Little Persit

Little Persit
Ngidam.



Nadia duduk diatas motor dengan wajah kusut menunggu Gibran yang tengah menerima tamu yang tak di duga-duga sebelumnya. Siapa yang mengira manusia mesum yang hampir mencelakainya di club sekaligus pemilik tempat les itu adalah kakak seorang Lettu Prada Kemuning. Semua orang akan tertipu dengan perawakan keduanya yang jauh beda, Lettu Prada yang sangat indonesia dengan kulit sawo matangnya dan Lionel yang memiliki mata biru safir dan kulit putih pucat khas benua biru. Tapi kalau dilihat dari sifatnya, memang keduanya sangat pas jadi adik kakak, yang kakak otak mesum, dan yang adik tidak punya otak. Nadia membatin.


"Maaf sudah mengganggu waktu anda." Lionel muncul dari dalam rumah diikuti oleh Gibran. Senyum di wajah pria bule itu langsung merekah melihat Nadia yang menyorotnya penuh kecurigaan. Siapa sangka Kapten yang selalu adiknya sebut-sebut adalah orang yang sama dengan lelaki yang memperistri si cantik Nadia.


"Halo Nadia." Sapa Lionel ramah. Dibelakangnya Gibran tampak tak banyak menunjukkan emosi. Suami Nadia itu memang terkenal sebagai manusia berwajah tembok. Ia hanya bisa berekspresi jika bersama Nadia, selebihnya seseorang yang waras akan lebih memilih mengajak rumput yang bergoyang berbicara daripada menunggu Gibran mau membalas ucapan basa basinya.


"Om cepeeet!!!" Mengabaikan Lionel, Nadia beralih pada Gibran yang berjalan menujunya.


Lionel yang dianggap tak kasat mata oleh nadia mengulas senyum tipis. Seharusnya dari dulu ia melakukan ini, menemui langsung Nadia dan menyapa gadis manis itu seperti sekarang. Lionel terkekeh, mungkin ia sudah ketularan adiknya yang menyukai milik orang lain. Tapi siapa yang tidak akan menyukai gadis kecil yang cantik ini, bahkan seorang Gibran yang kata adiknya manusia es dan tak tersentuh bisa dibuat melumer seperti es krim.


"Semoga Lettu Prada lekas sehat." Ujar Gibran saat Lionel mengulurkan tangan hendak berpamitan.


"Terima kasih." Jawab Lionel sembari melirik Nadia dengan ekor matanya. Gadis itu tampak sangat mungil dengan pakaian sekolahnya persis seperti kejadian di Club dulu. Sayang sekali Nadia sudah dimiliki, padahal dia gadis yang pasti akan cocok bersamanya.


"Nad mau ke sekolah?"


"Nggak, mau jogging." Sudah liat seragaman pake nanya lagi. Nadia melipat tangannya dengan kesal. Dunia benar-benar sempit, kemanapun dia pergi ketemunya dia lagi, dia lagi.


Lionel terkekeh pelan. Jawaban jutek Nadia bukannya membuatnya kesal malah ingin sekali ia membawa gadis itu bersamanya.


"Oooom" Nadia menempeli lengan Gibran.


"Ayo!" Gibran merapikan untaian rambut Nadia yang menghalangi pandangannya.


"Ngapain sih orang ini ketemu Om? Buang-buang waktu." Nadia melirik Lionel sebal. Ia sengaja mengeraskan suaranya supaya lelaki berwajah pucat itu mendengar kalau ia tidak diinginkan disini.


"Minta izin buat Lettu Prada."


"Lha, bukannya ada kantor ya buat nyampein izin? Kenapa mesti ke rumah?" Sembarang saja di tante tutup panci, pengen bangat di perhatiin. Gibran mengedikkan bahu.


"Kita berangkat." Gibran naik diatas motornya diikuti Nadia duduk dibelakang. Nadia langsung melingkarkan tangannya memeluk Gibran, menyendarkan kepalanya di punggung lelaki itu.


"Maaf, kami harus berangkat duluan." Gibran mengangguk samar pada Lionel yang memperhatikan keduanya.


"Ah iya. Silahkan." Lionel memberi jalan untuk Gibran dan Nadia. Senyum manisnya berubah menjadi seringai saat Nadia dan Gibran melewatinya.


"Nice."


.


.


.


