
"Elsa!"
"Ya?" Elsa tersenyum lembut pada Gio yang menghampirinya ke dapur, "Ada apa Yo?"
"Bisa bicara sebentar?"
Elsa mengangguk, "Bisa. Yuk ke taman belakang." Elsa menyimpan gelas minumnya diatas meja lalu berjalan keluar rumah menuju taman samping.
"Kamu mau ngomong apa, Yo?" Tanya Elsa setelah keduanya duduk di bangku taman.
"Tentang omongan kamu tadi. Itu sudah keterlaluan namanya. Gibran diam seperti itu bukan dia menerima begitu saja ucapan kamu tentang Nadia."
"Keterlaluan?" Elsa tersenyum miring, "Elsa hanya berbicara fakta."
Gio menggeleng tak habis pikir, "Fakta yang mana? Kamu, Dewa dan saya tahu betul bahwa Nadia hanya menolong seseorang yang sedang dalam bahaya. Pasangan manis dari mana? Mikir El, kamu bisa menghancurkan rumah tangga orang lain jika begini terus." Gio menahan suaranya agar tetap stabil. Ia tahu mental Elsa tidak baik-baik saja tapi bukan berarti itu menjadi excuse untuknya bersikap seenaknya terlebih pada Gibran yang sudah ia anggap sebagai saudaranya.
Elsa memalingkan wajahnya kearah lain. Matanya mulai berkaca-kaca, "Abang gak tau perasaan Elsa. Abang gak pernah berada di posisi Elsa. Elsa cinta Bang Gibran. Elsa kesiksa disini." Elsa menjerit tertahan menunjuk dadanya. Wanita yang menganakan kerudung instan itu menghapus kasar airmata yang meleleh di pipinya.
"Cinta tidak membuat orang jadi jahat, El. Cinta tidak seperti ini."
"Tau apa kamu tentang cinta? Kamu gak tau apa-apa yo karena kamu tidak pernah merasakannya."
"Tidak pernah merasakannya ya?" Gio terkekeh miris. Elsa memang tak akan pernah mengerti dirinya sebab yang ada di dalam pikirannya hanya ada Gibran, Gibran dan Gibran. Jadi untuk apa itu repot-repot berbicara, "Ya. Kamu benar. Hanya kamu disini yang memiliki perasaan sedangkan Gibran dan Nadia tidak. Kamu tidak perlu memikirkan perasaan mereka kan karena hanya kamu disini yang tersakiti." Gio berdiri dari bangku yang ia duduki. Disampingnya Elsa menatap kosong kolam renang di depan mereka.
"Buka mata kamu, El. Yang kamu rasakan saat ini bukan cinta tapi obsesi." Gio hendak pergi namun sejenak menahan langkahnya "Dan satu lagi. Walaupun kita semua berteman tapi salah tetap saja salah. Saya tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan rumah tangga sahabatku meskipun itu kamu-- permisi." Gio pergi meninggalkan Elsa yang tergugu di tempatnya. Dokter muda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu menangis.
Bang Gibran milikku.
.
.
Gibran menghentikan kendaraannya di depan sebuah mini market yang buka 24 jam. Ia ingat pesanan Nadia untuk dibelikan es krim dengan berbagai varian rasa. Gibran melepas seatbeltnya dan saat akan turun ia tak sengaja melihat sepatu milik Nadia yang sengaja ditinggal di mobil. Sebuah sepatu converse warna hitam kesayangan sang istri yang ia belikan dihari Nadia di skors dua hari karena memakai sepatu blink-blink berwarna merah muda ke sekolah. Senyum kecil Gibran terbit, ia memang menikahi seorang remaja. Remaja cantik dan baik hati. Senyumnya hilang saat mengingat omongan Elsa tentang istrinya yang begitu manis dengan seorang cowok. Pasangan manis? Gibran tersenyum sinis.
Lelaki itu turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko. Tujuan pertamanya adalah kotak penyimpanan es krim. Ia memilih berbagai rasa dan memperbanyak rasa pisang yang merupakan kesukaan Nadia. Setelah memilih sekantong es krim dengan banyak rasa, Gibran berjalan kearah lemari pendingin untuk membeli susu pisang yang juga salah satu minuman favorit Nadia. Ia mengambil sepuluh kotak susu dan membawa semua belanjaannya ke kasir.
"Selamat datang di toko kami." Sapa seorang kasir sembari memasang senyum terbaiknya. Gilaaaak ini malaikat pencatat amal baik di sepertiga malam nyasar disini ya?
