Little Persit

Little Persit
Hari H



Nadia mengetatkan ikatan tali sepatunya. Ia sudah berdiri di garis start bersama beberapa orang lainnya yang juga bersiap untuk berlomba melintasi garis akhir lapangan. Sore ini ia mewakili kelompok istri Angkatan Udara untuk melawan kelompok dari istri angkatan Laut, dan Darat. Setiap angkatan mewakilkan tiga peserta untuk masing-masing lomba dan berhubung Nadia yang tergolong bugar maka ibu-ibu lain memintanya bergabung di tim lari bersama dua lainnya. Niatnya hanya mau jadi tim hore malah gagal. Panas-panasan dan mengeluarkan keringat benar-benar bukan hobinya. Kalau bisa ia ikut lomba peragaan busana saja atau tim lain yang tidak mesti menguras tenaga tapi jangan lupakan Bu Agus yang selalu punya cara untuk meletakkannya pada posisi yang tidak menguntungkan.


"Ayo, Nad, semangaaaat!!!" Teriakan tiga orang remaja yang masih mengenakan seragam SMA menggema menarik perhatian orang-orang. Nadia memijat pelipisnya menahan pusing gara-gara melihat kelakuan ketiga sahabatnya yang bukannya pulang malah meniatkan untuk menggaet salah satu prajurit untuk diajak jalan. Tiga gadis menyebalkan yang sayangnya sahabat dekatnya itu tidak tau betapa menikah dengan seorang prajurit tak semanis drama korea dimana di tengah gempuran musuh saja masih bisa terlihat romantis. Hah, yang benar saja, sejak kapan bom yang gelantungan di leher terlihat uwu, rasanya Nadia ingin memaki penulis skenario yang sudah meracuni pikiran orang-orang dengan cerita manis seperti itu. Lagian, kalau Nadia pikir-pikir, Gibran tidak ada sama sekali manis-manisnya seperti si Kapten dari negri gingseng itu. Buktinya sekarang, dia yang berjuang membawa nama baik Angkatan Udara tidak di tonton sama sekali malah sibuk entah kemana.


Priiiiiiiiit!!!!


Bunyi sempritan ketiga para peserta berlari begitupun Nadia sekuat tenaga mengerahkan kemampuannya untuk memenangkan pertandingan. Bukan masalah hadiahnya tapi Nadia memperjuangkan harga dirinya di depan para ibu-ibu yang selalu memandangnya sebelah mata, gadis manja yang tidak bisa dikena sinar matahari, terutama tante agus yang julidnya semakin parah.


Nadia melihat garis finish sudah dekat di depan matanya. Sebentar lagi ia akan mencapai kemenangan, orang-orang menyorakinya, memberi semangat kemenangan untuk dirinya. Jangan lupakan Ketiga super berisik yang sudah menunggu di garis finish dengan kalung bunga dan juga minuman segar. Demi apapun, ia tidak pernah menginginkan hal melelahkan seperti ini kalau bukan karena perintah. Ck. lama-lama ia akan seperti Gibran yang hanya bisa bilang 'siap' tiap mendapat perintah dari atas. Miris sekali nasibnya.


"AYO NAAAAD SEMANGAAAAAT!!!" Teriakan Sandra si suara toa memacu kecepatan langkahnya. Dua orang ibu di belakangnya menyusul hampir mengejarnya. Nadia merasakan pasokan udara disekitarnya mulai menipis, dadanya terasa sesak dan dunia terasa berputar. Mengabaikan semua kesakitan itu, Gadis yang mengenakan ikat kepala berwarna jingga itu memaksakan kakinya untuk tetap berpijak diatas lintasan.


Saat tulisan finish tepat dipijakannya dan suara sorakan menggema, Nadia merasakan dunia berputar dan semuanya menjadi gelap.


***


"Bagaimana Nadia, Dok?"


"Dehidrasi. Kalian tenang saja sebentar lagi akan sadar." Dokter yang berjaga di klinik tersenyum lembut pada tiga orang remaja yang tadi begitu panik mengikuti Nadia di bawa ke klinik oleh petugas kesehatan.


