
Mati gue, matiiii. Gendis menunduk dalam tak berani memandang Gibran yang kini memusatkan seluruh perhatian pada dirinya. Sementara itu Nadia sebagai sahabat tak membantu sama sekali. Jelas sekali sahabat laknatnya itu mencari aman dengan tidak ikut menceburkan diri dalam masalahnya. Dan bisa-bisanya Nadia memakai alasan Pia yang kelaparan untuk melarikan diri. Persahabatan macam apa ini. Yah tapi memang seperti inilah persahabatan mereka, senang bersama giliran dapat semprotan masing-masing melarikan diri terlebih jika itu berhubungan dengan Omnya Nadia yang meskipun kece tapi tetap saja menakutkan kalau sudah mode army.
"Saya sudah tau semuanya."
Gendis membelalak. Jadi percuma dong cerita yang mengalir lancar tadi kalau ternyata Gibran sudah tau semuanya.
"Mengenai perjodohan kalian. Kalau tentang alasan kamu kesini saya baru tau." Lanjut Gibran seolah menjelaskan apa yang dipikirakan Gendis.
Oh. Gendis mengangguk kecil. Kedua tangannya saling menggenggam kuat mencoba mengurai ketegangan yang ia rasakan.
"Kenapa harus kabur? Masalah tidak akan selesai kalau kabur-kaburan seperti ini." Gibran menghela nafas pendek. Bukan pertama kalinya ia menghadapi remaja yang kabur dari rumah karena Nadia sudah menjadi contoh nyata bagaimana setiap ada masalah ia selalu lari dari rumah seolah dengan kepergiaanya maka semua persoalan akan selesai.
"Gendis cuma ingin menenangkan diri, Om. Gendis bingung." Jawab Gendis masih dengan tertunduk takut.
"Angkat kepala kamu. Saya tidak marah, hanya ingin bicara." Ujar Gibran merasa kasihan dengan Gendis yang terlihat takut padanya. Padahal belum ada sejarahnya ia menembak mati seorang remaja hanya karena kabur dari rumah.
Gendis mengangkat kepalanya takut-takut. Buru-buru menghapus airmata yang sudah mengalir di pipinya tanpa sadar.
Gibran menghela nafas berat, tidak menyangka jika Gendis akan menangis seperti itu. "It's ok, Ndis. Om tidak marah." ujar Gibran yang kembali dihadapkan dengan remaja baper seperti Gendis. Untung sekali Nadia bukan tipe seperti Gendis. Sebagaimanapun ia memarahi Nadia, istrinya itu tetap saja punya banyak jawaban menyebalkan untuk melawannya. Tidak ada takutnya sama sekali.
"Habisnya Nad bilang Om nyeremin kalau marah. Bisa sampe ngegigit." Aku Gendis membuat Gibran speechless. Informasi sesat. Kapan ia pernah semarah itu sampai menyakiti Nadia?! Halusinasi gadis itu sudah sangat tinggi.
"Nadia cuma berlebihan. Buktinya dia masih hidup sampai sekarang tanpa cacat dan bebas gigitan." Ujar Gibran yang memahami watak Gendis yang butuh dijelaskan lebih.
Gendis terdiam. Tapi pernah sekali ia melihat Nadia memiliki bekas gigitan di leher dan sewaktu ia bertanya pada Nadia, sahabatnya itu bilang bahwa itu bekas gigitan Gibran karena ia bandel.
"Gak. Om bohong. Nad aja pernah di gigit di lehernya. Sampe merah-merah bahkan ungu. Gendis liat sendiri bekasnya." Ujar Gendis polos menyeka airmata di pipinya.
"Kap--ah" Gibran menghebuskan nafas pelan. Ia jadi merasa malu sekarang. Tentu saja itu bekas gigitan lain bukan gigitan yang--well lupakan persoalan itu untuk sementara. "Lupakan." Gibran mengibaskan tangannya "Jadi apa rencanamu sekarang?" Lanjutnya berharap masalah bekas gigitan itu raib dari otak cerdas Gendis.
