Little Persit

Little Persit
Mari hadapi bersama



"Bik, Nad dim-- kamu disini?"


Nadia menoleh lalu menyengir lebar pada Gibran sembari mengaduk-aduk nasi goreng dalam wajan, "Pagi, ganteng." Sapa Nadia dengan suara mendayu.


Gibran mendekat, mengintip apa yang sedang dimasak oleh Nadia. Nasi putih dengan potongan tomat dan cabai merah besar. Sangat ngejreng dimata.


"Masak apa?"


"Bubur ayam, Ya nasi goreng dong sayangkuuuuh. Gak liat nih?" Nadia berujar sebal yang dibuat-buat. Lagian senyata ini masih juga dipertanyakan.


"Tumben." Gibran mengambil gelas, menuang air minum lalu duduk diatas pantry memperhatikan Nadia yang tampak cerah ceria meskipun terlihat kepayahan mengaduk nasi yang sepertinya habis satu rice cooker.


"Nad kan mau jadi istri juara. Gimana? Udah mirip bunda-bunda hebat belum?" Tanya Nadia berputar memamerkan apron pinknya. Gibran menaikan satu alisnya, mengangguk samar. Lelaki itu meneguk sisa air putih di dalam gelasnya.


"Katanya mau ke kampus. Gak jadi?"


"Jadi. Tapi waktunya dimundurin. Om mau ngantar?"


Gibran melirik jam dipergelangannya, "Jam sebelas saya harus ke kantor. Sebelum itu boleh." ucapnya kembali memperhatikan Nadia dengan seksama. Istri kecilnya itu tampak menggemaskan dengan apron pink dan bando kuping kelinci menghiasi rambut hitamnya.


"Kenapa ngeliatin Nad? Suka?" Nadia mematikan kompor lalu berjalan mendekati Gibran, berdiri diantara kedua kaki laki-laki itu.


"B aja."


Nadia mencibir, "B aja tapi meluknya gini bangat." Nadia mengalungkan lengannya dilehar Gibran sementara lelaki kerennya itu memeluk pinggang rampingnya posesif. Anehnya meskipun tampak kokoh dan berurat, lengan Gibran saat memeluknya tak pernah menyakitinya, "Om pagi gini udah wangi aja sih. Kan Nad jadi pengen meluk aja rasanya."


"Silahkan peluk." Ucap Gibran mengangkat badan Nadia untuk lebih mempersempit jarak wajah mereka.


Cup.


Nadia menggigit bibir bawahnya menahan senyum malu-malu setelah mendapat kecupan selamat pagi dari kekasihnya.


"Manis." Balas Gibran dengan wajah tanpa ekspresi. Sungguh sangat berbeda dengan Nadia yang mudah sekali berekspresi. Gibran sepertinya terlambat saat pembagian jatah perubahan ekspresi makanya mukanya sedatar kanebo kering plus papan setrikaan.


"Iya dong kan biar Om nagih nyiumnya." Nadia mengusap tengkuk Gibran lembut. Si cakep yang pagi ini keringatan setelah olahraga pagi tampak semakin hot membuat Nadia jadi tidak tahan untuk mengusap peluh itu. Dapat dimana cobak laki-laki yang tetap wangi meskipun keringatan? Hanya Gibran orangnya dan Nadia si gadis beruntung yang berhasil mendapatkan semua kekerenan itu. Dan dirinya hanya bisa mengacau. Mengingat hal itu lagi membuat Nadia kembali merasa bersalah. Senyum cerahnya seketika berubah mendung.


"Om pasti dapet teguran dari kantor karena Nad kan?"


"Udah biasa. Ini rambutnya di keritingin lagi?" Gibran menggulung rambut Nadia dengan telunjuknya. Mencoba mengalihkan topik pagi ini. Gibran tidak mau Nadia yang matanya masih bengkak harus menangis lagi.


