Little Persit

Little Persit
Tante-tante tutup panci



Nadia melipat tangannya di dada dengan kesal. Tatapannya tak lepas mengawasi dua orang berseragam loreng di depannya, Om Gibran dan tante-tante pengganggu yang sudah mencuri dua puluh detiknya bersama Gibran.


"Sekali lagi mohon maaf, Kapten." Ujarnya tak enak hati telah lancang membuka pintu dan memergoki dua sejoli yang sedang mesra-mesraan.


"Tidak apa-apa. Lain kali jangan lupa ketuk pintu." Ujar Gibran dengan suara rendah.


"Siap, Kapten." Prada berdiri dari kursinya setelah urusannya dengan Gibran selesai. Ia berbalik hendak keluar namun keberadaan seorang gadis SMA yang duduk menatapnya diam langsung menarik perhatiaannya.


"Istri saya." Jelas Gibran, mengerti arti tatapan itu.


"O-oh." Prada menatap penuh atensi memindai Nadia dari ujung kaki hingga ujung kepala yang dibalas tatapan tajam Nadia yang juga melakukan hal yang sama.


"Nad, ini Lettu Prada Kemuning, yang bantuin pekerjaan Om disini." Gibran mengenalkan dua wanita yang saling memandang dengan tatapan laser.


"Nadia Gaudia Rasya, istri Gibran Al Fateh." Sambut Nadia dengan senyum penuh percaya diri yang siap menantang siapun yang coba-coba melirik Omnya. Dokter Elsa saja si wanita sempurna bisa ia kalahkan apalagi cuman si rambut tutup panci, ck gampang ini sih. Nadia membatin.


Prada mengangguk tipis "Salam kenal, Bu." ujarnya seramah mungkin. Ia masih liat tempat untuk tidak membalas si anak kecil ini di depan atasannya.


"Yeah" Balas Nadia memutar bola malas. Nadia si tipe wanita yang apa adanya paling membenci yang namanya kepura-puraan. Jelas sekali ia bisa melihat tatapan tak senang dari bawahan Gibran yang satu ini. A jelousy??? HA HA HA eat that.


"Permisi, Bu."


"Silahkan." Nadia mengangkat kakinya santai menyilangkannya satu sama lain.


"Siapa sih tuh? Orang baru?" Omel Nadia setelah pintu sudah tertutup dengan rapat.


Gibran yang sudah kembali ke meja nya bergumam "Tadi kan sudah Om kenalkan. Gak denger?" Ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di depannya. Nadia memutar bola mata sebal, bukan itu maksudnya bambaaaang. Argh, susah memang kalau punya suami jelmaan kanebo kering.


"Mau kemana?" Tegur Gibran saat Nadia mengedap-ngedap keluar ruangan. Si*lan, punya mata di kepalanya tu orang. Nadia menggumam kesal.


"Cari udara segar. Disini sumpek." Jawabnya bohong. Aslinya sih dia mau melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang di tentara rambut tutup panci, Gucci atau siapalah itu namanya.


"Jangan jauh-jauh dan jangan menganggu." Pesan Gibran.


"Iyaaaaa." Jawab Nadia panjang. Selalu saja seperti itu. Nadia juga pilih tempat kalau mau berulah, yang jauhan dikit dari jangkauan Omnya HE HE HE.


Nadia menutup pintu ruangan Gibran dengan pelan. Ia melihat lorong kanan dan kiri. Sebaiknya ia ke kiri dulu karena biasanya kanan di lambangkan dengan kebaikan dan tutup panci tidak mungkin ada disana.


Dengan langkah ringan Nadia menyusuri lorong panjang yang tampak lengang. Sepertinya hanya dia disini yang tidak sibuk. Bangunan-bangunan beberapa lantai di dominasi warna putih biru tampak gagah dengan tambahan simbol-simbol Angkatan Udara. Keren sekali persis seperti Om Gibran. Nadia menyengir lebar. Ia rasa akhir-akhir ini ia semakin susah lepas dari Gibran. Bahkan saat ia di sekolah pun tetap memikirkan Gibran. Rasa-rasanya ia ingin mengantongi Gibran dan menyimpannya untuk ia bawa kemanapun.