"Gendis juga gak tau, Om. Yang pasti Gendis pengen nenangin diri dulu siapa tau kan nemu jalan keluar."
"Jangan menyimpan masalah terlalu lama. Selesaikan supaya kamu juga bisa tenang belajar." Gibran mendorong gelas air minum kehadapan Gendis, "Minumlah. Kamu butuh tenaga ekstra karena Dewa sebentar lagi datang."
Gendis mendongak. Menatap Gibran bingung. Seperti ada kalimat yang mengganggu tapi apa, "Bisa diulang gak Om? Gendis gak paham tadi." Gendis menyelipkan rambutnya dibelakang telinga agar mendengar lebih jelas.
"Dewa sedang perjalanan kesini." Ulang Gibran yang membuat Gendis lemas seketika.
"Om jangan becanda dong. Gendis bisa meninggal nih kalau dibecandai serem gini." Bibir Gendis manyun. Dewa bukan topik yang baik untuk dijadikan bahan bercandaan dalam keadaannya seperti ini.
Gibran tersenyum kecil beranjak dari kursinya. Ia menghampiri Gendis menepuk bahu kecil sahabat istrinya itu. "Selesaikan masalah kalian. Kamu sudah dewasa pasti tau mana yang terbaik untuk semuanya. Saya tinggal kedalam. Kalau ada tamu, tolong dibuka." ucapnya sebelum kemudian masuk di dalam kamar menyusul Nadia.
Gendis yang ditinggal sendiri menegakkan badannya. Benar, gue harus ngadepin Om Dewa kalau mau semuanya cepat beres. Batinnya penuh tekad.
Tak lama berselang Gendis mendengar suara orang bercakap-cakap di luar rumah, tepatnya di jalan depan rumah Gibran. Seperti pesan Gibran, ia bergegas ke ruang depan dan mengintip di jendela. Sayangnya ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang tersebut karena posisi sedang membelakanginya.
"Siapa, Ndis?" Nadia keluar dari kamar membawa Pia dalam gendongannya. Disusul Gibran yang langsung berjalan ke dapur.
"Gak tau." Jawab Gendis mengabaikan orang di luar rumah dan menghampiri Nadia "Halo Pia. Uluh-uluh embul bangat sih sayang. Ayo sama mami." Gendis mengulurkan tangannya ingin menggendong Pia namun di tahan oleh Nadia.
"Lo bisa?" Tanyanya sanksi.
Gendis mengangguk. Nadia tidak tau saja kalau Gendis sudah beberapa kali menggendong Pia tanpa sepengetahuannya. Lagi pula hanya mengangkat bayi kecil itu, tentu saja sangat mudah.
Nadia kemudian menyerahkan Pia kedalam gendongan Gendis, "Jagain ya. Gue mau bantuin Om Gi di dapur."
"Beres." Gendis dengan hati-hati menjaga Pia agar tidak jatuh. "Gue duduk di kursi aja sama Pia. Mau liatin kalian masak. Kali aja kan nasib buruk menghampiri gue dan memaksa untuk menikahi pria tent-- " Gendis menggigit lidahnya, kebiasaan buruknya tiap kali salah tingkah "maksud gue, gue mau liat gimana lo ngancurin dapur." cengirnya lebar.
Nadia mencibir, "Sorry ya, itu cuma masa lalu gue aja. Nadia sekarang udah banyak tau soal dapur." ujarnya jumawa.
"Paling cuma tau ngerecokin Om Gi. Udah ah sana. Kasian tuh Om kece lo di dapur sendirian."
Nadia hendak mendebat tapi tidak jadi saat melihat Gibran mengambil beras untuk di masak. Gendis harus liat keahlian gue.
"Om Giiii biar Nad aja." Nadia bergegas menuju dapur mengambil tapis beras di tangan Gibran. "Nad aja." Katanya menyengir lebar.