"Muka lo pucat. Sakit?" Gendis yang tengah mencari bahan tugas praktek bersama Nadia di perpustakaan memegang kening sahabatnya itu.


"Pusing dikit tapi gak apa-apa palingan gegara ni tugas." Ucap Nadia tak terlalu peduli dengan pening yang dirasakannya. Sudah kebiasaannya kalau ada tugas bawaannya pusing.


"Belajar asik tauk!" Gendis memanyunkan bibirnya.


Nadia menggeleng takjub "Cuma lo satu-satunya manusia yang bilang kalau belajar itu asik."


"Ada audy mayunda." Gendis berujar bangga.


"Ya terseraaaah" Nadia mengantukkan kepalanya diatas meja.


"Ke UKS aja?" Tanya Gendis mengelus rambut Nadia lembut.


"Gak usah. Bentaran aja ini sih."


Gendis mengangguk lalu membiarkan Nadia beristrahat sejenak. Diambilnya satu buku paket tebal untuk bantal Nadia.


"Pake ini biar leher lo nggak sakit."


"Thanks. Manis bangat sih lo." Nadia mencubit pipi Gendis gemas membuat gadis berwajah lembut itu cemberut.


"Gue akan lebih berterima kasih kalau lo bilang gue seksi."


Nadia terbahak "Jangan halu! udah ah, gue baring bentaran ya." Nadia menepuk pipi Gendis yang mengembung. Seksi darimana coba badan anak kecil gini. Nadia terkekeh pelan. Ada-ada saja.


"Psst pssst!" Gendis mencolek bahu Nadia.


"Ap--"


"Shhhtttt! Tuh!" Gendis menunjuk bagian ruangan penjaga perpus. Tak jauh dari mereka ada Sandra dan penjaga perpus yang tengah berdiri sembari saling beradu pandang dalam diam.


Nadia menyikut Gendis "Lagi deket?"


Gendis mengedikkan bahu "Tunggu aja info dari yang bersangkutan."


Nadia mengangguk, urusan asmara memang tidak jauh-jauh dari benci jadi cinta. Parahnya yang dulunya di hujat sekarang malah tidak bisa dipisahkan seperti dirinya dan Gibran. Dulu tiada hari tanpa ribut, sekarang Gibran lebih banyak sabar terkecuali akhir-akhir ini. Gibran mungkin saja sedang masa peralihan dari masa muda ke masa tua. Kasihan sekali untung tetap kece, malah Nadia pikir disini yang menua hanya dirinya sedangkan Gibran berhenti diangka tiga puluh, sungguh tidak adil. Belum lagi banyak perempuan yang menginginkan lelaki matang seperti Omnya, Nadia harus pandai-pandai menjaga Gibran meskipun seratus persen ia yakin dan percaya bahwa Gibran hanya bisa on fire dengan dirinya.


"Eeh eeh, tuh dateng." Gendis menarik tangan Nadia untuk bersembunyi dibawa meja.


"Harus bangat Ndis?" Tanya Nadia dengan wajah datar.


Gendis mengangguk "Harus. Gue belum siap dengar pengakuan Sandra bakal punya kecengan lagi sedangkan gue masih gini-gini aja."


Nadia melongok "Ya itu karena elonya yang banyak milih."


"Iya lah. Milih daleman aja harus yang pas dan nyaman apalagi milih pacar."


"Analogi lo gak ada yang kerenan dikit? Daleman ama pacar lo bandingin." Nadia menggeleng tak habis pikir.


"Ngapain lo berdua bisik-bisik dibawah meja?"


Nadia mendongak. Nah kan. "Iseng" Jawabnya asal. "lo ngapain sama pak Justin? Pacaran lo ya? PJ nya mana?"


"PJ aja di otak lo. PJ lo nikahan mana?" Tuntut Sandra balik.


Nadia menyengir "Keberadaan Gue aja gak cukup buat jadi PJ?"


"GAK! Si gendis ngapain masih di sono?"


"Menyapa semut merah di dinding sekolah." Ujar Gendis berdiri dari posisi jongkoknya.


"SETRESSS!!!" Nadia dan Sandra berujar kompak. Keduanya berlalu meninggalkan Gendis yang terbengong sendiri.


"Salah gue apa?" Tanya Gendis pada angin yang berhembus. Ia berlari menyusul Nadia dan Sandra yang sudah keluar dari perpus.


