Little Persit

Little Persit
Sumpah seorang Prajurit



Bahwa saya akan taat pada atasan dengan tidak membantah perintah dan putusan.


Sayup-sayup Gibran teringat salah satu penggalan sumpahnya kala ia memutuskan menjadi seorang Prajurit. Sumpah yang akan ia junjung tinggi demi baktinya sebagai seorang prajurit dan demi tanah air tercintanya, serta demi kesatuan yang ia banggakan. Ia tidak pernah ragu dan surut langkah dengan alasan apapun tapi ketika ia harus menghadapi Nadia, entah kenapa semua menjadi tak semudah saat ia mengucapkan sumpah itu. Berapa banyak lagi airmata yang harus kekasih hatinya itu tumpahkan karena dirinya? Berapa banyak lagi luka yang harus di tanggung gadis itu karena dirinya? Berapa banyak lagi janji yang akan ia ingkari? Sumpahnya sebagai prajurit dan janji sucinya sebagai seorang suami berbenturan memintanya untuk memilih.


Senyum Gibran mengembang ketika jarak keduanya tinggal beberapa langkah lagi. Ia bisa melihat dengan jelas luka dimata Nadia. Di tangannya sudah ada surat perintah untuk ia penuhi dan di depannya ada persit kecilnya yang menunggu janjinya.


"Peluk?" Gibran merentangkan tangannya dengan senyum tipis yang menyayat hati Nadia.


Nadia terisak. Ia sudah tahu, lagi-lagi dialah yang harus kalah. Airmatanya tumpah, tak jauh dari tempatnya berdiri, Om nya, kebanggaanya, kesayangannya, menunggu untuk di yakinkan. Menanti dirinya untuk memberi restu yang akan menguatkan langkahnya.


Nadia berlari menghambur memeluk Gibran.


"Kali ini Nad kalah lagi kan?" Ujarnya lirih. Setiap kali dirinya berbenturan dengan tugas Gibran, ia tahu bahwa dirinya yang harus mengalah. Bukan karena Gibran yang tidak mementingkannya tapi Nadia sadar bahwa Gibran bahagia, bangga dengan tugas yang diembannya. Dan kebahagian Gibran adalah kebahagiaannya juga.


Gibran tak langsung menjawab. Di kecupnya rambut Nadia dengan penuh kasih sayang. Menghirup dalam-dalam wangi lembut Nadia yang selalu mampu memberinya energi baru.


"Maafkan Om." Katanya lirih. Lagi-lagi hanya kata itu bisa ia ucapkan setelah sekian kali mengingkari janjinya.


"Jangan minta maaf." Nadia mengeratkan pelukannya pada lelaki favoritnya itu. Ini bukan salah Gibran, dia hanya seorang suami yang berusaha mencoba menjaga hati istrinya. Dan Nadia bangga akan hal itu. Hanya saja bukankah terlalu picik jika Om Gibrannya harus mengalami semua ini karena keegoisan seseorang?


"Maaf." Gibran kembali menyarangkan kecupan berkali-kali di rambut Nadia.


Tangis Nadia pecah. Kedua tangannya mencengkram kuat seragam Gibran mencoba mencari kekuatan agar diberi kesabaran yang berlebih untuk melewati semua ini.


Tak jauh dari mereka berada, Gio dan Dewa memandang keduanya dalam diam. Kalau saja ada yang mereka bisa lakukan--


"Elsa keterlaluan." Gumam Gio. Sumber dari masalah sepasang kekasih itu adalah sikap Elsa yang selalu menempatkan dirinya sebagai korban. Sebagai orang yang mengenal Elsa lebih dulu, Gio tak pernah menduga bahwa perasaan wanita yang terkenal dengan hatinya yang lembut itu bisa berakibat buruk bagi orang lain. Gibran dan Nadia hanya ingin saling menjaga perasaan, kenapa harus diperlakukan tidak adil seperti ini?! Gio takkan pernah bisa mengerti bagaimana cinta mengubah seseorang menjadi begitu egois.


"Coba Gue anak presiden, kejadiannya tidak akan seperti ini--Ck aaah tidak, Gue berharap Nadia melakukan sesuatu. Apa gunanya uang dan kekuasaan kalau ia tidak bisa menarik kembali suaminya kesini." Dewa berucap penuh kekesalan. Ia masih tak sampai pikir, bagaimana mungkin urusan perasaan seorang anak bisa mengubah seseorang yang lurus seperti Komandan menjadi pimpinan yang menyalahgunakan kekuasaannya.


