
Nadia terbangun tengah malam saat merasakan tenggorokannya kering. Ia mengernyit saat tak mendapati Gibran di sampingnya. Laki-laki itu tidak mungkin serius kan tidur di luar? Ia menyibak selimut loreng yang membungkus tubuhnya lalu keluar kamar.
Matanya menangkap siluet Gibran yang tertidur meringkuk di depan televisi hanya memakai sarung loreng tanpa atasan. Nadia melirik jam di dinding yang sedang menunjuk pukul satu malam. Ia mendekati Gibran, hendak mengguncang bahunya namun saat tangannya menyentuh kulit laki-laki itu, ia tersentak.
"Om, Om bangun!" panggilnya khawatir dengan pelan mengguncang bahu Gibran yang tak tertutup sama sekali namun tidak ada pergerakan dari laki-laki itu.
"Om, please, jangan ngerjain Nad. Banguuun!" Suara Nadia bergetar saat mendengar helaan nafas Gibran yang terdengar berat. Ia berpindah menepuk-nepuk pelan pipi Gibran.
"O-oom, bangun!" Gadis itu mulai diserang panik. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. "Om Gi!" Ucapnya pelan. Ia bersimpuh menangkup kedua pipi Gibran.
Gibran menggeliat, merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Ia membuka mata pelan dan langsung bersibobrok dengan mata Nadia yang berkaca-kaca.
"Om jangaaan mati." Ucap Nadia lirih.
"Om belum mati." Ucapnya serak lalu dengan susah payah duduk bersandar di sofa. Di elusnya pipi Nadia yang menatapnya khawatir. "Jangan menangis."
Nadia menghapus airmata di pipinya. Dia memegang kening Gibran, mengabaikan ucapan laki-laki itu. "Om sakit. Ayo pindah ke kamar."
Gibran mengangguk. Ia bangun dibantu oleh Nadia yang begitu susah payah memapah badan besar Gibran yang menang banyak dari dirinya.
"Nad ngapain bangun malam-malam?"
"Haus." Cicitnya, menyedot air hidung yang ikut terjatuh dengan airmatanya. Ia membaringkan Gibran di atas ranjang lalu menyelimutinya. "Nad kompres ya?" Tanpa menunggu, Nadia langsung berlari ke dapur untuk mengambil air hangat dan juga handuk kecil yang tersimpan dalam laci lemari tv.
Dengan sedikit kebingungan, Nadia mencelupkan handuk dalam air hangat. Sebelumnya ia tidak pernah mengurus orang sakit sehingga mendapati keadaan Gibran seperti ini tanpa orang lain kecuali dirinya membuat dia kelimpungan.
"Peras dulu handuknya." Gibran membuka handuk kecil yang diletakkan Nadia di keningnya. Wajahnya basah bahkan sampai mengalir di bantalnya karena Nadia meletakkan begitu saja handuk tanpa di peras terlebih dulu.
"Maaf, Nad gak tau." Nadia mengelap wajah Gibran dengan tangannya lalu meletakkan kembali handuk yang sudah di peras.
"Ambilin obat di kotak P3K." Ujar Gibran lemas. Nadia bergegas ke ruang tengah dan kembali membawa kotak P3K yang selalu tersedia di rumah mereka.
"Yang mana?"
"Para*etamol."
"Om bisa minum?"
Gibran terkekeh, menanyakan seorang tentara bisa minum obat atau tidak sama halnya menanyakan seorang pilot bisa menyetir atau tidak.
"Nad mau pake cara Om?"
Gadis dengan rambut acak-acakan itu menggeleng kuat. Cara Gibran maksudnya ya mouth to mouth. Cukup saat sehat saja Gibran memanipulasinya, kalau sakit begini iman Nadia pasti kuat tak tergoyahkan.
"Nad ambilin air." Ujar Nadia, segera menghilang dari tempat itu.