"Jangan ngalihin pembicaraan. Rambut Nad emang dari sononya gelombang gini." Nadia melepaskan jemari Gibran dari rambutnya dan menggenggam tangan lebar itu dengan mata Nadia mengembun, tepat seperti yang Gibran khawatirkan.Tampak sekali penyesalan menyelimuti hatinya, "Gara-gara Nad kan?"


Gibran tersenyum tipis, meniup poni Nadia yang menjuntai dikeningnya membuat Nadia mengerjap, "Gak apa-apa." ujarnya lalu menyentuh kuping kelinci istrinya itu. Lucu sekali. Ibu satu anak ini bahkan masih tampak seperti remaja pada umumnya yang bebas dan ceria. Sudah seharusnya gadis muda seusia Nadianya bahagia menikmati hari-harinya dengan bergaul bersama remaja seumurannya mengejar cinta dan cita bukan malah terjebak dengan masalah-masalah pelik orang dewasa seperti sekarang. Gibran tahu selalu ada dua sisi dalam sebuah keputusan yang dibuat termasuk menikahi Nadia, baik dan buruk. Nadia yang sudah pasti akan terjaga dan bisa ia pastikan kebahagiaannya tapi disisi lain Nadia harus menghadapi hal-hal yang seharusnya terjadi beberapa tahun kedepan. Namun terlepas dari apa yang telah terjadi, Gibran akan memastikan Nadia akan tetap menjadi dirinya, dewasa dan berkembang sebagai gadis muda yang bahagia.


"Gak boleh. Om Gak boleh biasa disalahin gegara Nad. Nad--" Nadia buru-buru menyeka basah disudut matanya, "Nad yang salah bukan Om Gi." lanjutnya sedih.


Gibran menghela nafas. Berbicara dengan Nadia terkadang membuatnya sedikit harus menahan diri, Nadia tidak akan berhenti sebelum apa yang ada dikepalanya diiyakan oleh Gibran, "Iya, Nad yang salah--" ia mencapit hidung Nadia menekannya pelan sembari menahan senyum tipis, "jadi jangan sedih. Kita bisa perbaiki bareng-bareng." ucapnya. Ia menyeka sudut mata Nadia dan mengecupnya, "Saya tidak suka liat kamu menangis."


Nadia menggigit bibirnya, menekan keningnya di dada Gibran, "Nad harus apa buat bantuin Om?" Suaranya lirih diantara tangis yang coba ia tahan. Kedua tangannya menggenggan erat kaos tipis di depan dada Gibran.


"Beri Om pelukan." Jawab Gibran mengangkat sedikit badan Nadia dan memijakkan kaki tanpa alas itu diatas kakinya. Nadia lantas menghulurkan tangannya melingkari pinggang Gibran erat.


"Om dapet kupon spesial bebas meluk Nad sampai kapanpun." Ujar Nadia menghirup wangi segar Gibran yang selalu menjadi candunya. Lelaki ini, lelaki yang selalu menjadi garda terdepan untuk membela dan melindunginya, "I love you so much, Om. Nad gak tau seberapa besar cinta Om sama Nad tapi bagi Nad, Om adalah segalanya untuk Nad. Nad mungkin kuat ngadepin yang lain tapi Nad bisa mati tanpa Om sama-sama, Nad. Makasih udah nyayangin Nad segini banyak." Nadia mengangkat kepalanya membalas tatapan Gibran yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Tak ada wajah tersipu dari lelaki kanebo keringnya itu tapi Nadia tahu dari sorot matanya yang gelap, Om Gi-nya memiliki rasa yang sama banyaknya atau mungkin lebih, melihat bagaimana tentara berbadan tegap berwajah dingin itu mentolerir semua kekacauan yang ia buat.


"Nad cinta Om Gi banyak-banyak." Nadia menekan tengkuk Gibran agar mendekat lalu kemudian menyatukan bibir keduanya, melebur semua rasa khawatir yang menggerogotinya akan hari berat yang pasti dihadapi Gibran karena kelakun bar-barnya. Baru kali ini Nadia menyesal telah melakukan pembelaan diri. Bukan pembelaannya yang ia sesali tapi caranya yang sama sekali tidak elegan. Tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi dan menyesalpun rasanya sudah percuma. Hanya saja ia tak akan berpangku tangan, sebagai istri sekaligus pihak yang terlibat ia harus melakukan sesuatu.


