
Nadia duduk diatas ranjang sembari memperhatikan Gibran yang tengah memasukan pakaian-pakaian mereka dalam koper. Minggu depan Gibran sudah harus ke tempat tugasnya dan meninggalkan asrama yang sudah di tempatinya hampir dua tahun. Meninggalkan tempat nyaman memang akan selalu menjadi hal yang menyedihkan bagi setiap orang begitupun dengan Gibran. Ia sudah terbiasa dengan lingkungan di asrama dan kantor lamanya tapi bagi seorang prajurit tidak ada istilah menetap untuk selamanya. Setiap saat mereka harus siap untuk dikirim kemana saja dalam waktu yang tidak akan pernah mereka tahu.
"Nad gak mau bantuin?" Gibran melirik Nadia yang tampak asik memandanginya.
Nadia menggeleng, "Nad capek. Kaki Nad pegel bangat." Jawab Nadia sembari beranjak dari kasur untuk menghampiri Gibran.
"Apaan nih?"
Nadia menyengir, meloloskan dirinya duduk diatas pangkuan Gibran "Gendong." ucapnya melipat kaki dengan nyaman.
Gibran berdecak. Ia masih harus mengemasi banyak barang, barang Nadia tentunya tapi kelakuan yang empunya barang tidak bisa diajak kerjasama.
"Kapan kelarnya kalau begini?" Gibran menggoyangkan kakinya membuat Nadia tergelak. Bukannya turun, Nadia malah mencari posisi nyaman bergelung di dada Gibran. Jemarinya iseng membuat pola-pola di dada lebar Gibran yang hanya dilapisi kaos putih tipis.
"Tangan Nad jaga!" Gibran menahan jemari Nadia, meremasnya pelan. Nadia terkekeh, melepaskan jarinya dari kuasa Gibran.
"Lanjut!" Ujar Nadia mengabaikan tatapan datar Gibran. Ia hanya ingin seperti ini sekarang, bersama Gibran. Rasa-rasanya ia akan cukup walaupun hanya memiliki Gibran seorang. Omnya itu memberikan segalanya untuk dirinya, kasih sayang orangtua, teman bertengkar layaknya saudara, sahabat untuk bercerita, dan tentu saja seorang kekasih yang luar biasa menyenangkan.
"Gimana mau lanjut kalau Nad gini? Turun."
Nadia menggeleng, "Gak. Nad mau kayak gini. Terserah gimana cara Om nyelesaiin tugasnya." keukeh Nadia, mengalungkan tangannya di leher Gibrna.
Cuuuuuup.
"Wangi." Nadia menyengir setelah berhasil mengerjai Gibran. Kalau cuma bikin merah-merah leher dia juga bisa.
"Nad ngapain tadi?" Tanya dengan suara berat.
"Gak ngapa-ngapain." Elak Nadia, terkikik geli. Puas melihat wajah merah Gibran yang sudah pasti otewe on fire.
"Jangan iseng." Tegur Gibran yang hanya mendapat anggukan tak berarti dari Nadia. Gibran yang selalu kalah jika dihadapkan dengan sikap manja Nadia tak bisa berbuat banyak. Ia membiarkan Nadia duduk nyaman dalam gendongan. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk melipat beberapa pakaian yang terhambur.
"Om, tadi Nad ketemu tante Elsa di Mall. Kerudungnya di lepas lho Om?"
Gibran menghentikan kegiatannya melipat "Di lepas gimana? Ada orang iseng yang lepas gitu?"
Nadia menggeleng, "Enggak Om. Tapi tante Elsa emang gak pake kerudung."
"Nad salah liat mungkin." Gibran melanjutkan lipatannya.
"Ck enggak Om. Om pikir Nad buta apa. Ada Mamanya Tante Elsa juga. Tanya aja Om Gio kalau gak percaya. Tadi Nad ketemu di kafe sama Om Gio."
Kali ini Gibran benar-benar meninggalkan kegiatan melipatnya "Ketemu Gio di kafe? Ngapain? Berdua?"
Nadia memutar bola mata, "Kenapa? Mau dicemburuin juga?" Nadia berujar sebal. Ini Gio lho, astagaaaa.
"Ya kamu ngapain ketemu cowok berduaan di kafe?" Gibran mode menyebalkan mulai kambuh lagi.
Nadia mengetatkan rahangnya, menahan diri untuk tidak menggigit dagu lebah bergantung lelaki kekar kekanakan yang kini menatapnya tajam, "Cuma ketemu doang kalik Om. Jangan lebay deh. Om Gio juga gak mungkin nikung ibu hamil."
"Kenapa gak?"
Nadia menghela nafas frustasi, "Astagfirullah Oooom, ughhh gemesh bangat pengen gigit. Ugh!" Nadia memukul dada Gibran gemas.