Mata Nadia menyipit. Tak jauh darinya sosok tutup panci itu berdiri dengan tegak seolah siap menyambut musuh.


"Halo Tante." Nadia melambaikan tangan ceria. Ck. Cukup menghadapinya dengan sedikit senyuman dan kata-kata yang manis.


"Hi adik kecil." Sambut Prada dengan senyum simetris miliknya.


Nadia duduk diatas beton yang sepertinya memang disediakan untuk adu strategi melawan musuh. Prada menyusul duduk tak jauh dari Nadia.


"Sejak kapan kenal kapten?" Tanya Prada to the point.


"Lupa. Udah lama bangat." Jawab Nadia. Maunya sih jawabnya sejak masih di alam barzakh tapi ya sudahlah, gini saja muka si tutup panci sudah masam.


"Kok bisa nikah?"


"Bisa dong, Tan. Kan ada KUA." Lagi Nadia menjawab dengan menyebalkan.


"Whatever." Prada sepertinya mulai kesal dan Nadia sangat menyukai itu.


"Kenal Kapten dengan baik dong? Kan Nad katanya udah kenal lama." Prada melirik sinis Nadia.


Nadia mengangguk mantap "Iya dong, Tante. Masa suami sendiri gak kenal sih. Ada-ada saja si Tante." Nadia terkekeh kering.


"Berarti tau dong siapa cinta pertama Kapten Gibran."


"Ci-cinta WHAT???" Nadia rasa ia sudah salah dengar tapi tadi apa katanya, cinta pertama?


Prada tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia bisa juga melihat wajah si anak kecil pias "Iya, cinta pertama kapten Gibran Al Fateh." Ujarnya dengan pelan dan menusuk.


Si*lan nih tutup panci. Nadia mengumpat dalam hati namun saat mengingat bayinya ia langsung beristighfar, tidak boleh bicara buruk atau bayinya lahir ileran itu kata Gibran. Hih, bayi lucunya ileran? No way.


"Oh cinta pertama. Nad gak ngurus sih Tan, gak penting juga kan. Cinta pertama kalau gak jadi cinta terakhir ya buat apa." Balas Nadia kemudian. Dalam hati ingin sekali rasanya melempar tentara rambut tutup panci di depannya ini dengan bom molotov. Nyebelin bangat, tetangga julidnya sampe kalah lho.


"Tapi kata orang, cinta pertama tak akan pernah mati lho Nad."


Aseeeeeem. Nadia sudah tidak peduli lagi dengan ileran bayinya, segala macam penghuni kebun binatang kini ia absen satu persatu saat melihat senyum mencemooh Prada yang jelas sekali puas telah mengacaukan perasaannya. Argh, cinta pertama si*alan. Tante tutup panci Nyebeliiiiin.


***


"Pokoknya Nad kesal sama si Tante. Gak mau tau, Om pecat si tante bawa jauh-jauh dari Monas." Nadia melempari sepatu dengan kesal. Ia baru saja pulang dari kantor Gibran. Gibran yang seharian ini lelah bekerja membiarkan Nadia mengamuk tanpa berusaha membujuknya. Ia perlu bernafas sebentar dan mungkin tidur sejenak untuk melapas penatnya.


"Jangan besar-besar suara Nad. Tetangga sebelah bisa ke ganggu." Gibran memungut tas dan sepatu Nadia yang dilemparkan begitu saja pemiliknya dan menyimpannya di tempat yang seharusnya.


"Ish Om nyebelin. Nad marah-marah malah dikacangin." Nadia menatap kesal Gibran yang membaringkan badannya dengan nyaman di atas sofa di depan tv. Gibran mengulum senyum tipis, mau gimana lagi, dia benar-benar perlu mengistrahatkan badan dan juga pikirannya.


"Daripada Nad marah-marah gak jelas, mending pijitin kaki Om supaya dapat pahala." Gumam Gibran diantara rasa kantuk yang menyerangnya. Nadia mendelik sebal namun kemudian Ibu hamil yang wajahnya tertekuk masam itu akhirnya duduk di lantai dan mulai memijat kaki Gibran.


