Little Persit

Little Persit
Sesal Tiada Guna



Gibran melangkah lebar meninggalkan lapangan terbang selepas melaksanakan tugasnya. Dikepalanya tak ada lagi tersisa ketenangan karena yang ia pikirkan sekarang adalah menyusul Nadia dan Pia tapi ngomong-ngomong kemana Nadia, kenapa pesannya tidak di balas, dan hpnya juga tidak bisa di hubungi. Ia melihat waktu yang tertera dimana Nadia membaca pesannya, sekitar tiga jam lalu, seharusnya mereka sudah di rumah sekarang.


Gibran mencari nomor telfon rumah hendak menghubungi Mbak menanyakan keberadaan Nadia dan Pia. Saat akan melewati pos jaga ia la dipanggil oleh rekannya yang masih belum lepas piket.


"Bang Gibran!"


Gibran yang sedang berusahan menghubungi Bibik dan Mang supir menoleh, "Ya?" tentara muda itu menghampirinya.


"Untunglah Abang dan keluarga tidak jadi pulang. Tuhan masih melindungi abang dan keluarga."


Gibran mengernyit, "Maksudnya?" Ia tidak begitu memperhatikan tadi. Pikirannya sedang tidak fokus.


"Ada kabar pesawat hilang, Bang. Pesawat dari Makassar tujuan Jakarta. Beberapa menit lagi landing langsung hilang kontak."


"Hilang?"


Gibran terdiam. Ia tidak lagi mampu mencerna dengan baik informasi yang ia dengar. Pesawat tujuan Jakarta, hilang? Nadianya? Pianya? Ya Allah.


Gibran berlari sekuat tenaga menuju kantor mengabaikan teriakan rekannya yang keheranan melihatnya seperti seseorang yang linglung.


"Bang Togar---"


Togar dan beberapa orang dalam ruangan kerja menoleh serentak saat Gibran tiba-tiba masuk menerobos. Layar televisi di depannya sedang menayangkan Hot News mengenai hilangnya sebuah pesawat komersil di perairan selat selat sunda. Badannya menggigil dan seketika ia kehilangan kemampuan berdiri saat melihat nomor penerbangan pesawat tersebut yang sama persis dengan nomor pesawat yang beberapa jam sebelumnya ia pesan untuk mereka bertiga yang akhirnya satu tiketnya harus hangus karena dirinya batal berangkat.


"Heh, kenapa kau?" Togar yang paling dekat dengannya menghampiri Gibran yang terduduk lemas di lantai dengan wajah pucat seperti baru saja melihat hantu.


"Bang, istri saya. Istri dan anak saya--." Gibran mulai menangis. Menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil. Nadianya, Pianya. "Nad--Nad, Pia---"


"Heh! Bicara jelas kau! Kenapa Istri dan anak kau?!" Togar menepuk pipi Gibran dengan keras. Beberapa orang mulai berkerumun penasaran dengan apa yang membuat seorang Kapten menangis seperti anak kecil yang ditinggalkan oleh ibunya.


"Istri saya... Nad, Pia-- pesawat" Gibran mendongak dan saat itulah Togar serta yang lainnya mulai paham. Suasana menjadi riuh oleh ucapan-ucapan takbir dari beberapa rekannya.


"Jangan gila kau!" Bentak Togar tak percaya dengan apa yang sudah disimpulkannya. "Kau disini, kenapa pula istri dan anak kau bisa di pesawat?!" Togar mengacak rambutnya. Keadaannya menjadi ramai akan banyaknya rekan Gibran yang berdatangan untuk memastikan bahwa benar tidaknya berita tersebut.


Gibran beranjak dari tempat itu menghubungi seseorang diluar sana. Ia harus memastikan bahwa Nadia dan pia baik-baik saja, kedua kesayangannya itu tidak berada di pesawat tersebut. Iya, Nadia dan Pia pasti tidak disana.


"Halo, Mang. Dimana mang? Nadia dan Pia sudah sama mang kan?" Gibran tak sempat menyapa langsung memburu Mang supir di sebrang sana dengan pertanyaan. Suaranya bergetar menahan semua gemuruh di hatinya. Ia takut, khawatir dan semua terkumpul menjadi sebuah penyesalan tanpa batas disana.


"Saya dibandara, Pak. Menunggu di pintu kedatangan. Bapak dan Non sudah dimana?"


"Mang jangan ngawurlah. Nadia dan Pia sudah di rumah kan, IYA KAN MANG?" Gibran berteriak frustasi memutus sepihak sambungan telfon Mang supir. Ia mengusap wajahnya kasar. "Ya Allah Nadiaaaaa... Piaaaa please sayaaaang jangan begini." Gibran terduduk di tanah dengan kepala tertunduk. Bayangan Nadia yang menangis di Bandara, senyum Pia saat ia melepas mereka, semua seperti kilasan kaset rusak yang bermain di kepalanya. "Ya Allah---"


"Berdiri!" Togar menarik kerah baju Gibran memukul-mukul pipinya untuk mengembalikan kesadaran Gibran "Jangan begini. Istri dan Anak kau pasti baik-baik saja."


