
"Nad, barangnya masih ada yang belum bagasiin? Itu jaketnya di pake."
Subuh itu saat semua orang sedang terlelap di ranjang yang nyaman, Gibran dan Nadia serta beberapa penumpang lainnya yang juga memiliki tujuan yang sama yaitu ke Papua tengah sibuk di bandara mengatur barang mana yang harus masuk bagasi atau yang ikut ke kabin pesawat.
"Nad?" Gibran memanggil sekali lagi, hatinya langsung terenyuh saat menoleh ke belakang, Nadia tertidur di lantai yang dingin tak jauh darinya. Salahkan dirinya yang lalai mengurus beberapa dokumennya sehingga keberangkatan mereka yang seharusnya pagi kemarin harus di jadwalkan ulang subuh ini. Waktu menunjukkan pukul dua subuh, seharusnya Nadia sedang tidur nyaman berselimut loreng kesukaannya bukannya kedinginan di Bandara menunggu jadwal pesawat berangkat.
"Nad--" Gibran mengusap pipi Nadia, membuat gadis itu menggeliat dalam tidurnya. "Dingin disini. Pindah di kursi."
"Hm." Nadia hanya bergumam dan mencari posisi nyaman untuk tidur. Boneka hello kitty pemberian Gibran saat lelaki itu akan berangkat ke Afrika bergelung hangat dalam pelukan gadis itu.
"Ini saja, Pak?" Seorang pegawai bandara menegur.
"Ah iya." Ujar Gibran, menyempirkan jaket miliknya di tubuh kecil itu. Ia kemudian berdiri untuk membayar kelebihan bagasi.
Setelah semua urusan selesai, Gibran menghampiri Nadia lagi, membangunkan gadis itu untuk segera check in.
"Nad, ayo!" Ditepuknya pipi Nadia pelan. Mata Nadia terbuka pelan, ia benar-benar mengantuk namun senyumnya langsung terbit melihat wajah Gibran di depannya.
"Mimpi ketemu orang ganteng, eh ternyata suami sendiri." Nadia terkekeh melihat wajah merona Gibran. Laki-laki ini sepertinya jarang mendengar pujian langsung dari dirinya dan mengetahui hal itu cukup mampu membuat seorang kanebo kering merona. Ia berjanji akan sering-sering melakukannya.
"Kamu masih tidur, ngomongnya ngelantur."
Tuk!
"Bangun!"
Nadia menggerutu, "Di puji bukannya bilang makasih malah di gituin."
"Makasih cantik. Yuk!" Gibran berdiri lalu mengulurkan tangan pada Nadia yang cengengesan di bilang cantik oleh Omnya, jarang-jarang kan.
"Yuk!" Nadia menyambut tangan Gibran dengan senang hati. Kedua lengannya bergelayut manja di lengan Gibran, kepalanya disandarkan di bahu nyaman suaminya itu. Kalau seperti ini terus, Nadia rasa bahkan saat moncong senjata di keningnya ia akan tetap merasa bahagia. Cukup bersama Om kanebo keringnya, semua pasti akan baik-baik saja.
"Teman-teman Nad mau datang tapi kayaknya gak jadi." Nadia berujar sembari melirik ke pintu masuk dimana biasa para pengantar berada. Siapa tahu saja ada adegan sweet ala AADC seperti Rangga dan Cinta, tapi tentu saja akan berbeda karena Cinta yang ini akan ikut kemanapun Rangganya pergi.
"Mungkin mereka ketiduran. Nanti VC kalau sudah sampai." Ucap Gibran mengusap kepala Nadia yang ditutupi hoody jaketnya. Nadia mengangguk lalu dengan riang mengiringi langkah lebar Gibran. Ini kali pertamanya ia melalukan perjalanan tugas bersama Gibran. Selama ini Omnya hanya sesekali menamaninya berlibur, selebihnya Nadia lebih banyak bepergian seorang diri.
"Kapan-kapan kita backpacker-an yuk Om. Kayaknya seru."
Gibran tersenyum tipis, "Nad sanggup?"
"Sanggup kok kan ada Om." Jawabnya enteng.
Gibran mengangguk "Boleh tapi tasnya bawa sendiri."
"Trus Om ngapain?"
"Om bawa tas sendiri."
Nadia berpikir sejenak "Tapi kan berat." Gibran mengangguk.
"Emang gitu aturannya."
" Ya udah, kita honeymoon aja. Om ambil cuti trus kita ke Hawai."