"Nad potongin sayur saja. Nanti bersin-bersin." Tahan Gibran menjauhkan tapis beras dari jangkauan Nadia. Ia tidak tega melihat Nadia harus bersin-bersin lagi sepanjang hari karena debu beras yang berterbangan. Tak ada pekerjaan aman untuk Nadia di dapur selain memotong sayur meskipun harus dengan teknik yang bisa dibilang luar biasa out of the box dibantu oleh penggaris dkk. Dan juga membuat minuman hangat untuknya itupun harus tetap dalam pengawasan.
"Tapi Nad maunya itu."
Gibran menggeleng, "Istri solehah denger kata suami. Ok?" Diusapnya rambut Nadia lembut. Perannya sebagai ayah dari gadis kecilnya ini memamg tak akan berakhir dengan mudah.
Nadia akhirnya mengangguk walaupun dengan berat hati. Ia suka menapis beras karena setelah tujuh belas tahun hidupnya akhirnya ia tahu bagaimana beras di proses menjadi nasi. Dulu ia cuma tau makan dan makan. Setelah menjadi istri, semua hal seolah menjadi baru untuknya.
"Tidak perlu pakai penggaris." Gibran mengingatkan.
Nadia menoleh. Ia sudah duduk di depan keranjang sayur yang sudah di cuci dengan penggarisnya. "Terus segimana Nad motonginnya?"
"Pisahkan daun dan batangnya." Ngomong-ngomong itu hanya kangkung bukan kacang panjang. Gibran selalu merasa geli mengingat bagaimana Nadia selalu menyertakan peralatan sekolah saat mengerjakan sesuatu di dapur.
"Kalau beda ukurannya gimana?" Tanya Nadia bingung. "Gak estetik lagi dong."
Gibran tersenyum kecil duduk jongkok di samping Nadia "Nad, nanti kalau udah masuk wajan, sayurnya gak kan berbentuk daun lagi. Tenang saja." Jelasnya pelan.
"Bentuknya apa?"
Gibran menghela nafas "Sudah pernah makan kangkung tumis?"
Nadia mengangguk.
"Seperti itu bentuknya. Nad udah pernah masak kan?"
Nadia mengangguk lagi, "Yang Om gak mau nyicipin itu." Sindir Nadia mengingat bagaimana kerja kerasnya berakhir di pembuangan sampah.
Gibran mengangguk, "Iya, yang Nad pakein kecap sebotol, garam sesendok." Gibran menahan kedutan di bibirnya saat melihat wajah cemberut Nadia.
"Iyaaaaah. Apaan deh pake acara ngungkit aib orang. Om minggir." Nadia mendorong badan kingkong Gibran dengan kesal "Nyebelin bangat pake ngingetin Nad." Sungutnya berbalik membelakangi Gibran.
Gibran terkekeh berdiri melanjutkan pekerjaannya setelah sebelumnya menyempatkan mengacak rambut Nadia. Menggemaskan sekali.
Sementara itu seperti biasa, Gendis dan Pia menjadi penonton setia scene manis dua sejoli beda generasi itu "Kurang popcornnya nih Pia, udah kayak di bioskop aja kitanya." Gendis yang tadinya ingin duduk di ruang tengah akhirnya memutuskan untuk duduk di ruang tamu agar lebih mudah membuka pintu kalau tamu yang masih di luar rumah itu datang.
Baru juga Gendis duduk, suara ketukan pintu terdengar.
Gendis hendak berdiri namun di tahan oleh Gibran yang kebetulan sedang mengambil korek api dari tas kecilnya.
"Duduk saja." Ujar Gibran.
Gendis mengangguk. Ia melanjutkan mengajak Pia bercengkrama.
Gibran yang sudah menebak siapa yang datang membuka pintu.
"Halo brother." Sapaan pertama dari Pria dengan wajah cerah di depannya di balas dengusan oleh Gibran. Sebelum benar-benar membuka pintu dengan lebar, Gibran menoleh kebelakang melihat Gendis masih asik bersama Pia.