"Alhamdulillah." Sandra berujar lega diikuti Gendis dan Aleksis.


"Om Gi belum tau ya?" Bisik Gendis.


"Sepertinya." Sahut Aleksis. Ketiganya duduk di samping Nadia sementara dua ibu persit yang menunggui Nadia duduk di ruang tunggu.


"Gue cari Om gi. Kalian jagain Nad." Aleksis melepaskan tas ranselnya "Titip." Aleksis baru akan keluar dari klinik saat suara berat menyapa ketiganya.


"Ada kalian?"


"Om Giii!!!" Ketiganya berujar serentak merasa lega dengan kehadiran Om sekaligus suami sahabat mereka itu. Sandra si ketua club GiLov sampai lupa mengatupkan rahangnya karena terpukau dengan ketampanan Gibran yang semakin berlipat kerennya saat laki-laki itu mengenakan seragam tentaranya belum lagi keringat yang meleleh di pipinya. Satu kata untuk Om-om keren ini, SEDAAAAAP.


Gibran mendekati brangkar Nadia, mengelus puncak kepala gadis itu yang masih memejamkan mata.


"Dehidrasi, Kapt. Sebentar lagi Ibu sadar." Terang dokter yang sejak tadi hanya tersenyum simpul mengamati tiga remaja yang sedang terpukau menatap lelaki idaman para tentara wanita maupun petugas medis di pangkalan udara.


"Terima kasih, Dok." Gibran meraih selimut Nadia, menutupnya hingga dada. "Kalian tolong temani, Nad. Saya masih ada pekerjaan di lapangan." ujarnya pada Aleksis Cs.


"Siap, Om." Jawab mereka serentak seperti pasukan pada pimpinannya. Gibran mengulas senyum tipis.


"Terima kasih."


.


.


.


"Om, Nad bisa jalan sendiri. Turunin." Nadia menggeram, menyembunyikan wajahnya di dada Gibran. Laki-laki itu tanpa melihat situasi menggendongnya ala bridal style yang tentu saja mengundang semua mata tertuju pada mereka. Jarak antara klinik dan parkiran sudah seperti jarak antara matahari dan bumi, jauuuuuuuh, Nadia benar-benar ingin menghilang saja rasanya. Cobanya tidak banyak orang, ia sih senang-senang saja di gendong Gibran tapi ini kan rame bangat. Ulang Tahun TNI, yang benar saja dong, semua orang hadir di tempat itu. Tapi seperti biasa, Om Gibrannya tak peduli.


"Om sudah tidak ada kegiatan lagi?" Tanyanya setelah Gibran mendudukkannya di bangku samping kemudi.


"Om antar Nad. Nanti balik lagi kesini." Jawab Gibran sambil memasang seatbelt Nadia.


"Nad bisa nunggu disini kok, Om." Nadia menahan gugup saat wajah Gibran tepat di depannya, menatapnya.


"Om masih lama."


"Makanya. Nad mau disini." Cicit Nadia, menahan kedua pipi Gibran agar tidak semakin mendekat dengannya.


"Tidak. Nad pulang." Gibran menjauhkan badannya bersiap menutup pintu mobil namun lengannya di tahan Nadia.


"Please, Nad mau liat Om." Pintanya memelas.


Gibran menghela nafas pendek. Keras kepala dan Nadia memang cocok disatukan dalam kalimat yang sama.


"Nad janji hanya duduk diem." Gadis itu mengangkat kedua jarinya.


"Jangan nakal."


Nadia mengangguk kuat. Senyumnya terbit di wajahnya yang mulai kembali merona. Gibran lalu melepas lagi seatbelt Nadia dan kembali membawa gadis itu dalam gendongannya. Terserahlah sekarang, Nadia tidak peduli lagi dengan tatapan orang, yang penting sekarang ia bisa melihat Gibran memimpin pasukan untuk terjun payung.