"Permisi, Pak." Ucapnya saat melewati Justin.


Nadia dan Sandra lanjut ke kantin. Minggu tenang seharusnya tidak hanya dua minggu tapi ditambah sampai sebulan. Semua siswa kelas tiga termasuk Nadia sangat menikmati berada di sekolah tanpa harus memecahkan soal hitungan atau memahami materi biologi yang istilahnya membuat kepala pusing.


"Lo ikut kan acara besok?" Tanya Sandra menarik kursi untuk Nadia.


"Gak tau. Kesel gue, Om gi gak ngizinin." Ujar Nadia cemberut.


"Kok bisa? Sehari doang lho. Ada walas juga kan?!"


Nadia mengedikkan bahu "Gak tau tuh Om Gi. Akhir-akhir ini nyebelinnya parah. Gue ampe mikir pindah planet saking nyebelinnya tuh Om."


"Nyebelin Gimana? Bukannya lo ya yang biasanya nyebelin?" Sandra menyengir melihat wajah datar Nadia.


"Nyebelinnya Om Gi udah parah bangat. Masa gue jauh dikit aja langsung di tuduh gak sayang suami. Remot geser posisi gue dibilang berantakan, gue bikin roti slay keju bukan coklat dibilang gue gak perhatian. Lo bayangin gak gimana stresnya gue? Ampe bayi ayam dipelihara, ngancem pula mau musnahin sayurannya gegara nemu ulat pucuk di daunnya. Gue gak tau lagi mau ngomong apa, gue--"


Nadia mengangguk "Yap. Om Gue yang itu."


"Kenapa jadi kek banci gitu?" Tanya Sandra sama herannya dengan Nadia.


"Yekaaan. Gue rasa emang beneran dirasuk jin kampreeeet tuh Om gi." Ujar Nadia yakin. Apalagi kalau bukan kerasukan kalau Omnya yang biasa aman, teduh dan sangat bijaksana jadi kek gitu.


"Duh, serem juga ya. Gue gak bisa bayangin gimana nasibnya para Taruna ngadepin Om lo yang ganas itu. Gak lagi mode nyebelin yang seperti lo bilang aja hari-hari mereka udah suram apalagi ini-- Abis sih pasti."


Nadia meringis. Ia baru teringat nasib para didikan Gibran, auto kompi neraka itu sih.


Diwaktu yang sama di tempat berbeda, tiga puluhan Taruna sedang berada dalam kolam pembuangan, di depan mereka Gibran berdiri tegak sembari bertolak pinggang. Wajah sangarnya mampu membungkam siapapun yang berani bersuara. Lagipula hanya orang bodoh yang bersuara dalam keadaan genting seperti ini. Pembina dalam mode angry bird sama menyeramkannya dengan malaikat maut. Apalagi Gibran yang terkenal sebagai salah satu Pembina 'penyayang' yang tidak segan-segan mencabut setengah hak hidup para Taruna.


"JANGAN ADA YANG BERANI KELUAR DARI AIR! MASUK!!!"


"SIAP!"


"seratus.. sembilan puluh sembilan... Heh, kamu! Ulang dari lima ratus!"


"SIAP!!!"


"Kenapa lagi tuh?" Gio menghampiri Dewa yang tengah duduk santai di bawah pohon menyaksikan Kapten Gibran memberikan didikan pada para Siswanya.


"Gak dapat jatah kalik." Jawab Dewa asal.


"Jawab yang bener lo." Gio duduk disamping Dewa ikut menonton para Juniornya disayang-sayang oleh Gibran.


"Gue gak tau pastinya. Tapi kata salah satu staf, udah semingguan ini mood Gibran berantakan." Ujar Dewa.


"Nadia kabur lagi mungkin." Gumam Gio yang mendapat gelengan dari Dewa.


"Gak. Tadi pagi gue lihat mereka nempel."


"Terus?"


Dewa mengedikkan bahu " Efek umur."


Gio yang mendengarnya tergelak "Berarti bentar lagi gue atau lo juga."


"Si*lan!"


"ULANGI!!!"


"SIAP!"


Gio dan Dewa hanya bisa meringis melihat nasib malang tiga puluh taruna itu menghadapi Gibran. Kasihan sekali.


