
"Oom Giiiiii!!!"
"Ck, jangan lari!" Gibran menangkap pinggang Nadia yang hendak melompat dalam pelukannya.
"Kangeeeeen." Nadia melupakan kopernya begitu saja dan menghambur memeluk Gibran. Akhirnya, sampai lagi di Papua.
"Kok terlambat?"
"Delay Om. Hujan deras tadi. Lama ya?" Nadia mengalungkan tangannya di leher Gibran, membuat lelaki itu harus membungkukkan badannya demi memudahkan Nadia yang hanya sebatas dadanya.
"sejam lebih." Ujar Gibran melirik jam di pergelangnnya.
"Hehe maaf ya. Nad gak tau bakal delay. Dari kantor? Keringatan gini loh, tapi wangi." Nadia mengendus dada Gibran yang menguarkan wangi yang sangat ia sukai. Gibran menggelengkan kepala sembari mengacak puncak kepala Nadia.
"Sudah makan?" Gibran bertanya sembari mengambil koper Nadia yang di tinggal begitu saja pemiliknya.
"Udah. Tadi di pesawat. Om udah makan?"
"Sudah. Langsung jalan aja. Om harus kembali ke lapangan."
"Yah, terus Nad sendiri dong di rumah?" Nadia memanyunkan bibirnya. Kedua kakinya menghentak kesal. Padahal masih mau manja-manja sama suami.
"Malam Om balik."
"Nad ikut Om aja gimana?"
Gibran menggeleng "Gak bisa." ia menggandeng tangan Nadia dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dipakai untuk menarik koper pink blink-blink milik istrinya. "Adek aman di pesawat?" Gibran melirik perut Nadia yang semakin kentara.
"Aman. Ibunya yang gak aman."
"Gak aman gimana?"
Nadia menyengir, "Deg-degan mau ketemu bapaknya Adek."
Gibran berdecak, "Ck, ada-ada saja." keduanya berjalan menuju salah satu mobil bak terbuka. Koper Nadia di masukan di bak belakang bersama beberapa jergen penampungan bensin dan minyak tanah.
"Nanti bau, Om." Protes Nadia saat melihat koper pink mahalnya disimpan begitu saja oleh Gibran.
"Sanggup mangkunya?"
Nadia menggeleng, "Enggak sih."
Gibran mengangguk samar, "Berarti disitu saja. Aman."
Nadia menghela nafas pendek. Ia masuk dalam mobil menyusul Gibran. Ya sudahlah, mungkin lain kali ia perlu menyewa heli untuk mengantar dan menjemputnya langsung. Ah atau membeli heli pribadi untuk Gibran supaya jamputnya gampang, tidak perlu melewati jalan berlubang lagi.
"Nad beli heli ya Om?"
Gibran yang sedang memasang seatbelt Nadia mendongak, "Heli? Buat apa?"tanyanya dengan kening berkerut.
Click.
Gibran menegakkan sandaran kursi Nadia, memastikan istrinya duduk dengan nyaman dan aman.
"Buat antar jemput Nad. Biar cepet, gak perlu juga ngelewatin jalanan rusak." jawab Nadia enteng. Gibran tersenyum tipis. Bagi istrinya membeli sebuah heli seperti halnya membeli es krim, tinggal sebut dan tunjuk dan semuanya langsung ada.
"Nanti dipikirkan." Gibran mengusap sayang rambut istrinya, sentuhan kecil yang selalu ia sukai. Nadia mengangguk cepat, lalu duduk dengan tenang memperhatikan jalanan di depannya.
"Om, ada perbaikan jalan ya?" Nadia melongokkan kepala keluar jendela. Setelah satu jam melewati jalanan bagus, Nadia menyiapkan diri untuk melewati jalanan penuh lubang tapi ternyata sudah ada perbaikan jalan disana. Di tempat yang kira-kira sepanjang lima kilometer itu banyak para pekerja jalan yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Banyak dari mereka adalah petugas dari luar pulau melihat dari perawakan mereka yang berberda dari penduduk lokal. "Akhirnya ya Om." Nadia menyengir senang. Perjalanan yang biasa ditempuh dua atau tiga jam hanya perlu sejam saja nantinya setelah jalanan ini selesai di perbaiki.
"Alhamdulillah. Sudah selayaknya semua rakyat yang merdeka merasakan semua kemudahan ini."
