
Gibran berdiri tegak di depan puluhan para juniornya yang sedang mengikuti serangkaian pelatihan persiapan terjun payung yang akan dilaksanan untuk memperingati hari ulang tahun TNI yang akan di gelar bulan depan. Sudah dua minggu ia selalu pulang tengah malam karena harus menyelesaikan banyak tugas kantor. Nadia bahkan pulang pergi sekolah diantar oleh Grab karena begitu sibuknya Gibran di kesatuan.
"Ketangkasan dan keberanian sangat penting untuk membatu kalian melakukan penerbangan dengan mulus. Mengetahui arah angin dan tentu saja ketepatan dalam bergerak adalah poin utamanya. Mengerti?"
"Siap, Mengerti!"
Gibran menatap satu persatu pasukan penerbang payung di depannya dan untuk latihan fisik selama dua minggu ini akan di lanjutkan dengan pengetahuan teknik terjun payung yang tetap akan di pimpin olehnya.
"Baik, sekian untuk hari ini. Bubarkan."
Gibran berbalik kembali ke kantor setelah selesai dengan tugasnya di lapangan. Selain latihan fisik, para penerjung akan melakukan tes kesehatan untuk memastikan kesehatan mereka tidak bermasalah.
"Bang, Ibu menunggu di depan."
Gibran mengernyit, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Hari masih siang, seharusnya Nadia masih di sekolah sekarang.
"Baik. Terima kasih." Ujar Gibran pada salah satu junior yang satu tahun di bawahnya.
Gibran berjalan tegak menuju ruangannya dimana Nadia menunggu. Pagi tadi gadis itu mengamuk karena Gibran tidak bisa hadir di sekolahnya untuk mengikuti rapat persiapan Ujian Nasional.
"Nad?" Gibran muncul di depan pintu dan mendapati Nadia sedang duduk memunggunginya. Nadia hari ini memakai seragam putih abu-abunya di balut jaket army yang kebesaran di badannya.
Nadia menoleh lalu langsung menghambur dalam pelukan Gibran membuat laki-laki sedikit terhunyung kebelakang. Beberapa staf Gibran tampak mengulum senyum melihat persit kecil itu. Sudah bukan lagi rahasia hubungan keduanya yang terbilang unik, beberapa mungkin berbicara buruk tapi sebagian lain melihat dua pasangan itu sangat cocok, Gibran sekaku kanebo kering dan Nadia yang keras kepala dan manjanya ampun-ampunan pada Gibran.
"Masuk ke dalam." Gibran membawa Nadia masuk ke ruangannya agar tidak menjadi perhatian orang-orang. Mereka duduk di kursi panjang berwarna hijau tempat Gibran biasa menerima tamu.
"Kenapa?" Gibran mengurai pelukan Nadia. Gadis itu tampak enggan namun tidak menolak juga.
"Nad sakit." Ujarnya lesuh. Gibran menaikan satu alisnya, sakit? Ia memegang kening gadis itu tapi tidak hangat sama sekali.
"Bukan demam. Nad lemes."
"Kalau lemas harusnya istrahat di rumah, kenapa kesini?" Gibran berdecak pelan. Ada-ada saja.
"Maunya sama Om." Ujar Nadia menggelengkan kepala.
"Om bawa ke klinik, mau?" Tanya Gibran dengan sabar. Ia masih harus bekerja dan keberadaan Nadia seperti ini pasti menyulitkannya berkonsentrasi.
"Gak mau. Maunya sama Om." Nadia keukeh. Gibran menghela nafas panjang.
"Nad, Om lagi kerja. Om antar balik ke rumah ya." Bujuk Gibran lagi.
"Ooom, Nad maunya sama, Om. Gak mau ke rumah kalau gak ada Om." Nada suara Nadia mulai naik. Sebentar lagi akan memicu perhatian dari staf lain.
Gibran menghela nafas frustasi. Kalau manjanya Nadia kambuh, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Di marahipun nanti makin jadi.