Gibran melipat tangannya di dada. Tiga puluh Taruna sedang menyelam dalam lumpur hitam. Mata tajamnya menatap penuh perhatian pada mereka, memastikan tidak ada yang keluar air sebelum waktu yang ia berikan selesai.


"Uweeeek!!!" Gibran menutup mulutnya. perutnya bergejolak tiba-tiba. Gibran segera berlari kearah hutan dan memuntahkan apa yang ia makan seharian ini. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba oleng.


"Gi, lo--"


"Uweeek!!!" Gibran hampir terjatuh di atas rumput jika saja Gio dan Dewa tidak sigap menangkapnys.


"Ke Klinik Bro." Ujar Dewa menopang tubuh besar Gibran.


"Yo, tolong liat anak-anak." Gibran berujar lemas.


"Siap. Lo ke klinik saja." Ucap Gio menepuk bahu Gibran.


Gibran kemudian dibawa ke klinik oleh Dewa. Gibran terus saja memuntahkan isi perutnya sepanjang jalan menuju klinik. Badannya sangat lemah karena banyaknya cairan yang hilang.


"Lo makan apa pagi ini?"


"Biasa. Roti dan siangnya makanan kantin." Ujar Gibran setelah memikirkan sesaat makanan apa saja yang sudah menyentuh perutnya.


"Ok. Biar dokter yang mastiin. Takutnya lo keracunan atau apa kita gak tahu."


Gibran mengangguk. Ia berjalan tertatih menuju salah satu ruangan putih yang biasa dipakai untuk merawat Taruna yang kelelahan setelah menjalani pendidikan seharian.


"Dok-- Els, lo disini?" Dewa cukup terkejut mendapati Elsa si anak komandan di ruangan putih tersebut dengan jas dokternya.


"Iya. Elsa sekarang resmi tugas disini, bang."


Dewa melirik Gibran. Tugas disini?


"Sejak kapan?" Tanyanya penasaran. "Bukannya dokter dapat beasiswa ke luar negri ya?"


Elsa mengulas senyum tipis "Indonesia masih memiliki sesuatu buat Elsa bertahan, bang." Jawab Elsa melirik Gibran yang tampak lesuh dalam rangkulan Dewa.


Dewa mengangguk samar "Oh iya, Gibran, dok." Hampir saja ia lupa dengan keadaan temannya. Ia membawa Gibran berbaring diatas brankar. Elsa mengambil stetoskopnya lalu mengecek detak jantung Gibran.


"Dia mual-mual." Ujar Dewa saat melihat Gibran tak ada niat sama sekali mengatakan keluhannya.


"Abang ada makan sesuatu?" Tanya Elsa kemudian.


"Hanya roti slay dan nasi kantin." Jawab Gibran.


"Roti slay? Abang ada alergi sesuatu atau mungkin tanggalnya sudah lewat?"


Gibran menggeleng. Slay yang ada di rumahnya belum lama mereka beli dan ia juga tidak memiliki alergi apapun terhadap makanan.


"Semuanya normal." Kata Elsa, lalu memberikan minyak kayu putih pada Gibran. "Balur di perut abang. Bisa jadi masuk angin biasa." terangnya.


Gibran mengangguk. Ia kembali menutup mulutnya saat merasakan perutnya kembali bergejolak. Wajahnya tampannya lesuh, kuyu dan pucat.


"Mending lo izin pulang saja. Gue antar." Dewa membantu Gibran untuk duduk nyaman menyandarkan badannya ditumpukan bantal.


"Ini obat pereda mual. Abang bisa minum ini mudah-mudahan mualnya berkurang." Elsa mengangsurkan obat dalam bungkusan plastik pada Gibran.


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama. Abang istrahat saja di rumah."


"Kalau buat cewek, gue pasti mikir lo lagi hamil muda, Bro." Celetuk Dewa yang membuat ruangan itu tiba-tiba hening.


Gibran terdiam sejenak "Hamil?"


Dewa mengangguk "Biasanya gitu. Lo ham-"


"Bisa jadi. Pastiin sama Nadia." Sambung Elsa .


"Hamil? Tapi kenapa saya yang mual, Dok? Bukannya perempuan yang ngidam?" Tanya Gibran bingung.


"Hal normal. Tidak jarang istri yang hamil, suami yang mengidam." Jelas Elsa.


Gibran mengernyit.


Ia Ngidam?


***