalam mata kelam suaminya. Namun nihil, Gibran tetaplah samudra yang tak bisa ditebak kedalamannya.
"Lingkungan pergaulan Nad? Om terlalu menekan atau--"
Nadia menggeleng cepat. Katakan dia bodoh tapi dari lubuh hatinya yang paling dalam, ia menikmati keposesifan Gibran padanya. Karena itu artinya Gibran takut kehilangan. Dan takut kehilangan artinya love, iya kan? Iya dong. Lagian siapa yang menolak di posesifin sama manusia paripurana sekece badai Omnya, hanya orang b*doh yang tidak tahu betapa betapa kerennya seorang laki-laki berwajah datar, tak tahu senyum dan berucap irit seperti Gibran saat posesifnya kambuh. Sangat menggemaskan dan kaum hawa diluar sana hanya akan seperti kata spongebob, berimajinasi.
"Om udah bener. Posesifin Nad, cemburuin Nad. Udah yang paling bener. Jangan kayak robot yang ngangguk atau geleng aja pas ditanya sebab perasaan itu perlu di realisasikan Om supaya gak mengendap jadi puisi aja di ujung pena para pujangga."
"Kamu ngomong apa?"
Nadia meringis, percuma puitis di hadapan Gibran karena endingnya hanya akan krik krik belaka. "Gak Om. Abaikna aja. Jadi, apakah Nad akan di peluk terus seperti ini? Karena kalau iya, Nad butuh mengunci pintu dulu sebelum jadi tontonan orang lewat."
Gibran melepaskan tangannya, sebelumnya ia sempatkan mengecup kening Nadia, "Lucu. Boleh Om masukin kantong gak supaya gak kemana-mana, hum?" Hidung perosotan itu menggesek hidung tak seberapa mancung milik Nadia.
"Jangan dong Om emangnya Nad uang kembalian apa di selip-selip di kantong. Kalau Om mau Nad tinggal, Om bilang aja, Nad dengan senang hati akan mengatakan, Yes, Captain!"
Gibran tergelak, orang-orang diluaran sana harus menarik kata-kata mereka mengenai pandangan, menikahi seseorang yang jauh lebih muda akan berujung pada mengurus anak kecil. Sebab bagi Gibran menikahi Nadia si gadis kecil rasanya lebih berwarna, tak sekedar mengurusi bandelnya seorang pemberontak kecil tapi juga hidup terasa lebih hidup lagi dengan keceriaan masa muda yang mungkin sudah dilupakan karena tergerus oleh tekanan pekerjaan yang tak ada habisnya.
"Nad harus menikmati waktu sendiri. Hidup dengan bahagia dan bebas, Om akan selalu memantau Nad dari sini."
"Iiiih manis bangat sih Om. Nad jadi terharu kan. Allah sayang bangat sama Nad kayaknya sampe ngirimin Om Gi yang super baik ini."
"Rejeki gadis solehah."
"Betul sekali bapak kapten." Nadia mengancungkan dua jempolnya lalu tergelak. Bahagia itu sederhana ya Nad, cukup seorang Gibran Al Fateh seorang dan alam semesta serasa milik pribadi. Dipeluknya lelaki itu dengan erat. Sekarang Nadia bisa duet dengan rezky febrian untuk mengatakan pada dunia bahwa, BERDUA BERSAMA OM GI MENGAJARKANKU APA ARTINYA KENYAMANAN KESEMPURNAAN CINTAAA~
***
"Om, Nad diajak mancing sama anak-anak. Ada si lady tuh dari kemarin ngajakin nyari keluarga baru untuk trio bar-bar. Katanya biar tambah rame."
"Lady anaknya ibu kios di sebrang jalan?"
Nadia mengangguk, "Gimana? Boleh nggak?"
"Kapan?"
"Sore ini. Rame lho Om. Om juga belum pernah mancing kan?"
Gibran menggeleng. Iya tidak begitu menyukai hobi yang satu itu. Memancing hanya membuat ia membung-buang waktu berharganya. Kalau mau makan ikan tinggal ke pasar, untuk apa repot memancing.
"Jadi gimana? Boleh nggak, Om?"
"Boleh."