"Ok. Nad disini aja. Om mau kerja."
Nadia mengulas senyum lebar "Oke." Ia berseru senang lalu mendorong Gibran untuk ke kursi kerjanya "Om kerja aja. Nadia akan jadi gadis baik disini." Ujarnya yakin yang malah menambah kernyitan di kening Gibran.
"Jangan bercanda." Gibran berucap ngeri. Biasanya pertanda buruk kalau Nadia sudah mulak aksi manis manjanya ini.
"Beneran Om. Nad akan duduk disini, baca buku atau main hp. Tenang aja. Nadia gak akan ganggu."
Gibran mengangguk setelah lama menimang, tidak ada salahnya mencoba. Ia menepuk pelan rambut Nadia "Jangan nakal." Gadis kecil itu mengangguk mantap. Ini yang katanya lemas?
Gibran kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan tugas negara yang tidak akan pernah ada habisnya. Selain menjaga ketertiban wilayah udara negara, banyak kegiatan lain yang menjadi tanggungjawabnya termasuk memastikan atraksi terjuan payung berjalan dengan lancar tanpa hambatan dan kecelakaan. Belum lagi tugas melatih dan tugas-tugas laporan lainnya yang harus segera di selesaikan. Yang bilang tugas seorang tentara itu hanya ongkang-ongkang kaki karena bukan lagi menghadapi perang, mungkin orang-orang yang seperti itu perlu bermalam dalam saluran pembuangan dan merasakan bagaimana tidur kedinginan, banyak nyamuk, terancam bahaya, hanya untuk memastikan orang-orang yang sudah merdeka ini tidur dengan nyenyak setiap malam.
Gibran melirik Nadia yang sedang duduk di kursi tamunya. Gadis itu tampak tenang memainkan hpnya. Beberapa buku tertata rapi di depannya. Gibran menggelengkan kepala pelan, sebuah senyum kecil terukir di wajah kakunya. Melihat Nadia setenang itu adalah pemandangan yang cukup langka. Gibran tidak tau apalagi yang diperbuat Nadia tapi yang pasti, sepulang kerja ia tak akan meloloskan gadis ini begitu saja.
Dering telfon di atas mejanya menariknya kembali untuk konsen bekerja. Sebuah panggilan dari divisi kesehatan yang mengabarkan kegiatan pemeriksaan kesehatan akan segera dilaksanakan hanya menunggu komando dari pimpinan. Setelah menutup telfonnya, Gibran beranjak dari kursi dan mengenakan kembali baret biru tuanya.
"Nad, Om keluar sebentar. Jangan buat yang aneh-aneh." Pesan Gibran menghampiri Nadia yang langsung duduk tegak dan mengangguk mantap. Benar-benar mencurigakan.
"Siap, kapten." Gadis itu mengangkat tangan seolah memberi hormat.
"Om jadi takut kalau Nad menurut begini." Kata Gibran tak yakin meninggalkan Nadia sendirian. Nadia manyun tapi tak mengatakan apa-apa. Gibran menyapu puncak kepalanya lembut. "Jangan nakal."
"Iya, ah." Jawab Nadia sebal. Mentang-mentang tukang rusuh, dia jadi gak di percaya gini. Hadeh. Gibran meninggalkan ruang itu setelah menyampaikan peringatan-peringatan kecil untuk Nadia.
Sepeninggal Gibran, hal pertama yang Nadia lakukan adalah inspeksi dadakan. Ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan bercat putih hijau itu, semua tampak bersih dan rapi. Ada foto presiden dan wakil presiden yang di pasang di sisi kiri dan kanan jam dinding. Ruangan Gibran boleh dibilang cukup luas dan lengkap. Ada lemari pendingin berukuran kecil, tempat membuat minuman hangat, televisi yang tergantung di dinding, AC, dan sebuah lemari penyimpanan berkas. Nadia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi putar dimana Gibran tadi duduk. Senyum Nadia mereka saat melihat sebuah frame kecil diatas meja yang memajang foto mereka berempat, Nadia kecil, Gibran yang masih muda dan kedua orangtua Nadia. Keempatnya tampak tersenyum hangat di depan kamera, foto terakhir yang diambil sebelum kedua orangtua Nadia pergi selama-lamanya. Nadia meletakkan kembali frame tersebut di tempatnya semula setelah puas mengenang kebahagiaannya yang sempurna.