Gibran tersenyum tipis, menyerahkan keranjang belanjaannya, "Tolong dihitung."
"Ini saja, Mas?"
Gibran melirik rak kecil disamping meja kasir, "Tolong satu bungkus kinderjoynya." Ujarnya yang langsung membuat kasir tersebut senyum-senyum tidak jelas. Mau dong jadi kinderjoynya. Sisi ganjennya meronta-ronta melihat barang bagus di depannya. Oh Astagaaaa untung saja shift malamnya tidak ia tukar dengan temannya kalau tidak, sudah pasti ia akan menyesal tujuh turunan karena melewatkan bertemu dengan malaikat berwajah manis itu. Itu lengannya tolong dong di kondisikan, jadi pengen gelendotan, atau dadanya juga bolehlah buat rebahan.
"Mbak? Hei!"
Ih gileeeee, ototnya doooong gak kukuuuuuu.
"Mbak? Hei! Mbak tidak apa-apa kan?"
"Eh-- hah?"
"Belanjaan saya, mbak." Ujar Gibran menunjuk es krimnya yang mengembun.
Mbak-mbak kasir itu terkejut, "Eh astaga, maaf, Pak. Maaf." Ia memukul kepalanya yang sempat-sempatnya ngehalu di depan pelanggan.
Gibran menggelengkan kepala pelan. Hari ini semua orang jadi aneh. Bukan hanya kelakuan dokter Elsa tapi mbak mini market juga. Ckckck.
"Semuanya dua ratus empat puluh lima ribu, Pak."
Gibran mengambil dompet dalam saku jaketnya dan saat mengambil uang, mbak kasir itu tak sengaja melihat foto seorang gadis SMA yang sangat cantik. Sontak hal itu mengembangkan senyumnya. Paman yang baik.
Gibran menyerahkan uang merah tiga lembar untuk membayar belanjaannya.
"Kembaliannya, Pak."
"Tidak usah."
"Eh?" Mbak kasir itu bingung. Kembaliannya banyak loh.
Gibran mengambil belanjaannya yang sudah di pindahkan dalan kantong plastik berlogo mini market tersebut, "Buat mbak beli obat."
"Saya sehat, Mas." Ujar Mbak kasir itu bingung.
"Oh begitu. Soalnya tadi saya liat mbaknya kurang fokus. Saya pikir mbak sakit."
Mbak kasir itu menggeleng, "Saya sehat, Mas" Jawabnya lirih. Sehat bangat malah setelah dapat suntikan nutrisi mata melihat yang bening-bening seperti Mas. Lanjutnya dalam hati.
"Kalau begitu buat mbaknya beli kinderjoy. Permisi." Gibran berlalu pergi dan saat pintu mini market tertutup, suara gubrakan seperti barang jatuh terdengar.
GUBRAAK!!!
Gibran melongokkan kepalanya kedalam mini market untuk mengecek apa yang telah terjadi dan yang ia lihat adalah mbak kasir tadi yang terlihat panik berusaha bangkit dari tumpukan barang dan membereskan rak kecil yang isinya terhambur.
Benar-benar butuh obat.
***
Sesampainya di rumah, Gibran mengatur belanjaannya kedalam lemari pendingin. Setelah mengatur belanjaannya ia langsung ke lantai dua masuk dalam kamar Pia yang sudah terlelap.
"Selamat malam, sayang." Ucapnya mengecup kening Pia yang tidur begitu nyenyak dalam box bayinya. Di samping box, diatas sofa panjang Nadia terlelap berbantalkan bantal awan milik Navia. Gibran menghampiri sang istri dan duduk di sisi sofa yang kosong. Ditatapnya lamat-lamat wajah lelap Nadia yang begitu tenang. Ia mengusap lembut pipi Nadia dengan hati-hati agar tak membangunkannya. Ucapan Elsa kembali terngiang saat ia hendak mengecup kening Nadia.
Pasangan kekasih yang manis?
Gibran tersenyum masam. Ia membatalkan niatnya untuk mengecup Nadia dan beralih menggendongnya ke kamar.
Setelah membaringkan Nadia, Gibran mengambil handuk dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengguyur kepalanya di bawah shower berusaha mengenyahkan kemarahan yang sempat bercokol di dalam hatinya karena ucapan Elsa. Gibran sengaja berlama-lama berdiri dibawah shower untuk mendinginkan kepalanya yang mumet. Hampir setengah jam Gibran berada dalam kamar mandi dan saat keluar, ia mendapati Nadia duduk di ranjang sembari mengucek-kucek matanya.
"Um."