"Iya, Alhamdulillah. Nanti Nad minta Om samuel buat cek-cek lokasi ini. Kali aja ada yang bisa dibantu." Nadia duduk kembali dengan nyaman setelah puas melihat pengerjaan jalan. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok tak asing yang sedang berdiri diatas kap sebuah mobil jeep mengawasi para pekerja.Orang itu?
"Om, Nad gak salah liat kan?" Nadia menoleh pada Gibran setelah melewati mobil jeep tersebut. Tanyanya menunjuk kebelakang.
Gibran menggeleng, "Tidak. Mereka yang urus jalanan ini."
Nadia menutup mulutnya syok, "Dunia sempit bangat yak, Om. Dimana aja kita pergi, ada aja yang nempelin." Nadia menggelengkan kepala heran.
"Nad terganggu?" Tanya Gibran melirik dengan sudut matanya.
"Terganggu lah Om apalagi kalau ngusik kehidupan Nad. Beuh,pengen bangat Nad colok matanya." Nadia berucap berapi-api.
"Jangan kesal berlebihan nanti--"
"Nanti apa? Nanti cinta?" Potong Nadia tak terima.
"Biasa aja dong ngucapnya." Gibran mengusap wajah Nadia gemas.
"Udah biasa ini." Ujar Nadia manyun. Gimana mau biasa kalau sumber kekesalannya menginjak pulau yang sama. Haduh, tidak kakaknya tidak adeknya bisanya ngeganggu saja. Nadia membatin kesal.
***
"Mau makan apa? Nanti Om beliin?"
Bugh!
Nadia menutup pintu mobil lalu menyeret langkahnya dengan berat. Perjalanan yang melelahkan.
"Gak usah Om. Nad mau istrahat dulu. Capek bangat ." Nadia menyeka keringat di keningnya. Jalanan makin parah saja, kasihan sekali para pengangkut bahan makanan, pasti sulit melewati medan itu dengan banyak bawaan.
"Sebelum tidur bersihkan badan dulu." Gibran mendahului Nadia untuk membuka pintu. Ia meletakkan koper dalam rumah setelah pintu berhasil di buka.
"Siap, Om. Cepat pulang." Nadia mengambil tangan Gibran lalu menyalaminya dengan khidmat.
Cup.
"Selamat istrahat."
"Mmm. Selamat kerja Om. Peluk dulu." Nadia merentangkan tangannya yang langsung disambut Gibran.
"Jangan nakal." Tutur Gibran mencapit hidung Nadia lembut. Nadia mengangguk.
"Nad anak baik-baik. Camkan itu kisanak!" Gurau Nadia ala ala zaman majapahit. Wiro sableng the movie kayaknya berhasil mencetak kesan di kepalanya. Gibran menatap datar Nadia. Ada-ada saja istrinya ini.
"Om pergi. Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam. Hati-hati sayangkuuuuu." Nadia menyengir lebar saat Gibran mengangkat tangan sambil berlalu.
Nadia menutup pintu rumah setelah memastikan Gibran sudah benar-benar pergi.
"Sandraaaa, Aleksss, Gendiiiiiiis, gue kangeeeen." Nadia bergegas menghampiri toples kacanya dan memeluknya erat. Tiga ekor ikan cu*anngnya megap-megap berebut udara saat Nadia mengguncang toples itu.
"How are you gengs? Sehat? Om ngasi makan gak?" Nadia mengetuk-ngetuk toples kacanya dengan wajah sumringah. Sudah lama sekali ia tidak bertemu tiga ekor peliharaan itu yang sengaja diberi nama dengan nama-nama sahabatnya sehingga sesekali kalau ia rindu atau mau cerita bisa langsung pada tiga ikannya.
Setelah puas mengajak ngobrol ikannya, Nadia masuk kamar untuk mengambil handuk. Ia langsung dibuat terbelalak dengan keadaan kamarnya yang rame meriah dengan banyaknya balon dan kelopak mawar yang bertebaran hampir diseluruh sudut ruangan. Wangi mawar mendominasi kamar tersebut, sangat lembut dan feminim. Wow! Nadia menutup mulutnya tak percaya Gibran, si kanebo kering bisa melakukan hal seromantis ini. Dalam mimpi terliarnya pun ia tidak berani membayangkan Gibran akan membuat hal semanis ini untuknya. Kamar di penuhi mawar dan balon, serta cat kamar yang sudah diganti dengan warna pink lembut kesayangannya. Jangan lupakan seprei mereka yang kini bergambar hello kitty. Sangat total sekali. Nadia mengusap perutnya lembut.
