Little Persit

Little Persit
Mahasiswi Pencitraan



Nadia tercengan melihat kumpulan entah ratusan atau ribuan orang yang sudah memadati jalan. Ia melipir kearah tembok gerbang kampus saat segerombolan mahasiswa dengan pakaian hitam-hitam bergabung dalam barisan. Jadi hari ini dia akan benar-benar ikut demo? Menyuarakan aspirasi rakyat? Nadia tidak terbiasa menjadi orang yang berhati mulia seperti ini, terlalu bukan dirinya tapi sepertinya keren juga. Senyum lebar tersungging diwajahnya. Ia akan menjadi suara rakyat hari ini. Om Gibrannya pasti bangga jika mengetahui dirinya terjun di lapangan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.


"MAHASISWA BERSAMA RAKYAT!" Teriakan seorang mahasiswa yang berdiri diatas kap sebuah mobil hampir membuatnya terjengkat di dalam got kalau saja tidak ditahan oleh Orion.


"Lo nggak apa-apa?"


Nadia mengangguk masih setengah syok, "Ya, thanks." ujarnya sembari melepaskan tangannya dari pegangan Orion.


"Ayo!" Ajak Orion memberi jalan untuk Nadia.


Nadia berjalan kedepan melewati Orion bergabung dengan teman-teman kampusnya. Gema dari pembesar suara yang menyuarakan satu komando membangkitkan sesuatu dalam diri Nadia. Ini kali pertamanya ia ikut demonstrasi setelah selama ini hanya bisa menonton dalam televisi. Sebenarnya ia pernah melakukan demostrasi juga saat di Nusantara menuntut penghapusan peraturan yang mewajibkan setiap siswa memakai sepatu berwaran hitam. Tuntutannya memang tak menyangkut rakyat banyak tapi menyangkut eksitensi dirinya dan the girls yang selalu memiliki kreatifitas tanpa batas terkait fashion. Salah satunya memakai sepatu dengan berbagai warna dan model.


"Lo nggak bawa masker?"


Nadia yang terpukau oleh barisan ribuan mahasiswa yang turun ke jalan menoleh pada sumber suara, "Hah?"


"Masker." Orion menunjuk masker yang ia kenakan.


Nadia menggeleng, "Harus?" Ia akan susah nafas kalau memakai masker.


"Panas dan berdebu." Terang cowok itu sembari mengambil sebuah masker yang biasa di pakai oleh tim medis dari tas belakangnya.


"Buat gue?"


Orion mengangguk.


Nadia menatap ragu masker tersebut. Ini dia harus pakai masker dari Orion gitu? Kalau bekasan gimana?


"Masih baru." Ujar Orion seolah tahu apa yang di pikirkan Nadia.


"Kali aja kan." Ucap Nadia sambil lalu memakai masker yang diberikan Orion. Ia bergabung dengan teman-teman kelasnya yang cukup sering bertegur sapa dengannya.


"Nad, ikut juga?" Tanya seorang cewek yang Nadia kenali sebagai salah satu mahasiswi di kelasnya yang selalu melakukan protes jika di suruh beli buku diktat padahal saat kelas masuk paling sering bolos dengan alasan ikut rapat ini dan itu.


"Hu-um." Angguk Nadia.


"Weiiiits keren! Gue kira lo bisanya mejeng di Mall doang. Bagus! Gini baru mahasiswa." Pujinya menepuk-nepuk bahu Nadia berlebihan.


Nadia meringis, menepis tangan cewek tersebut dari bahunya, "Jari-jari lo berat." ucapnya.


Cewek tersebut menyengir, "Sorry, gue excited lo disini. Jarang-jarang cewek cantik mau panas-panasan dijalan."


"Biasa aja sih." Ujar Nadia sembari mengambil sebuah kertas yang diberikan para koordinator lapangan. Nadia membaca tulisan tersebut, seperti biasa kalimatnya pendek, padat dan menyinggung. Keren keren! Nadia berdecak kagum akan kekreatifan para mahasiswa membuat kalimat-kalimat seperti ini. Sangat khas demonstrasi. Ia harus mengabadikan ini dan memamerkannya pada ketiga sahabatnya yang pasti akan sangat iri karena dia menjadi super keren seorang diri hari ini.