"Kok malam bangat?"
"Ada urusan sedikit." Ujar Gibran membuka lemari mencari pakaian nyaman untuk tidur.
Nadia kembali merebahkan kepalanya diatas bantal tapi tidak memejamkan matanya. Ia memperhatikan Gibran yang tengah berpakaian.
"Gimana keadaan tante El?"
"Baik."
"Beneran kena lemparan batu?"
"Iya."
"Parah?"
"Tidak."
Nadia mengerutkan keningnya, Gibran aneh. Suaminya terlalu dingin. Well, Gibran memang tidak banyak bicara tapi selelah-lelahnya pun dia, tidak pernah menjawab pertanyaannya sesingkat ini. Ada apa? Nadia masih tak melepas tatapannya dari Gibran saat suaminya itu berbalik setelah mengenakan pakaian tidurnya.
"Kenapa?" Tanya Gibrn yang ditatap lekat oleh Nadia.
"Om aneh. Apa yang terjadi di rumah tante Elsa?"
Gibran menghembuskan nafas pelan, "Tidak ada." jawabnya sembari berjalan ke sisi ranjang.
Nadia tidur menyamping berbantalkan tangan menghadap Gibran, "Gak. Om aneh. Nad bisa ngerasain itu."
Gibran masuk dalam selimut lalu memadamkan lampu kamar, "Tidur." ujarnya menaikan selimut Nadia hingga sebatas dada.
"Peluk." Pinta Nadia.
Gibran merentangkan tangan kanannya dan senyum Nadia langsung mengembang. Wanita muda berpiyama hello kitty itu mendekat dalam dekapan Gibran berantalkan lengan kokoh laki-kali itu. Tangan kanannya memeluk pinggang Gibran sedangkan tangan kirinya menapak di dada hangat suaminya itu. Perlahan kantuk mulai menyerang Nadia dan tak lama nafasnya mulai teratur menandakan dirinya yang sudah terbang ke alam mimpinya. Sementara Gibran, lelaki itu tetap terjaga, menatap langit-langit kamar dengan pikiran berkecamuk.
.
.
"Om Giii... " Nadia turun dari tangga dengan hati-hati sambil membawa Pia dalam gendongnnya. Ia terbangun pagi tadi tanpa Gibran disampingnya padahal semalam ia ingat betul tertidur dalam pelukan suaminya.
Nadia berjalan ke ruang tengah tapi tidak ada siapapun. Ia kemudian ke dapur dan mendapati bibik sedang merapikan meja, "Om Gi sudah sarapan, Bik?"
Bibik yang tengah melap meja mengangguk, "Iya, Non. Katanya bapak ada urusan jadi tidak tunggu Non."
"Urusan? Urusan apaan emng, Bik? Kok Om Gi nggak bilang Nad?" Nadia duduk di kursi makan dengan perlahan. Pia yang anteng dalam gendongannya menyimak.
"Kurang tau, Non. Tadi bapak bilangnya cuma ada urusan dan menyuruh bibik untuk membangunkan Non tapi Non udah bangun sendiri." Jelas Bibik membuat perasaan Nadia menjadi tidak nyaman. Tumben sekali Gibran pergi tanpa memberitahu dirinya. Biasanya dalam kondisi apapun lelaki pasti akan berkabar terkecuali kalau memang sedang berada di hutan dan tak ada jaringan atau akses komunikasi.
"Om Gi pakai pakaian kantor, Bik?"
"Tidak, Non. Pakaian biasa." Jawab bibik, "Memangnya ada apa, Non?"
Nadia menggeleng, "Gak apa-apa, Bik." Ucapnya ditengah kebingungannya, "Tolong siapin sarapan ya. Nad mau mandiin Pia dulu."
"Baik, Non."
Nadia meninggalkan dapur lalu kembali ke kamar mereka. Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi dan jam sembilan sebentar ia harus ke kantor Pia untuk menghadiri rapat bulanan dengan istri tentara lainnya. Nadia memandangi layar hpnya tapi tidak menemukan satupun pesan dari Gibran untuknya.
