Little Persit

Little Persit
Tetangga Rese



Malam ini Nadia dan Gibran di undang oleh tetangga untuk acara bakar-bakar ikan. Kalau kata Nadia, barbequan. Hanya saja acara bakar-bakar kali ini tidak menarik minat Nadia mengingat si Tuan rumah adalah Bu Guntur yang resenya ampun-ampunan. Ia hanya ingin beristirahat, tidak mau stres oleh kelakuan tetangganya tapi kata Gibran sebagai orang baru mereka harus sering mengakrabkan diri dengan tetangga sekitar karena kalau ada apa-apa tetanggalah yang akan melihat terlebih dahulu meskipun Nadia tidak yakin, Bu Guntur akan menolongnya jika ia terkapar di depannya. Paling-paling ibu satu itu akan memotretnya dan menguploadnya di medsos khas natizen.


"Udah siap?" Tanya Gibran melongokkan kepalanya di kamar dan masih mendapati Nadia duduk diatas ranjang malas-malasan.


"Om aja kalik ya yang pergi?" Kata Nadia tak yakin. Bisa-bisa ia serangan kalau Bu Guntur berulah, pesan dokter mengenai kesehatan mentalnya masih jadi pertimbangannya.


"Nad sakit?" Gibran menghampiri Nadia, memegang keningnya.


"Gak. Nad ok cuman malas ketemu Bu Guntur."


"Lho, kenapa? Ada masalah?"


Masalahnya ada pada Bu Guntur yang otaknya perlu di servis ulang supaya tidak merecoki suami orang, batin Nadia kesal.


"Gak Om. Cuman auranya itu loh. Bikin Nad dan adek bayi terguncang." Ujar Nadia asal.


Gibran terkekeh, "Lucu kamu ini. Ayoklah siap-siap. Acara dibuat untuk menyambut Nad dan Om. Hargain." Ucap Gibran mengelus pipi mulus Nadia. Ia paling suka melakukannya, gemas.


"Jangan lama ya Om."


"Insya Allah. Yang penting setor muka dulu." Gibran menarik pelan tangan Nadia membantunya turun dari ranjang.


"Nad pake ini aja." Kata Nadia yang seperti biasa mengenakan cepana kain dan baju kaos Gibran yang menenggelamkan badan kecilnya sekaligus menyamarkan perut buncitnya, sedangkan rambut hitamnya di cepol asal.


"Rambutnya di urai. Dingin." Ungkap Gibran padahal aslinya mau menutupi leher mulus jenjang Nadia dari tatapan orang-orang.


"Gerah, Om." Nadia meloloskan tangannya untuk mengambil jepitan rambutnya yang cepolnya di urai oleh Gibran.


"Gak. Acaranya dihalaman rumah." Gibran menjauhkan tangannya dari jangakuan Nadia. Leher Nadia salah satu properti berharganya yang tidak boleh dilirik oleh orang-orang. Nadia mengangguk lalu dengan berat hati mengikuti Gibran keluar rumah. Malam yang berat.


Keduanya sampai di rumah Bu Guntur langsung disambut oleh Tuan rumah yang kelebihan ramah pada mereka, Sabrina dengan dandanannya yang berlebihan. Untuk ukuran pertemuan para tetangga dimana ibu-ibu lain hanya mengenakan daster, Ibu satu itu tampil sendiri dengan gaun malamnya yang cocok dipakai di hotel bintang tiga.


"Selamat malam Pak Gibran, Bu Gibran." Sapanya mengumbar senyum lebar.


"Selamat malam, Bu." balas Nadia lalu dengan tenaga kecilnya mendorong Gibran untuk bergabung dengan bapak-bapak tentara lainnya yang sedang bermain kartu. Para tetangga cukup ramah menyambut mereka hanya saja Nadia dibuat tak nyaman dengan tatapan Sabrina yang terus memandang suaminya diam-diam. Nadia bahkan melihat ketidaknyamanan Pak Guntur melihat tingkah istrinya yang seperti itu.


"Bu Gibran, ayo gabung." Bu Tania yang berasal dari makassar melambaikan tangan. Di asrama itu warganya bisa dibilang dari merauke hingga sabang yang menyatu menjadi warga Indonesia yang hidup makmur berdampingan di sebuah asrama sederhana demi amannya batas NKRI.


