
Tok tok tok.
Tiga orang dalam rumah itu saling melirik. Tepatnya Nadia dan Gendis menatap kearah Gibran yang tengah menggendong Navia sementara mereka menyiapkan makan malam.
"Siapa?" Nadia bersuara.
"Bentar, biar Gendis yang buka." Gendis yang tengah mengatur piring diatas tikar mengajukan diri saat melihat Nadia sibuk mengambil lauk dari dalam panci. Ia bergegas kearah pintu.
"Hai!" Dewa melambaikan tangan kaku pada Gendis. Ia juga tidak menyangka orang yang akan membukakan pintu untuknya adalah orang yang menyebabkan ia ke tempat jauh ini.
"NGAPAIN OM KESINI?!"
Pekikan syok Gendis menarik perhatian Nadia yang segera meninggalkan pekerjaannya bergegas menyusul Gendis. Sementara Gibran, lelaki itu tampak santai di tempatnya mendusel-ndusel pipi gembul Nadia dengan hidungnya.
"Silaturahmi lah. Emang kenapa? Gak boleh? Awas gue mau lewat." Dewa mendorong pelan bahu Gendis yang berdiri di depan pintu menghalanginya masuk.
"Om Dewa? Kok disini?" Nadia menyusul Gendis dan tak kalah terperangah mendapati Dewa dalam rumahnya dengan penampilan segar. Tas ransel laki-laki itu diseret begitu Saja.
"Hai Nad, apa kabar?" Bukannya menjawab Dewa malah menghampiri Nadia dan menyalaminya tak menghiraukan wajah syok tuan rumah "Gibran mana?" Tanyanya seraya menghempaskan badannya diatas kursi kayu lapuk hingga menimbulkan bunyi derit yang menghawatirkan.
Nadia melirik Gendis yang masih berdiri di depan pintu dengan wajah tertekuk masam. "Baik. Om Gi ada." Nadia menolehkan kepalanya di belakang mengintip Omnya yang tampak asik bersama Pia, "Om Gi, ada temennya tuh." Panggil Nadia.
Gibran beranjak dari kursi membawa serta Navia dalam gendongannya.
"Om ngirim mata-mata ya buat ngikutin gendis? Gak boleh gitu Om, namanya melanggar privasi orang." Gendis sudah menutup pintu dan melipat tangan kesal manatap Dewa.
Nadia yang melihat kilat berbahaya dimata keduanya langsung melipir menghampiri Gibran dan Pia "Gawat, Om. Bisa-bisa rumah kita jadi medan perang nih." Bisik Nadia panik.
"Dih Pede bangat lo anak kecil. Gue ngunjungin sahabat gue lha." Ujar Dewa tak santai. Sebelum menghampiri Gendis di tempat Gibran, ia sudah niatkan untuk tidak mengalah pada anak kecil di depannya ini. Cukup Gibran yang bucin sama anak kecil, jangan lagi dirinya menambah daftar kebucinan.
"Sudah lama?" Gibran muncul memotong perdebatan yang hampir memanas.
"Dari siang. lo kan ngusir gue." Jawab Dewa sembari menjatuhkan perhatiannya pada bayi lucu dalam gendongan Gibran. "Wuileeeeh calon bini gue. Sini Pia, sama Om Dewa." Dewa hendak mengambil Pia tapi kemudian tangannya di tepis kasar.
"Naudzubillah min dzalik. Jauh-jauh dari sial." Nadia berdiri menghalau Dewa sembari merentangkan tangannya.
"Asem, Bro. Bini lo mulutnya makin cabe aja." Dumel Dewa yang langsung mendapat pelototan dari Nadia.
"Gimana perjalanan kesini?" Mengabaikan kelakuan kekanak-kanakan Dewa, Gibran memilih duduk di kursi panjang bersama Pia. "Nad, ajak Gendis ke dapur." Lanjutnya saat melihat Gendis masih berdiri mematung dengan tatapan penuh kewaspadaan pada Dewa.
Nadia memanyunkan mulutnya tapi tak punya pilihan lain selain mengajak Gendis ke dapur sebelum pecah perang dunia ketiga. "Ikut gue."
Gendis dengan wajah tertekuk melewati Dewa dan menyempatkan menendang tulang kering laki-laki itu yang sayang sekali tidak berefek pada pria bermata sipit itu. Dewa dengan ekor matanya mengikuti Gendis hingga hilang dari pandangannya.
"Jangan diliatin ntar kabur anaknya." Ujar Gibran mengingatkan.
Dewa menghela nafas berat, "Dia baik-baik aja kan?"
"Baik sebelum lo muncul."