***
Gibran terbangun saat adzan subuh menggema. Ia mengernyit merasakan sakit di kepalanya belum juga membaik. Sepertinya obat yang diminumnya semalam hanya bisa membantunya untuk tertidur. Ia menoleh ke sampingnya dan tidak menemukan Nadia yang biasa subuh seperti ini masih bergelung nyaman dalam selimutnya. Gibran menurunkan kakinya diatas lantai, merasakan dinginnya lantai keramik menjalar dari telapak kakinya. Dengan langkah gontai lelaki itu keluar kamar mencari sosok persit kecilnya. Denting sendok beradu dengan panci menarik langkahnya menuju dapur. Ia menyandarkan badannya di dinding, mengamati Nadia yang tengah melakukan sesuatu dengan alat dapurnya. Semoga saja tidak ada yang pecah, batinnya melihat blender kaca di samping gadis itu.
"Nad ngapain?"
Nadia menoleh menunjukkan cengiran lebarnya "Masak bubur." Ujarnya memberikan akses pada Gibran untuk melihat ke dalam wajan. Pandangannya kemudian jatuh pada butiran beras yang berhamburan di lantai, Lalu pada air beras yang menetes dari atas pantry, ulekkan yang berwarna putih, dan terakhir blender. Apa urusannya semua benda ini? Gibran memijat kepalanya yang semakin pusing melihat kondisi dapurnya yang menyedihkan.
"Hati-hati." Ujarnya kemudian berlalu menuju kamar mandi mengabaikan semua kekacauan yang ada di depan matanya.
Nadia mengedikkan bahu, kembali mengaduk bubur buatannya yang tampak mulai kecoklatan. Sebuah prestasi besar bagi dirinya yang tidak pernah mengenal peralatan dapur yang akhirnya bisa memasak bubur yang resepnya ia tonton langsung dari youtube. Ia akan memamerkan keahliannya yang satu ini pada Sandra, Aleksis dan Gendia. Ketiga gadis manja itu sudah pasti tidak bisa melakukan apa yang sedang di lakukannya sekarang, Hah, Nadia memang yang terbaik. Nadia terkikik Geli membayangkan wajah bloon ketiga sahabatnnya saat mengetahui ia telah sukses memasak semangkok bubur istrimewa. Belum lagi melihat reaksi Om Gibrannya, huh, pasti akan sangat menyenangkan merekam wajah speechless laki-laki paruh bayah itu merasakan nikmatnya bubur buatannya. Ah, membuat video reaksi pasti sangat menarik.
"Kamu gak apa-apa?" Gibran duduk di kursi makan menyorot Nadia yang sedang menyendok bubur buatannya dalam mangkok bergambar ayam jago sembari bersenandung riang.
"I am Totally ok." Nadia meletakkan cangkir di tangannya di hadapan Gibran "Bubur ayam spesial dari chef Nadia." Ujarnya bangga berbanding terbalik dengan ekspresi yang di tunjukkan laki-laki di depannya. Gibran menyendok bubur di depannya memperhatikan dengan seksama benda asing yang seharusnya tidak berada dalam mangkok itu.
"Kulit telur?"
"Ops. Nyempil." Nadia segera mengambil kulit telur tersebut dan membuangnnya begitu saja. "Selamat menikmati." ujarnya tak berdosa.
Apa yang bisa dinikmati? Gibran meringis. Seumur-umur ia baru melihat kulit telur dalam mangkok bubur bercampur dengan suiran daging ayam yang tak beraturan. Belum lagi warna buburnya yang hampir menghitam dan cair seperti makanan pendamping bayi yang belum memiliki gigi membuat tampilan 'bubur ayam spesial' di depannya benar-benar spesial.
"Berasnya kenapa bisa mencair begini?" Gibran mengangkat satu sendok dan menunjukkannya pada Nadia yang duduk dengan penuh antusias di depannya.
"Nad blender." Jawabnya cepat.
"Kenapa di blender?"
"Biar berasnya matang dong, Om. Gimana mau jadi bubur kalau berasnya biji-bijian gitu, makanya di blender biar lembek jadi bubur." Jelasnya seperti seorang chef handal yang sedang menjelaskan menunya tapi di telinga Gibran malah terdengar seperti seseorang sedang membuat lelucon.
"Kan dimasak, Nad. Pasti lembek lah." Gibran menggelengkan kepala takjub. Tapi apa yang bisa di harapkan dari seorang Nadia saat terjun ke dapur, bisa membuat roti slay tanpa kesalahan saja sudah merupakan suatu prestasi yang luar biasa.