Nadia meninggalkan Bu Guntur yang tersenyum masam karena sasaran utamanya sudah bergabung dengan bapak-bapak lain. Ia sudah repot-repot merancang acara ini, kalau sampai gagal, modalnya sayang.


Sabrina merapikan dandanannya selama perhatian Nadia ke tempat lain, ia harus melakukan sesuatu sebelum pawang kecil itu merecokinya.


"Bapak-bapak, ibu-ibu, terima kasih sudah datang di kediaman kami. Acara malam ini khusus untuk menyambut keluarga baru kita, Pak Gibran dan istrinya. Jadi mohon pak Gibran dan Bu Gibran tidak sungkan disini. Kita adalah keluarga sekarang, kalau ada apa-apa pasti dibantu. Benar begitu, bapak, ibu?" Bu Guntur membuka acara dengan sambutan yang sebenarnya tidak perlu karena semua orang sibuk dengan urusanya, Nadia dan beberapa ibu lain menyiapkan saos ikan sementara Ibu-ibu lainnya menyiapkan tempat makan. Sedangkan para bapak-bapak secara bergantian membakar ikan dan sisanya bermain kartu. Gibran sendiri memilih membantu pak Guntur mengangkut kayu bakar sebagai penghangat.


"Itu sudaaaah." Suara Bu Katarina menggelegar saat tak ada yang menyahuti Bu Guntur. Nadia yang sedang memotong tomat hanya mengulum senyum tipis. Cukup puas melihat Bu Guntur dikacangi.


"Bu Guntur memang seperti itu, Bu. Suka cari perhatian. Lihat deh pakaiannya, udah kayak mau kondangan pejabat. Salah kostum." Ujar Bu Tania terkekeh.


"Bener, Bu. Saya kadang kasihan lihat pak Guntur, malu pasti." sambung Bu Tejo yang tadinya melap piring malah ikutan nimbrung. Tim nyinyir satu.


Nadia tak berkomentar, Kata Gibran tidak boleh membicarakan orang jatuhnya jadi fitnah. Jadi meskipun bibirnya sudah gatal ingin mengatakan sesuatu, ia hanya bisa menelannya bulat-bulat. Iya tidak mau mampir di neraka sedangkan Gibran main-main di surga sama bidadari. Om Gibrannya akan bersamanya selamanya.


"Denger-denger bu Guntur sempat mau nyerain pak Guntur gara-gara tidak punya anak. Padahal aslinya mah siapa yang tau siapa yang bermasalah, Iya nggak ibu-ibu?" Bu Tejo semakin memanasi situasi. Ibu-ibu yang mendengar menganggukkan kepala setuju. Makin di gosok makin sip. Begitulah gosip. Nadia maunya menutup telinga atau menyingkir tapi tidak tau mau mengungsi kemana.


"Lagian bukan ji kita yang punya kuasa. Allah ji itu yang punya hak. Alhamdulillah Ibu Gibran sudah isi. Bahagianya mi ini kodong." Bu Tania menambahkan, logat makassarnya begitu kentara yang kadang membuat yang lain harus mencerna betul-betul apa yang diucapkannya.


"Alhamdulillah." Gumam Nadia. Orang-orang hanya melihat dirinya yang hamil sekarang tanpa tahu kehilangan dan rasa takut yang dialaminya selama kehamilan ini.


"Alhamdulillah. Bagaimana ngidamnya bu? Aman ji toh? Itu saya dulu ngidamnya aneh-aneh. Hobi makan beras mentah sampe suamiku itu da kira saya kesurupan padahal tidak ji. Sa mengidam saja." Terangnya tanpa di minta.


"Peleee Ibu, sa anak sudah tiga belum ada ceritanya mengidam aneh begitu. Itu ibu yang manja saja." Potong Bu Katarina, si Ibu tiga anak yang tegar dan kokoh.


Bu Tania yang mendapat tanggapan seperti itu hanya menyengir, percuma kalau cerita sama Bu Katarina karena tetangga mereka yang satu itu paling kesal mendengar ngidamnya orang yang katanya di buat-buat. Bu Katarina harus melihat bagaimana Gibran mengalami masa-masa itu. Bu Katarina pasti akan menyerah dengan tingkah kekanakan dan tak stabil Gibran selama trisemester pertama kehamilannya.