"Gue gak yakin. Tau sendiri bagaimana lurusnya Gibran." Ujar Gio.


"Gue tahu. Tapi gue rasa gak salah melawan ketidakadilan seperti ini dengan cara yang sama. Mata dibalas dengan mata. Uang dibalas dengan uang. Kekuasaan dibalas dengan kekuasaan. That's the rule!"


***


Gibran mengelus punggung Nadia yang tertidur membelakanginya. Sejak di kantornya tadi Nadia tidak berhenti menangis. Bahkan saat istrinya itu makan atau solat, airmata tidak berhenti mengalir dipipinya.


"Maaf kan Om." Bisik Gibran sembari mengecup pipi Nadia. Bahkan dalam tidurnya pun calon Ibu dari anak-anaknya itu masih saja sesunggukan. Ini bukan kali pertama ia harus meninggalkan Nadia untuk menjalankan tugas. Sebagai seorang prajurit Gibran sudah mengalami yang namanya mutasi berkali-kali,di pindahkan kesana kemari mengikuti surat perintah dari atas, hampir pernah bertugas di seluruh wilayah nusantara. Tapi saat itu ia masih seorang bujangan. Ia hanya harus memantau Nadia kecil dari jauh dan memastikan semuanya baik-baik saja. Sekarang status mereka bukan lagi bapak dan anak asuhnya melainkan suami dan istri, dan tengah menanti kelahiran buah hati mereka. Jika keduanya harus berpisah pasti akan sangat berat untuk dijalani. Nadia dan calon bayinya butuh dirinya untuk menemani mereka memastikan semuanya akan tetap baik-baik saja.


Gibran menghela nafas berat. Dibaliknya badan Nadia untuk menghadap padanya. Ditatapnya lamat-lamat wajah sendu Nadia. Untuk kali kesekian ia harus mengecewakan Nadia lagi. Ia tidak tega harus meninggalkan gadis itu seorang diri tapi tugasnya sebagai seorang aparat negara sudah menanti di tempat baru. Beberapa pertanyaan mengenai kemungkinan-kemungkinan kedepannya berseliweran di kepala Gibran. Bagaimana dengan kehamilan Nadia? Bisakah mereka LDR dengan keadaan Nadia yang seperti ini? Jika Nadia ikut bersamanya, bagaimana dengan kelanjutan pendidikannya? Bagaimana kalau Nadia tidak bisa hidup di daerah kecil seperti tempat tugasnya nanti? Gibran mengenal baik bagaimana kebiasaan istrinya itu yang suka menghabiskan waktu nongkrong bersama sahabat-sahabatnya atau berbelanja. Apakah Nadia mampu menjalani hidup yang jauh berbeda dengan gaya hidupnya selama ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus saja bermunculan hingga membuatnya lelah berpikir, mengantarnya untuk terlelap dengan Nadia yang berada dalam pelukan hangatnya.


.


.


.


"Nad, ayo bangun. Solat subuh." Gibran mengguncang pelan bahu Nadia. Gadis itu menggeliat memaksakan matanya menyesuaikan dengan sinar yang berasal dari cahaya lampu. Saat matanya terbuka hal pertama yang ia lihat adalah wajah teduh suaminya yang sudah siap berangkat ke mesjid.


"Jam berapa?" Tanya Nadia serak.


"Jam setengah lima. Ayo bangun." Gibran menarik kedua tangan Nadia membantunya untuk duduk.


"Mata Nad bengkak ya Om?" Tanya Nadia menyentuh matanya yang terasa berat di buka. Gibran mengangguk. Di elusnya pipi Nadia dengan lembut.


"Om ke mesjid. Jangan tidur lagi." Lanjut Gibran.


"Iya." Nadia keluar dari selimut lorengnya dan langsung melipatnya dengan rapi. Kata Gibran itu merupakan salah satu tips agar Nadia tidak tergoda untuk kembali bergelung dalam selimutnya.


"Assalamualaikum." Ujar Nadia sembari mengambil tangan Gibran untuk disalami.


"Waalaikumsalam." Balas Gibran. Laki-laki itu kemudian beranjak hendak keluar kamar namun tarikan di ujung baju kokonya menghentikan langkahnya.


Ia menoleh dan mendapati Nadia memandangnya dengan tatapan tak bisa ia artikan. "Kenapa?"


