Little Persit

Little Persit
Diabaikan



Nadia menghampiri Gibran yang berdiri memunggunginya. lelakinya itu tak bergeming saat Nadia menyentuh lengannya ragu-ragu.


"O-om Nad bisa jelasin, Nad--"


"Om kembali ke kantor. Malam ini kemungkinan berjaga di pos." Gibran menepis pelan tangan Nadia lalu beranjak mengambil beberapa barang yang sudah ia siapkan dalam tasnya.


Nadia meneguk salivanya susah payah, "Om marah?" Tanyanya dengan suara bergetar. Ia tak pernah melihat Gibran sediam ini. Biasanya kalau ia melakukan kesalahan Gibran tak akan segan memarahinya langsung tapi sekarang, menoleh pun Gibran tak mau.


"Nanti saja bicaranya. Saya buru-buru." Gibran mencangklok tas ranselnya dan menyampirkannya di salah satu bahu. Ia melangkah cepat keluar rumah tanpa menoleh pada Nadia yang sudah meneteskan airmata.


"O-om, Nad belum salim, hiks." Nadia berujar lirih menatap punggung Gibran yang meninggalkannya begitu saja. Bahkan untuk menerima salamnya pun laki-laki itu tidak sudi. "Om, jangan kayak gini sama Nad, hiks." Nadia terduduk diatas lantai semen, menatap nanar Gibran yang menghilang di ujung jalan. Sebesar itu kah kesalahannya sampai ia harus menerima pengabaian ini? Ia hanya di tolong, tapi kenapa seperti ini balasan sikap Gibran? Bahkan ia belum sempat menjelaskan apapun. Nadia menangkup wajahnya lalu menangis sejadi-jadinya.


***


Nadia bolak-balik mengintip di balik jendela menunggu kepulangan Gibran. Mungkin saja tadi Omnya hanya kesal dan akan pulang sebentar lagi. Waktu menunjukkan pukul delapan malam, tidak ada lagi aktifitas di luar rumah baik dari arah kantor maupun tetangga-tetangganya yang biasa masih bercengkrama di teras rumah bersama keluarga. Biasanya kalau malam seperti ini langit akan di penuhi taburan milyaran bintang yang bersinar terang dan Nadia akan memaksa Gibran menemaninya melihat bintang-bintang itu yang sama sekali tidak pernah di lihatnya saat di kota asal mereka. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit dan dari rumah-rumah maupun lampu jalan dan kendaraan memudarkan kelip cayaha bintang-bintang. Angin malam berhembus kencang, langit terlihat diselimuti awan gelap menerbangkan rambut hitam Nadia yang diurai begitu saja. Nadia merapatkan jaket di badannya, menanti dengan cemas sembari mengucap doa agar Gibran segera pulang. Ia paling takut hujan apalagi disertai petir, dan Gibran tahu akan hal itu. Tidak mungkin laki-laki itu tega membiarkannya seorang diri menghadapi ketakutannya.


Sekali lagi Nadia mengintip di luar. Suara air yang dibawa oleh angin mulai terdengar mengetuk atap rumah. Nadia bisa mendengar dengan jelas bagaimana daun-daunan di sekitar rumahnya berhembus saling berdesakan menciptakan bunyi yang menakutkan di telinga Nadia. Gadis itu menutup telinga dengan kedua tangannya saat bunyi guntur memecah malam. Nadia berlari ke kamar menyembunyikan dirinya di balik selimut.


DUAAAAAR!!!


"OM GIIIIII!!!" nadia berteriak menarik selimutnya kuat-kuat saat bunyi guntur menggelegar sampai membuat kaca jendelanya bergetar.


"Om Giiiii, Nad takuuuut, hiks. Ayaaaah, bundaaaa, Nad takuuut, hiks." Nadia memeluk tubuhnya gemetar. Bayangan-bayangan kedua orangtuanya yang berdarah-darah seperti kaset rusak memutar di kepalanya. Darah, hujan, petir, rumah, sakit dan semua rasa sakit yang membuat ia merasakan sesak yang sama saat kedua orangtuanya meninggalkannya selama-lamanya tanpa pamit kembali menghimpit nafasnya.


DUAAAARRR!!!!