"Bu Gibran mengidam ji toh?" Bu Tania mencari sekutu karena ia tak ingin menjadi kambing hitam dimata Bu Katarina sedangkan ia tahu pasti mengidam adalah sesuatu yang wajar bagi setiap ibu hamil di alam semesta ini.


Nadia menggeleng, "Tidak, Bu. Om Gi yang ngidam." ujarnya kalem.


"APAAAAA???"


Semua ibu di tempat itu menutup telinga saat Bu Katarina berteriak. Bahkan bapak-bapak yang tak jauh dari sana menoleh mendengar jeritan itu.


Nadia menyengir, "Kenapa Bu? Aneh ya?"


Gibran yang melihat Nadia tampak akur dengan tetangganya mengulas senyum tipis. Ia selalu khawatir melepas Nadia dilingkungan baru mengingat bagaimana bandelnya istrinya itu saat di sekolah tapi makin kesini Nadia makin dewasa, mampu menempatkan dirinya dengan baik walaupun bagian-bagian memuntahkan kekesalannya selalu dia yang dapat. Tapi itu lebih baik dengan begitu ia bisa melihat perkembangan emosi Nadia sejauh mana selain itu ia lebih tahu cara menangani gadis dari siapapun.


BRAAKK!!


"Ouch."


"Astagfirullah ibu tidak apa-apa? maaf saya tidak lihat tadi." Gibran bergerak cepat menghampiri Bu Guntur yang terjatuh di depannya. Kayu yang ia pegang terhambur karena ditubruk oleh Bu Guntur yang Gibran tidak tahu menahu bagaimana kejadiannya sehingga Bu Guntur yang seharusnya bersama ibu-ibu lain malah kesasar di tempat itu. Ia hanya mengambil kayu bakar di dalam rumah-rumah kecil dan saat berbalik, kayunya tak sengaja menabrak bu Guntur yang datang dari belakang.


"Ah iya, Pak tidak apa-apa. Ini hanya-- aww!" Bu Guntur meringis memegang pergelangan kakinya. Gaunnya yang hanya sebatas lutut terangkat menampilkan setengah paha mulusnya. Gibran yang bingung dengan situasi sulit itu kelabakan, ia jadi serba salah. Mau menolong tapi--


"Awww sakit. Kaki saya sepertinya terkilir, aduuh." Adu Bu Guntur yang sedikit sebal karena Gibran tidak mengecuhkannya.


Gibran baru akan jongkok untuk memeriksa saat Pak Guntur berlari dengan cepat.


"Kenapa sayang?" Ujarnya khawatir, jongkok di depan istrinya yang mukanya bukan lagi meringis tapi siap menangis.


"Maaf pak tadi tidak sengaja saya tabrak." Aku Gibran jujur. Ia tidak yakin sebenarnya siapa yang menabrak tapi sebagai laki-laki, tidak ada salahnya meminta maaf lebih dulu.


"Mamah tidak apa-apa kan?" Tanya Pak Guntur menyentuh engkel kaki istrinya.


Bu Guntur menggeleng "Tidak apa-apa." Ujarnya lirih. Ia melirik Gibran yang sama sekali tak berinisiatif untuk menolongnya. Wajahnya manyun saat Pak Guntur membantunya berdiri, maunya Gibran. Jeritnya dalam hati. Tapi semesta sepertinya belum mendukung rencananya, belum lagi suami resenya yang tiba-tiba muncul, manusia jelek. Makinya.


"Sekali lagi maaf, Bu. saya tidak sengaja." Ucap Gibran tulus.


Pak Guntur tersenyum, "Tidak apa-apa, Pak. Tidak ada luka. Iya kan, Ma?"


Sabrina yang sudah diambang batas kekesalannya menggelengkan kepala tak ikhlas, "Tidak apa-apa, Pak Gibran. Tadi saya yang salah. Jalan tidak liat-liat."


"Memangnya mama gelap-gelapan mau kemana?" Pak Guntur bertanya selidik. Istrinya yang tak siap dengan pertanyaan itu hanya bisa gelagapan.


"I-itu--"


"Mama lupa pintu dapur sudah pindah?"


Sabrina mengernyit, lalu "Ah iya, bener Pah. Mama kira masih di belakang pintunya." ucapnya meringis.


