Little Persit

Little Persit
Perkara Kabar 2



"Eh, bang, kok disini? Gak jadi ngantar istri dan anak?"


"Ada panggilan mendadak dari Komandan." Gibran tersenyum kecut pada salah satu junior kenalannya yang bertugas di kantor cabang utama yang kebetulan sedang berada di pos jaga.


"Bukannya cuti Bang?" Tanyanya heran. Seharusnya tidak ada tugas bagi seorang tentara yang sudah mengambil izin cuti tapi kenapa Gibran malah bertugas?!


Gibran mengedikkan bahu. Perintah adalah perintah, itu yang ia tahu.


"Saya ke dalam, Bro." Pamit Gibran pada rekan-rekannya. Ia berjalan menuju salah satu ruangan penting di tempat itu dengan pikiran terbagi, tugas dan Nadia. Helaan nafas berat lolos dari mulutnya.


Tok Tok Tok.


"Masuk!" Suara tegas dari dalam ruangan memberi izin Gibran masuk.


"Selamat siang, Ndan." Hormat Gibran seperti biasa.


"Ah siang, Kapten Gibran. Silahkan duduk." Komandan yang tak lain dan tak bukan adalah paman Valeria tersenyum senang melihat kehadiran Gibran di depannya, salah satu yang terbaik di kesatuan mereka. "Maaf mengambil jatah cuti kamu tapi ini sangat penting dan urgent."


"Siap, tidak masalah Komandan." Suara hati kecil Gibran memberontak mendengar kalimat itu. Apanya yang tidak masalah, ia sudah mengecewakan orang yang paling penting dalam hidupnya. Gibran menatap lurus Komandannya menunggu perintah.


"Senang mendengarnya." Komandan tersenyum lega. "Oh ini mengenai pengantaran obat-obatan di daerah pegunungan. Saya butuh awak untuk mengantarkan Para tim medis ke tempat tujuan dengan selamat. Saya meminta kesediaan kamu melakukannya."


"Siap, Ndan. Tapi mohon maaf, bagaimana dengan Bang Togar? Beliau yang paling hafal medan di bagian pegunungan sana." Gibran menyuarakan pikirannya. Bukan mau membantah perintah atasan tapi jika hanya urusan awak pesawat, bukankah beberapa orang yang ditugaskan di tempat ini memiliki keterampilan yang sama? Bahkan mereka lebih mengenal medan dari dirinya.


"Togar dan lainnya sedang ada tugas lain yang tidak kalah penting. Lagipula saya sangat mempercayai kamu untuk misi ini." Terang Komandan tak melunturkan senyumnya.


Gibran yang memang tak memiliki hak untuk menentang perintah menganggukan kepala. "Baik, Ndan."


"Okeh, mereka sudah menunggu di lapangan. Selamat bertugas." Komandan berdiri sembari menepuk bahu Gibran.


"Siap, laksanakan." Gibran menghormat lalu mengangguk samar dan kemudian undur diri untuk segera melaksanakan tugasnya.


Saat berada di luar ruangan, ia menyempatkan mengirim chat untuk Nadia.


Ibu negara ❤


Gibran tersenyum kecil melihat nama kontak Nadia yang entah kapan di otak atik oleh anak itu. Selalu berubah tergantung mood Nadia. Kali ini Ibu negara ya?


To Ibu negara ❤


Safe flight, sayang. Kabari kalau sudah transit.


Sent.


Gibran mengusap layar hpnya yang menampilkan foto Nadia setelah mengirim pesan tersebut. Maafkan saya. Ia sudah terlalu sering mengucapkan kata maaf sampai dirinya sendiri menjadi muak tapi apa boleh buat, ia harus selalu mengucapkannya.


Gibran sekali lagi menghela nafas berat, berusaha menerima apa yang sudah menjadi pilihannya. Nadia akan mengerti, ya Nadianya pasti mengerti. Ia memasukan kembali hp dalam tas kecilanya lalu melangkah mantap melaksanakan dharma baktinya. Dari jauh ia sudah melihat dua orang tim medis dan dua tentara yang sedang mengecek beberapa kotak yang Gibran tebak berisi obat-obatan.


"Woi, Kapten!"


Gibran menoleh ke samping kanan dimana ruangan berjejer. Keningnya mengerut melihat Togar berjalan kearahnya dengan sumringah. Yang mana tugas pentingnya? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Lelaki batak itu tampak parlente dengan setelah lengkapnya, tidak ada jejak-jejak sedang melakukan pekerjaan penting disini.