"BUNDAAAAAAA" Nadia melipat kakinya hingga kedua lututnya menyentuh dagunya. Badannya gemetar hebat dengan kedua tangan saling menggenggam hingga buku-bukunya kelihatan. "B-bundaaaa... ayaaaah, N-nad t-takuuuut, hiks." Nadia sesunggukan. Ia tak bisa mengendalikan badannya yang bergetar. Giginya gemelatuk tak terkendali sehingga ia menggigit selimutnya untuk meredamnya. Jantungnya berdetak tak berirama seolah hendak keluar dari tempatnya. Sementara di luar hujan turun semakin deras.


"Om Gi, hiks." Nadia memanggil lirih Gibran berharap laki-laki itu mendengarnya, mengetahui keadaannya yang tidak baik-baik saja. Kedua matanya yang menutup rapat tak menghalangi airmatanya terus mengalir, membasahi selimut dan bantalnya. Bayangan punggung Gibran yang mengabaikannya, lalu orangtuanya yang juga meninggalkannya tergambar jelas di hadapannya mengantarkan satu kesadaran untuknya bahwa tak ada satu orangpun yang menginginkannya di dunia ini termasuk Gibran. Dan sepanjang malam itu Nadia melawan ketakutannya sendiri. Menangis sampai lelah, tenggorokkannya pun sakir karena terus-terusan memanggil ayah, bunda dan Gibran namun tak ada satu orangpun yang mendengarnya. Hingga kemudian rasa lelah itu menghinggapinya membuatnya tertidur dengan airmata yang tidak berhenti keluar.


***


Nadia membuka matanya berat. Ia melihat cahaya masuk melalui celah-celah dinding rumah. Ia mengambil hp yang ada di sampingnya yang semalam ia gunakan sebagai penerang.Tak cukup hujan, guntur dan petir, malam kelamnya di perparah dengan padamnya lampu yang tiba-tiba. Ia tidak bisa menyalakan lilin karena angin bertiup sangat kencang membuat ia kesulitan memantik api. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi lewat beberapa menit. Ia melewatkan waktu subuh. Nadia bergegas turun dari ranjang. Matanya benar-benar terasa berat untuk dibuka. Ia terlalu lama menangis sehingga bisa dipastikan matanya sebesar bola kastik sekarang.


Saat melewati pintu kamar, ia tersentak melihat Gibran yang tertidur di karpet dengan pakaian solatnya. Kemarahan dan kekesalan muncul begitu saja. Ia tidak menduga Gibran akan setega ini padanya, meninggalkannya saat ia butuh laki-laki itu. Nadia tidak tahu kapan laki-laki itu pulang dan tidak mau tahu tentang itu. Ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Saat kembali ke kamar, Gibran sudah duduk diatas ranjang menatapnya sendu. Nadia memalingkan wajah, mengabaikan keberadaan Gibran disana. Ia mengambil mukenahnya yang tergantung di belakang pintu lalu kemudian mulai solat. Setelah melaksanakan solat, Nadia membuka mukenahnya dan saat ia hendak menggantung kembali mukenahnya di belakang pintu, lengannya di tahan oleh Gibran.


"Are you oke?"


Nadia tersenyum sinis, menepis tangan Gibran di lengannya. "Penting buat Om tau?" Ujarnya dingin. Matanya melirik Gibran tajam. Are you oke? heh, Semalam kemana saja?


Nadia menoleh membalas tatapan Gibran padanya "Kenapa Om jahat sama Nad? Sebesar apa kesalahan Nad sampe Om tega sama Nad seperti ini?" Nadia mempertahankan suaranya agar tidak bergetar namun gagal. Setetes bening mengalir di sudut matanya sementara disampingnya Gibran tak bergeming sama sekali. Hal itu membuat Nadia semakin sakit hati. Bahkan laki-laki itu tidak menunjukkan penyesalan sama sekali karena telah mengabaikannya dan meninggalkannya seorang diri disaat ia butuh laki-laki itu disampingnya. Tak tahan dengan sikap dingin Gibran, Nadia bergegas meninggalkan kamar. Ia butuh sendiri untuk menenangkan dirinya dan kantor distrik menjadi pilihannya untuk mencari ketenangan.


.


.


.


Nadia kembali ke rumah setelah dijemput oleh Bu Katarina, tepatnya bukan di jemput tapi tak sengaja berpapasan pagi tadi saat Vu Katarina hendak ke pasar. Hari ini ada giat persit dan sebagai istri Gibran walaupun masih kesal dengan laki-laki itu ia tak akan menunjukkannya di depan umum karena ada beberapa orang yang terkadang bahagia melihat kesulitan orang lain dan tidak akan pernah membiarkan seseorang tertawa diatas rasa sakitnya.