***


Nadia menatap jauh motor yang dikendarai Gibran hingga menghilang diujung jalan. Nafasnya dilepas berat seolah hendak melepas beban yang membuatnya begitu lelah. Dua surat yang ia dapati di dalam laci meja kerja Gibran membuat pikirannya terbagi-bagi. Surat dari kepolisian tentang pelaporan dirinya atas kasus penganiayaan dan satu lagi sebuh amplop yang berlogo kesatuan Gibran yang tertera jelas panggilan itu untuk Gibran dan dirinya yang tentu saja pasti berhubungan dengan video yang viral kemarin. Nadia bahkan tidak tahu bahwa ada surat semacam itu yang ditujukan padanya hingga akhirnya mendapati sendiri surat tersebut tanpa sengaja. Sepertinya Gibran berniat menyimpan dua surat untuk dirinya sendiri.


Sekali lagi Nadia menghembuskan nafas kasar. Ia tidak bisa diam saja seperti ini. Gibran tidak boleh menanggung apa yang bukan menjadi kesalahannya. Nadia melirik jam di pergelangannya, beberapa menit lagi ia harus masuk mengikuti kelas tapi dirinya tidak bisa konsentrasi belajar jika pikirannya terbagi-bagi.


"NADIA!"


Ah kamvreet. Nadia baru akan pergi saat satu jenis manusia yang enggan ditemuinya datang padanya setengah berlari. Wajahnya kacau persis banteng mengamuk. Untung saja kacamata besaranya menghalangi biji matanya yang mungkin sudah membola. Nadia memutar bola mata jengah. Kayaknya hidup tenang susah bangat gue dapetin. Gue kebanyakan dosa apa gimana?


"LO BENER-BENER KETERLALUAN YA!"


"Tangan lo jaga!" Nadia menepis tangan Lalita yang mengancung didepan wajahnya. Ada masalah apa lagi si betty lapeang ini ya Tuhaaaan....!


"BR*NGSEK LO YA! LO YANG NAMPAR GUE, LO JUGA YANG BALIK NGANCEM!" lalita memuntahkan kemarahannya yang tak dimengerti sama sekali oleh Nadia.


Nadia melipat tangannya di dada dengan santai, ia tidak mau bar-bar lagi yang endingnya menyusahkan Gibran, "Coba lo ngomong yang jelas biar gue paham. Otak gue rada gak berfungsi ngadepin orang ngamuk. Bawaannya jadi pengen ngamuk juga."


Lalita mencebik kasar. Cewek yang katanya paling pintar di fakultasnya itu menaikan kacamatanya yang melorot di hidung mancung warisan dari salah satu orangtuanya yang berasal dari negeri jajahan firaun, "Masalah lo sama gue. Jangan bawa-bawa orangtua gue. Mereka gak tau apa-apa. Perusahaan bokap gue di bangun dari nol dan lo si anak manja dengan seenak jidatnya mau ngehancurin. Ada hati gak lo?" Lalita lagi-lagi menuding wajah Nadia tapi kali ini Nadia tidak sekedar menepisnya melainkan menangkapnya dan meremasnya kuat lalu menghempaskannya kasar.


"Apapun yang terjadi, gue gak akan pernah cabut laporan gue." Lalita mengetatkan rahannya menatap Nadia penuh permusuhan. Beberapa orang yang lewat mulai tertarik untuk menonton perseteruan jilid dua yang mereka duga akibat dari memperebutkan the most wanted di kampus mereka.


Nadia mengedikkan bahu, "Yaudah sih gak ada yang nyuruh lo juga kan nyabut laporan? Lo tungguin aja panggilan dari kepolisian, pencemaran nama baik dan menebar hoax. Yah kalau gue sih punya bukti hanya membela diri, kalau lo, satu kampus juga tahu kalau Lalita Gunawan lah yang menyebar berita tidak benar tentang Nadia Gaudia Rasya. Gue gak tau sih berapa tahun kurungannya tapi bisalah buat ngedidik mulut lo yang katanya orang berpendidikan taunya bahasanya sampah semua."


