Little Persit

Little Persit
Menunggu Om Gi kembali



Hari ini tepat satu bulan Gibran pergi, berarti sudah dua minggu lelaki itu hilang di medan tugas. Nadia duduk di depan rumah setelah menandai tanggal di kalender.


"Non, ayo masuk, sudah maghrib." Nadia menoleh lalu mengangguk pelan pada bibik yang muncul di depan pintu.


"Om Gi belum pulang, Bik." Katanya dengan suara lirih. Bibik yang tidak tega melihat Nona mudanya yang selalu sedih setiap harinya memberikan pelukan hangat pada gadis itu.


"Besok lagi ya Non." Ucapnya mengelus punggung Nadia yang tampak begitu rapuh. Di tutupnya pintu coklat di depannya lalu membawa nadia ke ruang tengah. Sudah dua minggu sejak Gibran menghilang bibik mulai tinggal di asrama menemani Nadia. Majikannya itu tidak mau meninggalkan asrama karena katanya Gibran akan segera pulang dan Nadia harus menunggu di rumah hijau. Dalam doanya bibik selalu memohon untuk Nadia dan Gibran agar kembali dipersatukan. Sudah cukup ia melihat kehilangan yang dialami nona mudanya. Setelah kepergian orangtuanya dalam kecelakaan naas, kini gadis itu harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga satu-satunya yang ia miliki sampai saat ini belum ketahuan nasibnya bagaimana.


"Kita solat ya Non, doain bapak supaya cepat pulang dan kumpul lagi sama Non." Ajak Bibik pada Nadia yang menatap kosong layar tv di depannya.


"Om Gi pasti pulang kan, Bik? Kan Om udah janji sama Nad gak akan ninggalin Nad sendiri."


"Iya pasti. Makanya Non harus banyak doa, minta sama Allah supaya Bapak segera pulang."


Nadia menghapus airmata yang meleleh di sudut matanya "Allah benci Nad ya bik karena Nad nakal? Semua orang yang Nad sayang di jauhkan dari Nad. Ayah, Bunda, dan sekarang Om Gi, semuanya ninggalin Nad. Nad mau ikut mere---"


"Shhhtttt astagfirullah. Istighfar Non, jangan berpikiran seperti itu. Allah sayang sama Non. Semua ini sudah takdir, Allah pasti mampukan Non melewati semua ini."


"Ta-tapi bik--hiks, Semua orang ni-ninggalin Nad hiks." Tangis Nadia pecah dalam pelukan bibik yang juga tidak bisa menahan airmatanya melihat nona kecilnya seperti itu.


"Tidak, Non. Bapak pasti pulang. Jangan menangis lagi." Bibik menghapus airmata Nadia, mencium rambut gadis itu sangat lama.


Ya Allah, kasihani anak ini.


***


"Nad, ayo makan. Baksonya keburu dingin tuh." Aleksis mengelus punggung Nadia yang diam menatap kosong piring di depannya.


"Atau lo mau coba pancake gue? Enak loh, resep baru." Gendis menyorongkan pancake miliknya pada sahabatnya yang belakangan ini tampak semakin murung.


"Gue punya kinderjoy sekotak di kelas. Gue ambilin ya." Sandra yang duduk di depannya menangkup tangan Nadia.


Nadia mendongak menatap ketiga sahabatnya dalam diam. satu tetes liquid bening jatuh dari sudut matanya.


"Gue mau Om gi." Katanya lirih yang membuat ketiga sahabatnya saling melirik.


"Sabar ya Nad, Om Gi pasti pulang." Aleksis memeluk Nadia, menepuk punggung sahabatnya itu lembut. Selama seminggu Nadia izin dari sekolah dan semingguan ini setelah di bujuk oleh ketiga sahabatnya dan juga bibik akhirnya ia mau masuk sekolah itupun yang ia lakukan selama berada di sekolah kebanyakan hanya bengong di bangkunya. Aleksis, Sandra dan Gendis yang selalu berada di sampingnya pun mulai khawatir akan kondisi mental Nadia. Setiap diajak bicara Nadia hanya akan menyebut nama Gibran, menanyakan kapan laki-laki itu pulang yang tak seorangpun mampu memberikan jawaban yang pasti. Mereka berdoa, berusaha, bahkan sampai saat ini Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian, bahkan ketiga sahabatnya itu tak tanggung-tanggung menggunakan kekuasaan mereka untuk membantu pencarian tapi hasilnya belum ada sama sekali. Bahkan jejak Gibran tak terdeteksi sama sekali.