Nadia menggeleng, ia berjalan pelan menggapai Gibran, memeluk laki-laki itu dari belakang "Doain Nad semoga tidak membakar kantor Komandan Om" ujarnya teredam di punggung Gibran.


"Hah?"


Nadia menggeleng, "Om pergi sana." Didorongnya punggung Gibran yang masih belum mencerna kalimat yang sudah ia ucapkan.


Dengan kening berkerut Gibran meninggalkan rumah. Ia tidak bisa dengar dengan jelas apa yang di ucapkan Nadia tapi yang pasti itu ada hubungannya dengan Komandannya.


Sepeninggal Gibran. Nadia masuk kembali dalam kamar. Ia melirik hp yang ada di nakas. Semalam ia diam-diam mengirim pesan untuk Om Samuel. Ia hanya perlu menunggu sebentar dan kemudian puuuuuufff-- Ketidakadilan akan hilang dari muka bumi, yang terpenting hilang dari hadapannya.


Setelah menunaikan solat subuh, Nadia kedapur untuk menyiapkan sarapan. Kali ini nasi goreng dengan telur berbentuk hati. Ia sudah berlatih beberapa kali dari youtube dan terakhir kali ia mencoba, rasanya sudah bisa diterima oleh lidahnya meskipun masih sedikit asin. Hal hebat lainnya yang bisa ia lakukan sekarang adalah memecahkan telor hanya dengan sekali ketuk tanpa meninggalkan kulit telor dalam wajan. Senyum Nadia mengembang melihat bentuk telur gorengnya sesuai dengan harapannya. Semua berkat cetakan yang diberikan Bu Agus sebagai ucapan terima kasih karena sudah mendapatkan make up ori yang bisa ia pamerkan saat pertemuan nanti. Nadia sudah menolak tapi siapa yang bisa menghadapi Bu Agus kalau sudah dalam mode menyebalkan. Bahkan spongebob pun akan menyerah menghadapinya.


Tok tok tok...


Gerakan Nadia mengaduk nasi terhenti. Suara ketukan pintu rumah di pagi buta saat suara Imam di mesjid masih terdengar membaca surah Al Fatehah, siapa kira-kira?Tidak mungkin itu Gibran. Lagipula kenapa Gibran harus mengetuk pintu di rumahnya sendiri? Nadia mematikan kompornya lalu berjalan ke depan, mengintip di balik jendela siapa sekiranya tamu yang tidak tahu aturan itu.


"Maaf, tidak menerima sumbangan." Ujar Nadia datar. Ia cukup terkejut mendapati wajah sembap Prada. Drama apalagi ini Ya Allah. Pagi-pagi bukannya didatangi malaikat pembawa rejeki malah di datangi musibah. Nadia melipat tangannya di dada dengan gaya angkuh.


"Kapten Gibran?" Prada berujar lirih. Dih, mau sok dilembut-lembutin bagaimanapun rahangnya tidak bisa berbohong. Batin Nadia sewot. Belum habis masalah Elsa, ada lagi masalah baru. Sepertinya Omnya memang harus diamankan dari kawanan wanita-wanita gagal move on seperti ini. Nadia jadi penasaran, pelet apa yang dipakai oleh Omnya sampai membuat dua wanita cerdas seperti Dokter Elsa dan Lettu Prada jadi hilang setengah kewarasannya? Ah iya, Om kecenya itu kan memang terbaik, cakep iya, cerdas iya, penyayang iya, banyak uang iya, soleh apa lagi. Rejeki wanita solehah seperti dirinya bisa mendapatkan lelaki favorit itu. Mungkin Dokter Elsa dan Lettu Prada kurang kenceng mengetuk pintu langit, beda dengan dirinya yang memang kesayangan Allah jadi sekali membatin langsung diberi, hihi.


"Ke mesjid lah tante. Tante gak ada jam di rumah atau gimana, subuh-subuh udah nangkring aja di depan rumah orang."


Prada melirik jam di pergelangannya. Iya kepagian tapi--


"Boleh saya masuk?"


"Gak boleh! Jam berkunjung belum di buka." Ujar Nadia tanpa basa basi. Mana penampilannya tidak sopan lagi, minta bangat di hujat.


"TAPI INI PENTING!" Suara Prada meninggi. Nadia hampir terjengkat karena kaget. Untung saja ia tidak mengidap penyakit jantung.