"Tambah ganteng saja kuliat-liat. Apa kabar?" Togar menepuk bahu Gibran yang sepertinya terjebak di dunianya sendiri.


"Alhamdulillah, baik, Bang. Abang apa kabar?"


"Seperti yang kau liatlah." Togar merentangkan tangannya memeluk Gibran. Sahabat seperjuangannya yang lama tak bertemu hanya sering berkirim kabar lewat pesan singkat saja. "Hah, kau bikin apa disini? Jauh juga langkah kau ini."


Gibran tersenyum kecil, "Dapat tugas tambahan mengantar obat-obatan, bang. Kata Komandan, abang sedang ada tugas." Gibran berujar selidik.


"Biasalah jadi montir aku. Gampang kali, seujung kuku."


"Sekarang?" Tanya gibran penasaran. Tentu saja salah kostum jika melakukan pekerjaan montir dengan seragam PDH lengkap.


"Tadi pagi. Sudah selesai. Kenapa rupanya kau tanya-tanya?"


Gibran menggeleng, "Tidak apa-apa, Bang." Pegangannya di tali selempang tas mengetat. Ia tidak tahu untuk alasan apa ia di tugaskan mendadak seperti ini tapi jelas ini tak se-urgent yang dipikirkannya.


"Bang, nanti lagi ngobrolnya. saya harus ke lapangan." Pamit Gibran saat melihat tumpukan kotak itu sudah naik semua diatas helikopter.


"Yasudah. Hati-hati kau."


"Siap, Bang."


Gibran berjalan cepat menuju lapangan dan sosok pertama yang dikenalinya adalah Valeria. Sudah seminggu Dokter muda ini berada di kota dan ternyata ini kesibukannya.


"Kapten." Ucap Valeria tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat Gibran datang. Seorang Pria berkaca mata disampingnya hanya menatap datar.


"Selamat siang, semua." Sapa Gibran pada empat orang disana, tak berniat menyapa Valeria secara personal.


"Siang, Kapten."


"Sudah siap semua?" Tanya Gibran mengecek ke dalam pesawat.


Valeria yang berada paling dekat dengannya mengangguk antusias, "Siap, Kapten. Kami hanya menunggu kapten Gibran saja."


Gibran mengangguk samar, "Ayo berangkat." tanpa basa basi Gibran langsung ke kursi kemudi helikopter di susul oleh Valeria dan temannya serta dua orang tentara lainnya di bagian belakang.


"Terima kasih Kapten sudah bersedia mengantar kami." Ujar Valeria yang duduk di belakang kursi Gibran dengan suara tenggelam diantara bunyi deru baling-baling helikopter.


"Sudah tugas saya." Balas Gibran tanpa menoleh kebelakang. Ia hanya berusaha profesional tapi sepertinya orang-orang disekitarnya suka sekali memanfaatkan sebuah hubungan kekerabatan untuk kepentingan pribadi. Gibran bukannya mau berburuk sangka tapi alasannya sekarang berada di tempat ini tak sekuat keyakinannya saat mengucapkan pada Nadia ketika di bandara betapa ia dibutuhkan untuk tugas ini. Dibutuhkan? Heh, jangan melucu.


Valeria yang merasakan tatapan tak bersahabat dari Gibran hanya bisa terdiam. Gibran memang terkenal dingin dan sulit diajak bicara tapi lelaki itu tak pernah abai pada saat ada yang berbicara dengannya seperti tadi.


***


"Kita transit 30 menit, Bu. Mohon untuk tidak jauh-jauh dari pintu keberangkatan."


Nadia mengangkat wajahnya, lupa kalau tadi sedang berbicara dengan seorang pramugari.


"Iya." Jawab Nadia singkat lalu membawa Pia keluar untuk istrahat sejenak menikmati suasana Bandar Udara yang kali kedua ia sambangi.


"Pia ganti pempers dulu ya." Nadia yang sudah mengambil satu pempers yang disiapkan dalam tas keperluan Navia membawa bayi kecilnya itu ke toilet Bandara. Untunglah saat memasuki toilet sedang tidak banyak orang disana sehingga ia tidak perlu antri dan berujung drama ketinggalan pesawat.