"Pulang sekolah kita ke Mall yuk. Di tempat es krim biasa ada varian rasa baru, lo pasti suka. Gimana?" Sandra berujar antusias berharap berharap semangat itu mengalir pada sahabatnya. Melihat Nadia dalam mode diam seperti ini benar-benar menghawatirkan. Mereka tentu tidak lupa bahwa sahabat mereka satunya ini sudah mengalami kehilangan yang banyak dalam hidupnya. Dan sekarang Gibran yang menjadi satu-satunya sumber semangat hidupnya juga menghilang.


"Terus kita lanjut nyalon. Tenang aja, gue yang bayarin." Sambung gendis yang langsung menarik perhatian Nadia.


"Lo udah gak takut bencong?" Ujar Nadia yang membuat Aleksis, Sandra dan Gendis terkesiap, akhirnya Nadia mengucapkan kalimat lain yang tak ada hubungannya dengan Gibran.


"Gak, gue nggak takut bencong." Ujar Gendis semangat, melupakan phobianya terhadapa jenis orang melambai itu.


"Iya, sahabatan mereka. Iya kan, Ndis?" Aleksis tak kalah semangat menimpali.


"Gendia bahkan berani meluk badut sekarang." Tambah Sandra melebih-lebihkan. Namun nyatanya hal itu mampu menerbitkan senyum di wajah Nadia.


"Berhenti ngibulin Gue." Ujar Nadia mengulas senyum geli yang langsung disambut haru ketiganya. Mereka memeluk Nadia erat berusaha mengantarkan rasa hangat pada Nadia agar sahabat mereka tau bahwa masih ada mereka bertiga yang akan selalu menemaninya.


Lo gak sendiri, Nad. Ada gue, Sandra dan Gendis yang akan selalu ada buat lo.


.


.


.


"Eh, itu bukannya si Cantika ya? Sama siapa dia?" Sandra menunjuk arah restoran dimana ada Cantika yang duduk disalah satu kursi bersama laki-laki yang mereka tebak umurnya seusia orang tua mereka.


"Udah, nggak usah ngurusin. Kita kan mau nyalon disini." Ujar Gendis menarik tangan Sandra yang selalu kepo dengan masalah beginian. Ia mencolek Sandra memberi kode agar tidak menghancurkan rencana mereka menghibur Nadia. Sandra yang mengerti maksud gendis lalu mengangguk paham.


"Di salon yang gak ada bencongnya aja. Gue tau langganan teman-teman arisan nyokap nyonya-nyonya hijabers." Saran Aleksis yang mengkhawatirkan phobia gendis.


"Iya, disana aja." Ucap Nadia setelah sejak di perjalanan lebih banyak diam.


Keempat remaja itu kemudian pergi ke tempat dimana yang Alekis maksud. Dari kejauhan Cantika yang meyadari kehadiran para gadis-gadis pewaris itu hanya menghela nafas lega. Bagaimanapun ia masih khawatir empat gadis kaya itu membongkar pekerjaannya pada pihak sekolah.


"Itu tempatnya." Tunjuk aleksis pada salah satu salon langganan para sosialita yang ada dalam Mall besar itu. Tak seperti salon biasanya, salon yang mereka kunjungi tampak sepi karena hanya orang-orang yang benar-benar berduit yang bisa masuk disana.


Nadia yang merasa badannya lemas menghentikan langkah ketiga sahabatnya.


"Gue lemes bangat." Katanya memegangi perutnya.


"Lo lapar?" Tanya Sandra khawatir.


Nadia menggeleng, ia hanya merasa badannya benar-benar tak bertenaga.


