Little Persit

Little Persit
Oh Ternyata



"NADIAAAAAAAAA!!!"


BYUUUUURRRR!!!


"ANJIIIIIIIIIIR BUBUR AYAM GUEEEEEEE!!!" Nadia menahan geram melihat nasib bubur ayam di depannya yang sudah belepotan bercampur dengan muncratan dari mulutnya.


"KAMPREEET LU PADA AAAH!!!" Nadia balik badan menghadapi tiga sahabatnya yang berlari menyeruduknya.


"Nad ini beneran lo kan? Ini nyata kan? Ini Nadia kan? Ya Tuhaaaan..." Aleksis menggerakkan tangannya membentuk tanda salib penuh dengan haru setelah mengguncang-guncang badan Nadia sampai Nadia pusing.


"Alhamdulillah lo masih hidup sayaaaang." Lain lagi Sandra yang sudah memeluk Nadia sembari berderai airmata, mengabaikan protes Nadia yang ingin meloloskan diri "Lo jahat bangat tau nggak pake acara pura-pura mati. Biar di peduliin apa gimana sih." Omelnya diantara tangisannya yang membahana di ruang makan keluarga Gaudia.


"Nad--hiks. Lo tuh yaaa" Gendis tak berbicara banyak karena ia sudah lelah menangis dari kemarin dan lanjut pagi lagi setelah mendapat kabar baik dari Gibran.


Nadia memutar bola mata jengah. Pusing dengan kelakuan tiga sahabatnya yang sama sekali tidak elegan. Hell, sambutan macam apa ini?! Ia mengedikkan bahu gerah di pepet tiga gadis berisik sekaligus. Bahkan untuk sarapan saja ia harus pindah ke bulan biar bisa menikmati makanannya dengan tenang. Tadi subuh Gibran yang merengek seperti bayi gorila, sekarang tiga gadis bar-bar ini. Mungkin beginilah perasaan squetwer saat Spongebob dan Patrick mengganggu waktu santainya, rasanya ingin pindah saja ke planet lain.


"Duh, lo bertiga kenapa sih? Datang-datang meratap gak jelas udah kayak ngeliat gue bangkit dari kematian aja. Udah ah, minggir." Nadia melepaskan pelukan tiga sahabatnya lalu kembali melihat kearah mangkok buburnya yang sudah tidak seestetik saat Bibik membawanya dari warung Pak haji "Bubur ayam gue pake acara jorok gini lagi-hiks. Mana laper lagi gue. Nyebelin ah." Nadia menghentakkan kaki kesal meninggalkan meja makan dan bubur ayamnya menjauh dari tiga sahabatnya yang menatap speechless padanya.


"NADIAAAAAAAA" Seperti terlahir untuk memberikan kebisingan dalam hidupnya tiga sahabat berisiknya itu berlari menyusulnya ke ruang tengah.


"Apa sih? Duduk deh biarin gue nafas bentar." Nadia menghentakkan bokongnya diatas sofa melipat kedua tangan di dada di susul oleh Aleks, Sandra, dan Gendis merapat seperti anak itik. Ketiganya bahkan belum berhenti menangis entah untuk alasan apa Nadia tidak tau.


"Lo beneran gak apa-apa kan?" Gendis mengecek badan Nadia dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Emang gue harus kenapa sih? Gue jauh-jauh balik dari Papua bukannya dapat pesta penyambutan malah pesta duka gini. Gak jelas." Rutuk Nadia kesal. Padahal ia sudah membayangkan dirinya mendapat pesta sambutan menyenangkan dengan banyak makanan kesukaannya tapi nyatanya malah ditangisi seperti ini.


Sandra yang lebih waras lantas mengambil remot tv, "Lo belum nonton tv atau baca berita emang?" tanyanya penasaran melihat Nadia tampak santai bahkan terlihat tak ada tanda-tanda kelegaan bahwa ia dan Pia telah lolos dari maut.


"Emang sejak kapan Nadia suka nonton berita, San?" timpal Gendis yang hafal betul watak sahabat-sahabatnya. Nadia tentu lebih mending membaca iklan sedot wc daripada berita lokal yang isinya sampah semua. Apalagi televisi yang hanya menayangkan berita-berita yang isinya cuma mengadu domba rakyat biasa seperti dirinya atau tidak berita para selebritis yang pamer harta sana sini padahal masih kalah jauh dari kekayaannya.