Dewa mencebik lalu menjatuhkan kepalanya bersandar di dinding, "Gak nyangka gue anak itu bisa nekat kesini. Untung rada bego, masa kabur ninggalin jejak di story, ya ketahuan lah."
Gibran yang sudah mengenal Gendis cukup lama menyunggingkan senyum kecil. Kecerobohan Gendis lah yang sempat-sempatnya berfoto di bandara Mopah Merauke yang membawa Dewa ke tempat ini. Dan lebih konyolnya lagi Gendis memembuat status dengan mengupload foto Navia dengan caption, wait for me, my baby girl, siapapun juga pasti langsung akan menebak dimana tujuan akhir gadis polos itu.
"Saya tidak ingin ikut campur urusan kalian berdua tapi sebagai seseorang yang sedang menjalani pernikahan, saya cuma mau bilang kalau ini gak mudah. Apalagi kalian berdua tidak saling mengenal dengan baik." Gibran yang merasakan Navia mulai menggeliat tak nyaman menepuk-nepuknya agar kembali tenang. "Apalagi usia Gendis masih muda. Kamu sendiri liat bagaimana Saya dan Nadia menjalani pernikahan ini. Nadia yang masih sangat menggebu-gebu dan labil bukan sesuatu yang mudah dihadapi even ketika saya sudah mengenal dia sejak bayi."
Dewa terdiam, mengangkat lengan menutupi matanya "Gue juga pusing. Nenek gue maksa mulu. Pake acara ngancem gak mau berobat lagi. Lu tau sendiri lah ginjalnya gimana. Gue tuh cuma punya nenek meskipun galaknya kayak nenek Tapasya tetap aja dia keluarga gue satu-satunya."
"Tapasya siapa? Mantan kamu?"
Dewa melirik Gibran dengan sudut matanya. Bukan itu poin utamanya anjiiiiiir. Dewa rasanya ingin memaki. Harus gitu dia jelaskan siapa Tapasya?! Dewa menggeleng. "Adalah, kenalan gue." Jawabnya asal, kesal campur gemas.
Gibran mengangguk kecil, "Apa rencana kamu selanjutnya? Gendis seperti bukan orang yang mudah di bujuk."
"Gue bawa pulanglah. Bonyoknya minta gue mastiin dia pulang."
"Kalau dia tidak mau? Atau parah-parahnya dia nekat kabur lagi"
"Ya jangan sampe lah." Dewa memijat keningnya yang terasa pening.
"Semoga cepat selesai masalah ini." Gibran berujar santai sembari menimang-nimang Pia.
Dewa menoleh pada Gibran melihat bagaimana pria kaku itu tampak sangat lembut pada bayi Kecilnya. Ia tidak menyangka akan melihat Gibran memiliki anak terlebih dulu dibandingkan dirinya yang terkenal paling sering gonta ganti pacar. Siapa yang menyangka jika pria jomlo abadi yang diragukan kenormalannya ini akhirnya menikah dan memiliki anak. Hebatnya lagi sekarang dia memiliki dua anak gadis yang sama lucunya walaupun anak gadisnya yang paling besar rada keras kepala dan bandelnya ampun-ampunan. Semoga saja gadis kecil ini mengambil bagian sifat Gibran yang tenang, jangan seperti yang satunya, susah diatur.
"Gimana rasanya punya dua anak gadis?" Dewa tiba-tiba mengalihkan topik.
"Menyenangkan." Jawab Gibran seadanya.
"Yang di dapur gak ribet? Bisa ngurus adik kecil yang ini?"
"Bisa mengurus adik kecilku juga." Ujar Gibran lagi dengan tampang yang membuat Dewa ingin menggeplak kepala sahabatnya itu.
"Jiji!!!" Sungut Dewa.
Gibran terkekeh puas melihat reaksi Dewa. Lagipula apa maksudnya mempertanyakan kredibilitas Nadia sebagai istri. Nadia adalah yang terbaik, No Debat!
"Betewe gue boleh nginap dis--"
"Tidak."
Dewa menggeran "Si*lan. Lo bahkan gak mikir dulu langsung nolak gue?"
"Ada Gendis. Saya tidak percaya otak kamu."
"Anjriiiiit emang gue mau ngapain dia sih? Tu anak muka polos Anna Frozen tapi kelakuan aslinya Annabel, nyeremin. Gak berani gue apa-apain." Dewa berujar senewen.
"Tetap saja." Gibran mengangkat wajahnya menatap Dewa serius "Kelakuan alami kamu masih tersave diingatan saya."
Dewa memundurkan badannya. Oke, ia tidak berani dengan mode sangar Gibran yang ini. Dia memang lelaki brengsek tapi ia akan pikir-pikir juga untuk menyakiti Gendis. Bagaimanapun anak kecil itu adalah pilihan neneknya dan ia tidak akan menyakiti neneknya dengan merusak Gendis.
