Little Persit

Little Persit
Ngidam Bucin



Dua garis biru? Nadia menatap bayangannya sendiri di cermin kamar mandi. Ia menyentuh permukaan perutnya yang tak ditutupi apapun. Bodohnya dia tidak tahu bagaimana menggunakan tespack. Tontonan Aleksis benar-benar sudah menyesatkannya. Apaan lah katanya film dua garis biru itu isinya tentang salah gaul sampai hamil. Ia butuh mengonfirmasi maksud dua garis biru itu atau seterusnya ia akan menjadi bahan lelucon Gibran. Semalam saja bukannya mengharu biru dengan kabar kehamilannya, yang ada dia diledek habis-habisan oleh Gibran gara-gara garis biru.


"Halo dek bayi. Sehat-sehat ya Nak disana." Sapa Nadia pada janin yang mungkin saja masih berupa gumpalan darah. Senyumnya terukir lembut membayangkan kehadiran bayi kecil dalam kehidupannya. Ia akan menjadi ibu dari bayi kecil yang menggemaskan.


"Nad Ngapain? Om mau make kamar mandi."


Nadia tersentak dari lamunannya. Ia segera meraih handuk putihnya dan melilitkannya di badan. Rambut basahnya ia biarkan tergerai begitu saja memberi kesan seksi pada gadis SMA itu.


Ceklek!


"Kam--Wow!"


Nadia menahan handuknya dengan kedua tangan saat melihat tatapan nakal Gibran. Sial sekali handuknya mulai tidak aman menutupi badannya. Nafsu Gibran sedang tinggi-tingginya, salah sedikit Nadia pasti jebol lagi pertahananya.


"Jangan macam-macam ya Om. Nad hamil muda."


"Emang Om ngapain? Gak ada." Elak Gibran menangkis tuduhan Nadia. Ia hanya bersiul dan hey, itu istrinya bukan istri tetangga.


"Ck. Sok lugu bangat." Nadia melipir merapat di dinding demi menjaga jarak aman dari Gibran.


Lelaki itu terbahak. Ia hanya ingin mengerjai Nadia, tapi istrinya itu memang tidak bisa hanya sekedar dikerjai, Gibran pasti tak jauh-jauh melumpuhkan Nadia yang makin hari makin berbeda dimatanya. Nadia bukan lagi gadis kecilnya yang lucu walaupun Nadia tetap menggemaskan. Si cantik itu menjadi wanitanya yang manis yang selalu mampu menggodanya hanya cukup mengedip manja saja. Gibran melenggang masuk dalam kamar mandi setelah menyempatkan bersiul mengagumi ciptaan Tuhan yang kini dalam genggamannya.


"Nad colok mata Om!" Ancam Nadia mengarahkan dua jarinya gemas. Ada-ada saja. Apa gak cukup setiap malam mainin dua bisulnya. Haduh. Nadia bergegas masuk ke kamar untuk gantian sebelum Gibran keluar dan merecokinya lagi.


"Hai puppy, apa kabar?" Nadia melambaikan tangan pada si gemoy puppy, bayi ayam peliharaan Gibran yang tumbuh dengan baik dalam sangkar emasnya yang kini menghuni salah satu sudut kamar mereka. Bau, tapi mau bagaimana lagi jika Gibran tidak bisa tidur tanpa mengajak puppy berbicara. Keanehan lain yang membuat Nadia menyangka Gibran bukan sekedar mengidam tapi juga mulai memiliki orientasi yang salah tentang hewan bertanduk di kaki itu.


Kata Gibran puppy harus dilindungi dari pejantan yang mengincarnya jadi harus diamankan dalam kamar. Nadia sampai bertanya-tanya, apa mengidam bisa menurunkan kinerja otak seseorang? Pasalnya Gibran sekarang bukan saja jadi aneh dengan segala perubahan tingkah lakunya tapi juga sedikit b*go, sejak kapan ayam jantan mengincar bayi ayam yang baru saja beranjak remaja?! Dimana-mana, pasti yang diincar adalah betina yang siap bertelur. Ah, bisa jadi Gibran terinspirasi dari dirinya sendiri, pria dewasa yang suka mengintai gadis remaja seperti dirinya.


"Uweeek!!"


Nadia berlari ke kamar mandi saat mendengar suara Gibran beberapa kali mual. Morning sickness yang sangat menyiksa di awal-awal kehamilan.