"Yakali aja kan Om Gi dengan sikap nasionalisme seratusnya itu menularinya." Ucap Sandra tak yakin.


"Ngehalu gak usah ketinggian, San. Ntar jatohnya ke septic tank mampus lu." Aleksi si mulut comberan menambahkan.


"Lo betiga sahabat gue bukan sih? Kok mulutnya pada jahat semua." Nadia yang sejak tadi mendengar ujaran-ujaran penghinaan itu mendengus sebal.


"Sahabat lo kok Nad makanya kita disini nemuin lo." Gendis dan kepolosannya inilah yang ingin sekali Nadia, Sandra dan Aleks ubah jika diberi kekuatan supranatural.


"Iya, ndis. Udah, lo gak usah ngomong." Aleks berujar lelah.


"Liat nih." Sandra menarik perhatian ketiga sahabatnya dengan berita yang sedang tayang di televisi mengenai pesawaat naas yang beberapa puingnya sudah di temukan dan diangkut dari dasar laut.


"Inalillah, ini kan--" Nadia menutup mulut dengan kedua tangan saat melihat Headline berita tersebut tentang identitas pesawat yang tertulis jelas di layar kaca. "Ya Allah." Nadia menatap ngeri, membayangkan ia dan Pia menjadi salah satu diantara para korban. Tanpa terasa airmata mengalir di pipinya saat mengingat wajah-wajah orang yang duduk di sampingnya, pramugari yang menyapanya, dan pria muda yang membuatnya kesal di pesawat dengan basa basinya. "Ya Allah... " ia tak bisa berkata apa-apa lagi, semua begitu mengerikan bahkan hanya dibayangkan.


"Nad--" Sandra yang duduk disamping Nadia langsung memeluk sahabatnya itu, "Hiks--lo dan Pia selamat. Tuhan masih ngasi lo waktu bareng-bareng kami disini-hiks." Sandra terisak. Gendis dan Aleks pun kembali menangis. Ketiganya memeluk Nadia yang juga menangis bersama mereka. Bersyukur. Itulah yang mereka rasakan. Jika, jika saja ada keajaiban yang sama untuk para penumpang dan awak pesawat, maka itulah pinta keempatnya saat ini.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah-hiks." Nadia memeluk ketiga sahabatnya. Ternyata ini yang membuat Gibran begitu kacau kemarin. Ternyata ini yang membuat laki-laki itu tak berhenti menangis bahkan saat dalam tidurnya. Om Gibrannya, ia tidak tau akan sehancur apa lelaki itu jika Ia dan Pia tidak pernah kembali lagi.


"Nad, Pia nyariin--eh lagi rame."


Nadia dan sahabat-sahabatnya mengurai pelukan mereka. Diujung tangga Nadia melihat Gibran berdiri menggendong bayi Pia dengan wajah cerah. Lelakinya itu, Nadia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Gibran kemarin saat mendapati kabar bahwa dirinya dan Pia menjadi korban dari pesawaat naas itu.


"Om Giiiii" Nadia beranjak dari kursi lalu berlari menaiki tangga menyongsong satu sosok yang sedang menatapnya khawatir dan penuh peringatan. Tapi Nadia tidak peduli, karena saat ini ia hanya ingin memeluk Gibran mengatakan pada laki-laki itu bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa Nadianya dan Pianya tak akan pernah meninggalkannya.


"Saya tidak akan menjelaskan padamu bagaimana rasanya kehilangan karena kamu lebih tau tentang itu tapi Nad, hidup sendiri sejak membuka mata dan sadar bahwa semua orang memiliki keluarga kecuali kamu, rasanya benar-benar menakutkan." Kalimat panjang Gibran pada suatu pagi setelah menyampaikan perintahnya untuk menerima pernikahan mereka mengulang di kepala Nadia membuatnya mampu merasakan rasa sakit dan ketakutan lelaki itu.


"Om Giiii--hiks." Nadia memeluk erat Gibran, terisak disana. Seperti dua kepingan yang berusaha saling melengkapi, Nadia dan gibran adalah dua manusia kesepian yang berjuang bersama untuk merasakan perasaan hangat saat memiliki seseorang hidup di dunia yang luas ini.


Tuhan, jika boleh izinkan Nad untuk selalu bisa memeluk lelaki ini. Jangan biarkan ia merasa sendiri lagi.