"Om, makan malamnya sudah siap." Nadia muncul dari dapur, memecah sunyi diruangan itu.
"Iya, thanks Nad." Gibran beranjak dari kursi sementara Nadia sudah kembali ke dapur.
"Lo gak ngajak gue?" Dewa melihat gelagat Gibran yang akan meninggalkan.
"Harus diajak?" Tanya Gibran sarkas.
"Gak dong." Dewa menjentikkan jarinya sembari menyengir lebar, "You know me so well brai." Ujarnya lalu tanpa menunggu lama pergi ke dapur mendahului Gibran yang hanya bisa menghela nafas pendek. Teman kampreet.
"Om Gi kok ngajak dia sih?! Ngilangin nafsu makan aja." Gendis yang sudah duduk lesehan protes.
"Dih, bukan rumah lo ya anak kecil." Dewa yang memang urat malunya tertinggal dalam rahim Ibunya duduk melipat kaki dengan nyaman.
"Anggap saja kucing." Ujar Gibran sembari ikut duduk di samping Nadia yang acuh dengan dua orang tamu berisik itu.
Selanjutnya makan malam kali itu tidak setenang biasa karena Gendis dan Dewa benar-benar menjadikannya sebagai medan pertempuran. Untung saja Nadia sabar, karena kalau tidak sudah di usir dua tamu tak tahu diri itu.
***
"Om Gi mana?" Gendis melongokkan kepala di pintu ruang tidur. Nadia menoleh, ia sedang mengganti popok Navia.
"Di sumur kayaknya. Kenapa?" Nadia mengangkat Pia yang sudah gantian dan membawanya keluar kamar. Ia mengernyit melihat penampilan Gendis yang sudah rapi dengan setelan sederhananya. "Lo mau kemana?"
"Gue mau balik." Jawab Gendis mengikuti Nadia duduk di bangku kayu.
"Balik? Lho, katanya mau seminggu disini. Gimana sih." Mereka bahkan belum sempat piyama party sembari menghibah semalaman tapi Gendis malah sudah harus pergi.
Gendis menghela nafas pendek "Males gue ada Om Dewa. Bukannya nenangin diri yang ada stres gue disini." Ujarnya sebal. "Gue rencana naik pesawat langsung ke merauke. Ada kan?"
Nadia melihat keluar jendela, "Ada kayaknya." Cuacanya cerah memungkinkan pesawat bermuatan tujuh orang itu melakukan penerbangan. Ia kembali menoleh pada Gendis, "Lo yakin mau balik sekarang?"
Gendis mengangguk, "Mumpung tuh Om-om lagi gak ada."
"Gue masih kangen padahal." Ujar Nadia sendu. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Gendis dan baru tiga hari bersama mereka sudah harus berpisah lagi. Ini semua gara-gara Dewa yang datang tiba-tiba mengacaukan suasana.
"Gue juga." Gendis memeluk Nadia "Doain gue ya semoga masalah ini cepet selasai. Gue gak suka ribet gini. Lo tau sendiri otak gue gak nyampe persoalan hidup yang kek gini" Suara Gendia bergetar menahan tangisnya.
"Gue selalu doain yang terbaik buat lo." Balas Nadia menyusut airmatanya yang sudah menetes di pipi.
"Jangan nangis dong. Kasian Pia kalau Ibu nangis." Gendis melepas pelukannya dan mengusap pipi Nadia yang basah.
"Lo sih. Makanya disini aja dulu. Ntar deh Om Dewa gue usir, ya ya yaaah." Bujuk Nadia.
Gendis mendengus, "Jangan ngerengek sama gue, lo. Jijik bangat tau nggak." Gendis lantas menghela nafasnya pendek, "Gue balik ke rumah kok. Gue mau nyelesaiin ini semua sama Bonyok. Kali aja ada pencerahan di hati mami buat ngebatalin perjodohan ini."
"Kalau nggak bisa?"
Gendis mengedipkkan bahu, "Mau gak mau gue cabut dari rumah. Apapun yang terjadi gue belum siap nikah." Ia menatap lekat Pia yang ada dalam gendongan Nadia "Walaupun gue tau, gak akan mudah. Pia bantu doain mami Gendis ya sayang." Dikecupnya pipi Pia dengan sayang.
"Jadi fix lo berangkat? Gak mau mikir-mikir dulu?" Tanya Nadia memastikan lagi.
Gendis menggangguk "Iya. Sampai ketemu di Jakarta ya."
Nadia akhirnya hanya bisa menghela nafas. Ia tidak mungkin juga menahan Gendis untuk bersamanya disini. "Bentar, gue panggilin Om gi buat nganter." Nadia beranjak dari kursi menuju arah dapur tepatnya ke pintu dapur untuk mengecek keberadaan Gibran.