"Ibu pu mata kenapa? Disengat tawon kah?" Tanya Bu Katarina yang baru menyadari mata bengkak tetangganya.


Nadia tersentak. Sejak tadi pikirannya tidak di tempat itu. Gibran lagi-lagi mengabaikannya dan pagi tadi sekembalinya dari kantor distrik laki-laki itu sudah tidak ada di rumah. Bahkan Gibran sama sekali tak berniat menyusulnya padahal Nadia berpikir laki-laki itu akan mencarinya karena dirinya keluar dalam keadaan marah tapi ternyata-- Nadia mengangguk, ia tak punya alasan lain untuk mneyembunyikan sebab mata sembapnya.


"Tapi kok kayak habis menangis ya." Sabrina menimpali dengan senyum yang dibuat-buat.


"Benar begitu ibu?" Tanya Bu Katarina memastikan.


Nadia menggeleng, "Nggak, Bu. Tadi emang kesengat tawon waktu ke kantor distrik." Ujarnya bohong. Tidak apalah bohong untuk menutupi aib rumah tangga. Ia melirik Sabrina yang tersenyum mencemooh.


"Aduh sayang eee Hati-hati." Bu Katarina berujar prihatin. Nadia mengangguk, cukup senang karena Bu Katarina bukan tipe lambe yang akan sibuk mengulik urusan orang lain.


"Oh iya, pak guntur masih di kota kah bu Guntur? Saya mo ada kirim uang untuk sodara. Kalau bisa nanti sa titip sama bapak." Obrolan beralih topik pada Sabrina yang ternyata ditinggal ke kota oleh suaminya. Nadia menghela nafas lega karena tidak harus diusik dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak soal matanya yang sembab.


"Ah iya ibu, boleh dong nanti saya telfon. Ibu ambil nomor rekeningnya sudah." Ujar Sabrina membuat senyum lega terpatri di wajah Bu Katarina.


"Tunggu sebentar. sa pulang ambil dolo." Bu katarina lalu bergegas kembali ke rumahnya.


Sementara itu Nadia yang ditinggal berdua dengan Sabrina tak berniat sama sekali mengakrabkan diri. Ia memilih basa basi dengan makhluk astral daripada membuang-buang waktu mengoceh pada Sabrina yang kelakuaanya membuat Nadia muak.


"Eh, mumpung ada Bu Gibran, saya mau minta maaf ya bu." Sabrina memegang lengan Nadia sok akrab. Nadia memandangi lengannya dengan kening berkerut. Ia sedikit tak nyaman dengan sikap Sabrina padanya terlebih setelah kejadian malam itu.


"Maaf untuk apa ya bu?" Tanya Nadia pelan-pelan melepaskan tangan Sabrina dari lengannya.


Nadia tersentak, "Semalam Om Gi bersama Bu Guntur?" Nadia berujar tak percaya. Sabrina mengangguk sok tak berdosa. Ada senyum kepuasan diwajahnya melihat Nadia yang memerah.


"Iya, Bu. Bapak baik bangat deh Bu. Ibu beruntung punya suami seperti pak Gibran. Udah baik, ganteng, perhatian lagi. Saya jadi baper loh. Nanti malam kalau suami saya belum pulang, suaminya boleh dipinjam lagi ya bu. Saya izin loh ini." Ujar Sabrina semakin memanasi Nadia.


Nadia menggeram, menahan diri untuk tidak membanting kursi sekarang juga. Jadi saat ia ketakutan semalam, suaminya asik-asikan menemani wanita lain? Hebat sekali. Nadia mendegus kasar. Nafasnya mulai tak teratur karena menahan amarahnya. Ia menatap Sabrina dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Oh ya? Wah saya baru tahu itu loh Bu. Baik sekali suami saya." Nadia berujar sarkas.


"Iya loh Bu. Padahal saya cuman iseng-iseng loh ya tau kan Bapak ngejaga diri bangat dari perempuan lain tapi ternyata sama saya mau loh dia. Hehe" Sabrina terkekeh dengan gaya yang dibuat-buat.


Nadia mendengus, "Mur*han." Gumamnya.


Sabrina membulatkan mata mendengar gumaman Nadia "Mu-mur*han? Maksud Ibu saya mur*han?" Sabrina berujar tak terima.