"Kok mukul? KDRT!"
"Ya udah laporin Nad. Laporin! Bagus bangat ntar caption-nya SEORANG KAPTEN DIANIAYA OLEH ISTRINYA YANG MASIH SMA! Biar viral ngalahin si kekep boneka anabel itu. Sebel bangat Nad!" Untuk ukuran orang sebel, Nadia terlalu nyaman duduk diatas pangkuan seorang yang sedang menjadi sumber kekesalannya.
"Ngomong pelan." Ujar Gibran mengusap telinganya yang nguing-nguing gara-gara semproten suara cempreng Nadia.
"MAKANYA JANGAN NYEBELIN. NUDUH-NUDUH, EMANG NAD CEWEK APhhmmppphh" Mata Nadia membola.
Gibran mengunci mulut Nadia dengan ciuman panjang. Memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir Nadi yang selalu menggemaskan saat mengomel.
"Hah hah hah... " Nadia menarik nafas dengan rakus. Di depannya Gibran menyeringai puas, melihat bibir Nadia yang merah akibat ulahnya.
BUK!!!
"OM MAU BUNUH NAD?!"
Gibran tertawa renyah, "Gak lah. Om mau kasi Nad yang nikmat-nikmat."
"Om-om otak mesum!!!"
Gibran semakin tergelak mendengar makian dari bibir mungil Nadia "Om-om otak mesum ini ayah calon bayi Nad." ujar Gibran menepuk kepala Nadia.
BUK! BUK! BUK!
"Rasain!"
"Mau lagi?" Goda Gibran.
MAU!!!
"Gak! Minggir! Nad mau tidur." Nadia beranjak dari pangkuan Gibran lalu menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Gibran yang sudah kehilangan mood berkemas langsung menyusul Nadia diatas ranjang.
"KYAAAAA!!!"
"Mau lari kemana kamu, hum?" Gibran melompat tepat diatas Nadia, menopang tubuhnya dengan siku menumpu diantara kedua disisi badan Nadia.
"Om jangan macam-macam ya. Ingat kata dokter." Nadia mengacungkan tangan menahan wajah Gibran yang turun semakin dekat dengan wajahnya.
"Dokter yang mana? Om gak ingat." Gibran menyeringai.
Nadia yang semakin terpojok langsung menoleh kesamping sehingga bibir Gibran berakhir mencium bawah telingannya.
"YAK!!!"
"Kenapa sih? Jangan teriak-teriak nanti tetangga denger." Gibran menyingkirkan tangan Nadia yang menangkup bibirnya dengan kedua tangan.
"Om jangan macam-macam. Nad gigit nih!" Ancam Nadia yang malah membuat seringai Gibran makin lebar.
"Boleh juga. Mau gigit yang mana, ini, ini atau ini?" Ujar Gibran menunjuk bagian-bagian tubuhnya sendiri yang membuat wajah Nadia serasa mau terbakar.
"Ikh! Mulutnya ya Allah!" Nadia hendak menarik rambut Gibran tapi sayang sekali si bapak tentara paham betul bahwa rambut cepak sangat membantu dalam menghindari amukan istri.
"Nad Mau ibadah gak?" Tanya Gibran tanpa melepaskan tatapannya dari wajah manis Nadia.
"Nad udah solat isya. Ibadah apa lagi?" Nadia sewot.
"Ibadah malam jumat."
"Yasinan? Gak. Besok aja di rumah Bu Agus."
"Bukan. Ibadah yang lain." Gibran berujar sabar. Menjelaskan pada gadis kecil seperti Nadia tentang salah satu ibadah sunah di malam jumat membutuhkan keterampilan komunikasi yang hebat supaya tidak terjadi miskomunikasi.
"Ibadah apaan?" Tanya Nadia mulai tak sabar untuk mengetahui jenis ibadah yang satu itu.
"Nad mau tau?" Tanya Gibran balik.
Nadia mengangguk cepat. Lalu saat melihat seringai nakal Gibran, Nadia mulai menyesali keingintahuannya itu.
"O-ommphhhh"
Dan seperti kata sebuah lagu, Gibran dan Nadia akan membuat kenangan yang terindah di rumah hijau itu sebanyak yang mereka bisa sampai kemudian waktu mengharuskan mereka untuk meninggalkan tempat itu.
***
"Mau bantuin panen."
Gibran melirik penampilan Nadia. Topi sawah, kaos tangan, sepatu lumpur dan sebuah keranjang pink tempat biasa ia menyimpan sayuran yang sudah di cuci.
"Lengkap bangat." Ujar Gibran takjub. Totalitas seorang petani yang mau memanen di kebun belakang. Luar biasa.
"Safety first dong Om. Gimana sih." Nadia mendelik pada Gibran yang menurutnya sangat tidak paham tips dan trik memanen yang aman.