"BODO AMAT TANTE." Aneh bangat jadi orang. Datang-datang malah mengamuk. Siram aer neh!


Prada mengucap wajahnya frustasi. Bagaimana bisa laki-laki sehebat Gibran menikahi gadis cabe-cabean, kasar dan ugh-- coba saja ia yang menikah dengan laki-laki itu.


"Ini soal mutasi Kapten."


Raut wajah Nadia sempat menegang mendengar kalimat Prada tapi segera ia memperbaiki ekspresinya. Bagiamanapun juga masalah ini tidak ada urusannya dengan Prada.


"Bukan urusan tante." Ujar Nadia dengan nada suara tak nyaman.


"Saya bisa menolong. Papa punya pengaruh di atas, mutasi kapten bisa di batalkan kalau saya meminta papa untuk--"


"Tidak, Lettu Prada."


Nadia mendongak. Baik dirinya maupun Prada dibuat terkejut dengan kehadiran Gibran. Laki-laki itu melangkah ringan menghampiri keduanya.


"Terima kasih tapi ini surat perintah untuk saya. Tolong jangan ikut campur."


"Ta-tapi kapten--" Prada tergagap, ia menghapus airmata di pipinya dengan punggung tangannya. Hal itu membuat Nadia memutar bola mata jengah. Siapa yang punya suami, siapa yang menangis. Ckck harus ia apakan tante satu ini. Bucinnya sudah mendarah daging, sampai level kronis. Persis kakaknya, si manusia mesum yang suka memaksakan diri.


"Apapun yang menjadi keputusan pimpinan, tugas kita sebagai prajurit adalah patuh dan taat. Tentu Lettu Prada tidak akan lupa soal itu." Jelas Gibran dengan suara tegasnya.


"Tapi saya tidak mau Kapten kemana-mana. Saya sudah sejauh ini, tolong jangan tinggalkan saya--hiks"


Gibran mengernyit. Ada apa dengan lettu Prada? Gibran menoleh pada Nadia yang hanya mengedikkan bahu acuh.


"Saya tidak paham dengan situasi ini tapi sebaiknya Lettu Prada kembali ke rumah. Tidak akan baik untuk Lettu jika orang-orang melihat keadaan Lettu yang seperti ini."


Prada yang sejak tadi menundukkan kepala, mengangkat wajahnya. Sebuah pengharapan terbit di wajahnya.


"Kapten peduli dengan saya?"


Kali ini Nadia yang dibuat melongok. Astagaaaaa benar-benar g*la wanita ini.


"Maksud saya. Anda membuat Saya dan istri merasa tidak nyaman." Ralat Gibran. Maksudnya tadi menggunakan cara halus tapi sepertinya orang-orang disekitarnya akhir-akhir ini selalu salah mengartikan maksudnya. Baik Dokter Elsa dan Lettu Prada, keduanya terlalu lemah dalam memahami sebuah penolakan.


Nadia hampir saja menyemburkan tawanya jika saja tidak dilirik oleh Gibran. Kasihan sekali Omnya itu, ditaksir oleh wanita-wanita gagal paham. Untung dapat istri yang cerdas, cantik dan ceria. Cempurnaaaa! Batin Nadia bangga.


"Saya tidak bermakud--sa-saya hanya--"


"Prada!"


Ketiga pasang mata itu menoleh. Lionel datang dengan wajah panik dan khawatir.


"Kak Lio." Tangis Prada pecah, ia langsung menghambur dalam pelukan Lionel yang datang dengan sweater untuk menyelimutinya.


"Kenapa disini?"


"Pra--"


Lionel menoleh pada Gibran dan Nadia yang memandang keduanya dengan tatapan datar. "Maaf mengganggu. Kami akan pulang."


"Cepet pulang!" Ujar Nadia yang selalu diliputi emosi setiap kali berhadapan dengan Lionel.


Lionel mengangguk lalu membawa Prada yang terisak dalam pelukkannya untuk pulang ke rumah.


"Tante Prada suka sama Om. Om gak tau?" Tanya Nadia kesal. Kadang ketidakpekaan Gibran membuat para wanita jadi salah paham dan itu membuat Nadia kesal.


"Gak peduli. Om suka sama Nad. Gimana dong?" Gibran tersenyum lebar, menggoda Nadia yang sudah merona.


"DASAR PLAYBOY TUAAA!!!"


Lha?


***