"LO--"


"APA?" Nadia maju selangkah, "Dan satu lagi, bukan cuma lo yang punya orangtua di dunia ini. Lo takut orangtua lo bangrut kan? Takut mereka menderita kan?" Nadia tak lagi menampakan wajah santainya, "Gue juga. Gue juga punya orangtua yang gak mau siapapun ngerendahin mereka. Dan lo? Lo yang gak kenal orangtua gue seenaknya menghina mereka. Menurut lo gue hanya akan diem aja dengan kelakuan lo itu? Heh--" Nadia tersenyum miring, "Gue kasihan bangat sama orangtua lo yang harus menanggung akibat dari mulut sampah lo itu."


Lalita mengepalkan kedua tangannya tapi tak bisa berkata-kata. Nadia tak selemah dugaannya. Siapa sangka cewek yang selalu disebutnya otak udang ini adalah pemilik dari sebuah perusahaan raksasa Gaudia Group. Dirinya sudah salah langkah tapi mau bagaimana lagi kalau semuanya sudah terjadi. Ia pun tak mau merendahkan dirinya dengan meminta maaf pada Nadia. Bisa-bisa cewek sok cantik itu besar kepala.


"Urusan kita belum selesai!" Setelah mengatakan satu kalimat itu, Lalita pergi dari hadapan Nadia yang masih berdiri tak gentar.


Nadia mendengus pelan lalu berputar arah menuju gerbang kampus mengabaikan orang-orang yang sejak tadi menonton mereka. Ia tak jadi mengikuti kuliah karena ada yang lebih urgen yang harus dilakukannya. Sebuah taksi yang baru menurunkan penumpangnya membawanya pergi dari kampus.


***


Gibran baru saja selasai sholat dhuha saat seorang junior utusan komandan memintanya untuk ke ruangan komandan. Sebenarnya tanpa diingatkan pun Gibran sudah tahu bahwa hari ini ia mendapat panggilan tertulis bersama Nadia karena masalah video viral di kampus istrinya itu. Tapi karena Nadia ada ujian tengah semester, ia tidak memberitahunya soal ini khawatir mengganggu konsentrasi sang istri meskipun akhirnya ia harus melawan perintah. Tidak masalah lah kalau ia mendapat teguran keras, ia bisa menanganinya.


Gibran melepas pecinya dan menggantungnya pada paku yang ada dekat lemari buku kemudian memakai baret sebagai gantinya. Ia sudah siap menghadap Komandan dan tentu saja istri Komandan yang tidak lain Ibu Ketua Nadia. Sebelum keluar ruangan ia menyempatkan mengisi ulang baterai hp yang semalam lupa ia cash.


Gibran keluar ruangan dan melangkah dengan pasti menuju ruangan Komandan. Hari ini selain sebagai seorang prajurit yang taat pada atasan, iabpun seorang suami yang akan memasang badan untuk istrinya. Gibran berdiri di depan pintu Komandannya siap mengetuk pintu sebelum sebuah suara kemudian menginterupsi.


"Kapten!"


Gibran menoleh dan langsung terkejut mendapati Nadia berlari kearahnya ditemani seorang juniornya.


"Kenapa disini?" Gibran menyambut Nadia yang terengah.


Nadia menghembuskan nafas ngos-ngosan, "Mau temenin Om." ujarnya menyeka keringat di pelipisnya.


Gibran menoleh pada juniornya yang memperhatikan keduanya penasaran "Ini istri saya. Terima kasih sudah mengantarnya."


Junior Gibran mengangguk paham, "Sama-sama, Kapten. Kalau begitu saya izin kembali, Kapten."


"Silahkan."


Gibran menoleh pada Nadia setelah juniornya itu pergi, "Istrahat dulu." Gibran menggenggam jemari Nadia membawa istrinya yang berpeluh untuk duduk disebuah batu besar, "Jangan lari-larian." Diusapnya peluh Nadia dengan sapu tangan yang selalu dibawa-bawanya.