Maaf, Om tidak menemukan bunga lili makanya pake yang ada.
Ya jangan kamboja juga dong bambaaaank memangnya hati Nad kuburan?! Nadia terkekeh membaca bait pertama tulisan Gibran.
Selamat datang kembali Nad, Adek bayi. Semoga kalian betah di rumah.
Nadia mengangguk, Insya Allah betah Om, pasti betah. Nadia mengecup kertas tersebut, menempelkannya di dada. Manis bangat lagi gue. Ia baru akan menyimpan kertas kecil tersebut saat tulisan lain di belakang kertas terlihat olehnya.
Kalau udah puas dengan bunga-bunganya, tolong di bersihkan kamarnya. Om pusing liatnya, persis seperti pesugihan.
"Asem, pesugihan. Dia yang bikin, dia yang nyinyir. Lelaki aneh, untung sayang." Nadia tergelak membayangkan wajah Gibran saat menyiapkan semua ini. Entah berapa kali lelaki itu menarik nafas kejutan manis ini.
.
.
Nadia menggeliat, membuka matanya pelan berusaha menyesuaikan dengan terang di kamar itu. Senyumnya langsung merekah melihat punggung lebar Gibran yang duduk membelakanginya. Bunga-bungaan yang ada diatas ranjang sudah bertebaran dimana-mana.
"Halo sayangkuuuuuu" Nadia menyelipkan tangannya memeluk Gibran dari belakang.
"Udah bangun?"
"Um. Thank you ya, manis bangat loh Om. Kok bisa mikir buat yang kayak gini sih Om?" Nadia menempelkan pipinya di punggung lebar Gibran yang hanya dilapisi singlet hitam. Emang hobby bangat ngegodain anak gadis orang. Huhu
"Google. Cepetan bangun, beresin semuanya."
Nadia memutar bola mata sebal, baru juga mau lovey dovey sudah dibuyarkan. Memang titisan kanebo kering, mau diapain juga tetap saja kaku.
"Jangan dulu. Nad masih mau liat-liat."
"Suka?"
Nadia mengangguk, "Suka. Semuanya Nad suka. Cuma lain kali kalau mau ngasi kejutan bebungaan seperti ini, kamboja jangan dimasukin list ya Om. Ini kan hati, bukan kuburan. Ntar bener lagi kata Om, such a pesugihan dan Nad tumbalnya." Untung si ratu horor tidak ikutan gabung makanin bunga-bunganya, hih.
Gibran terkekeh, "Maaf. Om lupa beli lili."
Nadia mengangguk, "Dimaafkan. Soalnya manis bangat sih walaupun modal nyontek google." Kedua tangannya terlepas dari belitan di perut suaminya. Laki-laki itu menangkup kedua tangannya, menoleh untuk menatap langsung wajah Nadia.
"Mana ucapan terima kasihnya?" Tagih Gibran.
Nadia langsung cemberut, "Om pamrih?"
Gibran mengangguk cepat, "Khusus ini Om nagih. Soalnya capek bukain kelopak mawarnya."
Nadia terkekeh, "Om ngerjain sendiri? Niat bangat loh Om. Nad gak nyampe mikir Om bisa lakuin semua ini."
Gibran menggaruk tengkuknya malu, "Aneh ya? Maaf, Om tidak berbakat jadi laki-laki romantis."
"Manis kok Om. Tapi romantisnya sama Nad aja. Jangan diluaran sana. Om modal muka kaku aja udah banyak bangat cewek-cewek baper sampe setengah gila. Apalagi kalau ditambahin romantis, beuh penuh tuh rumah sakit jiwa korban patah hati Om." Ujar Nadia. Kedua tangannya ia loloskan dari genggaman Gibran untuk menangkup pipi lelaki yang sudah mengisi hatinya.
Cup.
"Makasih Om. Om yang terbaik. Nad cinta bangat sama Om. Makasih." Nadia sekali lagi menyarangkan ciuman yang kali ini dibalas oleh Gibran. Keduanya menyalurkan kerinduan dengan ciuman romantis yang manis.