Gibran tak menggubris. Ia tidak bisa lagi memikirkan apapun. Orang-orang disekitarnya datang memberikan tatapan simpatik dan ucapan-ucapan yang semakin membuatnya mati.


Dengan dibantu Togar dan seorang tentara lainnya, Gibran dibawa masuk dalam ruangan sembari menunggu info yang akurat mengenai kabar naas tersebut.


"Ndan, nama-nama korban sudah di rilis dan--." Ucapan Ajudan komandan terputus saat melihat sosok Gibran masuk dipapah oleh Togar dan seorang lagi yang berpakaian PDH lengkap.


Gibran berhenti di depan pintu. Dalam ruangan tersebut ada Komandan dan juga Valeria yang tampak sama gusarnya setelah mendengar kabar mengenai pesawat hilang dan juga keberadaan istri dan anak Gibran sebagai penumpang pesawat naas itu.


Valeria menatap Gibran khawatir. Ia tidak sanggup melihat Gibran dalam keadaan hancur seperti sekarang. Sosok yang selalu tegas kini seperti manusia yang kehilangan keinginan untuk hidup, mengenaskan. Ingin rasanya ia berlari pada laki-laki itu, menguatkannya melewati masa-masa sulitnya tapi tentu saja itu hanya keberanian yang ada dalam pikirannya.


Komandan Gibran yang juga merupakan paman Valeria mengambil kertas berisi daftar nama penumpang yang baru saja di rilis oleh Maskapai dan di umumkan melalui media elektronik. Ia menghela nafas pendek setelah membacanya. Wajahnya suram sesuram kabar yang akan disampaikannya. Komandan berjalan menghampiri Gibran, menepuk bahu lelaki itu menekannya sedikit sebagai dukungan untuk salah satu Kapten terbaiknya itu.


"Sabar." Satu kata itu dan Gibran seperti diangkat ruh dari raganya. Tidak, ini tidak benar. Nadianya baik-baik saja. Pianya baik-baik saja.


Ya Allah jangan menghukumku seperti ini. Jangan ambil Nadiaku, Jangan ambil Piaku.


Gibran tertunduk tak berdaya bersamaan saat ia membaca nama dua orang yang sangat dikenalinya, notifikasi pesan datang berburu dalam handphonenya.


"Kapten Gibran. Syukurlah Kapten tidak di pesawat itu. Saya--"


Gibran mendongak cepat. Matanya menyala hingga Valeria bisa merasakan tatapan itu menghujamnya berkali-kali. Dokter muda itu mundur selangkah. "Ma-maksud saya--" ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Kebencian dimata Gibran terlalu besar, entah apa salahnya.


"Tolong jangan pernah muncul dihadapan saya lagi." Gibran berujar dingin membuat Togar dan beberapa orang saling melirik penasaran.


Valeria mendadak gugup, ia hanya bersyukur Gibran baik-baik saja tapi kenapa laki-laki itu kelihatan marah sekali padanya?


Tak menghiraukan ketegangan di sekitarnya, Gibran bergegas meninggalkan tempat itu sembari menghubungi Samuel. Ia tidak bisa diam meratapi nasib begini saja. Nadia dan Pia harus ditemukan dalam keadaan apapun.


***


Gibran langsung berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat yang di pesan langsung oleh Gaudia Grup untuknya. Di dalam pesawat tersebut ia tak melakukan banyak hal, hanya diam menatap nanar keluar jendela. Rasa sesal memenuhi rongga dadanya. Seharusnya ia tidak meninggalkan Nadia dan Pia pulang berdua. Ia sama sekali tak merasa bersyukur karena lepas dari maut karena tak ada gunanya hidup tanpa Nadia dan Pia bersamanya. Ini mungkin salahnya yang tak becus menjaga Nadia dan Pia sehingga Tuhan mengambil keduanya dari dirinya. Ia menyesal. Menyesal karena selalu menggampangkan janjinya pada Nadia. Sangat menyesal tidak bersama keduanya saat mereka ketakutan, saat mereka membutuhkannya.


"Ya Allah, jangan Nadia dan Pia." Pintanya lirih diantara tangisnya. Ia merangkum wajahnya dengan kedua tangan, tak berhenti melafadzkan dzikir dan memohon ampun.


"Tenanglah. Kita belum tau kebenarannya. Mungkin saja itu hanya nama yang mirip dengan Istri dan anak kau." Togar yang diizinkan untuk menemani Gibran menepuk bahu sahabatnya itu. Mencoba menguatkan meskipun dia tau tak akan mudah menerima kabar mengerikan seperti ini apalagi tentang anak dan istri. Ia belum pernah bertemu Nadia tapi melihat bagaimana hancurnya Gibran sekarang ia yakin bahwa wanita itu pasti sangat dicintai oleh Gibran, si lelaki yang terkenal dengan nama tengah manusia es.


"Nadia Gaudia Rasya, Navia Ayara Gibran--" Gibran tersedak oleh nafasnya "Bagaimana mungkin sepersis itu, Bang?" Gibran mengusap sudut matanya yang basah. Ia tak peduli lagi jika orang-orang melihatnya menangis "Ini semua salah saya, Bang. Seharusnya saya menemani mereka. seharusnya saya bersama mereka sekarang. Saya salah, bang. Saya sudah meninggalkan mereka."