"Lo makan apa aja hari ini?" Aleksis memegang kening Nadia yang mulai di banjiri keringat. Nadia diam, ia tidak ingat makanan apa yang masuk hari ini karena sejak pagi ia memang belum menyentuh apapun. Nadia menggeleng.


"Ya Tuhan, jangan bilang lo belum makan hari ini? L-LO NIAT MATI?" teriakan frustasi Sandra membuat orang-orang melirik kearah mereka.


"San, stop it." Tegur Aleksis. Sandra mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka Nadia bisa sebodoh ini. Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa, bagaimana kalau--Argh.


"Udah, mending kita cari restoran. Nad harus makan." Gendis menengahi.


Nadia yang merasakan tenaganya semakin berkurang, menyandarkan badannya sepenuhnya pada Gendis yang langsung di bantu Sandra dan Aleksis.


"Nad lo pucat." Ujar Aleksis mulai khawatir dengan keadaan Nadia.


"Mendingan kita pulang aja. Gue takut Nad kenapa-kenapa disini." Sandra mengambil alih Nadia dan memapah gadis itu bersama Aleksis. Sementara Gendis yang badannya paling kecil memegang tas gadis itu.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Sepanjang jalan menuju pintu keluar Mall, Sandra dan Aleksis bergantian memanggil Nadia mencoba membuat sahabat mereka itu tetap sadar. Badan Nadia semakin berat mereka rasakan seiring dengan kesadaran gadis itu yang mulai menipis.


"Langsung ke rumah sakit aja, Leks, Sand. Gue takut." Gendis yang mengikut di belakang mulai ikutan panik. Mereka sudah masuk area parkir. Untung saja Gendis memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu Mall sehingga mereka tidak kesulitan membawa gadis itu dalam mobil.


"Jangan. Mending dibawa di rumahnya aja. Kita bisa telfon dokter." Ujar Aleksis teringat bagaimana Nadia histeris saat mengetahui dirinya berada di rumah sakit. Mungkin saja Nadia memiliki trauma dengan tempat itu, bahkan Gibranpun memilih membawa pulang Nadia yang masih lemas untuk di rawat di rumah daripada membiarkan sahabat mereka berada di rumah sakit.


"Biar Gue yang nyetir." Aleksis mengambil alih kunci mobil setelah berhasil membawa Nadia dalam mobil.


"Kasi air, ndis." Sandra mengulurkan tangan meminta botol minuman Nadia yang ada dalam tasnya.


Gendis yang duduk disamping kiri Nadia lalu mengarahkan minuman ke mulut Nadia tapi gadis itu tidak membuka mata. "Nad?" Panggilnya panik.


"Leks, Buru. Nadia pingsan." Sandra menepuk pipi Nadia tapi tidak ada reaksi apapun dari sahabat mereka itu. Aleksis yang memegang kemudi mencoba untuk tetap tenang, sesekali melirik ke belakang mengecek Nadia melalui kaca depan.


"Telfon Dokter. Kasi alamat asrama." Ujarnya melempar hpnya pada Sandra.


Baru juga keluar parkiran, Aleksis merasakan ada yang salah dengan mobil yang di bawanya.


"****!!!" Aleksis memukul setir mobil saat tiba-tiba mesin mobil mati.


"Kenapa, Leks?" Tanya Gendis.


"Gak tau. Mesinnya mati." Aleksis keluar mobil di susul Gendis untuk memeriksa mesin mobil yang sama sekali mereka tidak ada ilmu tentang itu. Gendis menggigit kuku-kukunya panik.


"Ini gimana Leks?" Tanyanya panik. Belum lagi mendengar sandra yang terdengar panik di dalam mobil.


"Leks, Ndis, Nad berdarah." Teriak Sandra saat melihat darah hitam mengalir di betis Nadia.


Aleksis dan Gendis yang melihat itu ikutan panik. Belum lagi Aleksis yang mulai berpikiran buruk mengenai keadaan Nadia. Jangan-jangan---


"Ya Tuhan, Taksi mana sih."


"Grab aja." Saran Gendis membuka aplikasi taksi online di hpnya.


"Lama." Sandra menimpali.


"Ada apa?"