Gibran menghela nafas berat, "Sebaiknya jangan dulu masuk. Dia belum makan."
Pria yang tak lain dan tak bukan adalah Dewa itu mengernyit, "Gendis?"
Gibran mengangguk. Ia tidak ingin Gendis tidak bernafsu makan karena kehadiran Dewa yang pasti akan mengguncang perasaanya.
"Ck. Ribet bangat elah. Mana gue dekil gini lagi." Keluh Dewa namun tak urung memundurkan langkahnya. Gibran benar, Gendis pasti akan sangat kaget melihatnya datang dan tentu saja makan siang akan menjadi hal kesekian yang diingatnya. "Tapi dia oke kan?" Tanyanya ingin mengintip kedalam tapi dihalangi oleh badan besar Gibran. Dasar pelit.
Gibran mengangguk.
Dewa kemudian mengangguk, "Fine." Ia berbalik hendak meninggalkan rumah Gibran tapi sebelum itu ia menitip pesan "Pastiin anak itu makan banyak karena ngadepin gue butuh tenaga ekstra." ucapnya lalu melambaikan tangan menjauh dari rumah Gibran.
Seperginya Dewa, Gibran masuk kembali dalam rumah, menutup pintu.
"Tamunya mana Om? Kok gak masuk?" Tanya Gendis penasaran. Ia hanya mendengar suara bisik-bisik keduanya tadi.
"Masih ada urusannya." Jawab Gibran lalu. Ia lanjut ke dapur, meninggalkan Gendis. Untung sekali tipe seperti Gendis ini bukan tipe yang ingin banyak tahu sehingga Gibran tidak perlu membuat alasan lebih banyak lagi.
***
Setelah makan siang, Gibran dan Nadia memutuskan di kamar saja untuk bercengkerama dengan Pia. Jarang-jarang Navia tidak tidur siang dan lagi bisa bersama ayah dan Ibunya. Sementara Gendis sebagaimana kebiasaannya ia tidak melewatkan tidur siang demi kulitnya yang harus tetap sehat tanpa bantuan skincare. Intinya Gendis adalah penganut paham, No skincare, yes glowing. Dia adalah Orang yang tidak mau repot dengan segala perintilan suncare, foundation dan segala macam saudaranya tapi tetap mendapatkan wajah shining, glowing and blink-blink nya.
"Pia makan siang dulu ya trus bobo." Nadia yang sudah siap dengan dress rumahannya membuka tiga kancing bajunya. Sengaja Gibran membelikannya yang busui friendly agar Nadia lebih mudah menyusui bayi mereka.
"Makan yang banyak biar cepat gede." Ucapnya pada bayi kecilnya setelah Pia berhasil menangkap sumber kehidupannya itu tanpa mereka sadari ada yang diam-diam sedang menikmati pemandangan itu dalam diam.
"Lahap bangat, Dek." Gibran tersenyum kecil melihat bayi kecilnya tampak lahap mengemut salah satu 'bisul' favoritnya yang sebenarnya tak layak lagi di sebut bisul dengan perkembangannya yang luar biasa subur itu.
Nadia yang baru menyadari keberadaan Gibran langsung gelagapan mencari sesuatu yang bisa menutupi bagian tubuhnya itu. "Ih Om jangan ngintip." Protesnya melempar tissue kearah Gibran yang terbaring nyaman di depannya.
"Siapa yang ngintip. Saya cuma menemani Pia makan siang. Ya kan Pia?" Gibran menyentuh pipi Pia yang begitu bersemangat menghisap sumber hidupnya itu.
"Ya tapi jangan liatin Nad kayak gitu. Nad malu." Nadia bersungut, wajahnya mulai memerah menahan malu karena Gibran benar-benar 'melihatnya'.
"Ck gak usah malu. Om bahkan udah lebih dari sekedar liat." Ujar Gibran enteng seolah sedang membicarakan cuaca hari ini.
Nadia yang gemas langsung menepuk jidat Gibran dengan telapak tangan kirinya.