Nadia sedang merogoh hpnya saat Orion tiba-tiba ada di depannya.


"Lo ngapain?" Nadia menatap Orion heran. Cowok ini seperti ada dimana-mana.


Orion mengangkat kain yang tak begitu lebar namun cukup panjang dililit di kepala.


"Mau?" Tanyanya menawarkan.


Nadia melihat kain berwarna hitam bertuliskan 'SAVE RAKYAT' dengan tinta merah.


"Mauuuuu." Angguk Nadia bersemangat. Lengkap sudah atribut demonya.


Orion tersenyum tipis, "Biar gue bantu pakein." ujarnya sembari melilitkan kain hitam tersebut di kepala Nadia.


"Jangan pisahkan diri dari barisan. Kalau keadaan mulai tidak kondusif, segera pergi ke tempat aman. mengerti?"


"Ngerti. Tenang aja. Gue udah biasa kalau kacau-kacau kecil ginian." Dibangunin tengah malam oleh suara sirine militer juga gue pernah, jadi kalau cuma gaduhnya mahasiswi sih sepertinya tidak masalah.


Nadia tak berhenti menyengir setelah Orion mengikat kain dikepalanya. Ia benar-benar menyukainya, Totally keren. Jangan salahkan dirinya yang begitu mencintai pencitraan karena Nadia bukan tipe mahasiswa yang rela berdarah-darah di jalanan untuk orang lain terkecuali keluarga dan sahabatnya. Nadia adalah golongan demonstran yang hanya turut meramaikan acara sekaligus menuntaskan rasa penasarannya mengenai aksi turun ke jalan seperti ini walaupun tetap ia ikhlas melakukannya demi kebersamaan dan seperti yang orang-orang diatas kap mobil itu katakan, demi ibu pertiwi yang sedang terluka. Dan Semoga saja tidak ada kericuhan karena meskipun dirinya si pembuat onar, tetap saja menjadi korban dari lemparan batu, gas airmata atau yang paling parah peluru karet tidaklah pernah masuk dalam hal keren. Terlebih Gibran pasti akan sangat cerewet jika dirinya lecet setelah mengikuti aksi mulia ini.


***


Di tempat lain Gibran baru saja selesai mengikuti rapat rutin yang diadakan setiap bulan membahas pertahanan negara bersama para pimpinan dari Angkatan Udara, Laut dan Darat. Laki-laki yang mengenakan seragam loreng-lorengnya itu sedang berusaha menghubungi sang istri yang tidak mengangkat telfonnya sama sekali. Bahkan chat yang ia kirim hanya centang dua yang masih abu-abu.


"Selamat siang, Kapten."


"Ah ya, siang." Ucap Gibran pada seorang wanita muda yang tak asing lagi, Dokter Elsa. Gibran menoleh kiri kanan, seperti mencari sesuatu. Kenapa Elsa ada dimana-mana? Apa rumah sakit sekarang sudah satu kantor dengan markas besar TNI? Aneh sekali.


"Elsa temuin temen papa." Jelas Elsa tanpa diminta, "Abang tidak ikut mengamankan demo? Elsa liat tadi banyak teman-teman abang di Senayan, Jojo dan Bang Dewa."


Gibran menggeleng, "Saya ada tugas lain disini, Dok." Ucap Gibran singkat. Tadi pagi memang di halaman markas ia melewati beberapa kompi pasukan yang sudah disiapkan membantu kepolisian mengamankan jalannya aksi demostrasi besar-besaran hari ini yang akan dilakukan oleh para mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di pulau jawa maupun dari luar pulau untuk menuntut banyaknya kebijakan pemerintah yang dirasa menyengsarakan rakyat.


Elsa mengangguk, sedikit tak nyaman dengan sikap dingin Gibran padanya.