"Wah lucunya." Seorang ibu paruh baya menyambut mereka dengan mata berbinar, takjub melihat Nadia yang masih muda telaten mengurus bayi. "Hebat loh Dek bisa mengurus adik seperti ini. Pasti ibunya bangga bisa terbantu."


Nadia yang tengah membersihkan Pia tersenyum kecil, "Ini anak saya, Bu." ungkapnya jujur. Sudah banyak orang yang salah paham dengan Pia, dan Nadia tak mau menutupi bahwa Pia adalah bayi kecilnya bukan adik apalagi keponakan walaupun setelah itu ia harus mendapat tatapan penuh tuduhan sebagai remaja korban pergaulan bebas. Karena bagi Nadia cukup Tuhan dan Negara yang tahu bahwa dirinya sah dan legal milik seseorang. Seseorang yang sialannya sangat menyebalkan dan mati rasa. Ah, Nadia jadi semakin kesal sekarang.


"O-oh gitu." Ibu yang tadinya menatap mereka penuh binar kekaguman langsung tersenyum miring. Tentu saja karena Nadia masih sangat muda dan sudah menjadi Ibu dari Navia. Sayang sekali Nadia tak peduli sebab ia hanya perlu menyelesaikan ini secepatnya dan kembali ke pesawat.


Nadia membungkus bekas pempers Pia dalam plastik lalu membuangnya dalam tong sampah yang ada di pojokan. Sebelum memakai kembali gendongan Pia, ia terlebih dulu merapikan diri, mencuci muka dan menyisir rambutnya serta menambahkan sedikit sentuhan pelembab di wajahnya yang kering akibat AC pesawat. Setelah ia rasa semuanya beres, Nadia menggendong kembali Pia, mengabaikan ibu-ibu tadi yang kini melirik sinis kearahnya dengan ujung mata. Untung gue gak punya ibu seperti itu. Batin Nadia sembari keluar dari toilet.


Nadia membuka hp hendak mengirim pesan pada supirnya untuk di jempat di Bandara tapi bunyi peringatan hpnya yang lobet mengingatkannya untuk mengisi daya terlebih dahulu. Oleh karena itu ia menyempatkan ke sebuah gerai makan untuk mencari tempat colokan dan memesan minuman segar.


"Moccachino, Mbak. Yang dingin." Ujar Nadia pada seorang pelayan cafe yang berjalan kearahnya.


"Baik, Kak. ditunggu ya." Pelayan muda itu kemudian pergi untuk mengambil pesanan Nadia.


"Capek ya Dek?" Nadia mengusap kening Pia yang tampak tenang dalam gendongannya. Ini penerbangan pertama bayi lima bulan itu dan hebatnya Pia sama sekali tidak rewel bahkan sepertinya sangat menikmati penerbangan perdanannya. Nadia sempat mengambil gambar Pia tadi saat hendak berangkat dari Bandara Distrik, lalu di Bandara Mopah dan harusnya di Bandara ini juga jika saja hpnya sedang tidak sekarat. "Makasih udah jadi bayi hebatnya Ibu." Dikecupnya kepalan tangan Pia, sekaligus menguatkan hati untuk selalu siap dengan semua situasi termaksud saat Gibran lagi-lagi tak memilih mereka. Ada nyeri di hatinya, ingin marah tapi percuma. Ia tak mau membuang-buang tenaganya untuk sesuatu yang hasilnya sudah ketahuan.


"Pesanannya, Kak."


"Oh ya, makasih." Moccachino dingin dengan wangi khasnya menguar memanjakan penciumannya. Ia menyesap minuman tersebut dengan nikmat sembari menunggu baterainya terisi.


Tak lama berselang, pengumuman keberangkatan mereka menggema menginformasikan kepada para calon penumpang untuk segera kembali ke Gate masing-masing. Nadia segera berjalan ke pembayaran lalu bergegas bergabung dengan penumpang lainnya. Ia dan Nadia berada di kelas bisnis bersama dengan beberapa orang berjas yang sepertinya adalah rombongan orang-orang penting.


"Your sister?"


Nadia yang sedang berusaha masuk ke kursinya menoleh kebelakang. Seorang pria dewasa dengan setelan khas eksekutif muda menyapanya.


Nadia tersenyum kecil, malas berbasa basi karena tahu betul endingnya hanya tatapan cemoohan dan meremehkan yang akan ia dapatkan. Ia duduk di kursinya yang ternyata di samping kanannya yang tadinya kosong sekarang sudah ada pemiliknya, lelaki yang menyapanya barusan.