"Babymoon maksud Nad?"
Nadia terdiam, tangannya langsung menyentuh perutnya yang mulai berbentuk "Ah iya, bener."
"KTPnya, Pak."
Gibran menyerahkan KTP miliknya pada petugas pemeriksa disusul oleh Nadia. Keduanya masuk pemeriksaan untuk kemudian lanjut menunggu pesawat lepas landas.
"Kalau gitu tunggu Adek lahir aja kali ya, Om. Supaya liburannya bertiga." Tukas Nadia mempercepat langkahnya mencapai Gibran yang menunggu di Gate.
"Iya nanti diatur yang penting kalian sehat." Ucap Gibran sembari menggandeng Nadia. Keduanya berjalan beriringan dengan sesekali saling melempar candaan. Seperti kata Nadia, semua akan baik-baik saja saat mereka saling memiliki satu sama lain.
"Om, Nad laper."
Keduanya baru saja duduk saat Nadia merasakan perutnya memberontak minta diisi ulang. Malam tadi ia hanya makan sedikit karena bepergian akan selalu membuatnya sulit menelan makananannya. Gibran bahkan berinisiatif menyuapinya tapi seperti sebuah pintu yang terkunci, leher Nadia tidak bisa menerima makanan masuk di perutnya.
"Mau makan di cafe?" Tanya Gibran. Beberapa penumpang seperti banyak yang menunggu sambil ngopi-ngopi di cafe-cafe yang ada di sekitar Gate keberangkatan.
"Nad malas di dalam. Udah Pewe disini."
"Tunggu disini. Om beli makanan dulu." Gibran menyerahkan tas kecilnya pada Nadia, lalu keluar untuk mencari makanan yang sekiranya bisa mengganjal perut Nadia.
Roti beraroma kopi yang menjadi ciri khas bandara pilihan utamanya. Nadia sangat menyukai beraroma hangat itu. Ia bahkan sempat berujar meminta Samuel untuk mengakuisisi perusahaan tersebut tapi sayangnya pemilik tentu tidak akan semudah itu melepas sumber uangnya.
"Dua roti dan segelas susu hangat." Gibran menyebutkan pesanannya pada pramuniaga yang berjaga.
"Bisa menunggu sebentar, Pak? Kami akan menyiapkan pesanan anda."
"Ya" Gibran mengambil tempat duduk yang paling dekat dengan meja order. Ia mengeluarkan hp yang sejak tadi bergetar menandakan pesan masuk. Gibran mengabaikan beberapa notif yang masuk dalam grup chat WAnya yang kebanyakan diisi dengan obrolan para laki-laki. Ia menschroll semakin kebawa sekiranya ada chat penting dari kantor. Satu pesan masuk yang belum terbaca dari Gio cukup menarik perhatiannya.
From Gio Serdadu.
Hot News! Komandan resmi mutasi ke Tarakan hari ini.
Gibran dibuat cukup tercengang dengan info yang tiba-tiba ini. Kemarin saat ia ke kantor tidak ada omongan satu pun tentang kepindahan Komandannya.
To Gio Serdadu
Knp tba2?
Gibran menghela nafasnya pelan ketika menyadari bahwa sekarang masih jam duaan subuh. Gio sudah pasti sedang tidur sekarang. Gibran lantas membuka pesan lain yang masuk dalam Grup dan kebanyakan membahas kepindahan sang Komandan yang tiba-tiba. Tidak ada satupun yang tahu alasan di balik mutasi Papa Elsa ke perbatasan Indonesia dan Malaysia itu tapi dari beberapa spekulasi, tersebut bahwa hal ini berhubungan dengan sikap tidak profesional Komandan yang tercium oleh pimpinan atas. Namun demikian tidak ada satupun yang mengetahui kekuatan besar milik siapa yang telah mengguncang tahta sang Komandan. Sudah bisa dipastikan siapapun orang itu, pasti backing-annya kuat.
"Pak, pesanan anda."
Gibran yang masih larut dalam berita tersebut terkejut. Wangi roti menguar memenuhi rongga hidungnya.