"Om mau dibikinin teh hangat?" Nadia mengelus rambut Gibran yang kini terduduk diatas kloset. Gibran menggeleng, memikirkan teh hangat hanya membuat ia semakin ingin muntah. Ia menyerukkan kepalanya di perut Nadia yang hanya dilapisi handuk.


"Pake minyak kayu putih?" Tanya Nadia mencoba membantu Gibran dengan cara-cara yang biasa ia lakukan saat mengalami mual di pagi hari. Nadia hendak melepaskan belitan Gibran di badannya namun laki-laki itu menahannya.


"Begini dulu sebentar." Gumamnya dengan suara teredam. Nadia mengangguk, lalu dengan sabar menunggu Gibran memuaskan diri memeluknya. Tangan Nadia menyapu punggung Gibran lembut. Ia tahu betul bagaimana rasanya morning sickness, sangat menyiksa, semua hal menjadi sangat menyebalkan untuk dilakukan.


"Om mau ngantor?" Tanya Nadia pelan. Wajah Gibran sudah sangat pucat bahkan lelaki yang biasanya selalu berenergi tampak kuyu dan letih. Gibran mengangguk.


"Sampai kapan mual-mual seperti ini? saya tidak tahan lagi." Gibran semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup wangi nadia dengan rakus saat perutnya kembali bergejolak. Sepertinya wangi Nadia cukup ampuh untuk mengurangi mual yang dirasakannya.


"Biasanya bulan-bulan pertama, Om." Kata Nadia tak yakin. Iya juga tidak tahu hitung-hitungan waktu kehamilan. Yang pasti ia pernah sebulan mengalami mual di pagi dan sore hari sebelum akhirnya kehilangan janin di dalam kandungannya. Saat itu lebih menyiksa karena tidak ada Gibran yang menemaninya.


"Lama." Kata Gibran tak sabar.


"Sabar, Om. Nanti kita bagi surganya. Satu di bawah kaki Nad, satu dibawah kaki Om."


Gibran terkekeh lemah "Jangan ngelantur."


"Beneran Om. Nadia ikhlasin." Ujar Nadia tak main-main. Lagipula ia berharap bisa sesurga dengan Gibran, melanjutkan kehidupan mereka yang abadi bersama.


"Hm. Nanti minta izin sama yang punya surga." Kata Gibran ikut larut dalam obrolan tidak jelas Nadia hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari perasaan yang menyiksa.


"Sepertinya Nadia harus berangkat sendiri ke sekolah. Om gak kuat bawa motor." Gibran mendongak melepas belitan lengannya di badan Nadia.


Nadia mengangguk "Nanti Nad naik taksi."


"Biar Jojon yang antar."


Nadia mengipaskan tangannya "Jangan Om. Nad naik taksi saja."


"Kalau gitu biar Om yang antar."


"Ok, Om jojon saja." Putus Nadia akhirnya. Mau bagaimana lagi, Gibran tentu tidak akan melepaskannya jika keinginannya belum di turuti. Sekuasa itu Gibran sekarang saat ia mengalami yang namanya ngidam.


Nadia keluar kamar mandi diikuti Gibran di belakangnya. Wajahnya lesuh dan tak bergairah sama sekali padahal hari ini jadwalnya memberikan pembinaan pada para prajurit baru.


"Om izin saja. Nanti kenapa-kenapa di kantor kan repot-- Ng munduran dikit Om, nad susah ngancinginnya." Ujar Nadia membantu memasang kancing seragam Gibran. Ia sampai kesulitan bernafas saat Gibran menguci tubuhnya diantara badan kekar dan lemari pakaian.


"Om mual kalau jauh-jauh. Nad ikut ke kantor Om saja."


Heh?


Nadia menghela nafas pendek, "Gak bisa Om, Nad ada ujian praktek."


Gibran menggumam di tengkuk Nadia. Helaan nafas hangat, menggelitik kulit lehernya.


"Jadi gimana?" Gibran benar-benar tidak kuat kalau harus merasakan mual sepanjang waktu. Kehamilan Nadia kali ini seperti pembalasan untuknya yang sudah alpa saat-saat tersulit Nadia kala itu. Maafkan ayah, Nak, bukan niat ayah meninggalkan ibu saat itu. Perasaan bersalah tiba-tiba menyerang mengingat kesulitan Nadia saat hamil pertama tanpa ada dirinya yang mendampingi gadis kecilnya itu.


"Loh, Om nangis?" Nadia menghapus sudut mata Gibran yang basah.