"Heh?" Nadia membelalak. "Boleh? Kok gampang bangat Om ngizininnya sih?"
Gibran menggaruk keningnya. Serba salah bicara dengan istri kecilnya ini. Diizinkan salah, tidak diizinkan dituduh otoriter. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu meletakkan bukunya diatas meja. Tatapan datarnya menyoroti sang istri. "Jadi maunya gak dibolehin?"
Nadia memutar bola mata kiri kanan mencari kalimat yang tepat agar tetap diizinkan tapi juga tidak terkesan dilepas begitu saja, memangnya bebek dibiarin gitu aja. Ini istri loh Om, harus diketatin penjagaannya. Nadia manyun.
"Boleh, tapi hati-hati. Jangan main terlalu dalam. Ingat adek bayi. Gitu maunya?" Gibran bertanya dengan kening terangkat satu.
Nadia mengangguk cepat, " Nad ini baru bener. Oke, Om." Gibran yang tahu isi kepala istrinya mengulum senyum tipis. Punya istri sejenis Nadia memang harus memiliki pemahaman tingkat tinggi jika tidak ingin berakhir dengan predikat sebagai laki-laki jahat.
Nadia yang tadinya seloncoran di lantai dengan melakukan sedikit peregangan, berdiri cepat dan langsung duduk di pangkuan Gibran. Nadia menyengir lebar saat melihat tatapan Gibran yang mengatakan-- Di bangku bukan di pangku-- padanya. Ia menggeser pantatnya untuk duduk di bangku yang Gibran maksud. Gini ya kalau pikiran dan perbuatan sejalan-- tahu dimana kenyaman itu bisa di dapatkan.
"Ada apa, Om?" Tanyanya manis. Nadia mengangkat tangannya cepat saat Gibran tiba-tiba membaringkan kepala di pahanya.
"Begini sebentar." Ujarnya memeluk pinggang Nadia dan membenamkan wajahnya di perut buncit Nadia. Hembusan nafas hangatnya menembus kain tipis yang di pakai Nadia sehari-hari dalam rumah. "Adek belum gerak ya Nad?" Tanyanya menjauhkan sedikit wajahnya untuk memperhatikan perut buncit itu. Nadia menggeleng, mana tahu dia soal bayi yang gerak atau tidak.
"Gak tahu, Om. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Cuma biasanya gerak gitu."
"Belum aja kalik."
Gibran mengangguk lalu dengan tangan besar dan berurat miliknya mengelus perut Nadia. "Ayah sudah tidak sabar mau ketemu adek. Sehat-sehat disana. Jagain Ibu kalau Ayah jauh."
Cup.
Nadia terkekeh geli bercampur haru melihat interaksi manis Gibran dengan calon bayi mereka. Diusapnya rambut cepak Gibran dengan lembut.
"Om bakal jauh bangat umurnya sama adek. Om udah ubanan, Adek baru masuk TK. Semoga gak di panggil opung yang Om." Ujar Nadia tergelak membayangkan anak mereka memanggil ayahnya dengan sebutan opung.
"Mana ada Opung sekeren ini. Keujung dunia juga Nad gak bakal ketemu."
"Dih, Pede maksimal. Kondisiin Om ntar jatuhnya sakit."
Gibran mendongak, "Emang Om gak keren?"
"Kereeen dong."
"Nah kan." Gibran kembali mengecup perut Nadia. "Kalau sudah besar boleh Adek gantiin Ayah jaga Ibu. Ya kan dek?"
"Gak bisa dong Om. Yang jagain Nad tetep Om, gak Adek atau siapapun itu." Nadia berujar sewot, tak senang mendengar kalimat Gibran yang seolah akan meninggalkannya.
"Iya Nad. Gak usah ngegas gitu."
"Makanya bibir jangan ngaco." Ucap Nadia sembari menarik rambut cepak Gibran gemas.
"Gak ada maksud lain sayang. Udah, jangan ngambek. Mana tangannya?" Gibran mencari-cari tangan Nadia yang sengaja dijauhkan dari suami itu.
"Gak. Nad ngambek. Jangan ngomong gitu lagi sama Nad. Terakhir Om minta Nad jaga diri, Om ngilang di hutan. Nad gak mau. Nad mau dijaga Om, hiks."