Langkahnya ringan menuju tempat Nadia menunggu. Sepanjang langkahnya mengayun, ia masih menerka-nerka alasan dan siapa yang sekiranya membuat keadaan berbalik seperti ini. Gibran jelas tak bodoh untuk tidak menyadari bahwa semua ini ada hubungannya dengan mutasinya yang mendadak. Tapi soal yang melapor, tidak ada satu orangpun yang akan berani melakukan hal semacam ini pada Komandan terkecuali jika Pimpinan atas langsung yang mengetahui hal ini tapi Gibran merasa tak memiliki koneksi di kalangan atas jadi siapa--
Langkah Gibran berhenti saat melihat gadis kecil yang tengah mengayun-ayunkan kakinya membunuh bosan di kursi tunggu. Sebuah kesadaran memghantamnya, Nadia, Nadia Gaudia Rasya. Klan Gaudia. Gibran menghela nafasnya gusar, semoga saja ia salah tapi--
"Om!" Nadia menyengir lega melihat Gibran dengan dua tentengan di tangannya. Wajah laki-laki itu tampak kaku tak berekspresi tapi sayang sekali Nadia tidak terlalu memperdulikannya. Ia sudah bisa menebak sumber ketegangan di wajah ganteng Omnya itu.
"Nad yang lakuin?" Tanya Gibran saat melihat wajah tak berdosa Nadia yang kini menikmati roti kesukaannya.
"Lakuin apa?" Nadia menutup mata menikmati lembutnya roti dan wangi kopi yang menguar. Ah, sayang sekali tidak ada susu pisang padahal akan sempurna sekali jika susunya rasa pisang, batinnya.
"Papanya dokter Elsa."
"Komandan Om kenapa?" Tanya Nadia sembari mengunyah dengan santai.
Gibran mengusap wajahnya lelah, kalau urusan seperti ini memang Nadia jagonya. Di usapnya wajah istrinya itu dengan lembut.
"Beliau di mutasi ke Tarakan. Nad tahu soal ini?"
Nadia mengulas senyum manis yang polos yang Gibran tahu dengan pasti dari senyum itu. "Wah selamat ya untuk Komandannya Om. Jangan lupa sampaikan salam Nad untuk beliau. Akhirnya bisa mulai dari titik nol lagi." Ujar Nadia cepat, lalu secepat itu senyum lembutnya berganti dengan senyum sinis penuh kepuasan.
"Om tau kan, ngirim Komandan Om ke titik nol sama mudahnya bagi Nad mengembalikan Om deket-dekat Monas?! Nad hanya menghargai Om yang memiliki prinsip kuat, menghindari cara kotor. Makanya Nad diam aja walaupun hati Nad sakit liat Om di perlakuin tidak adil. Tapi Om, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, begitupun Papanya tante El, sepandai apapun menyembunyikan kecurangannya cepat atau lambat pasti akan ketahun juga dan Alhamdulillah nya Komandan Om tidak perlu menunggu lama untuk itu. Nad gak ikhlas Om ngalamin semua ketidakadilan ini. Om orang baik, sangat baik. Om gak pantas diperlakukan seperti ini." Nadia cepat-cepat menghapus airmata yang jatuh di pipinya.
"Shhhhtt jangan menangis." Gibran menarik istrinya yang tengah sesunggukan itu dalam pelukannya, memberikan kenyamanan dan perlindungan. Helaan nafasnya terdengar berat, dalam diamnya menyadari bahwa gadis kecil dalam pelukannya ini bisa melakukan apapun untuk dirinya tanpa peduli hal tersebut itu baik atau buruk.
"Om jangan terluka. Nad gak bisa lihat Om disakiti. Nad cuma punya Om, hiks!"
Gibran mengangguk, di usapnya punggung Nadia lembut, "Om baik-baik saja. Selama ada Nad, Om akan selalu baik-baik saja."
Suara pengumuman dari pengeras suara bandara mengabarkan bahwa sebentar lagi pesawat yang akan mengantarkan mereka ke bumi cendrawasi sebentar lagi akan lepas landas. Gibran meraih tangan Nadia, keduanya masuk ke dalam pesawat untuk memulai kehidupan yang baru di tempat yang baru.
***
"Om liat itu!" Nadia berseru heboh saat ia membuka mata pemandangan yang tersaji di depan matanya adalah sinar matahari terbit yang keemasan tepat di ujung sayap pesawat garuda yang mereka tumpangi. Sebuah pemandangan yang bahkan tak pernah terlintas mimpi terliar seorang Nadia yang bisa menikmati pemandangan menakjubkan ini bersama Gibran disampingnya.