Gibran menggeleng "Gak. Om hanya--" hanya merasa bersalah karena tidak berada disamping kamu saat semua hal buruk terjadi. Lanjutnya dalam hati. Lidahnya terasa kelu mengucapkan kalimat itu yang mungkin saja akan membuka kembali luka lama Nadia.


"Sabar ya Om. Ditahan aja. Gak lama kok ini." ucap Nadia menenangkan Gibran yang mengira airmata Gibran karena tidak tahan dengan morning sickness yang dialaminya.


Nadia mengangguk "Iya. Om sabar." Katanya lirih.


***


"Om lo mana? Kok diantar kak Jojo?"


Kak Jojo?


"Sejak kapan lo manggil Om jo kakak? Ngaku lo, chat-chatan kan lo bedua." Tuding Aleksis di depan wajah Sandra yang baru saja keceplosan.


"Ih apaan sih," Sandra mengelak salah tingkah. Wajahnya merona mengingat salah satu sahabat Omnya Nadia yang akhir-akhir ini intens berbalas pesan dengannya.


"Cieeeee yang keciduk main sama Om" Ledek Gendis yang langsung mendapat tatapan datar ketiga sahabatnya.


"Jangan rese deh. Cuman teman doang kok."


"Iya, temen lama-lama jadi demen." Imbuh Aleksis menyeringai.


"Gak ya. Beda rumah ibadah. LDRannya jauuuuh." Balas Sandra, meskipun dengan nada ceria tetap saja terselip getir disana.


"Di indo belum melayani ya yang beda gitu?" Tanya Gendis tiba-tiba.


"Anjiiiiir si yusuf yang alim itu? Yang kalo ngomong suka nunduk?" Tanya Aleksis ngegas mendengar berita baru dari mulut Nadia.


Nadia mengangguk. Kedua alisnya naik turun menggoda Gendis.


"Si ucup emang keren sih kalau di poles dikit." Sandra menambahkan.


"Iya, Om jojon juga keren kok Sand." Balas Gendis tak mau kalah dari Sandra.


"Udah, lo berdua mending cari yang setempat ibadah aja. Kayak Om Gi dan gue, jadi gak perlu ribet mesti nikah di luar. Tuh Sand, pak Justin sepertinya nyimpan hati buat lo. Dan Gendis, sepertinya Om Dewa keren juga digandeng kehadapan ortu lo. Kebetulan si Om baru putus sama yang lain. Lagi ribet juga dijodohin sana sini sama neneknya. Gimana?"


"Lah gue?" Aleksis yang tidak di sebut namanya mengancungkan tangan.


Nadia menggeleng "Lo benerin dulu akhlak sebelum pacaran. Bahaya kalo sampe otak lo gak nyampe bedain mana boleh dan tidak boleh. Gue bilangin ya, godaan pas deket cowok itu kerasa bangat. Gue ngalamin pas sama Om gi, kalau udah deket-deket, beuuuh, setan S3 langsung turun tangan bisik ini bisik itu, untung udah halal." terang Nadia bak pakar asmara.


"Emang Om gibran napsuan?" Tanya Aleksis dengan suara pelan, takut ketangkap cctv sekolah.


"Hmmm jangan tanya. Lo betiga liat gue sekarang, yang dulunya antipati sama Om-om, sekarang malah udah di jebolin berkali-kali."


"Tapi kan karena Om Gi emang hawwwt bangat. Wajarlah liur lo ikutan netes pas liat badan kekarnya." Ucap Gendis mengakui.


"Pasti keras bangat ya tu perutnya." Sandra berujar penasaran. Sebagai ketua dari Gibran lovers, mendapatkan info penting dari saksi mata langsung pasti akan sangat bermanfaat untuk dibagi-bagi di fanbase.


Nadia mengangguk, "Kotaknya sampe delapan. Haduuuh, gak tahan gue-- Awww! Kok kepala gue di getok sih?" Nadia mengelus kepalanya yang habis mendapatkan tiga ciuman dari sendok-sendok yang dipegang tiga sahabat laknatnya.


"Ngeres!"


"Jijik!"


"Omesh!"


Teriak mereka bersamaan. Nadia yang menjadi tersangka hanya bisa menghela nafas jengah. Sahabat kampreet, dasar!


"Eh bentar. Bukannya kita dikumpulin disini karena ada sesuatu ya?" Sandra yang teringat pesan darurat Nadia menyela.


"Ah iya. Lo mau ngomong apa?" Tanya Aleksis yang juga baru ingat tujuan mereka berkumpul di markas The girls di gudang belakang sekolah.