PAK!
"TOLONG DONG MULUTNYA DI JAGA. ADA ANAK KECIL NEH." Sungut Nadia makin memerah. Harus bangat gitu membahas hal tabu itu?! Orangtua emang gak ada malunya. Nadia menghembuskan nafas kesal.
Gibran yang mendapat tamparan manis itu bukannya marah malah tertawa puas. Susah kalau istri masih remaja begini, bagaimana mau bahas urusan ranjang kalau begini saja sudah mengajak perang dunia ketiga.
"Kamu yang lebay. Pia biasa aja kok." Gibran mengangkat kepalanya mendekati pada Nadia namun langsung ditahan Nadia dengan tangan kiri.
"Heh, mau ngapain? Jangan macam-macam ya Om." Nadia menatap Gibran garang berusaha menakuti Gibran tapi ayolaaaah, tatapan selucu kelinci mana bisa menakuti seekor singa sih.
Gibran menepis tangan Nadia, gantian menggenggamnya. "Ayah cuma mau cium pia--" Gibran mendaparkan ciuman di pipi Navia yang malah membuat Nadia menahan nafas karena Gibran benar-benar sangat dekat dengan--
Cup.
"Dan Ibunya." Kecupan ringan mendarat sempurna di bibir Nadia yang sedang mengerucut. "Terima kasih sudah mau jadi Ibu dari anak-anak saya." Lanjut Gibran menatap lembut Nadia. Tangannya bergerak mengusap pipi sang istri yang begitu lembut.
Nadia terpaku dengan keadaan hati yang tak baik-baik saja. Wajahnya menghangat mendengar penuturan Gibran yang begitu manis. Dia yang merasa bersyukur karena Gibran mau menjadikannya Ibu dari anak-anaknya. Nadia sadar diri tak memiliki kualifikasi cemerlang untuk menjadi seorang ibu tapi bersama Gibran semuanya seakan menjadi sempurna. Lelaki itu banyak membantunya melewati hari-harinya sebagai Ibu muda maupun seorang istri yang bisa dikatakan jauh dari kata kriteria idaman.
"Nad yang makasi karena Om sudah mau jadiin Nad istri." Ucap Nadia menggenggam tangan Gibran yang masih setiap mengelus pipinya dengan punggung tangan. "Terima kasih sudah sayang sama Nad." katanya sepenuh hati.
"Sama-sama." Gibran membawa tangan Nadia dibibirnya dan mengecupnya lembut.
"Nad sayang Om banyak-banyak."
"Sebanyak apa?"
"Sebanyak-banyaknya." Jawab Nadia bersemangat.
"Sama."
"Sama apa?" Nadia menunggu dengan hati berdebar ungkapan cinta Gibran. Jarang-jarangkan Omnya ini mau bicara manis.
"Sama-sama." Ujar Gibran datar dan langsung mendapatkan cubitan kesal di perutnya.
"Aw!"
"Rasain! Udah Pia, kita bobo siang. Biarin ayah kamu main sendiri." Nadia membaringkan kepalanya berbantal tangannya sendiri lalu menutup mata. Sedangkan Gibran mengulum senyumnya berpindah di belakang Nadia dan memeluk istrinya itu posesif. Nadia mengelak tapi percuma saja, Gibran menguncinya dengan erat.
"Sayang Nad banyak-banyak." Bisiknya sembari mengecup pelipis Nadia, tak menyadari bahwa gadis dalam pelukannya ini sudah mengembang bahkan harus memegang dadanya sendiri memastikan jantungnya masih ada disana.
Dasar lelaki penggoda iman.
***
Diajak selfi sama Mami Gendis 😍
Oh ya gaeeees, sekedar info nih, kisah Dewa dan Gendis gak akan banyak diangkat disini karena ini lapaknya Om Gi dan Nad. Insya Allah mereka punya lapak sendiri tapi nunggu Little persit tamat yang kemungkinan beberapa episode lagi.
🤗🤗🤗