Gibran yang menjadi orang tengah hanya mendengarkan, setahunya tidak ada pintu sama sekali dibagian belakang. Yang ada hanya pintu kandang ayam tapi itu bukan urusannya, karena fokusnya adalah jangan sampai ia menyakiti orang.


"Pak Gibran kedepan saja. Nanti saya yang urus Ibu." Ujar Pak Guntur dengan pandangan tak lepas pada engkel kaki istrinya.


"Benar tidak apa-apa, Pak? Atau mari kita periksa di tempat terang." Saran Gibran. Siapa tahu saja ada luka yang tak terlihat.


Pak Guntur menggeng, "Tidak apa-apa, Pak. Istri saya baik-baik saja. Mohon maaf sebelumnya membuat bapak tidak nyaman. Gibran mengangguk paham. Ia meminta izin untuk bergabung dengan yang lain meninggalkan pasangan itu yang sepertinya sedang bersitegang dilihat dari gestur Pak Guntur yang biasanya ramah jadi sedikit lebih diam.


Acara berlangsung dengan hangat meskipun harus dicederai dengan kehebohan-kehebohan Bu Guntur dengan kakinya yang katanya terkilir. Ada saja tingkahnya untuk menarik perhatian orang terutama perhatian Gibran yang menurut cerita bu Guntur sebagai pelaku tak sengaja menabrak dari cedera yang dialaminya. Nadia yang menjadi penyimak lebih banyak diam, mengobservasi apa yang sekiranya Bu Guntur rencanakan. Dan seperti biasa suaminya yang baik hanya akan diam saja, menerima segala tuduhan tanpa sedikitpun membela diri. Untung saja ada Pak Guntur yang baik sekali menjelaskan kronologis kejadian sehingga Nadia bisa menyimpulkan ada udang dibalik bakwan Bu Guntur.


"Bu Gibran duduk aja, biar kami yang bersihkan. Kasihan bayinya, kecapean nanti." Bu Tejo mengambil alih piring yang disusun oleh Nadia. Setelah makan, satu lagi kesibukan yaitu cuci piring dan Nadia membenci pekerjaan itu karena bisa merusak kuku-kuku cantiknya.


"Oh tidak apa-apa, Bu. Buat olahraga juga." Ujar Nadia yang kini beralih membawa gelas-gelas kotor di dalam loyang kecil.


"Ck, Bu Gibran ini, biar nanti tuan rumah yang rapikan. Ibu duduk manis aja." Bu Guntur dengan senyum dibuat-buat mengambil loyang ditangan Nadia lalu sebelum sempat di cegah langsung melesat ke tempat cuci piring yang ada di luar rumah.


Nadia menghela nafas pendek. Ya sudahlah, ia bisa istrahat tapi ngomong-ngomong dimana Omnya?! Ia tak melihat lelaki itu diantata kesibukan tetangga-tetangganya yang kembali bermain kartu. Ia sudah sangat lelah sekarang, butuh istrahat.


Nadia kemudian berjalan ke belakang dimana ibu-ibu lain sedang mencuci piring. Baik Pak Guntur dan Bu Guntur sebagai tuan rumah tidak ada disana, begitupun suaminya.


"Cari bapak ya, Bu?" Tanya Bu Tania yang sedang membuang sisa makanan.


Nadia mengangguk, "Ibu lihat?"


Bu Tania menunjuk ke belang, tetapnya kearah dimana sumur berada. "Bapak ngangkat air buat nyuci piring." Ujarnya yang diangguki paham oleh Nadia.


Ia berjalan pelan, niatnya hanya untuk memastikan keberadaan suaminya tapi siluet seorang wanita yang tak asing membuat perasaannya tidak enak. Mengabaikan kondisi yang temaram dan jalan yang sedikit licin akibat tumpahan air, ia berjalan menyusuri jalur setapak itu. Tak jauh di depannya suara katrol mulai terdengar, sudah pasti itu suaminya. Perasaannya semakin tak karuan mengingat Bu Guntur, ia memiliki firasat yang tidak baik tentang istri rekan suaminya itu. Dan benar saja-- mata Nadia membola melihat apa yang terjadi di depannya.


"OM GllI!!!"


PLAK!!!


"Aw!"


***