"Emang sepenting apa sih cinta monyet si*alan itu." Belum juga selesai rupanya. Gibran melirik Nadia diam-diam. Sebenarnya ia tidak tega melihat Nadia kesal tapi mungkin Ibu hamil butuh waktu untuk meluapkan emosinya.


Gibran menyentuh lembut rambut Nadia, mengelusnya dengan penuh kasih sayang tanpa mengucapkan satu kalimat pun. Tapi tanpa harus melihat, Gibran tahu Nadia menerima perlakukannya dengan senang hati.


"Om capek bangat ya?" Nadia menurunkan tekanan suaranya. Tangannya berpindah menyentuh alis tebal Gibran, menyisirnya dengan telunjuknya. Gibran mengangguk. Apa yang Nadia lakukan membuat ia semakin mengantuk.


"Selamat istrahat, Om." Nadia menyapukan bibirnya di kening Gibran saat laki-laki itu sudah benar-benar terlelap.


.


.


"Bro, Bini lu kenapa? Makan es krim udah kayak orang kesurupan." Dewa yang bertugas mengantar es krim untuk nyonya kecil meringia melihat Nadia sudah menghabiskan dua cup es krim yang dibawanya.


"Hormon." Gio yang sedang duduk diatas motor matic milik Dewa menimpali. Tiga orang dewasa itu tengah berada di taman asrama menemani Nadia yang kata Gibran sedang dalam mode angry bird.


"Udah cukup." Katanya mengambil Es krim keempat Nadi.


"Om--"


"Nanti sakit perut." Ujar Gibran, menyampirkan sweater hangat Nadia yang melorot. "Kita pulang?"


Nadia menggeleng. Ia turun dari mobil setelah mengenakan sendal beruangnya. "Nad mau liat bintang." Ucapnya menarik tangan Gibran untuk kembali ke bangku taman bergabung dengan dua temannya.


"Bilang apa sama Om Dewa?" Sambut Dewa dengan cengiran lebar.


"Makasih Om." Nadia berujar malas. Yang dipake kan uang Omnya, cuma modal nitip aja pake acara pamrih.


Dewa terkekeh, hendak mengacak rambut Nadia namun langsung di tepis oleh Gibran yang menatapnya penuh ancaman.


"Selooow brooo. Gak gue ambil si bocil." Dewa tertawa puas melihat wajah masam Nadia. Ya memangnya siapa sih yang mau di panggil bocil di depan suami, nyebelin teman Gibran yang satu ini.


"Oh iya, Prada nitip salam buat Nadia." Gio menyela.


Gibran mengirim pesan tersirat pada Gio memintanya berhenti membahas Prada atau bom atom bisa meledak sekarang juga. Tapi karena Gio buta kode, laki-laki itu malah melanjutkan.


"Katanya tadi sempat ketemu Nadia. Ngobrol akrab."


"Mweeek!" Nadia berekting mual tapi malah ditanggapi serius oleh ketiga lelaki berbadan kekar di dekatnya.


"Nad, are you ok?" Gibran menepuk pundak Nadia pelan.


Nadia berdehem "Khmm panas." Ujarnya asal sembari mengipasi wajahnya.


"Panas? Dingin gini. Bawa pulang, bro. Ntar sakit si Nad." Saran Dewa.


"Iya, terlalu banyak es krim kayaknya. Udah malam juga." Gio menimpali. Dalam hati Nadia memberenggut sebal. Yang ada ia terlalu banyak makan hati makanya mual-mual.


Baru juga akan pergi, Nadia malah langsung di hadapkan dengan si tante tutup panci.


"Selamat malam semuanya. Kalian disini? Ada Ibu juga." Prada datang bersama satu orang temannya yang juga memiliki model rambut yang sama, kata Nadia model tutup panci.


Perasaan kalau tante Vina cantik-cantik aja deh dengan model rambut pendeknya, kenapa Tante Prada tidak? Ah Nad tau, mungkin emang dasarnya jelek kali yah jadi mau diapain juga tetap aja jelek. Nadia bergumam. Nadia sepertinya lupa kalau kacamata kecemburan belum ia lepas.