***


"Bisa kalik lo ngehargai perasaan jomlo disekitar lo. Berasa nyamuk bangat gak sih ngeliatin ni anak pamer kemesraan mulu?!" Sandra yang tengah ngemil kacang-kacangan melempar kulit kacang pada Nadia yang tengah bersandar manja di dada Gibran. Setelah puas menangis dan mendapat banyak kecupan dari Gibran, ia masih belum ingin melepaskan laki-laki itu. Kembali dalam pelukan Gibran setelah puas menangis adalah hal paling tepat untuk dilakukan.


"Makanya nikah. Jangan ngebaperin anak orang aja." Balas Nadia menyudutkan Sandra yang memang sedang senang-senangnya menebar pesona pada banyak pemuda haus kasih sayang baik dalam negeri maupun dari luar negeri. Wanita beranak satu itu seolah tak melihat keberadaan tiga pasang mata yang sejak tadi menatap nelangsa padanya. Ya salah sendiri jomblo.


"Dih malas bangat sama yang modal tampang doang. Mau kayak Om Gi dong. Ia kan Om?" Sandra melirik genit pada Gibran sengaja memanasi Nadia. Belum lagi Gibran yang dengan santai menganggukinya.


"Lo kalau mau jadi pelakor jangan Om Gi. Gak mempan. Udah cinta mati sama gue dia mah." Ucap Nadia percaya diri. Di peluknya Gibran dengan erat yang tak keberatan sama sekali acara nontonnya di usik oleh empat gadis bar-bar plus bayi lucu menggemaskannya.


"Cih, sok iyes bangat lu." Sandra merutuk sebal. Memang tak ada gunanya menggoda Gibran karena lelaki itu seolah hidup selain untuk beribadah pada Tuhannya, juga untuk mencintai Nadia seperti orang bodoh.


"Nad, boleh pinjem Pia nggak? Mau gue pamerin di ig. Kali aja ada yang daftar jadi bapaknya. Gue rela deh dibilang janda beranak satu. Gemes bangat sumpah." Aleksis yang memang sangat menyukai anak kecil sejak tadi tak mengalihkan perhatiannya dari Pia. Bahkan Gendis yang juga mau bermain bersama Pia tak mendapat kesempatan sama sekali.


"Pelit bangat." Gerutu Aleksis sebal.


"Yebodo amat. Tuh Gendis lo angkat jadi anak. Udah gede, bisa lo manfaatin buat ngegaet Sugar daddy."


"Kok gue?" Protes Gendis yang diam sejak tadi entah sedang banyak pikiran atau memang sok-sok berpikir biar dibilang bisa mikir.


"Iya, jangan Gendis lah. Diakan bentar lagi kawin sama sugar daddy. Iya nggak, Ndis?" Bela Sandra yang ujung-ujungnya malah mendorongnya dalam jurang.


"Om Dewa maksud lo?" Aleksis memperjelas.


"Ogah. Dia bukan suggar daddy tapi emak-emak rempong yang rajin bangat ngomel. Sampe rontok rambut gue gegara tuh Om ngomel mulu tiap waktu. Ini aja gue lagi kabur."


Diam-diam Nadia melirik Gibran. Lelaki itu sama sekali tak terganggu sahabatnya dijadikan gunjingan. Atau apa memang Dewa bukan sahabat Gibran ya, orang itu aja mungkin yang ngaku-ngaku.


"Emang lo ngapain sampe diomelin gitu?" Tanya Nadia sembari meluruskan punggungnya, lalu mengambil setopled keripik keju di depannya.


"Gue gak ngapa-ngapain." Ucap Gendis yakin.


"Masa sih? Kok gue ragu ya." Imbuh Aleksis tanpa melepas pandangannya dari Pia.


"Bener, lu kan suka ajaib aja. Tiba-tiba ngerusuh gak jelas." Sambung Sandra.


"Gak ya. Gue cuman gak sengaja ngebuang kunci apartemen dia. Itu aja." Aku Gendis. Teringat kejadian tadi pagi saat ia terbangun ditempat asing yang tak lain adalah milik Dewa dan lebih parahnya lagi mereka berada diranjang yang sama. Sangat mengerikan. Gendis bergidik ngeri.


Nadia, Sandra, Aleksis saling melirik lalu menggelengkan kepala lemah. Urusannya sudah pasti tak sesederhana apa yang Gendis ucapkan tapi untuk menanyakan lebih lanjut tentu saja bukan waktu yang tepat saat orangnya ada ditempat itu bersama Gio, Jonathan, Vina dan ELSA? Oke ini acara reuni yang akan sangat menyenangkan.