"Duduk disini. Jangan kemana-mana." Gibran membawa Nadia duduk di bawah pohon rindang dengan beberapa orang yang juga hadir untuk menyaksikan atraksi luar biasa dari tim penerjung.


"Haus." Nadia menahan tangan Gibran.


"Tunggu." Gibran meninggalkan Nadia menuju kerumunan orang-orang. Acara hari ini benar-benar ramai. Semua orang tidak ingin kehilangan kesempatan menyaksikan antraksi luar biasa yang hanya bisa disaksikan dua kali dalam setahun yakni saat perayaan kemerdekaan negara dan pada saat sekarang, ulang tahun TNI.


Nadia yang meraskan tenggorokkannya kering memutuskan untuk mencari minum sendiri saat Gibran tak juga muncul. Ia meraba kantong celananya berharap menemukan rupiah disana namun sepertinya ia tidak cukup persiapan hari ini. Akhirnya dengan langkah pelan, ia berjalan menuju tenda dimana pada undangan dan juga beberapa rekannya sesama persit berada.


Tatapan Nadia menyipit, tak jauh dari tempatnya berdiri tampak Gibran sedang berbicara dengan seorang wanita yang tampak anggun dan polos. Lagi-lagi wanita polos, Nadia mendecih. Kenapa Om nya banyak sekali kenalan dengan orang-orang bermuka baik itu?! kesannya dia akan selalu menjadi tokoh antagonis disini.


"Om Gi!" Nadia melipat tangan di dada. Kedua orang di depannya itu menoleh.


"Kenapa kesini?" Gibran menghampiri Nadia sedangkan 'seorang wanita baik-baik lagi' itu menatap keduanya penasaran.


"HAUS. Rasanya Nad sampe mau mati tadi." Ujar Nadia hiperbola. Ia bahkan masih bisa ngegas dan sinis.


"Sorry, jauh ngambilnya." Gibran menyerahkan satu gelas minuman mineral pada Nadia yang belum melepas tatapannya pada sosok 'wanita baik-baik lagi'.


"Jauuuuh bangat sampe lupa sama ISTRI." Nadia membesarkan volume suaranya saat menyebut kata terakhirnya.


"Balik sana. Panas." Gibran yang paham kelabilan emosi Nadia merangkul bahu gadis itu untuk kembali ke tempatnya.


"Temannya ditinggal? Kan kasian." Sindir Nadia yang hanya ditanggapi senyum super tipis dari Gibran. Nadia yang sedang cemburu memang selalu tampak sangat lucu dimatanya. Terbiasa memiliki dirinya sendiri, saat melihat Gibran bersama orang lain, antena waspada Nadia seolah langsung aktif, dan Gibran menyukainya hanya saja tidak untuk sekarang saat semua orang sedang berada di lapangan.


"Cemburu liat tempat."


"Siapa yang cemb--"


"Iya, nggak ada. Om perlu gendong lagi?"


.


.


"Minum yang banyak." Gibran mendekatkan minuman Nadia, memegang gelas untuk gadis itu.


"Ganti chanel dong, Om. Nad mau nonton Tayo."


"Habisin makanan Nad."


"Iya bawel."


Gibran memindahkan chanel sesuai permintaan Gadis kecilnya. Dua orang berbeda generasi itu tampak nyaman duduk lesehan diatas karpet sembari menikmati makan malam mereka, ikan bakar yang cukup besar dan saus cocol racikan Gibran.


"Tante tadi siapa, Om?"


"Yang mana?"


"Yang di lapangan. Pura-pura pikun lagi." Nadia mencomot daging ikan yang sudah di pisahkan Gibran dari tulang-tulangnya.


"Oh, Devi." Gibran berujar santai, tak menyadari tatapan kesal Nadia di sampingnya.


"Dia yang devi-devi itu, Suka nyimpen foto suami orang." Ujar Nadia remeh.


"Belum jadi suami orang waktu itu." Gibran mengangkat gelas kaca di depannya, baru saja bibir gelas menyentuh bibirnya Nadia langsung memukul pundaknya keras.