"Dua-duanya. Perempuan dan laki-laki mur*han. Sama saja. Cocok." Ujar Nadia tanpa emosi. Ia mendongak untuk melihat wajah merah pada Sabrina.


"Si*lan lo ya--aw!!"


"Mau nampar?" Nadia memelintir tangan Sabrina yang berniat menamparnya. Nadia mencengkeram kuat lengan Sabrina yang merintih kesakitan.


"Awww sakiiit--" Sabrina berusaha meloloskan diri tapi gagal. Tenaga Nadia benar-benar kuat saat marah. Kebiasaannya ribut di sekolah masih mendarah daging di tubuhnya. Beberapa cewek anarkis saja ia bisa kalahkan apalagi kalau cuma Sabrina yang modal badan besar, sekali dorong ia bisa mematahlan pinggang wanita ini.


BUGH!!


"Aw!" Sabrina terduduk kembali diatas kursi saat Nadia mendorongnya sekuat tenaga.


"Jangan berani nyentuh gue dengan tangan kotor lo itu." Tunjuk Nadia tepat di wajah Sabrina. Sabrina yang tidak terima mendapat perlakuan itu dari Nadia sontak bangun dan hendak menyerang balik Nadia namun dengan gerakan cepat Nadia mengelak kekanan sehingga Sabrina jatuh tersungkur di lantai. Untung saja gerakan Nadia cepat jika tidak, ia tidak bisa membayangkan dirinya yang jatuh seperti itu dalam keadaan hamil seperti ini.


Sabrina kembali akan menyerang dan--


BRAAAAK!!!


"AWW!!!"


Kali ini Sabrina jatuh terjengkat menimpa beberapa kursi plastik Aula. Wajahnya merah padam tak terima di kalahkan seorang gadis kecil seperti Nadia. Lalu tiba-tiba wajah marahnya berganti dengan tangisan sedih.


"Ya Allah bu, kok ibu tega sama saya. Saya hanya menyampaikan ini supaya gak ada kesalahpahaman bu, hiks. Saya minta maaf sama ibu tapi beneran bu saya tidak ada niat apapun buat ngegoda pak Gibran, hiks."


Nadia yang tadinya hendak membantu Sabrina berdiri mengernyitkan kening.


"Saya--"


"NADIA! APA-APAAN KAMU?!"


Nadia menoleh dan seketika wajahnya pucat melihat Gibran dan Lucas menghampiri mereka.


"Om ini nggak---"


"Keterlaluan! Om gak pernah ngajarin kamu jadi wanita bar-bar seperti ini. Minta maaf!!!"


Nadia menggeleng, "Nad gak salah." Ujarnya tak terima. "Dia yang nyerang Nad duluan." Tunjuk Nadia pada Sabrina yang sudah dibantu berdiri oleh Lucas.


"MINTA MAAF!!!" teriak Gibran membuat Nadia bahkan Sabrina dan Lucas terlonjak kaget.


"NAD GAK MAU!!! NAD GAK SALAH!!! OM DAN WANITA MURAHAN ITU YANG--"


"KAMU--" Gibran menahan tangannya di udara. Ia hampir saja menampar Nadia kalau saja tidak ditahan oleh Lucas.


"Jangan, Pak. Ibu--" Lucas melepaskan tangannya dari Gibran saat melihat sorot penyesalan di wajah sang kapten.


"Nad--"


Nadia membuka matanya dengan tatapan terluka "Om mau pukul Nad? OM MAU PUKUL NAD? IYAAA?? INI!!! PUKUL!!! PUKUL NAD!!!" Nadia mengarahkan pipinya pada Gibran yang langsung di raih Gibran dalam pelukannya.


"Maaf, maaf, maafin Om." Gibran memeluk Nadia erat. Di kecupnya kepala Nadia berkali-kali sambil mengucapkan kata maaf. Tidak, Gibran tidak akan pernah memaafkan dirinya kalau sampai tangannya benar-benar menyakiti Nadia.


Nadia berontak, berusaha melepaskan diri dari Gibran "Lepasin Nad. Nad benci Om. Nad benci!!!" Desisnya tajam.


Gibran menggeleng, menguatkan belitannya di badan Nadia. Ia menyesal. Menyesal telah hampir menyakiti Nadia. Ya Allah, Gibran menghebuskan nafas sesal berkali-kali.


***