Little Persit

Little Persit
Wanitanya Om Gibran



"Senyum lo lebar bener udah kayak iklan pasta gigi."


Nadia semakin melebarkan senyumnya mendengar sindiran Sandra. Ia sedang bahagia sekarang jadi kalau cuma ocehan Sandra masih bisa di tangkis manja.


"Habis dapat jatah semalam?"


Nadia mendengus. Yang ada Gibran yang tiap malam ngambil jatahnya. Udah kayak minum obat aja tuh orang nyosornya, sampe tiga kali sehari. Belum lagi setelah ia resmi menjadi wanitanya Gibran, haduh semua spot di cobain si Om sampai Nadia tidak mengenali dua bisulnya lagi yang sudah tumbuh dan berkembang saking seringnya di ubek-ubek sama Omnya. Hadeh, resiko punya suami yang puasa 35 tahun, di maklumi aja kali yak. Perlu diapresiasi tuh si Om bisa tahan sebagai lelaki suci sampai umurnya kepala tiga padahal nafsunya laki-laki kan bisa di bilang satu banding seratus sama cewek.


"Gendis dan Aleksis mana?" Tanyanya mengabaikan kalimat terakhir Sandra.


"Gendis lagi ada sembahyang di pura. Kalau Aleksis, mungkin lagi ikut arisan sama maminya. Nah lo ngapain disini? Gangguin gue aja-wadooww!!! Kepala gue di geplak. Anjiiir gue laporin Om Gi mampuus lo di rendam di kolam asrama."


Nadia memelet "Gak bakal. Om Gi sekarang udah jinak." Ujar Nadia dengan senyum kemanangan.


"Lo apain tuh Om favorit gue? Ngedukun lo ya?"


"Astagfirullah mulutnyaaaa-- heh, gak perlu ngedukun, tinggal gue bukain nih dua kancing baju gue Om Gi langsung hilang akal."


"Anjiiiir nih cewek."


Nadia terbahak melihat tatapan horor Sandra. Ya mau gimana lagi, kenyataannya emang gitu. "Nyalon yuk! Udah lama bangat gak luluran."


"Kapan?"


"Bentar. Gue izin Om Gi dulu." Nadia mengetik pesan singkat untuk Gibran.


To Om Gi


Nad mau nyalon. Ada duitnya gak nih si merah putih?


From Om Gi


Ada.


"Asiiiik!!!" Nadia berseru senang. Punya suami pengertian memang rejekinya wanita baik-baik seperti dirinya.


"Sekarang?" Sandra melemparkan makanan terakhir untuk ikan-ikan kecilnya.


"Yup keburu malam. Kasian Om Gi ditinggal."


"Om Gi kemana emang?"


"Mancing."


Sandra menegang "Mancing? Hati-hati lo, sekarang di tempat mancing udah ada jasa nemenin."


"Jasa nemenin? Apaan tuh? Baru denger gue."


"Itu lho, cewek-cewek gak bener ngajuin diri buat masang umpan mancing padahal mah aslinya mancing plus plus."


"Ada ya jasa kayak gitu?"


Sandra menepuk heboh "Adalah. Lagi viral tuh di fb."


"Lo main fb?" Nadia sudah lama vakum dari Medsos sejuta umat yang satu itu. sejak IG menyerang ia lebih sering update disana sekaligus untuk mengasah bakat edit foto yang ia miliki. Kali-kali dapat endors kan.


"Buat mantau situasi." Ujar Sandra terkekeh. Dasar cewek medsos.


"Udah yuk, jalan. Om Gue gak bakal mempan sama umpan cacing, udah ada gue yang mancingin dia tiap malam hehehe"


"Hih otak lo makin ngeres aja."


"Bodo. Suami gue ini. Lo tutup kuping aja. Awas lo salah gaul."


Sandra memutar bola mata malas "Lo yang ajarin dodol."


***


"Assalamualaikum suamikuuuu. Yuhuuuuu Wanita cantikmu sudah pulaaaaang." Nadia membuka pintu depan yang tidak terkunci dan langsung ke dapur. Sudah pasti si suami tengah sayang-sayangan sama sayur mayurnya di kebun belakang.


"Waalaikumsalam." Gibran mengulas senyum manis melihat Nadia tampak sangat segar setelah menghabiskan hampir setengah dari gajinya bulan ini "Senang?"