"Ck, udah, yang penting mateng. Om makan gih, supaya lanjut minum obat." Nadia terdengar seperti orang dewasa saat mengatakannya. Gibran harus menandai hari ini sebagai hari baik, jarang sekali Nadia bisa anteng seperti ini bahkan sampai membuatkannya 'bubur ayam spesial'. Mungkin memberikan bubur ini pada prajurit yang tidak disiplin akan menyenangkan.
"Makan dong. Atau Om mau disuapin Nad?"
"Gak usah. Nad solat saja."
"Setelah Om menghabiskan buburnya." Ujar Nadia yang langsung di bantah Gibran.
"Sekarang."
Gibran menghela nafas lelah. Semoga saja ia tidak muntah setelah memakan bubur di depannya ini. Melihat bentuknya saja sudah sangat mengerikan, apakabar dengan rasanya.
Gibran memasukan bubur ke dalam mulutnya, dan tanpa mau berlama-lama menikmati rasanya, bubur itu langsung tertelan olehnya. Benar-benar buruk. Rasa asin seperti melelehkan lidahnya, entah berapa sendok Nadia memasukan garam ke dalamnya.
"Nad belum rasa buburnya?" Tanya Gibran setelah setengah mati menahan diri untuk tidak memuntahkan isi perutnya.
"Nggak dong, Om. Nad kan mau Om yang nyicip duluan." Katanya enteng. Dan lagi-lagi Gibran hanya bisa menghela nafas pasrah. Iya selalu penasaran apa yang di pikirkan oleh seseorang saat memasak tanpa mencoba masakan tersebut terlebih dulu dan langsung menyajikannya pada orang lain. Bukankah lidah gunanya untuk merasa?!
"Gimana rasanya?" Nadia menunggu dengan cemas namun juga excited dengan pendapat Gibran. Kalau menurut penilaiannya, masakannya itu hampir mendekati angka seratus. Pasti sangat enak.
"Nad bisa nilai sendiri. Buka mulut." Gibran menyendok lagi bubur di depannya dan mendekatkannya di depan bibir Nadia. Tanpa pikir panjang gadis itu membuka mulut dan--
BYUUUUUURRRR!!
"Weeeeeek!!! MAKANAN APAAN INI??? pueeh... puhh puhhh asin bangat iiih." Nadia menyemburkan bubur yang masuk dalam mulutnya diatas meja. Untung saja Gibran cukup bersiap diri sehingga ia bisa menghindari muncratan bubur spesial dari mulut Nadia.
"Minum." Gibran memberikan minumannya pada Nadia. Mata gadis itu memerah, menahan rasa mual dan juga perasaan sedih karena gagal menyajikan sarapan yang layak untuk Gibran padahal ia sudah berusaha keras untuk membuatnya.
"Maafin Nad." Nadia menunduk dalam. Ia sesunggukan menahan isakannya. Lagi-lagi ia gagal melakukan sesuatu untuk Omnya. Bangun subuh bukan masalah untuknya tapi Gibran butuh sarapan agar bisa minum obat dan untuk melakukan itu saja ia tidak bisa.
"It's ok, Nad. Om masih bisa makan roti." Ujar Gibran menenangkan gadis di depannya itu. Dengan lembut di usapnya rambut Nadia. "Terima kasih, Nad sudah berusaha membuatnya." ucapnya tulus. Melihat gadis ini tanpa satu lukapun sudah menjadi kesyukuran untuk dirinya. Bagi Nadia yang tidak pernah memegang peralatan dapur sebelumnya, Gibran harus mengucapkan terima kasih pada gadis itu karena tidak menyebabkan kebakaran atau melukai dirinya dengan peralatan dapur.
"Tapi Om harus minum obat. Gak ada sarapannya. Buburnya rasa kaos kaki." Tangisan Nadia pecah, ia mengangkat wajahnya menatap Gibran nanar yang malah tersenyum lembut kearahnya.
"Om gak peduli dengan buburnya. Melihat usaha Nad saja sudah sangat luar biasa. Lain kali nanti Om ajar masak bubur rasa ayam bukan rasa kaos kaki." Ucapnya menahan geli. Ada-ada saja, memangnya siapa yang pernah makan kaos kaki. "Sekarang Nad buatin Om roti slay."
Nadia menghapus airmatanya dengan punggung tangan "Pake susu?"
"Jangan. Kan mau minum obat."