"OM BELAIN TANTE ITU????" Tak hanya sekali, Nadia memukuli pundak Gibran berkali-kali "Om-om genit. DASARRRR." Nadia berujar gemas yang langsung di tahan oleh Gibran.


"Tangan Nad bau ikan."


"BODO. GAK MAU TAUUUU, OM TIDUR DI LUAR." Nadia terus saja memukuli Gibran yang malah membuat laki-laki itu tergelak.


"Ok."


Nadia yang mendapat jawaban menyebalkan itu semakin kesal. "OOOOOOOOOMMMM!!! NYEBELIN! RASAIN TUH BAU IKAN." Ia terbahak setelah puas melabuhkan tangannya yang bau ikan di kepala Gibran.


"NAD!"


"Weeeeeek!!!" Dengan langkah ringan Nadia berlari cepat menghindari Gibran yang siap membalasnya.


"mau kabur kemana hm?" Gibran berjalan pelan seperti predator yang sedang mengintai mangsanya. Kedua jari-jari tangannya sama halnya dengan Nadia penuh dengan sambal dan bau ikan bakar.


"Ampuuuun Om, Ampuuuun. Nad nyerah." Nadia mengangkat kedua tangannya sebagai tandai menyerah. Dia sudah terpojok di pojokan kamar tanpa bantuan penghalang apapun. Didepannya Gibran menyeringai dengan kedua tangan mengancung ke depan. Kedua tangan Nadia menangkup memohon untuk di lepaskan oleh Gibran. Keramas malam-malam bukan hal bagus untuk di lakukan, belum lagi bau ikan yang belum tentu hilang.


"Menyerah?"


"Iya."


Gibran melipat tangan di dada memandang lurus Nadia yang masih menunggu apa ya sekiranya Omnya itu akan lakukan.


"Tidak gratis."


"Perhitungan."


"Saya belajar dari gurunya langsung."


Nadia mendelik saat Gibran jelas-jelas menyinggung dirinya. Sampai kapanpun laki-laki ini tidak akan pernah membiarkannya memang.


"Ya udah, apaan?" Tanya Nadia ketus. Selalu saja ulahnya akan berakhir menyusahkan dirinya lagi seperti biasa.


"Dekat sini."


"OGAH! om mau jebak Nad kan? Ngaku."


"Ngapain. Sekarang saja Nad sudah terjebak."


Nadia memanyunkan bibirnya. Benar kan, Om nya memang tidak ada matinya kalau urusan membalas omongan apalagi kalau itu dirinya. Lain kali Nadia akan berbicara bahasa burung saja supaya tidak ada lagi drama penindasan seperti ini.


"Yaudah, buru. Nad mau nyuci tangan."


"Selama seminggu, tugas Nad nambah."


"Apaan? nguras air kolam? gak mau." Nadia bergidik. Beberapa menit saja disana dia sudah mau mati rasanya, apalagi harus nguras kolam legend itu. Hih.


"Separah itu Om ngasi pelajaran?"


"Ada yang lebib parah, Om. Ngitungin semut yang lewat di depan rumah."


"Oh ya? Om tidak ingat." Gibran terkekeh.


Nadia mendengus "Bagaimana mau ingat, kerjaannya memang begitu. Om kan suka ngehukum gak jelas gitu." Beber nadia mengingatkan laki-laki ganteng berumur itu bagaimana hebatnya hukuman jera yang ia berikan pada dirinya.


"Betul juga."


Betul juga katanya? Wah, orang salah sih ini.


"Udah cepetan Om ngomong. Nad kebelet." Gadis itu menyilangkan kakinya menahan perasaan yang tak pernah bisa di tolak, hasrat ingin pipis.


"Keramas rambut Om. Gimana?"


Nadia terdiam. Hukuman macam apa itu? Kok manis bangat kedengarannya.


"Itu doang?"


"Apapun yang berhubungan dengan rambut."


"Oke deh. Deal."


***