Nadia manggut-manggut "Bangat. Om senang?"


Senang bagaimana kalau jerih payahnya sebulan habis hanya dalam waktu dua jam.


"Jawabnya setelah Om cek sebentar." Gibran menaik turunkan alisnya.


Nadia mencibir. Alasan aja tuh, bilang saja mau ngelus-ngelus.


"Nad lapar. Sayurnya udah boleh di panen??"


"Mau masak sayur benih?" Tanya Gibran datar. Sayuran baru saja netas dari bijinya minta di panen.


"Gak." Nadia menyengir lebar melihat wajah masam Gibran. Memang paling senang dia kalau urusan menggoda Omnya. Wajah kaku kanebo keringnya makin lucu kalau sudah manyun-manyun menggemaskan.


"Nad mau masak spesial malam ini. Om mau?" Teriaknya dari arah dapur.


"Mie pakai telor?"


"Yap, benar sekali bapak. Anda berhak mendapatkan hadiah sepiring mie telor dari chef Nadia."


Gibran menggelengkan kepala melihat Nadia melongokkan kepalanya di pintu dapur. "Gak usah. Nad rapikan saja barang-barang di kamar mandi." Ujar Gibran.


"Emang kenapa lagi tuh kamar mandi? Perasaan Nad udah rapi-rapi deh." Gumam Nadia yang terdengar jelas oleh Gibran. Rapi-rapi apanya, modal mindahin pasta gigi saja bagian mana yang dibilang rapi-rapi.


"Om, Di grup persit lagi ngebahas ramon. Siapa sih? Bos baru? Katanya pagi ini keluar." Nadia muncul kembali di depan pintu dapur membawa serta segelas susu pisangnya. Gibran yang sedang menyemprot sayurannya mendongak.


"Remun Nad bukan Ramon."


"Whatever-- penting bangat tuh orang sampe ibu-ibu heboh di grup?"


Gibran mengulum senyumnya, bagaimana mungkin ada seorang istri tentara tidak kenal remon padahal sudah itu yang ditunggu-tunggu.


"Remunerasi Nad, semacam gaji tambahan. Bukan orang." Jelas Gibran dengan sabar.


"Gaji tambahan? Wah pantas ibu-ibu rame. Bisa belanja-belanja tuh." Nadia sudah membayangkan bagaimana senangnya para Ibu-ibu yang sudah setia sekali mengabdi akhirnya bisa masuk salon memanjakan diri seperti dirinya. Apalagi Bu Agus yang sudah lama mengincar panci pink jualan Bu Ketut.


"Nad belum cek?"


Nadia menggeleng "Belum. Nadia asal bayar aja tadi."


Gibran mengangguk. Nadia mana pernah mengalami ATM kosong, uang belanja menipis dan segala macam bentuk utang piutang. Selama ini hidup Nadia tak pernah kekurangan. Gibran yang meskipun gajinya tidak bisa dibandingkan dengan uang Gaudia Grup tetap mengusahakan agar uang pendidikan Nadia memakai gajinya sendiri sejak Nadia resmi jadi istrinya begitupun dengan jajan Nadia yang tidak bisa di bilang murah mengingat bagaimana gaya hidup istrinya yang terbiasa dengan barang-barang bermerek. Untungnya sejak mereka menikah, perlahan tapi pasti Nadia sudah mulai mengurangi porsi belanjanya. Gibran tentu tidak menghalangi istrinya apalagi membatasi uang jajannya tapi sepertinya Nadia mulai mengerti bahwa kini ia hidup sebagai istri seorang yang digaji negara bukan sebagai pewaris sebuah perusahaan raksasa meskipun statusnya tetap sebagai pewaris tunggal Gaudia Grup.


"Kamar mandi sudah beres?" Tanya Gibran ketika dilihatnya Nadia duduk santai di beranda bambu yang ia buat.


"Udah dong."


"Pinter."


"Mindahin sikat gigi aja kan?" Tanyanya polos.


"Semuanya Nad. Masuk sana. Beresin botol shampo"


"Baru tau?"


.


.


.


"Lima puluh? Duh parah Nad. Ini waktu guru ngajar Nad ngapain?"


"Merhatiin."


"Terus kenapa bisa dapat lima puluh?"