Aleksis dan Gendis menoleh ke asal suara. disana ada Cantika yang berdiri di depan mobil.


"Nad--" Gendis baru saja akan membuka mulut namun Aleksis menahannya.


"Bukan urusan lo. Pergi!!!" Aleksis tak mau membiarkan Cantika melihat keadaan Nadia. Biar bagaimanapun cewek satu itu pernah membuat masalah dengan Nadia walaupun sudah di klarifikasi beberapa waktu yang lalu. Cantika yang melihat kepanikan dua orang pewaris itu langsung berlari melihat kedalam mobil, wajahnya pucat melihat keadaan Nadia yang terbaring lemah dengan darah segar mengalir di kakinya.


"Bawa di mobil."


"GAK! LO MINGGIR!" aleksis menarik tangan Cantika menjauh dari mobil.


Cantika menipis tangan Aleksis "SAHABAT LO BISA MATI!!!" bentaknya.


Sandra dan Gendis mulai menangis melihat keadaan Nadia. Cantika lantas membuka pintu mobil. " Diem aja kalau lo mau liat dia mati." Ujar Cantika dingin yang membuat Aleksis bergegas membatu mengeluarkan Nadia dari mobil. Sandra menyusul di belakang, membantu dua orang itu mengangkat Nadia sedangkan Gendis mengunci mobil setelah mengamankan tas mereka.


***


"Dok, gimana keadaan Nad?" Tanya Aleksis setelah Dokter selesai memeriksa Nadia. Dokter yang mereka telfon adalah dokter pribadi keluarganya sehingga ia sudah mengenal baik dokter itu.


Dokter melirik orang-orang yang ada di ruangan itu. "Ada keluarga pasien?"


Semua orang saling melirik. Keluarga?


"Dokter bisa menyampaikannya sama saya." Ucap Aleksis kemudian. Sahabat juga keluarga kan?


Dokter menatap Aleksis sanksi. Bagaimanapun apa yang akan ia sampaikan adalah sesuatu yang sangat penting dan sebaiknya orang dewasa yang mengetahuinya.


"Baiklah. Ayo ikut ke dalam." Ujar Dokter lalu kembali ke dalam kamar dimana Nadia di rawat. Aleksis melirik Nadia yang masih belum sadar.


"Teman kamu sudah menikah?" Tanya dokter Prita.


Aleksis mengangguk "Sudah, dok. Ada apa?"


Dokter mengulas senyum lega "Nadia hamil."


"Ha-hamil?" Aleksis menutup mulut syok. Ia menoleh pada Nadia. Ada rasa haru mengetahui bahwa sebentar lagi Nadia tidak akan sendiri lagi. Ada bayi Gibran disana. Gibran? Senyum diwajah Aleksis luntur mengingat keberadaan laki-laki itu yang belum juga di ketahui.


"Kondisi kandungannya lemah. Stres dan kurangnya nutrisi yang masuk menyebabkan pendarahan. Kalau tidak dijaga dengan baik, besar kemungkinan ia bisa mengalami keguguran."


"Keguguran? Jadi gimana, dok? Apa yang harus kami lakuin buat Nad?"


"Saya sudah resepkan vitamin penguat kandungan. Nanti kalian tebus di apotik dan yang paling penting Nadia tidak boleh stres." Jelas dokter prita. "Ngomong-ngomong dimana suaminya? Dia perlu tau kondisi istri dan calon bayinya."


Aleksis meringis sendu "Dokter nonton berita pesawat tempur jatuh? Yang awaknya belum ditemukan sampai sekarang."


Dokter Prita mengangguk, belum paham hubungannya pesawat jatuh dan suami Nadia. Lantas kesadaran menghantamnya setelah teringat lokasi rumah ini.


"Kapten Gibran Al Fateh, suami Nadia, Dok. Sampai saat ini keberadaannya belum diketahui." lanjut Aleksis lirih.


Dokter prita menghela nafas pendek, dipandanginya gadis muda itu dengan prihatin.


"Semoga saja suami Nadia cepat kembali."


"Aamiin."


***


Haloooo semuaaaaa... selamat membaca 🤗🤗🤗