"Orangtua kalian mana?"


Masih mau tanya-tanya rupanya. Nadia menghela nafas pendek, malas menanggapi. Disini gue yang orangtuanya, mau apa lo? Batinnya kesal.


Baru saja mau menyandarkan punggung dengan nyaman, Nadia teringat hpnya yang ketinggalan di Cafe.


"Ck." Nadia berdecak sebal. Dengan susah payah ia melepaskan seatbelt-nya lalu saat akan keluar, lelaki itu menghalangi langkahnya. "Permisi." Tegur Nadia.


"Mau kemana?"


Penting buat lo tau? Sungut Nadia dalam hati tapi yang keluar hanya helaan nafas kasar.


Melihat wajah tak menyenangkan Nadia lelaki itu langsung memberi jalan. "Silahkan."


Nadia kemudian bergegas keluar. Ia melihat penumpang sedang berdesakan, memikirkan kenyamanan Pia, Nadia memutuskan untuk keluar tanpa memberitahu Pramugari. Lagian ia hanya keluar sebentar, masih banyak penumpang yang belum mengisi kursi mereka.


***


Gibran dan dua orang tentara yang bersamanya memindahkan kotak obat yang ada dalam pesawat ke dalam gudang puskesmas darurat yang sudah disediakan. Tak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang diluar sana mengenai daerah pegunungan yang riskan akan pemberontak, para warga di tempat ini tampak bersahabat. Ya memang seperti itu karena mereka yang memberontak dan membuat kekacauan adalah orang-orang yang serakah akan jabatan dan harta. Selebihnya masyarakat lokal adalah masyarakat Indonesia yang mencintai negaranya terlihat dari bagaimana mereka mencintai bahasa indonesia dan simbol negaranya yang berkibar gagah di ujung tiang hampir tiap rumah.


"Ini, Kapten." Valeria yang baru selesai mengurus serah terima dengan petugas medis ditempat itu mengulurkan minuman pada Gibran yang sedang menunggu di dekat heli.


"Terima kasih." Ucap Gibran mengambil gelas minuman mineral yang diberikan Valeria.


Valeria mengangguk senang. Akhirnya Gibran sudah kembali seperti semula. Valeria menggigit bibir gugup hendak mengutarakan sesuatu yang sangat membuatnya senang.


"Terima kasih Kapten Gibran sudah mau menerima permintaan saya. Tadinya cuma iseng-iseng ngomong sama Om kalau pengen ngerasain terbang bareng kapten ternyata beneran kejadian."


Gibran yang sedang menenggak minuman di tangannya terdiam. Apa yang tadi di dengarnya?


"Iseng-iseng?" Wajah Gibran mengeras. Kedua mata tajamnya menggelap.


"A-ah i-itu--" Valeria yang tak menyadari perubahan mood Gibran tersenyum malu-malu "Saya senang akhirnya bisa merasakan terbang bersama kapten Gibran. Rasanya seperti mimpi." Aku Valeria gugup.


"Jadi Dokter yang minta supaya saya yang terbangkan helinya?"


Gibran tak lagi bernafsu untuk menghabiskan minuman di tangannya saat melihat anggukan malu-malu Valeria. Yang ia ingin lakukan adalah meremukkan badan helikopter sebagai ganti badan Valeria. Padahal tadi ia sangat haus tapi sekarang yang ada di kepalanya hanyalah kilasan kemarahan dan kekecewaan Nadia yang berjalan meninggalkannya.


"Si*l!"


"Ya?"


Gibran mengabaikan Valeria yang menatapnya penasaran. Ia masuk dalam heli dengan emosi yang tak bisa lagi diungkapkan seberapa marahnya ia sekarang.


Si*lan.


Gibran mengepalkan tangan kesal dengan kepala tertunduk menyesal. Ini yang katanya urgent, Gi, sampai-sampai membiarkan istri dan anak terlantar? Ini, Gi yang katanya tugas penting, memenuhi keinginan seorang gadis iseng yang ingin merasakan terbang bersamamu? Heh. Gibran tersenyum sinis menertawai ketololannya sendiri.


"Nad, Pia, maaf. Maaf." Lirihnya penuh sesal. Jika saja ia mengabaikan telfon tadi, jika saja ia tidak begitu gila dengan pekerjaan, jika saja--


Argh!!!


***