"Gak tau. Padahal pas ngasi contohnya gampang bangat lho Om, tiba giliran ngasi soal, beuh S3 lewaaat. Masa ya pas nyontohin cuma pake rumus dasar, tiba ngasi soal belibet pake rumus turunan. Kan gak bener tuh. Yekan?"


Gibran menggeleng samar "Iya terserah. Perhatiin bukunya."


Nadia manggut-manggut. Akhirnya ia harus menjadi murid kapten Gibran Al Fateh, mana ngajarnya bawa-bawa penggaris panjang lagi. Udah kayak zaman penjajahan aja nih. Belajar di bawah tekanan, mana paham. Gara-gara si manusia mesum, ngapain juga pake ikutan buka les. Gimana mau maju pendidikan indonesia kalau guru lesnya otak kotor seperti orang itu.


"Mistarnya jauhin dong Om. Ngeri Nad." Nadia menggeser tangan Gibran yang memegang mistar panjang di tangan kirinya.


Gibran menghela nafas pendek. Kesabarannya benar-benar di uji di meja belajar Nadia. Bagaimana mau mengerti kalau kerjaanya sejak tadi memandangi muka Gibran seolah Gibran adalah perwujudan blasteran surga yang membuat Nadia enggan mengerjap.


"Nad belajar yang bener deh. Katanya mau jadi Ibu yang baik, cer--"


Nadia menegakkan tubuhnya cepat "Emang Om mau hamilin Nad lagi?"


Gibran mengatupkan rahangnya. Untuk ukuran seorang remaja yang baru saja kehilangan keperawannya dan calon bayinya, Nadia tergolong manusia santuy yang mudah move on. Biasanya kalau gadis remaja ada malu-malu maunya tapi Nadia, hah, istrinya ini terlalu luar biasa untuk di golongkan gadis polos karena jelas sekali Nadia extra ordinary.


Gibran mengetuk kepala Nadia gemas, harus ia apakan anak ini supaya dia paham bahwa hamil di usia muda sangat mengancam keselamatannya dan juga calon bayinya. "Nanti kita konsul sama dokter." Ujar Gibran akhirnya.


"Kapan?" Tanya Nadia tak sabar.


"Nanti kalau Om liat Nad sudah usaha keras untuk belajar. Jadi--"


"Nad udah belajar keras lho Om. Gak liat nih jadwal belajar Nad udah kayak jadwal artis." Sela Nadia menunjuk jadwal belajar yang sudah di susun Gibran.


"Iya, makanya belajar yang serius. Sayang kan jadwalnya bertumpuk tapi gak ada yang masuk di kepala Nad."


"Iya. Nad serius neh." Nadia meletakkan kedua tangannya di atas meja pura-pura serius membaca bukunya.


Gibran mengulas senyum tipis. Di elusnya rambut Nadia dengan sayang "Jadi Ibu gak mudah, Nad. Nad nanti jadi sekolah pertama untuk si adek bayi. Nad bayangin aja jalau adek bayi nanya trus Nad gak bisa jawab, gimana? Makanya belajarnya harus lebih giat lagi." kata Gibran dengan penuh kesabaran. Ia sudah merenungkan baik-baik ucapan Dewa. Nadia tidak bisa ia perlakukan seperti dulu layaknya seorang anak. Tidak serta merta menghukum Nadia ketika ia salah dan memarahinya di tengah keramaian. Semua akan mereka bicarakan dengan baik-baik sebagai mana pasangan pada umumnya menyelesaikan masalah.


"Nad akan belajar betul-betul. Supaya nanti adek bayi bisa bangga sama ibunya." Nadia menyengir lebar. Gulungan rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja.


"Nad pengen sekali punya bayi?" Tanya Gibran sembari menyibak rambut Nadia yang jatuh di tengkuknya dengan folpen yang ia pegang.


"Bangat Om. Nad pengen punya sebuah keluarga seperti orang-orang." Ujar Nadia menerawang jauh. Sebuah senyum getir terbit di wajah manisnya kala mengingat dirinya yang tak memiliki ayah dan bunda lagi.


"Om keluarga Nad."


Nadia mengangguk "Iya tapi Nad pengen keluarga yang ada ibu, ayah dan anak-anak di dalamnya." Katanya sembari tersenyum getir. Kedua matanya yang berpendar indah mulai berkaca-kaca. "Nad bisa punya keluarga yang seperti itu kan Om?" tanyanya menahan luapan emosi di sudut matanya.