"Om mau ketemu Komandan kan? Nad ikut."


"Kamu tidak ikut ujian?"


"Nad gak apa-apa kan pakaiannya gini?"


"Nad--" Gibran menegur.


Nadia menghela nafas pendek, "Nad gak ujian. Nad mau nemenin Om ketemu Komandan." ujarnya pelan. Ia bisa MID kapan saja bahkan mengulang mata kuliah pun tak masalah baginya. Mengembalikan nama baik Gibran yang paling penting untuknya saat ini. Terserah saja jika Gibran marah karena dia melewatkan MID. Sebagai istri bukankah ia pakaian untuk suaminya? Nadia tidak paham betul maksud kalimat tersebut tapi menurut cara pikirnya yang sederhana, Nadia tahu bahwa sejak menikah dan memiliki suami, nama baik Gibran juga menjadi tanggungjawabnya.


"Boleh kan Om?" Nadia mendongak, memberanikan diri menatap lekat Gibran sayangnya ia tidak mendapat petunjuk apapun karena wajah datar Gibran membuatnya sulit menebak isi emosi suaminya itu.


Gibran menarik nafas kuat, merapikan kemeja yang di pakai ke kampus oleh sang istri, "Kancing bajunya dibenerin." ucap lelaki itu mengancing dua kancing teratas kemeja putih Nadia. Kemudian ia merapikan anak rambut Nadia yang mencuat kemana-mana efek aksi lari-larinya tadi. Setelah itu Gibran berdiri, berjalan kebelakang Nadia dan mengumpulkan rambut sang istri terurai dan mengepangnya.


Nadia yang mendapat perlakuan selembut itu tak bisa menahan perasaan senangnya. Senyum manisnya terulas, merasakan bagaimana telatennya sang suami mengurusnya.


"Better than some years ago." Ujar Gibran puas melihat hasil kepangannya.


Nadia memegang ujung kepangannya lalu mengangguk menyetujui, "Iya. Sekarang udah gak ketarik sana sini lagi." ucapnya terkekeh. Beberapa tahun lalu Gibran terkadang dipaksa keadaan untuk mengurus Nadia kecil yang akan berangkat ke sekolah. Seperti anak perempuan lainnya, Nadia juga mengidolakan sosok Elsa Frozen yang selalu mengepang cantik rambutnya. Nadia kecil yang terkadang ditinggal keluar kota oleh kedua orangtuanya biasa di titipkan di kos-kosan Gibran dan lelaki itu mau tidak mau harus mengurus gadis kecil kesayangannya termasuk menata rambut Nadia kecil sedemikian mirip dengan Elsa yang hasilnya selalu gagal. Untunglah Nadia bukan tipe anak kecil yang merepotkan karena dengan lapang dada gadis kecil itu akan menerima hasil karya Gibran yang tak beraturan.


"Siap?" Gibran mengulurkan tangannya di depan Nadia, menunggu istrinya itu menyambutnya.


Nadia tersenyum lebar, meletakkan tangannya diatas tangan Gibran dan memasukan jemari kecilnya disela-sela jemari besar Gibran. Hangat dan selalu menghadirkan rasa aman.


"Siap, Kapten." Ucap Nadia mantap. Keduanya saling melempar senyum. Lalu dengan langkah mantap mereka berjalan beriringan menuju salah satu ruangan yang sudah menunggu dengan segala penghakimannya. Tapi bagi Nadia, sekuat apapun tekanan, semua akan terasa lebih ringan jika mereka menghadapinya bersama.


Cinta itu bukan hanya tentang bahagia bersama kan? Berbagi beban pun adalah bentuk dari ungkapan cinta yang tak kalah manisnya.


***


Hei hei reader. Maaf lama ya, author sedang bnyak kegiatan di dunia nyata. Akhirnya author harus menghadapi dunia nyata setelah beberapa bulan hanya asik berhalu ria.


semangat membaca semoga terhibur 💅