Gibran yang baru saja menyelesaikan solat subuh mengusap rambut Nadia dengan sayang. Ia mengambil hp lalu mengabadikan foto Nadia yang sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang luar biasa mempesona.
Wajah Nadia semakin cerah saat seorang pramugari mengantarkan sarapan pagi untuk keduanya. Sebuah scene romantis langsung terlintas di kepala cantiknya.
"Om, romantis bangat gak sih ini. Om dan Nad eksklusif bangat sarapan diatas pesawat dengan pemandangan matahari terbit. Awesome!!!"
"Nad senang?"
Nadia mengangguk cepat. Binar di bola matanya tak bisa membohongi siapapun bahwa sekarang ia bahagia sedang amat Sangat bahagia.
"Kapan-kapan ajakin Nad terbang ya Om? Kan Om udah biasa tuh bawa heli. Nanti pake heli di kantor." Ujar Nadia penuh harap. Ia sudah lama ingin melihat bagaimana kerennya Omnya membawa menerbangkan sebuah heli. Selama ini ia hanya dengar dan lihat saat ada Omnya melakukan manufer setiap kegiatan kenegaraan. Sudah pasti keren sekali.
"Insya Allah. Sekarang Nad makan terus lanjut solat."
"Tapi ini udah terlambat bangat loh Om. Tuh mataharinya udah terang bangat padahal masih Jam lima."
"Gak apa-apa. Atau Nad mau solat dulu?"
Nadia menimang sebentar lalu kemudian mengangguk. Gibran lalu mengambil makanan di meja lipat Nadia dan menyimpannya sembari menunggu Gadis itu selesai solat.
"Permisi, maaf menganggu."
Gibran menoleh dan mendapati seorang wanita muda tersenyum canggung kearahnya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Ini, saya gak sengaja menumpahkan kopi di baju saya. Anda punya tissue?"
Gibran menolehkan kepala kearah kursi kosong yang ada disamping mereka tempat wanita muda itu duduk. Tissue? Kenapa minta padanya sedangkan setiap penumpang di beri tissue oleh pramugari belum lagi ini kelas VIP yang semua orang pasti mendapatkan pelayanan terbaik. Dan Gibran belum buta untuk tisu yang ada di meja si penumpang.
"Maaf, milik istri saya. Dia sedang solat nanti saya tanyakan." Gibran berujar sesopan mungkin.
"Istri?" Tanya wanita muda itu dengan nada tak senang.
Gibran mengangguk, "Iya. istri saya." Jawabnya lugas. Gibran tidak tahu pasti apa yang sedang di pikiran wanita muda itu tapi tatapan intensnya pada Nadia membuat Gibran sedikit tidak nyaman.
"Oh iya, terima kasih sebelumnya." Ujar Wanita muda itu meninggalkan Gibran yang hanya mengedikkan bahu acuh. Orang aneh.
"Cieeeee di godain cewek cantik, cie cieeee" Nadia menyenggol bahu Gibran. Ia sudah selesai solat tadi saat ada wanita asing menyapa Omnya. Pesona orang ganteng memang susah di tepis.
Gibran menatap Nadia datar, "Makan." Ujarnya mengabaikan begitu saja godaan Nadia.
Nadia cemberut tapi kemudian otak jahilnya bekerja cepat saat tak sengaja melirik si penumpang yang mencuri pandang kearah mereka.
"Om, nunduk coba." Nadia menarik paksa bahu Gibran untuk merandahkan badannya.
"Ap--mmmppphh"
Cup cup cup!
"Udah." Nadia menyengir lebar setelah menyarangkan kecupan diseluruh permukaan wajah Gibran. Ia menoleh kearah penumpang wanita itu tanpa sepengetahuan Gibran yang sibuk menghapus rasa manis liptin Nadia yang tertinggal di bibirnya, lalu memeletkan lidah.
Wanita muda itu mengalihkan wajahnya ke tempat lain dengan kesal.
Heh, milik Nadia dilirik! Nadia terkekeh puas, tangannya menepuk-nepuk pipi Gibran yang tidak tahu apa-apa.
"Sayang Om banyak banyaaaak."
***
Jadi guys, pemandangan yg diliat Nadia itu pengalaman author sendiri waktu Otewe papua. keren bangat sumpaaaah, author sampe tdk bisa berkata-kata hanya mampu mengucap syukur tanpa henti karena sudah dikasi kesempatan oleh Tuhan buat melihat semua itu. 🤗🤗🤗
Ada punya pengalaman yg sama gak???