"Pantas Elsa tidak liat abang di Senayan. Disana lagi kacau bangat. Banyak mahasiswa yang pingsan karena kelelahan. Tim kami sampe kewalahan."


Gibran hanya tersenyum kecil menanggapinya.


"Elsa liat ada dari kampus Nadia juga tadi yang ikut aksi." Lanjutnya yang sontak membuat Gibran mengernyit.


Kenapa ia bisa lupa soal Nadia? Dan alamamater tadi pagi? Ya Allah!


"Ini Elsa mau kem--"


"Dok, permisi." Gibran memotong cepat dan tanpa menghiraukan Elsa yang terpaku di tempat, Gibran berlari meninggalkan tempat itu sambil terus berusaha menelfon. Ia langsung menuju tempat parkir motornya. Semoga saja Nadia tidak ke jalan. Semoga saja Nadia memilih Mall untuk menghabiskan waktunya hari ini. Semoga saja Nadia di perpustakaan sekarang. Semoga saja-- Ya Allah, tapi anak itu pasti penasaran dan rasa penasaran Nadia selalu berujung dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.


"Halo, dimana?"


"Senayan. Kenapa? Kangen lo?"


"Berisik! Ngawal Demo?"


"Gak. Ngecengin mahasiswi, gile bro, pada cantik-cantik semua."


Gibran menghebuskan nafas kasar, rasanya ingin sekali menendang mulut Dewa yang ada di sebrang sana, "Tolong cari Nadia. Sepertinya dia ikut demo."


"Anjiiiiiiiir demi apa lo?"


Gibran memijat pelipisnya, "Saya kesana sekarang." Ujarnya menutup telfon secara sepihak lalu dengan tak sabaran membawa motornya melaju di jalanan dengan kecepatan tinggi.


.


.


"Oh my God, napas gue." Nadia menyandarkan punggungnya dibalik sebuah pohon besar sembari mengambil nafas rakus. Ia mengucek matanya yang sangat perih. Tak ada seorangpun yang ia kenal sedangkan dirinya sudah terjebak dalam kericuhan sekarang. Pihak keamanan pun seperti tersulut emosi karena ulah para provokator sehingga menendang sana sini bahkan sampai menangkap beberapa mahasiswa dan menyeretnya ke mobil tahanan.


"Ya Tuhan, gue ngapain sih disini?" Nadia mengusap peluhnya dengan punggung tangan, bingung harus lari kemana sekarang. Dari kejauhan ia melihat seseorang di tendang entah oleh siapa yang pasti berpakaian permain sampai tidak berdaya sementara disisi lain pihak TNI berupaya untuk membuat keadaan kembali kondusif tapi sepertinya sulit.


"Argh!"


Nadia menutup mulutnya syok saat seorang mahasiswa terjatuh karena lemparan batu yang asalnya entah darimana. Dengan kenekatannya yang tidak kira-kira Nadia berlari menghampiri mahasiswa tersebut dan membantunya berdiri.


"Lo berdarah." Pekik Nadia saat melihat darah mengucur dari bagian samping mahasiswa tersebut. Keadaan menjadi semakin tak terkendali dengan bunyi senjata yang ditembakan kearah udara menggema di seluruh sekitaran senayan.


Nadia melirik kiri kanan, tak ada tempat aman sedangkan seseorang yang sedang di papahnya ini hampir kehilangan setengah kesadarannya.


"Jangan pingsan, please. Gue gak kuat ngangkat." Pinta Nadia sembari menyeret langkahnya berusaha mencapai mobil ambulans dan tim medis yang ada disebrang jalan. Teriakan dan bunyi-bunyian yang memekakan telinganya tak dihiraukan lagi. Ia hanya perlu mencapai mobil ambulan dan semua akan lebih mudah.


"Kalau lo pingsan, gue tinggal disini biar sekalian di lindes tank." Ancam Nadia tak sungguh-sungguh. Melihat darah segar yang terus mengucur dari kepala orang itu ia menjadi pusing dan kepalanyapun ikut-ikutan berputar. Demi apapun dia sangat membeci darah.