Tepat seperti dugaannya, Gibran tengah berada di sumur mengisi air bersih untuk kebutuhan memasak.
"Om Gi!" Panggilnya.
Gibran yang sudah siap mengangkat jergen hanya mendongak lalu melanjutkan mengangkat dua wadah memuat 40 liter air bersih.
"Ada apa?" Gibran berhenti di depan Nadia. Meletakkan jergen tersebut disana.
"Gendis mau balik."
"Balik kemana?"
Nadia menyingkir dari pintu dan membiarkan Gibran masuk "Balik ke rumahnya lha."
"Sekarang?"
Nadia mengangguk lagi.
Gibran kemudian berjalan ke ruang tamu menemui Gendis yang duduk dengan kepala tertunduk. Nadia mengikut di belakangnya.
"Mau pulang?" Tanya Gibran memastikan.
Gendis mengangkat kepalanya menatap Gibran lalu mengangguk. Ia sedikit segan dengan suami sahabatnya itu. Gibran bukan hanya suami bagi Nadia tapi sekaligus wali dari sahabatnya itu sebelumnya sehingga mereka bertiga menghormati Gibran layaknya menghormati kedua orangtua Nadia.
"Balik ke rumah kan? Tidak kabur-kabur lagi?!"
"Iya, Om. Gendis pulang ke rumah. Nemuin Mami Papi." Terang Gendis.
Gibran mengangguk kecil "Jadi mau diantar sekarang? Tidak mau barengan Dewa saja?"
Gendis menggeleng cepat. Niatnya menghindari Dewa bukan malah bersama laki-laki itu. "Sekarang aja, Om."
"Mau naik pesawat? Sudah beli tiket?"
Gendis menggeleng "Belum."
"Ya sudah. Siap-siap. Saya gantian sebentar." Gibran masuk kamar. Sementara itu Nadia yang sejak tadi diam menyimak percakapan keduanya menghampiri Gendis.
"Salam sama mami papi ya. Please jangan kabur-kaburan lagi. Lo kan cerdas, jangan mikir cetek."
"Iyaaaah. Lo sama Pia juga jaga diri ya. Bentar lagi lo balik kan? Semester baru udah mau mulai."
Nadia mengangguk, "Sebenarnya gue gak tega ninggalin Om Gi tapi mau gimana lagi, Om Gi bilang gue harus kuliah biar bisa mimpin Gaudia suatu saat nanti. Kasian Om Sammy harus ngurus perusahaan sendiri. Mana belum nikah-nikah lagi tuh orang."
"Kan mau fokus majuin Gaudia Group." Ujar Gendis mengingatkan.
"Iya, makanya gue harus belajar buat bantuin Om Sam. Kali-kali aja dia mau nikah. Prihatin gue orang secakep dan sekaya itu masih jomlo juga. Jangan-jangan doyan batangan lagi."
"Hush! Mulut lo ya." Gendis menampar bahu Nadia gemas.
Nadia menyengir lebar "Canda doang." Ia kenal Samuel dengan baik dan laki-laki itu masuk dalam barisan para CEO kece gagal move on yang masih menunggu mantan kembali. Ckckck memprihatinkan.
"Ayo." Gibran muncul membawa kunci motor di tangannya.
Gendis memakai ranselnya dan koper kecil di bawa oleh Gibran.
"Gue jalan ya Nad" Gendis memeluk Nadia sekali lagi. Kemudian beralih pada Navia yang membulatkan matanya lucu "Pia, Mami balik ya. Jadi anak manis." Kecupan panjang disarangkan di wajah Gembul Pia membuat bayi kecil itu tertawa.
"Hati-hati dijalan. Kalau di godain pilot, timpuk aja pake sepatu." Gurau Nadia. Gendis mengangguk mengancungkan jarinya.
"Saya jalan." Gibran meraih kepala Nadia dan mengecupnya. Nadia mengangguk, mencium punggung tangan Gibran dengan khidmat.
"Hati-hati, Om. Pia, salim ayah." Nadia mengambil tangan Gibran namun bukan Navia yang mencium punggung tangan Gibran malah sebaliknya.
"Assalamualaikum sayangnya Ayah."
"Waalaikumsalam Ayahnya Pia." Nadia mengantar keduanya hingga ke depan pintu mengiringi langkah Gendis dengan doa agar masalah sahabatnya itu cepat selesai.
Masalah kalau disimpan lama-lama gak baik, Ndis. Kalau udah numpuk bisa kayak bisul, sakit dibawa-bawa. Mending dipecahin meskipun sakit dan nyut-nyut seenggaknya tidak menyimpan nanah lagi.
***