"Hai semua." Vina si sad girl yang baru saja ditinggal menikah melambaikan tangan.


Nadia yang tadinya duduk tegap langsung terkulai di dada Gibran, memeluk lelaki itu erat.


"Hi Vin, semua." Gibran si tuan rumah hendak berdiri menyambut tamunya tapi harus tertahan oleh ulah Nadia yang sepertinya hendak memainkan perannya sebagai istri posesif. "Silahkan duduk." ucapnya mengalah. Ia tetap bertahan dengan posisinya dalam kuasa lengan kecil Nadia.


"Bini lo kenapa? Layu gitu." Dewa seperti biasa tak bisa diam saat melihat sesuatu yang tidak wajar di depannya. Ia melirik Gendis yang tampak membuang muka kearah lain. "Ckckck kabur disini rupanya si bocah." gumamnya.


"Apa kabar, Bro?" Gio menyalami Gibran disusul oleh Jonathan. "Nad--" sapanya pada Nadia yang dibalas cengiran lebar oleh Nadia.


"Baik, Alhamdulillah. Kalian apa kabar?" Gibran beralih pada Elsa "Dokter Elsa--"


Elsa yang tidak banyak bicara tersenyum tipis, "Alhamdulillah baik, Bang." jawabnya singkat. Wanita cantik berkerudung abu-abu itu melihat pada Nadia yang bersikap sangat cuek. "Apa kabar Nad?"


Nadia memutar bola mata sebal. Kabar gue buruk semenjak kenal lo. Batinnya dongkol. "Always good. Seperti yang tante lihat." Jawab Nadia tidak ramah sama sekali. Ia bahkan mengabaikan teguran samar dari Gibran untuk menjaga sikap. Oke, memaafkan udah, tapi melupakan jelas belum, "Om apa kabar? Masih di tarakan atau--?"


"Papa di Atambua. Mereka baik-baik saja." Jawab Elsa tak melunturkan senyum di wajahnya.


"Oh syukur deh. Salam ya dari Nad." Ucap Nadia dibarengi senyum yang tak kalah manisnya. Ia sudah belajar banyak bagaimana menggunakan kekuasaannya sekarang jadi kalau hanya untuk menangani para pejabat tak profesional sudah bukan hal yang sulit baginya.


"Atambua? Bukannya kemarin sudah mau pindah kesini ya?" Tanya Gio yang sepertinya bukan satu-satunya yang baru mengetahui kabar ini sebab Gibran pun sedikit bereaksi.


"Papa lebih dibutuhkan di Atambua." Jawab Elsa lirih. Semua orang saling melirik, terkecuali Nadia yang malah asik memperhatikan kuku-kuku cantiknya. Diatas langit masih ada langit, Komandan.


"Atambua dimana ya? Luar negri?" Aleksis selain comberan ternyata begonya makin parah. Yang tadinya semua orang sedang berada di dimensi lain sekarang menatap semua padanya. Termasuk Pia yang ada dalam gendongannya.


"Leks, lo kalau gak tau mending nanya google deh. Malu anjiiiir." Omel Sandra yang duduk tepat di sampingnya.


"Ih Sandra, lo apa-apaan sih? Malu bertanya sesat di jalan tauk. Kalau Aleks gak nanya, nanti tersesat gak tau jalan ke Atambua. Ya kan Leks?" Gendis si manusia lemot yang ajaibnya di terima di universitas bergengsi di luar negeri malah menambah gambaran kebodohan rakyat milenial di hadapan orang-orang dewasa di ruangan itu. Dewa malah tersedak nafasnya sendiri melihat keluguan sang calon istri.


"Nenek gue nemu dimana sih ni bocah?Gemes bangat pengen gue karungin." Ujarnya menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.


Sementara Nadia, ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi sahabat-sahabatnya. Untung dia sabar kalau enggak--- huff.


"Semuanya, makan siang disini ya." Gibran memecah suasana dengan tawaran menggiurkan. Semua orang sedang lapar sekarang, termaksud dirinya yang ingin sekali memakan gadis kecil yang tengah memeluknya ini. Entah apa yang sudah diperbuat Nadia pada mantan Komandannya itu. Darah Gaudia sepertinya diwarisi dengan sempurna oleh Nadia, hufff.


***


Udah bisa senyum lagi si Om.



Ini nih pewaris darah Gaudia.