Akhirnya setelah perjuangan berat, mereka mencapai ambulan dan langsung di bantu oleh tim medis.


"Di-dia berdarah--hah hah hah." Terang Nadia putus-putus. Ia terduduk diatas aspal setelah beban di bahunya diambil alih.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya tim medis pada Nadia. Nadia mengangguk, mengangkat tangannya membentuk oke. Semua orang kembali sibuk sementara dirinya memperbaiki perasaannya yang kacau balau. Seharusnya ia di rumah saja tadi, menemani Pia bermain sembari menunggu Gibran pulang dari kantor. Ia jadi menyesali keputusannya ikut demo karena akhirnya seperti ini, kacau dan terlalu banyak yang berjatuhan. Nadia mengusap wajahnya yang berpeluh, Om Giiii jemput Nad. Nadia mulai lelah, ia ingin pulang di rumah, istrahat dan makan. Ia sangat lapar dan haus.


Nadia mengusap sudut matanya yang mulai basah. Rambutnya sudah awut-awutan begitupun ikat kepalanya yang sudah melorot di lehernya. Ia tidak bisa bertahan di tempat ini terus. Ada keinginan untuk ikut ambulan tapi melihat banyak demosntran yang keadaannya lebih parah dari dirinya, ia memutuskan untuk pergi mencari jalan keluar sendiri.


Nadia berdiri lalu dengan langkahnya yang tertatih ia terus berjalan menjauh entah benar-benar menjauh dari kekacauan atau malah semakin terjebak yang pasti sekarang keadaan sudah semakin parah. Ban-ban di bakar, kaca mobil pengaman di hancurkan begitupun fasilitas umum lainnya seperti lampu taman dan lampu jalan yang sudah tidak tertolong lagi.


Nadia merasakan kepalanya pusing dan penglihatannya mulai berkunang-kunang. Ia mengucek matanya saat tiba-tiba sekumpulan orang berlari kearahnya membawa benda-benda tumpul di tangan masing-masing. Nadia hanya mendengar samar saat suara dari kejauhan berteriak memperingatkannya entah dari apa.


"AWAAAAS!!!"


Nadia menoleh kebelakang dan seketika---


BRAAAAK!!!!


Nadia tidak tahu apa yang barusan tadi jatuh menghantam sesuatu yang pasti sekarang ia tengah berguling-guling diatas aspal dalam pelukan seseorang. Semua seperti slow motion, adegan dalam sebuah drama yang menegangkan tetapi juga manis. Nadia memejamkan mata saat ia rasakan badannya berhenti berguling namun tak menyentuh aspal. Sebuah lengan kokoh menhan pinggang juga belakang kepalanya agar tidak terbentur. Helaan nafas berat menyapu kepalanya. Ia mengenal wangi ini, detak jantung ini dan hangatnya pelukan ini.


"Om Giii" Panggilnya lirih setelah membuka matanya dan mendapati sebuah dada bidang yang dilapisi seragam loreng bernafas berat dan cepat.


"Alhamdulillah."


Satu kalimat itu yang Nadia dengar meluncur dari bibir pemilik pelukan hangat itu dan seketika Nadia kembali merasa tenang seperti berada di rumahnya. Ia pasrah saja saat Gibran bangun dari posisi memeluknya dan langsung menggendongnya tanpa kata-kata menjauh dari tempat itu dengan langkah setengah berlari. Nadia memegang kerah seragam Gibran dengan erat, menyembunyikan wajahnya disana. Yang tadi benar-benar menakutkan, ia mengintip kebelakang punggung Gibran dan dari penglihatannya yang kabur, ia melihat sebuah ban mobil tak jauh dari tempatnya jatuh tadi dan sebuah mobil yang badannya penyok. Jika saja Gibran tidak bergerak cepat, mungkin kepalanya yang penyok.