"Dek, ayah kenapa ya?" Tanyaya pada sang putri yang kelihatan sama bingungnya dengan Ibunya. Bedanya Pia bingung karena ditanya oleh sang Ibu yang jelas ia tidak tahu apa-apa. Nadia mengusap wajahnya gusar. Ia kembali teringat akan sikap aneh Gibran semalam. Sudah pasti ada sesuatu yang terjadi di rumah Elsa. Akhirnya daripada bingung tanpa alasan yang jelas, Nadia memutuskan untuk menelfon Dewa. Panggilan pertama, telfon teman Omnya itu masih aktif tapi tidak diangkat. Panggilan kedua, hp Dewa dialihkan ke kotak suara. Nadia memutuskan untuk menelfon Gio tapi hp lelaki itu malah tidak aktif. Sementara Vina dan Jonathan, ia tidak memiliki nomor hp dua orang itu. Elsa? Nadia menggeleng. Ia tidak akan menelfon yang satu itu karena Elsa pasti akan punya senjata untuk memojokkannya jika ia tahu Gibran pergi tanpa sepengetahuannya. Big No. Nadia tak akan memberi celah siapapun untuk mengacaukan perasaannya.
Nadia memutuskan untuk mengurus Pia terlebih dulu. Masalah Gibran akan ia pikirkan nanti.
"Ayo, Dek, kita mandiiiiii" Nadia menggendong Pia membawanya ke kamar mandi yang khusus diranjang untuk Pia.
Setelah memandikan Pia, memberi Asi dan menyetoknya, Nadia kembali ke kamar dan membaringkan bayinya itu dikamarnya dan Gibran. Nadia kembali mengambil hpnya dan masih tidak ada chat sama sekali. Ia mencoba menelfon namun tidak ada jawaban. Nadia mulai panik, bertanya-tanya apa yang sekiranya terjadi tanpa sepengetahuannya. Waktu terus berjalan dan ia harus segera berangkat ke tempat rapat.
***
Nadia keluar dari ruang rapat dengan wajah lelah. Ibu Komandan kali ini tidak hanya menyerangnya dengan kata-kata melainkan membebankannya dengan tugas berat, menyiapkan penyambutan untuk Ibu KSAU minggu depan. Nadia bukannya menolak atau tidak menyanggupi tugas tersebut tapi masalahnya dihari yang sama ia ada ujian semester dan dosennya tidak pernah menerima izin atau mengadakan ujian susulan untuk mahasiswa yang tidak hadis meskipun dengan alasan yang tidak jelas.
"Jadi gimana, Bu Gibran? Apa tidak sebaiknya sampaikan hal ini pada Pak Gibran? Siapa tau beliau bisa bicara langsung dengan Ibu Komandan untuk memberi ibu izin."
Memberi tahu Gibran ya? Nadia tersenyum lemah pada Bu Salman yang memberi ide yang sebenarnya cukup bagus itu jika saja Nadia tidak memikirkan teguran apa lagi yang akan diterima Gibran jika ia menolak atau mengajukan keberatan akan tugas Ini. Sudah cukup ia yang mendapat teguran, Gibran yang disiplin jangan.
"Nanti saya pikirkan, Bu. Semoga saja ada kebijakan dari dosen." Ucapnya tak yakin. Dosen pemegang salah satu mata kuliah wajib dengan enam sks itu termasuk dalam barisan dosen killer yang sulit ditemui dan dimintai kebijakan.
"Aamiin, semoga ya, Bu. Oh ya, saya duluan. Bapak sudah menunggu di depan." Pamit Bu salman.
"Iya, bu. Hati-hati." Nadia melambaikan tangan pada Bu Salman lalu meninggalkan tempat itu. Ia sudah mengubungi Mang yang masih di jalan karena tadi harus mengantar mbak dulu ke terminal sebelum menjemput dirinya.
Nadia memilih lapangan olahraga para tentara sebagai tempatnya menunggu. Banyak tentara muda yang sedang berolahraga sore. Beberapa diantaranya yang belum mengenalnya tertangkap basah sedang melirik kearahnya. Jelas saja yang bening seperti Nadia akan selalu menarik perhatian orang-orang. Tapi tak hanya para tentara muda itu, ada juga para tentara perempuan yang sesekali melirik padanya lalu berbicara dengan temannya. Nadia tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan tapi melihat dari raut penasaran mereka, sudah pasti bahasannya tak jauh-jauh tentang statusnya sebagai istri dari kapten mereka. Tapi Nadia tak peduli. Bukan kali pertama untuknya menjadi bahan ghibahan orang-orang.
Ketenangan yang semula didapatkan mulai terusik oleh sikap orang-orang itu yang tak lagi diam-diam menatap kearahnya, lebih tepatnya kebelakangnya. Karena penasaran, Nadia menoleh dan langsung berdiri seraya mengaga lebar melihat sosok pria tampan menghampirinya.
Nadia masih mempertahankan posisinya saat satu bucket besar mawar merah terulur di depannya.
"Untuk malaikat penolongku."
Oh My God!
***