Nadia yang tadinya masam tiba-tiba mengulum senyum malu-malu.


"Dih, ngapain lu senyum najis gitu?" Gendis menyikut lengan Nadia yang duduk tepat di sampingnya. Nadia bukannya tersinggung malah semakin melebarkan senyumnya.


"Gue hamil."


"HAH???"


Nadia berjengit kaget mendengar teriakan ketiga sahabatnya "Biasa aja dong. Budek nih gue!" Ujarnya kesal sembari mengelus dada.


"L-lo hamil?" Tanya sandra tak percaya. Anggukan kepala Nadia membuat tiga orang gadis di gudang kosong itu berseru heboh.


"Alhamdulillah,"


"Puji Tuhan,"


"Selamat Sayaaaang."


Nadia mengulas senyum haru mendapat ucapan selamat dan syukur dari ketiga sahabatnya.


"Sehat-sehat ya, dek bayi." Sandra menyentuh perut Nadia dengan haru. Secara tulus mendoakan kesahatan Nadia dan calon bayinya.


"Selamat sampe seterusnya ya Nad." Ujar Gendis memeluk Nadia erat.


"Jangan banyak mikir. Biar kita yang gantiin lo mikir." Tambah Aleksis sembari menyeka sudut matanya yang berair.


"Makasih semuanya. Ucapin gue selamat lagi dong, kali ini yang ngidam Om Gibran. Keren kaaaan?" Nadia bertepuk senang, sedangkan tiga sahabatnya melongok.


"OM GI NGIDAAAM?" Tanya ketiganya serempak.


Nadia mengangguk mantap dengan bibir mengurai senyum senang.


***


Dewa menghampiri Gibran yang tengah beristrahat di kantin kantor "Lo sakit?" Tanyanya melihat Gibran duduk menyendiri dengan setengah wajahnya tertutup syal berwarna pink.


"Morning sickness." Gumam Gibran hampir tak terdengar jelas.


"Morning whaaaat?" Dewa menyengir kaku saat beberapa pasang mata menatap kearah mereka.


"Ngidam." Ujar Gibran datar.


"Ngidam? Bhaahaahaaaaaaaaa"


"Ketawa aja terus. Saya sumpahin mandul tau rasa."


"Weiiits selowww boy. Gue hanya-- khmm oke, sorry. Maksud gue, Nadia beneran hamil?" Tanya Dewa hati-hati. Mood lelaki di depannya ini sepertinya memanh mode senggol bacok.


Gibran mengangguk, satu senyum tipis mengulas di bibirnya yang tertutup kain pink itu.


"Wiiiih, selamat bro. Semoga kali ini sampe jadi." Ujar Dewa dengan tulus sembari memeluk singkat sahabatnya itu.


"Makasih. Kapan nyusul?"


Dewa mendengus masam "Jangan kayak nenek gue lo. Ayam betelor, sapi beranak sampe pas ngeliat telor cicak, gue di teror mulu pertanyaan kapan nyusul, emang gue buaya apaan. Untung nenek gue, kalau nenek tetangga udah gue jualin di pasar loak."


Gibran tergelak. Baru kali ini melihat langsung wajah nelangsa Dewa. Neneknya pasti sangat luar biasa bisa membuat sahabat yang tidak pernah ada matinya mengejek orang lain jadi kicep hanya karena pertanyaan 'kapan nyusul'.


"Jangan ketawa lo syal pink!"


Lihat kan? Belum apa-apa mulutnya sudah kembali nyinyir. Gibran mengatupkan rahannya. Ia memperbaiki lilitan syalnya yang kendor.


"Lo kehabisan masker apa gimana sampe syal bini lo pake?!" Tanya dewa heran. Laki-laki itu tidak buta, bisa melihat bahwa sepanjang hari ini Gibran menjadi topik hangat di kantor dan lapangan hanya karena syal pink yang melilit di lehernya. Tapi karena Gibran bukan tipe baperan, ia mengabaikan saja tatapan orang-orang padanya. Lagipula wangi Nadia yang melekat di syal pink itu cukup membantunya mengatasi rasa mual. Ia tidak menyangka akan mengalami ngidam yang seperti ini, Gibran seakan dibuat sang bayi tak bisa jauh-jauh dari Nadia. Calon bayinya pasti sangat mengidolakan ibunya sampai-sampai ia dibuat se-bucin ini.


Semoga Allah menjaga kalian. Ayah tak apa-apa jika selamanya seperti ini asal ada kalian disisi ayah.


***