Gibran berlari kearah sebrang mobil pengamanan yang berada disamping motornya berusaha menghindari sorotan dari awak media yang sedang meliput kejadian. Ia menyembunyikan Nadia dalam rengkuhannya saat seorang wartawan mendekat kearah mereka. Bisa gawat kalau Nadia ketahuan ikut aksi demonstrasi hari ini. Walau bagaimanapun Nadia adalah istri seorang prajurit yang harus berada di posisi netral. Sudah pasti banyak pihak yang akan memanfaatkan keadaan ini jika sampai tersebar kabar tentang sang istri yang menjado bagian dari para demonstran.


"Minum." Gibran membuka tutup botol minuman mineral lalu mengarahkannya kepada Nadia yang terkulai lemah dalam pangkuannya. Airmatanya mengalir bukan karena ia menangis tapi efek gas airmata yang belum juga hilang.


"Om kok bisa disini?" Tanya Nadia lirih setelah meneguk minuman yang Gibran berikan.


"Kamu ngapain ikut demo?" Gibran balik bertanya.


"Diajak." Aku Nadia polos, "Biar keren juga." lanjutnya terkekeh yang mengundang decakan tak habis pikir dari sang suami.


"Kamu ini. Kalau kenapa-kenapa gimana?"


"Kan ada Om."


Tuk!


"Aw!" Nadia menyentuh keningnya yang disentil Gibran.


"Nakal."


Nadia memberenggut, "Belain rakyat juga kok."


Gibran menggelengkan kepala tak habis pikir, diusapnya airmata Nadia, "Kamu bikin saya khawatir. Jangan begini lagi."


Nadia menutup matanya, "Bawa Nad pulang." ucapnya merapat memeluk pinggang Gibran.


Gibran menghela nafas berat, memperhatikan penampilan sang istri yang kacau. Pakai ginian lagi. Gibran menahan kedutan dibibirnya melihat ikat kepala sang istri dilehernya. Kemudian setelah memperhatikan sekeliling memastikan keadaan tidak berbahaya, Gibran mengambil kedua lengan Nadia dan dikalungkan di lehernya. Kedua kaki istrinya itu ia lingkarkan di pinggangnya. Ia menggendong Nadia di depannya seperti bayi monyet.


Nadia mengetatkan pegangannya, meletakkan dagu di bahu Gibran saat laki-laki itu membawanya bergegas pergi dari tempat itu. Dengan posisinya seperti ini ia bisa melihat dengan jelas aksi damai tadi sudah berubah menjadi sangat ricuh dan kacau balau.


Kalau endingnya gini sih bukan belain rakyat tapi nyari korban baru. Pikirnya. Hatinya sedih, niat mulia dari teman-temannya malah berakhir jadi kekacaun yang meresahkan begini.


"Om"


"Hm?"


"Kami salah gak sih?"


"Salah apa?"


Nadia menjauhkan kepala dari bahu Gibran, menatap laki-laki itu yang masih tampak datar-datar saja.


"Demo gini."


Gibran menekan tengkuk Nadia agar kembali bersandar dibahunya, "Tidak." Tidak ada yang salah dari demonstrasi, yang salah adalah orang-orang yang mrmanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan.


Nadia mengangguk setuju. Teman-teman mahasiswanya memiliki tujuan mulia saat turun ke jalan. Jika akhirnya seperti ini, Nadia yakin itu bukan ulah mereka yang benar-benar mau menyuarakan aspirasi rakyat.


***


Gengssss... semoga masih sabar menunggu 😁.


Author pasti bakalan up tapi utk waktunya nunggu mood author karena akhir-akhir ini malas bangat nulis padahal yg mau di tulis udah numpuk dikepala.


Author senang baca komen para reader karena ngasi semangat untuk lanjut menulis jd jangan bosan-bosan komen ya., author malah lebih brsemangat liat jumlah yg komeb daripada yg ngasi love 🤣🤣🤣 tapi tetep suka juga dapat jempol love dr reader 😚


btw, selamat menyambut bulan ramadhan ya untuk teman-teman yang menjalaninya. Mohon maaf lahir batin dari author yang baperan 🤗