"Kau yang sabarlah. Semua pasti baik-baik saja."


Apanya yang baik-baik saja? Ia tidak akan pernah bisa baik-baik saja sementara kabar Nadia dan Pia diluar sana tak ada. Ia bisa mati kalau sampai terjadi sesuatu dengan kedua orang yang disayanginya.


Pesawat mendarat di bandar Udara Soetta yang super sibuk. Bahkan kabar hilangnya pesawat tak mengurangi kepadatan lalu lintas penerbangan hari itu. Semua berjalan seperti biasa seolah-olah tak ada yang terjadi. Masing-masing orang hidup seperti biasa dan hanya Gibran seoranglah yang merasa dunianya runtuh.


Gibran turun dari pesawat di temani oleh Togar. Mereka berlari kecil menuju pos aduan yang didirikan oleh pihak maskapai tak jauh dari Bandara. Disana sudah banyak orang berdatangan, sudah pasti keluarga penumpang yang menunggu dengan cemas kabar anggota keluarga mereka dan juga wartawan yang sedang mencari informasi terupdate untuk di kabarkan pada khalayak ramai.


"Pak Gibran!"


Gibran bergegas menghampiri Samuel yang sudah menunggu disana. Ada Gendis bersama dengan kedua orang tua serta orangtua Aleks dan Sandra yang juga menunggu disana. Bahkan Dewa tak ketinggalan. Sementara Mang supir tampak pucat berdiri di pojokan. Nyonya kecilnya yang ia tunggu sejak tiga jam yang lalu malah dikabarkan menjadi korban jatuhnya pesawat. Betapa cepatnya sebuah berita bahagia menjadi berita mengerikan seperti ini.


"Bagaimana?" Tanya Gibran dengan nafas terengah "Ada kabar soal Nadia dan Pia?"


"Belum ada kabar. Tim SAR sudah memulai pencarian. Kamu yakin Nadia dan Aya di pesawat itu? Ya I-I mean--" Samuel terdiam, seperti banyak orang ia pun berharap bos kecilnya itu baik-baik saja. "Kami sudah mengirim tim terbaik untuk melakukan pencarian." lanjutnya membelokkan topik. Mereka harus berpikir logis sekarang, jika memang Nadia dan Pia menjadi dua diantara penumpang pesawat yang hilang itu maka mereka harus melakukan sesuatu untuk segera menekukan keberadaan mereka.


"Terima kasih." Suasana menjadi senyap dalam diantara keriuhan. "Sa-saya yang memesan tiket dan nama mereka ada di--" Gibran tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia kembali menangis, memikirkan keadaan Nadia dan Pia yang entahlah--hanya ada kabar buruk yang selalu didapatkan dari jatuhnya sebuah pesawat.


"Om, Om kok bisa sendiri aja? Itu Nad-nya kenapa bisa disana sih Om.Hiks. Kenapa gak ada Nad sama Om?" Gendis mengguncang-guncang badan Gibran tak peduli lelaki itu juga sama kalutnya "Bawa mereka pulang, Om. Hiks."


Gibran tak tahu lagi harus melakukan apa sekarang. Ia bingung, tidak tau harus bagaimana dengan semua berita yang mengerikan ini. Ia berharap ada keajaiban dimana Nadia dan Pia selamat seperti dirinya dulu dan menunggunya untuk menjemput mereka. Ia berharap Nadia dan Pia ada di suatu tempat saat ini dalam keadaan baik-baik saja.


"Maaf." Lagi-lagi hanya kata itu yang meluncur dari mulutnya. Di peluknya Gendis yang terus saja menangis. Ia sama takutnya dengan Gendis bahkan lebih dari apa yang dirasakan orang-orang yang mengenal Nadia. Nadia adalah istrinya dan Pia adalah anaknya, kedua orang itu kini tak ada kabar hanya pesawat merekalah yang mengirim berita bahwa perjalanan di dunia ini telah menemui akhirnya.


"Sebaiknya temui dulu penjaga posko. Pastikan kabar yang beredar ini benar atau salah." Ujar Samuel menyarankan. Gendis sudah kembali pada kedua orangtuanya bertelepon dengan dua sahabat Nadia yang sedang jauh.


"Bro." Dewa menghampiri Gibran, memeluk sahabatnya itu erat. "Nadia dan Pia pasti baik-baik saja. Yakin gue."


"Aamiin. Aamiin ya Allah. Thanks Bro." Gibran mengangguk sembari menghela nafas panjang. Ia berharap kemungkinan-kemungkinan itu bisa terjadi. Ia masih berharap Tuhan berbaik hati padanya mengembalikan dua buah hatinya.


"Gue kesana." Pamit Gibran. Ia berjalan menuju posko pelaporan bergabung dengan keluarga korban lainnya yang juga sedang menanti keajaiban untuk orang yang mereka kasihi.


***


Duka mendalam untuk semua korban sriwijaya Air, semoga Tuhan ampunkan dosa-dosa mereka dan diberi kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan.


Al Fatehah.