Nadia duduk di kursi Gibran setelah memastikan tidak ada yang melihatnya. Senyum gadis itu semakin lebar saat ia membuka laptop Gibran, fotonyalah yang muncul sebagai walpaper. Fotonya yang menggunakan baju persatuan persit yang diambil setelah pengurusan di kantor selesai. Seingatnya saat itu ia memangis tapi ternyata hasil fotonya sangat bagus.
Setelah puas melihat, Nadia membuka folder foto-fotonya yang tersimpan rapi dalam satu folder lainnya dari dirinya masih berbentuk zigot hingga foto terakhirnya sekitar seminggu lalu saat ia tertidur. Astaga, bahkan foto sejelek ini Gibran simpan. Om nya memang yang terbaik. Rasa kantuk mulai menyerang saat ia masih melihat foto-fotonya usia enam tahun.
.
.
"Hasil pemeriksaan untuk sementara semuanya normal. Untuk lebih jelasnya nanti kami akan sampaikan setelah di bawa ke laboratorium."
Gibran mengangguk mendengar penuturan dokter Elsa. Biar bagaimanapun ia harus memastikan kesehatan semua anggotanya. "Terima kasih atas kerjasama, dokter."
"Sama-sama, Bang." Dokter Elsa yang memimpin pemeriksaan mengulurkan sebuah botol pada Gibran.
"Oh, terima kasih." Ucap Gibran tersenyum ramah. Elsa mengangguk sembari tersenyum lembut.
"Jadi, Nad apa kabar, bang?"
"Ah, Nad? Dia--"
"Lapor, Kapt. Komandan akan menemui kapten di ruangan." Seorang prajurit memotong pembicaraan Kapten dan putri Komandan.
Gibran mengangguk, "Baik, saya segera kembali ke ruangan." Ia menoleh pada Elsa "Maaf, Dok. Saya harus kembali ke ruangan." Ujarnya.
"Papa mungkin akan membicarakan tempat penelitian Elsa. Apa Elsa bisa ikut, bang?"
Gibran mengangguk "Tentu saja."
Keduanya kembali di ruangan Gibran untuk menunggu Komandan dalam hal ini papa Elsa. Gibran harus segera sampai untuk mengamankan ruangannya. Semoga saja Nadia tidak melakukan sesuatu yang 'luar biasa'.
Sepanjang jalan melewati ruangan staf dan bertemu dengan beberapa orang, kedua manusia yang pernah di gadang-gadang akan menjadi the best couple in the year itu tak lepas mendapat perhatian. Beberapa menyayangkan jodoh yang tak sampai itu, beberapa lagi mensyukurinya karena baik Gibran maupun Elsa memiliki banyak pengagum yang menginginkan untuk bersanding dengan dua orang hebat itu.
"Silahkan masuk, Dok." Gibran membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Elsa masuk.
"Ada Nadia ya, bang?" Elsa yang hendak duduk melihat sebuah tas sekolah dan beberapa buku yang tersusun diatas meja tamu Gibran.
"Iya." Gibran menyusun buku-buku tersebut dan memasukkannya ke dalam tas sekolah. Kini perhatiannya teralih pada keberadaan gadis itu yang tidak ada di tempatnya.
"Lalu--"
"Selamat sore, Gi."
"Selamat sore, Komandan." Gibran berdiri dengan posisi siap, menghormat pada atasannya itu.
"Ada Elsa?"
"Assalamualaikum, Papa." Elsa menghampiri papanya memberikan sebuah pelukan singkat.