"Baiklah." Gibran mempersilahkan. Panjang urusannya kalau ia menanggapi celotehan Nadia.
"Om pegangin keranjangnya biar Nad yang gunting-gunting."
"Bisa?" Tanya Gibran sanksi.
Nadia mengangguk yakin "Bisa dong. Gunting doang mah kecil."
Gibran manggut-manggut lalu menyerahkan gunting pada Nadia si ahli perkebunan yang hebat. "Ini guntingnya kayaknya tumpul deh Om."
"Bukan tumpul. Nad nya yang gak pandai. Sini biar Om aja." Gibran mengambil alih gunting dan menyerahkan keranjang pada Nadia. "Ikuti Om."
"Siap, Kapten."
Nadia membenarkan posisi topi sawahnya lalu mengikuti Gibran yang mulai memanen sayur mayur hasil kebunnya.
"Om, cerita Nad belum kelar semalam."
"Cerita yang mana?" Tanya Gibran sembari sibuk menggunting.
"Soal tante Elsa."
"Oh, masih mau dilanjut?"
Nadia mengngguk, "Supaya Om gak syok aja pas liat sendiri."
Gibran mengangguk, "Lanjutkan!"
Nadia berdehem, "Khm. Kata Om Gio, Tante El hijaban karena mau sama Om. Bener gitu?"
Gibran mengedikkan bahu "Gak tahu. Gak nanya-nanya juga."
Nadia manyun. Ya pake feeling dong bambaaaank. Duh, punya suami kanebo kering emang kadang-kadang menguras hati.
"Udah pasti bener. Udah di lepas tuh kerudungnya."
"Kok Nad nyinyir? Katanya gak suka dinyinyiri. Nyinyirin orang malah semangat." Tegur Gibran.
Nadia menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Yakan Nad cerita Om."
"Oke. Tapi jangan sampe jatuhnya jadi ghibahin orang. Kita gak ada hak menilai niat orang Nad. Semua itu hanya Allah yang tahu. Yang penting Nad jadikan ini pelajaran, apapun yang Nad lakukan jangan karena manusia tapi karena Allah. Biar gak sia-sia apa yang dilakuin."
"Seperti Nad ya, Om? Nad Mencintai Om karena Allah."
Gibran menoleh. Kening tebalnya bertaut "Itu bukannya judul lagu ya?"
"Ish!"
Tawa Gibran pecah melihat wajah tengsin Nadia. "Duuuh, lucu bangat istri Om."
Nadia menepis tangan Gibran yang hendak meraih pipinya. "Jangan rese deh. Harus bangat Nad letusin balon hijau biar Om tau kalau hati Nad lagi kacau sekarang?!"
"Ya Allah Naaaad." Gibran semakin tergelak, tak bisa menahan tawa dengan kelucuan Nadia. Ada-ada saja.
***
"Tan, kami titip puppy ya."
Bu agus yang tadinya tengah menyiram taman bunganya langsung berkaca-kaca melihat salah satu bayi ayamnya tumbuh dan berkembang sebagai ayam hedon yang penuh dengan aksesoris, pita besar di leher, gelang lucu di kakinya dan jangan lupakan kedua sayapnya yang blink-blink.
"Dek Nad dan Pak Gibran kapan berangkat? Sedih bangat aku lho dek ditinggal kalian." Bu Agus mengait lengan Nadia, menyandarkan kepalanya di bahu Nadia sembari tersedu-sedu.
Nadia yang sedikit risih dengan konde menjulang Bu Agus yang hampir saja menusuk matanya langsung mengelak "Tan, mata Nad nanti kecolok."
Bu Agus terkekeh, "Aduh maaf dek, gak sengaja lho."
Nadia mengiris, "Iya tante. Itu kondenya waspadain ya. Kasian ntar ada korban."
"Iya dek hehe. Ngomong-ngomong bapak dimana Dek? Kok gak muncul?"
"Oh itu. Lagi rapiin isi lemari. Masih banyak yang belum dikepakin. Oh Ya tan, ini kotak make up Nad. Masih baru semua. Nad belum sempat unboxing, buat tante. Kenang-kenangan dari Nad." Nadia menyerahkan satu make casenya yang bermerek Chanel dengan isinya yang menyilaukan mata Bu Agus.
"I-ini untuk saya, Dek? Semuanya?"
Nadia mengangguk. "Maaf ya Tan. Nad gak tau mau kasi apa. Jadinya ini aja. Mohon diterima."
"Waduh dek Nad, ini tuh udah Wow bangat. Makasih loh. Ini mahal bangat dek, gak sayang dikasiin saya?"
Nadia menggeleng, "Gak lah tan. Nad malah makasih bangat udah di pinjamin puppy buat Om Gi. Ngidamnya rewel tan, sampe pusing saya ngadepinnya."