Nadia mengangguk lalu beralih membuka lemari penyimpanan makan dan mengeluarkan roti dan slay dari sana.
"Om mau rasa apa?"
"Keju."
Nadia mengangguk. Benar, roti satu-satunya keahliannya. Perasaan bersalah mengusiknya, ia melirik Gibran dengan sudut matanya, laki-laki itu tengah membersihkan bubur yang terhambur diatas meja dengan tissue. Nadia menyeka airmata yang mengalir di sudut matanya. Sampai kapan ia menjadi orang tidak berguna seperti ini?! mungkin jika bukan dirinya, ada seorang wanita dewasa yang mengurus Gibran dengan baik, Elsa mungkin atau Si devi-devi itu sekarang. Keduanya adalah orang yang terbiasa merawat orang lain bukan seperti dirinya yang bahkan menyiapkan bubur layak makan saja tidak bisa. Ia merasa kecil sekarang. Tak berguna dimata orang lain mungkin tak masalah bagi dirinya tapi lain ceritanya kalau itu Gibran, setidaknya ia ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk laki-laki yang telah berjasa besar dalam hidupnya bukan malah semakin menyulitkan hidupnya.
"Mikir apa hm?"
Nadia terkesiap. Pisau di tangannya terlepas saat merasakan Gibran tiba-tiba memeluknya dari belakang. Helaan nafas hangat Gibran sangat terasa menyapu kepalanya. Ia yang hanya sebatas dada laki-laki itu terkurung diantara pantry dan tubuh besar Gibran membuat posisinya sangat tidak nyaman. Belum lagi wangi Gibran yang menguar membuatnya semakin kehilangan orientasi.
"Mikir apa hm?" Ulang Gibran sekali lagi. Kedua lengannya melingkari bahu Nadia, menarik gadis itu merapat padanya.
"Nad gak berguna." Cicit Nadia setelah mendapatkan kembali kamampuannya berbicara. Ia menatap selai roti di depannya.
"Siapa yang bilang?"
"Nad."
Gibran menghela nafas, ia mengecup puncak kepala Nadia berkali-kali "Nad bukan barang jadi tidak akan pernah berguna untuk Om. Nadia sangat berarti. Jangan karena hal sepele Nad jadi seperti ini."
"Tapi Nad--"
"Jangan bicara yang tidak penting seperti tadi. Saya tidak suka."
Nadia terdiam. Saat Gibran tak lagi menyebut dirinya dengan sebutan 'om' itu berarti ia benar-benar merasa terganggu. Nadia mengangguk. Ia berbalik, menyerukkan kepalanya di dada hangat Gibran.
"Maafin Nadia." Katanya lirih. Kedua tangaanya memeluk erat tubuh besar Gibran merasakan hangat badan laki-laki itu di tubuhnya. Jika ia diberi kesempatan bertemu lagi dengan kedua orangtuanya, ia akan berterima kasih kepada kedua orang yang sangat disayanginya itu karena telah bersahabat baik dan mengenal Gibran sehingga sekarang ia bisa memiliki laki-laki ini dalam hidupnya. Jika tidak ada Gibran, ia tidak tahu bagaimana nasibnya.
"Jangan katakan apapun yang buruk. Hidup dengan bahagia dan sehat. Itu sudah cukup untuk Om."
Nadia mengangguk. Ia mendongak untuk menatap wajah lelaki hebatnya itu. Satu tangannya mengelus pipi Gibran "Om masih panas. Harus makan dan minim obat." Ujarnya lirih. Ia tak pernah melihat Gibran sakit sebelumnya, karena laki-laki itu hanya akan menunjukkan dirinya yang sehat di hadapannya.
"Om tidak perlu obat pahit. Om punya obat sendiri."
"Ap--"
Cup.
"Ini obat Om." Kata Gibran setelah mendaratkan kecupan lembut dari bibirnya yang pecah-pecah pada bibir lembut Nadia yang menatapnya lucu.
"Lagi." Ucap Nadia setelah sadar dari kekagetannya.
Gibran terkekeh, mengelus permukaan bibir bawah Nadia dengan tangannya yang besar "Om tidak mau menularimu." ucapnya mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Nadia.
***
Laki-laki hebatnya Nadia.
Obatnya Om Gibran.