"Waalaikumsalam. Kenapa, nungguin papa? Takut Gibran salah ngomong?" Papa Elsa tersenyum lebar melihat muka cemberut putrinya.
"Papa ini, Elsa kan kangen papa." Ujar Elsa bergelayut manja di lengan papanya.
"Liat nih, Gi. Anak saya sudah gadis siap menikah tapi manjanya tidak ketulungan."
Gibran yang berdiri memperhatikan interaksi anak dan ayah itu hanya mengulum senyum tipis. Seorang ayah memang cinta pertama bagi putri-putrinya. Seorang yang mampu memberikan apapun untuk putrinya bahkan nyawa sekalipun. Gibran lalu teringat sosok Nadia yang tidak mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya sejak gadis itu kecil.
"Silahkan duduk, Ndan." Gibran mempersilahkan tamunya duduk setelah mengamankan tas Nadia terlebih dahulu. Elsa dan papanya duduk di kursi panjang menyusul Gibran di kursi single.
"Maaf, Gi. Saya sudah mengganggu waktu kamu, ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor melainkan tentang Elsa."
"Bagaimana hasil perjalanan kalian? Elsa bilang semuanya lancar." Papa Elsa melirik putrinya yang duduk tenang di sampingnya.
Gibran menoleh pada dokter berwajah lembut itu yang tampak sekali mengharap padanya.
"Maaf, Ndan, jalananan rusak, akan lebih parah kalau cuaca hujan--" Gibran menghentikan ucapannya saat merasakan suasana di ruangan itu sepi. Elsa menatap padanya dengan wakah lesuh. Papa Elsa melirik putrinya dengan wajah tegas.
"Tapi tempatnya aman, warganya ramah, dan tentu saja mereka sangat membutuhkan dokter Elsa disana." Lanjut Gibran membuat dua orang di depannya itu mendesah lega terutama Elsa.
"Yakin?"
"Siap, Yakin." Ucap Gibran tanpa ragu. Elsa tampak mengucapkan terima kasih tanpa suara.
"Baik. Saya akan pertimbangkan keinginan Elsa ke tempat itu." Ujar Papa Elsa kemudian.
"Makasi papa." Elsa memeluk papanya erat.
"Jangan senang dulu."
Elsa menggeleng "Pokoknys terima kasih." dalam hati sangat berterima kasih pada lelaki yang tengah duduk tenang di depannya.
"Oooom Gi!"
Tiga orang di ruangan itu menoleh ke asal suara. Nadia berdiri di depan pintu memakai helm tempur dan tiga coretan hitam di pipinya. Keringat mengucur dari pelipis gadis itu membuat rambutnya tampak lecek. Ia menyengir lebar, tak menyangka akan ada dua orang lain dalam ruangan Gibran.
"Lho, ada Nadia? Dari mana, Nak? Helmnya cocok sekali."
Nadia menyengir, menyentuh helmnya canggung. Helm militer yang membuat kepalanya sakit, dan juga baunya yang pengap.
"Assalamualaikum, Om." Nadia menghampiri papa Elsa dan menyalaminya.
"Darimana?" Gibran berbisik. Nadia menggeleng, membuat helmnya ikut bergerak dan turun menutupi matanya.
"Assalamualaikum tante Elsa." Sapa Nadia. Tangan kanannya kini menyusup di sela-sela cari Gibran, mengeratkan genggaman keduanya.
"Waalaikumsalan, Nadia." Balas Elsa tak bisa menyembunyikan senyum pedih di sudut bibirnya.
"Nadia mainlah ke rumah Om. Mama Elsa pasti senang sekali kalau Nadia datang." Papa Elsa menepuk lembut bahu putrinya seolah memberi kekuatan pada putri cantiknya itu.
"Insya Allah, Om." Jawab Nadia diplomatis. Ia melirik Gibran yang berdiri tenang di sampingnya.
"Baik, kalau begitu kami permisi. Terima kasih untuk bantuannya ya Gi. " Ujar papa Elsa.