Gibran yang mendengar Nadia terisak langsung bangun, "Ya Allah Nad, hei, kok nangis? Om gak maksud--Ck ya Allah sayang. Udah, sini Om peluk." Gibran meraih Nadia dalam pelukannya.
"Jangan ngomong gitu lagi, hiks." Nadia terisak dalam dekapan Gibran. Ia tak akan pernah mengiyakan permintaan Gibran soal jaga menjaga karena kalimat itu bukan sesuatu yang bagus artinya.
Gibran mengusap punggung Nadia sambil Mengecup berkali-kali rambut istrinya itu. Tak sekalipun ia memikirkan kalimatnya berarti lain bagi Nadia. Ia serius mengharapkan anak mereka kelak bisa menjaga Ibu mereka dengan baik tapi jika itu berarti lain bagi Nadia maka ia tak akan pernah mengatakannya lagi.
"Jangan menangis. Om tidak punya maksud lain mengatakan itu."
"Nad gak suka, Om, hiks."
"Iya, Maaf." Gibran mengalah. Mungkin Nadia masih trauma dengan kejadian waktu itu. Nadianya perlu menyembuhkan luka akibat kehilangan yang dialaminya.
***
Nadia mengernyitkan kening. Ia baru akan mengambil sendal jepitnya yang mau di cuci bersih oleh Gibran saat mendapati dua tamu tak asing lewat celah jendela dekat rak sepatu, Guntur dan Sabrina.
Tok tok tok
"Assalamualaikum." Ketuk Guntur di pintu kayu itu.
Nadia yang masih mengenakan pakaian rumahan yang kata Gibran sangat terbuka itu langsung berlalu ke dalam kamar untuk mengambil sweater dan memakai celana trening untuk membalut kaki jenjangnya.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum." Kali ini suara Sabrina. Nadia menoleh ke belakang namun tak melihat sosok Gibran. Tidak ada pilihan lain, mungkin memang harus dia yang menemui mereka.
Ceklek.
"Waalaikumsalam." Nadia membuka pintu rumahnya lebar. Wajahnya masih heran bercampur bingung dengan kehadiran tetangga mereka itu. Untuk sekarang Nadia lebih memilih menatap pantat puppy daripada muka Sabrina. Kekesalannya selalu saja naik beberapa level setiap mendengar atau melihat Sabrina. Kalau bisa Sabrina di minggirin dulu lah di bikini bottom siapa tahu bisa belajar kebaikan dari si spons kuning itu tapi-- Ah sayang sekali si gurita hijau itu membeci manusia, apalagi modelan Sabrina yang pecicilan sama suami orang, auto di pindahin ke ladang ubur-ubur ini sih.
"Ada ya Pak, Bu? " Tanya Nadia sopan. Meskipun kesal pada salah satu tamunya, adab dalam menerima tamu harus tetap meneladani Rasulullah.
"Maaf, Bu, Ada bapak?" Guntur yang wajahnya selalu ramah balik bertanya. Disampingnya Sabrina berusaha untuk tak kasat mata membiarkan suaminya mengambil tampuk kekuasaan yang selama ini coba ia kuasai dan kendalikan.
"Ya?"
Nadia menoleh kebelakang. Disana Gibran menatap mereka bertiga dengan kedua tangan penuh dengan sekeranjang cucian. Ia akan menemani Nadia memancing tapi sebelum itu harus membereskan dulu pekerjaan rumah supaya layak di huni atau setidaknya layak untuk menerima tamu.
"Pak, kami--"
"Silahkan masuk, Pak guntur, Ibu." Nadia menyingkir untuk memberikan waktu tamunya untuk berbicara dengan tamu yang sebenarnya.
"Terima kasih, Pak."
"Jadi--" Gibran menggantung kalimatnya. Ia perlu mengerjai dua orang pasangan ini agar lebih tahu rasanya tidak melakukan kesalahan tapi disalahkan. Sakit.
"Kami minta maaf, Pak. Kesalahan kami sangat fatal. Istri saya sebenarnya--"
Maaf? Untuk apa?
***