"Manis." Gibran mengelus bibir bawah Nadia yang basah akibat ciuman panjang mereka. Gibran menempelkan kening keduanya berebut udara dengan nafas terputus-putus.
Nadia tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa laki-laki yang sepanjang hidupnya ia panggil Om, menjadi pengganti orangtua baginya kini menjadi calon ayah dari anak-anaknya. Jodoh memang serahasia itu begitupun cinta tidak ada yang tahu pada hati siapa ia berlabuh. Jika dulu Nadia membayangkan Gibranlah yang akan menjadi wakil mengucap ijab untuk laki-laki yang mempersuntingnya, Tuhan menetapkan bahwa Gibranlah yang melafadz qabul untuknya. How sweet takdir Allah.
***
"Nad, ini sabunnya udah habis? Om kan baru beli kemarin?"
Nadia yang tengah memberi makan ketiga sahabatnya melongokkan kepala kearah dapur. Gibran sedang mengisi botol sabun cuci piring dengan air.
"Habis Om. Nad kan pake nyuci piring kemarin."
Gibran mendongak, "Satu botol?"
Nadia mengangguk polos, "Kenapa Om? kurang ya sebotol? Pantas sih, pantat panci bu Ketty gak bersih Nad gosokin."
"Panci bu ketty?" Gibran menoleh pada susunan panci di dinding kayu dan hanya bisa menghela nafas pasrah melihat panci kesayangan bu ketty seperti tergores paku disetiap bagiaanya. Ya Tuhan.
"Nad, ini pancinya--." Gibran mengatupkan mulutnya. Sudahlah, memang apa yang bisa ia harapkan dari seorang Nadia turun ke daput? Tak cukup dua buah piring yang ia pecahkan, ternyata ada korban lain, panci kesayangan Bu ketty. Seharusnya ia tidak membiarkan Nadia masuk dapur kalau tidak mau semua berakhir di tong sampah. Gibran meletakkan kembali panci itu di tempatnya semula. Setelah ini ia harus ke toko kokoh untuk membeli perlengkapan baru. Sepertinya piring plastik cocok untuk mereka.
"Sponsnya mana Nad?" Gibran mengangkat semua peralatan makan yang kotor mencari benda kuning yang juga kemarin dibelinya baru. Spons pertama yang ia beli Nadia celupkan ke dalam toples kaca sebagai rumah-rumahan tiga peliharaannya, spons kedua entah dimana rimbanya, yang Gibran lihat hanya bagian hijaunya yang sudah menjadi potongan-potongan kecil sedangkan yang ketiga ini--
"Ini Om. Nad pake buat lap jendela." Nadia mengangkat spons kuning yang kini hitam kusam.
Gibran menoleh, "Oh--" bakal seperti ini akhirnya.
"Mau di pake?"
Gibran menggeleng, "Gak usah. Om pakai plastik saja."
Nadia mengangguk paham, "Mau Nad bant--"
"Tidak usah. Nad duduk aja yang manis. Main sama sahabat-sahabat Nad." Tolak Gibran cepat. Nanti bukannya membantu malah menambah pekerjaan.
"Tapi Nad mau bantu." Keukeh Nadia menghampiri Gibran yang duduk jongkok dengan beberapa alat makan kotor di depannya.
"Gak usah."
"Om kan sudah cape kerja. Nad bantu ya?!"
Gibran diam sebentar, urusannya akan panjang jika ia terus menolak. Jadi-- "Nad sapu dalam rumah aja gimana?"
Nadia menggeleng, "Gak mau. Nanti Om sapu ulang lagi kayak kemarin."
"Emang iya?"
Nadia mengangguk cepat, "Iya. Malah debu yang Om dapat lebih banyak dari Nad."
Bagaimana mau bersih, kamu nyapunya pake kemoceng. Batin Gibran geli.
"Ya sudah. Nad duduk disini aja temani Om. Bantu kasi semangat." Ujar Gibran akhirnyan
"Oke oke!!!"
Gibran terkekeh saat Nadia menghormat padanya. Ia harus sering-sering membawa Nadia ke dapur untuk mengakrabkannya dengan peralatan tempur para ibu-ibu.
"Gadis pintar." Gibran mengecup kening Nadia lembut.
Sabaaaar Gi, hasil didikan sendiri.
***