"Siap, Sama-sama, Ndan." Gibran memberi hormat sebelum kemudian dua orang, ayah dan anak itu keluar dari ruangannya.
"Darimana?" Gibran menepuk helm Nadia cukup keras membuat gadis itu mengaduh.
"Sakit tau, Om." Keluhnya memanyunkan bibir. Ia melepaska tangannya dari genggaman Gibran lalu duduk diatas kursi tamu. Tampak sekali kelelahan di wajahnya, seolah ia baru saja melakukan pekerjaan berat.
"Om kan bilang jangan aneh-aneh." Gibran mengulurkan minuman dingin yang ia ambil dari lemari pendingin.
Gluk gluk gluk!
"Alhamdulillah segeeeer." Nadia menghapus sisa air dibibirnya dengan punggung tangannya. "Makasih, Om."
"Nad belum jawab pertanyaan Om." Tuntut Gibran.
"Ck. Gak kemana-kemana, Om. Cuma jalan-jalan aja di sekitar sini." Jawab Nadia lalu mengambil tasnya dan memakainya.
"Nad balik ya, Om. Assalamualaikum." Gadis itu keluar ruangan Gibran, mengabaikan wajah heran Gibran menatap kepergiannya.
Dasar anak kecil.
***
Drttt... drttt... drttt...
Gibran menggeliat mendengar getaran hpnya yang ia simpan dalam laci nakas. Ia melirik jam tangannya yang ia letakkan diatas meja kecil. Waktu menunjukkan pukul dua belas tepat. Sebuah pesan masuk beruntun kembali mengusiknya. Nadia yang tidurnya tak akan bangun meski badai menerjang begitu nyaman bergeling dengan kaki menindih perutnya. Tangan kecilnya memeluk lengan Gibran seperti guling.
Gibran mengambil hpnya untuk menonaktifkan benda pipih persegi panjang itu namun niat terhenti saat melihat sebuah video yang dikirimkan Nadia lewat WA. Penasaran, Gibran memutar video itu. Keningnya berkerut saat melihat beberapa prajurit di bawah bimbingannya tampak berbaris rapi membentuk tiga baris. Seorang gadis SMA yang mengenakan seragam sekolahnya yang tak lain dan tak bukan adalah Nadia berdiri di depan memegang sebuah Toa kecil seperti siap melakukan aksi demo. Sebuah senyum terulas di bibir Gibran saat dalam video tersebut Nadia beberapa kali harus memperbaiki posisi helmnya yang selalu turun menutupi setengah wajahnya.
*Adakah semangat di dadamu? Teriak Nadia lantang melalui pengeras suara.
*Ada!
*ada!
*ada!
Balasan para pria berseragam loreng menggema.
*Mana dia? Nadia tampak berapi-api.
*Ini dia!
*Mana dia?
*Ini dia!
Gibran menutup mulutnya menahan tawa melihat Nadia tampak lucu dan mungil di tengah para pria berbadan kekar.
*Siap?
*Siap!
*Hari ini, hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun usianmu, bahagialah Kapten~
Yang kami beri, bukan jam dan cincin.
Bukan seikat bunga atau puisi juga kalung hati*~
*Kapten... orangnya tegas, suka menghukum dan jarang senyum.
Yang ingin kami ucapkan selalu doa tulus hati~
Semoga Tuhan, melindungi kapten
Serta tercapai angan dan cita-citanya.
Mudah-mudahan diberi umur panjang~
Bahagia bersama Ibu~
*Dirgahayu kapten Gibran!
Joss joss joss*!!
Suara tepuk tangan menggema mengiringi tawa bahagia Nadia.
"Om, Gi. Selamat ulang tahun. Panjang umur, sehat selalu. Hiduplah dengan lama bersama Nad. Nadia sayang Om Gi." Tutup Nadia dalam video dan menampilkan angka 35 yang terbentuk dari awan di langit biru.
"35 tahun ya?"
Gibran melirik Nadia, mengecup kening gadis itu dengan lembut.
"Terima Kasih."
***