"Bisa. Nad akan punya keluarga yang seperti itu." Diraihnya gadis kecil itu dalam pelukan hangatnya.


"Nad juga pengen Om, ada Ayah, bunda seperti Sandra, Aleksis dan gendis. Ada Bunda yang ngingetin buat makan. Ada ayah yang ngebela kalau ada yang isengin." Ujar Nadia tergugu.


"Nad punya Om." Ucap Gibran lirih mengecup lama pelipis Nadia. Om akan jadi apapun yang Nad inginkan.


***


"Selamat pagi suamiiiii. Liat dong Nad ngapain? Huhuhu masak nasi goreeeeeng." Nadia menarik Gibran yang baru saja pulang dari solat subuh untuk memamerkan hasil kerja kerasnya.


"Tumben."


"Ya doooong. Sebagai wanitanya Kapten Gibran Al Fateh, Nad harus melayani dengan baik. Menjadi istri yang juara."


"Bukannya anak ya yang juara?"


"Hadeeeh itu iklan Om." Nadia memutar bola mata sebal. Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali berbinar.


"Liat dong Om. Hasil Nad belajar." Katanya bangga menunjukkan hasil masakannya.


"Kok kayak bubur, Nad?" Gibran menyendok nasi goreng yang lebih cocok disebut bubur minyak hasil olahan istrinya dengan bentukannya yang sangat berantakan.


"Nasi goreng,om, tapi karena gak sengaja minyaknya ketumpah banyak, ya udah deh gitu hasilnya." kata Nadia dengan senyum yang belum pudar dari wajahnya.


"Nad udah coba?"


Nadia menggeleng "Belum."


Nah kan. Gibran mencubit gemas pipi Nadia "Dicobain dulu. Kalau cocok di lidahnya Nad, Om makan." ucap Gibran lalu meninggalkan Nadia yang tampak ragu-ragu melihat hasil racikannya. Minyak setengah liter tidak membunuh kan ya?


Nadia memutuskan meninggalkan masakannya. Ia sendiri ragu akan rasa masakannya apalagi melihat minyak yang pasti akan bertrasformasi menjadi lemak-lemak jahat di perutnya. Kalau dia lemakan dimana-mana, kan bisa mengancam eksistensinya sebagai cewek modis, langsing, dan cantik. Aduuuh mimpi buruk dong itu. Nadia mengedikkan bahu ngeri.


"Gimana masakannya? Udah Nad coba?"


"Gak jadi hehe. Om yang masak ya." Pinta Nadia sembari gelantungan di punggung kokoh Gibran yang tengah menyiapkan pakaian dinesnya.


"Nad udah setrika tuh tapi gak kebentuk ya lipatannya?" Nadia mengintip dibalik punggung Gibran. Sudah hampir satu semester menikah dengan Gibran tapi ia belum juga sukses membuat lipatan yang diinginkan Gibran diseragamnya.


"Gak apa-apa nanti Om yang bentuk. Makasih." Gibran mengecup rambut Nadia cepat.


"Sama-sama." Nadia menangkup pipinya kesenangan.


"Seragam Nad mana? Biar Om sekalian setrika."


Nadia menggeleng "Gak usah Om. Udah rapi."


"Bener?"


Nadia mengangguk "Yup. Padahal Nad mau lakuin sesuatu buat Om tapi malah gak ada yang beres."


"Gak apa-apa. Nad cuciin kaos kaki Om saja udah cukup." Ujar Gibran membesarkan hati Nadia.


"Bener Om? Wangi kan? Nad pakein pewangi terus Nad semprotin juga parfum Nad yang dari paris." Terang Nadia bersemangat.


"Wow!" Gibran menggeleng takjub. Parfum yang seharga motor itu di pakein Nadia menyemprot kaos kaki? Luar biasa sekali Nadia Gaudia.


"Senang gak?" Tanya Nadia harap-harap senang.


Gibran mengangguk cepat "Senang dong." Cuma parfum nya apa tidak sayang di semprotin kaos kaki?


Hah sudahlah, kalau habis tinggal beli lagi. Itu kata Nadia.


***


Readeeers masih nungguin??? Maaf ya gak bisa banyak2 up coz author lagi holiday hihihiii