Bu Agus terkekeh, "Namanya juga ngidam, Dek. Tapi sekarang udah gak kan ya? Soalnya Dek Nad udah gak uring-uringan lagi. Biasa pagi-pagi udah kedengaran tuh sampe rumah."
Nadia meringis, "Kedengaran ya, Tan?" Semoga yang teriak-teriak semalam gak kedengaran, malu bangat ya Lord.
"Dek Nad kenapa? Kok mukanya merah gitu?"
"Eh itu, gak Tan. Gak apa-apa. Ya udah, itu aja ya Tan. Nad balik dulu. Mau bantu-bantu Om Gi beberes. Tolong jagain puppy baik-baik. Oh ya, Tan, Puppy gak bisa makan jagung mentah atau dedak. Biasa makan beras merah atau pisang masak gitu. Nanti bisa mencret kalau salah makan."Jelas Nadia, menjelaskan detail kebiasaan hedon puppy yang membuat Bu Agus hanya bisa geleng-geleng kepala. Kesombongan yang haqiqi si puppy, mentang-mentang di asuh orang kaya. Bu Agus membatin.
"Oh iya, Dek. Iya." Bu Agus mengangguk cepat. Urusan mencretnya Puppy bisa dipikir belakangan.
Nadia lalu kembali ke rumah setelah berpamitan dengan Bu Agus. Hari ini sisa membagi-bagikan sayur ke tetangga. Nadia jadi bersemangat melakukannya, ia bisa sekalian pamit dan maaf-maafan dengan para tetangganya di rumah hijau. Coba saja ada giat persit, ia bisa izin sekalian dengan para tetuanya. Meskipun memiliki pengalaman yang kadang tidak menyenangkan tapi tetap saja ada kebaikan dari setiap pertemuan.
"Om giiiii!!! Suamikuuuuuh, sayangkuuuuh, Omkuuuuuh, dimana dirimuuuu?"
Gibran yang sedang mengumpulkan buku-bukanya menoleh, Nadia tampak bersemangat setelah seharian berkeliling membagikan perabotannya pada para tetangga. Perabotan yang dibeli gadis itu hanya karena warnanya pink tanpa tahu fungsinya untuk apa.
"Jangan lari-lari." Gibran mengingatkan. Kelincahan Nadia kadang menjadi ketakutan tersendiri untuknya. Kadang ia membayangkan mengikat Nadia saja dalam rumah agar tidak perlu menghawatirkan dua kesayangannya itu dapat masalah.
Nadia menyengir "Iya, Om. Nad gak lari kok."
Gibran mengelus puncak kepala Nadia "Jangan bikin Om khawatir."
Nadia mengangguk, kedua tangannya menyelip memeluk pinggang Gibran erat "Nad bakalan kangen tempat ini. Kangen Bu Agus, Kangen lapangan, kangen kolam asrama, Om Gio, Om Dewa, Om jojon. Nad bakal kangen mas sayur sampe kang cilok juga Nad kangenin. Nad bakal kangen The Girls, kangen semuanya-- hiks. Kenapa kita harus pergi Om? Hiks."
Gibran menghapus airmata Nadia. Ditangkupnya pipi yang mulai gembul itu dengan lembut, "Om akan dengar apa yang Nad inginkan. Kalau Nad masih ingin di kota ini, Nad boleh tinggal. Om bisa sesekali mengunjungi Nad atau sebaliknya."
Nadia terdiam. Ia teringat setiap ucapannya saat memasuki setiap ruangan pimpinan Gibran. Saat itu, meskipun dalam keadaan yang tak dilandasi oleh hati, ia tahu, setiap kata siap yang ia ucapkan menuntut konsekuensi dalam pengamalannya. Seperti halnya saat ia diharuskan mengikut dimanapun suaminya bertugas, saat inilah ia harus membuktikan dirinya sebagai seorang Persit sejati. Membuktikan bahwa Gibran tak salah memilihnya sebagai pendampingnya dalam berjuang.
"Nad ikut Om. Nad akan berada di tempat dimana Om berada." Ucapnya tanpa keraguan sama sekali.
Jika Gibran patuh pada atasan sebagaimana sumpahnya sebagai seorang tentara, maka ia akan patun dan ikut dimanapun suaminya pergi sesuai jati dirinya sebagai seorang persit.
***
Teruntuk kakak yang sudah berjuang sekian tahun menanggung rindu demi tugas mulia. Tetap semangat, kamu inspirasiku 🤗🤗🤗
Untuk kamu yang diluar sana, cinta tak akan pernah mengubahmu menjadi buruk. Jika cintamu hanya menghadirkan rasa benci, mungkin kamu harus mengecek lagi, apakah itu benar cinta atau hanya ego seorang manusia sombong.