"Halo Tante." Nadia menjatuhkan dirinya pada Gibran yang langsung di tangkap dengan sigap oleh lelaki itu. Ia berdecak pelan akan kelakuan Nadia yang tidak hati-hati.


"Oom Nad ngantuk. Gak bisa jalan."


Gibran mengernyit. Apa lagi ini? Tapi karena tidak mau membuat segalanya menjadi rumit, Gibran membawa Nadia dalam gendongannya. Ibu hamil berparas ayu tersebut menyenderkan kepalanya di dada bidang Gibran dengan kedua tangan mengalun di leher Gibran posesif.


"Kami duluan." Ujar Gibran melewati Prada yang tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Tidak mungkin.


Berbeda dengan Prada yang baru melihat hal itu, Gio dan Dewa yang sudah paham dengan kelakuan Nadia hanya bisa mengulum senyum. Wanita hamil memang sangat menakutkan kalau sudah mode cemburu. Sedangkan teman Prada hanya bisa melongo, ia mengenal Gibran dan melihat laki-laki itu begitu lembut pada istrinya membuat ia makin mengidolakan kapten ganteng itu. Sisain satu yang seperti itu ya Tuhan. Batinnya sungguh-sungguh.


"Apaan yang tadi?" Tanya Gibran setelah berhasil mendudukan Nadia dengan nyaman. Nadia menyengir.


"Bukan apa-apa." Katanya lalu duduk dengan tenang menghadap depan. Bodo amatlah ya dengan cinta pertama, yang penting kan dia istrinya Gibran sekarang. Si tas prada itu bisa apa kalau surat nikah dan akad udah terucap. Hihi.


"Om, besok mau ketemu Om papa dokter."


"Komandan?" Tanya Gibran setelah duduk dibalik kemudi.


"Hu-um."


"Mau ngapain?"


Nadia menyelipkan rambut dibelakang telingannya "Mau buat laporan permohonan supaya Tante tutup--eh Prada dipindahin ke Atambua." Katanya enteng.


Gibran terkekeh sembari mengacak puncak kepala Nadia gemas "Sembarang saja. Memangnya alasannya apa?" Tanyanya kemudian.


"Mengancam keselamatan bersama."


Gibran mengernyit "Keselamata bersama? Maksud Nad?"


"Keselamatan Nad, keselamatan Adek bayi, keselamatan Om, dan tentu saja keselamatan tante Prada."


"Kok?"


Nadia mengangguk "Iyalah Om. Kalau Nadia ngamuk, tante Prada bisa masuk UGD. Tau kan kalau Nad punya genk di sekolah." Ujanya sombong yang malah membuat Gibran makin tergelak.


"Nad lupa atau gimana, Lettu Prada kan tentara. Mana takut sama genk sekolahan begitu. sudah, Nad jangan banyak mikir. sekolah yang benar biar adek bayi bangga liat Ibunya lulus ujian." Gibran menyalakan mesin mobil lalu setelah memastikan Nadia sudah memasang seatbeltnya mereka keluar dari taman.


"Kalau gak di Atambua, Papua juga boleh kayaknya Om."


"Gak bisa Nad. Yang bertugas mindahin orang bukan Om. Papa Elsa juga tidak akan sembarang memindahkan orang dengan alasan seperti itu. Namanya tidak profesional."


"Tapi kan Nad sebel, Om. Heran deh, banyak bangat yang suka Om." Gerutu Nadia.


"Siapa yang suka Om?"


Nadia memutar bola mata jengah "Harus bangat Nad sebutin satu-satu?"


Gibran tersenyum tipis "Gak usah. Gak penting juga."


Nadia bersorak dalam hati "Gak penting ya Om? Terus yang penting siapa?" Tanyanya harap-harap cemas.


Gibran menoleh sebentar "Harus bangat Om sebutin?"


Nadia mengangguk cepat "Harus harus harus." Katanya bersemangat.


Gibran berdehem lalu mengarakan cermin depan mobil pada Nadia "Liat saja sendiri"


***


Om Gi bisa ajaaa siiih. Huhuhu apa kabar hati, Nad?